Sekolah Baru

*** 

Setelah mengantar Tania ke sekolahnya, ayah kini mengantarku ke sekolahku. Tentunya setelah sebelumnya sudah didaftarkan secara online oleh ayah.

“Sudah sampai. Ayo, turunlah! Masuk ke kelas belajar yang bener.”

Aku terkesiap mendengar tutur ayah. Lalu menoleh mengawasi sekitar.

“Sudah sampai ya, Yah?”

Ayah mengangguk. “Kamu tinggal langsung masuk ke kelasmu. Ayah sudah chat memberi tahu wali kelasmu kalau kamu sudah mulai masuk sekolah hari ini.”  Aku mengangguk paham.

Setelah mencium punggung tangannya, aku pun turun dari mobil. Lalu masuk ke area sekolah setelah ayah pergi melajukan mobilnya.

Mengamati sekeliling, sekolah ini masih tampak asing bagiku. Murid yang sudah datang ke sekolah ini menyelidik menatap diriku dari ujung kepala hingga kaki. Perasaan penampilanku biasa saja. Lantas kenapa mereka menatapku dengan tatapan aneh?

Saat fokus mencari kelas 10 A,  aku menabrak seorang cowok yang tiba-tiba keluar dari dalam kelas. Sehingga hampir saja aku terjengkang. Untungnya cowok yang aku tabrak dengan sigap menarik lenganku. Kalau tidak, mungkin aku sudah nyusruk ke lantai.

“Kamu?” ucap kami nyaris bersamaan, seraya saling menunjuk. Setelah kami berdiri saling berhadapan. Dia cowok aneh yang kemarin sore memperingatkan aku agar pergi dari rumah baruku.

“Kamu sekolah di sini juga?”

“Kamu anak baru di sini?”

Kami melontarkan tanya nyaris bersamaan lagi, lalu mengangguk kompak. Kemudian aku nyengir menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Canggung. Sementara dia, si cowok aneh di depanku pasang ekspresi datar.

“Kamu nyari kelasmu? Kelas berapa?” tanyanya kemudian. To the point tanpa ekspresi.

“Eum, kelas 10 A.”

“Oh, kita satu kelas. Ini kelasnya,” jawabnya seraya menunjuk kelas di belakangnya berdiri. Aku mengangguk.

Selepas memberi tahu dia pun berlalu dari hadapanku. Pergi entah ke mana.

Sementara aku masuk ke kelas mencari bangku kosong.

“Kamu anak baru, ya?” tanya salah seorang siswi. Aku mengangguk seraya tersenyum canggung.

“Cari bangku kosong?” tanyanya lagi, dan kujawab dengan anggukan lagi. Lantas dia menunjuk bangku yang ada di pojok kelas. Aku menoleh mengikuti ke mana arah telunjuknya menunjuk. Di sana terlihat bangku kosong. Sementara sebelahnya sudah ada yang menempati terlihat akan adanya tas yang ditaruh di atas meja.

“Tuh, bangku di kelas ini yang kosong tinggal yang itu,” jelasnya kemudian.

“Terima kasih,” balasku. Lalu mengayunkan langkah ke arah bangku yang tadi ditunjuk.

“Tapi harap hati-hati, teman sebangkumu itu agak begini,” ucapnya seraya menaruh telunjuk miring di kening. Aku menelan ludah. Merasa ngeri.

“Se-serius?” tekanku tergagap, dan siswi yang belum kuketahui namanya itu mengangguk, meyakinkan. Aku menoleh mengamati tasnya. Merasa takut, tapi mau bagaimana lagi. Mau tak mau aku harus duduk di sini. Tidak ada lagi bangku kosong selain ini di kelas.

Tak berapa lama  bel tanda masuk kelas berbunyi. Semua murid pun berbondong-bondong memasuki kelas masing-masing. Semua bangku di kelas ini sudah diduduki. Kecuali bangku di sampingku, masih kosong. Pemiliknya belum masuk kelas.

Aku menunduk memainkan ujung kuku, merasa tak nyaman saat semua teman sekelasku menoleh ke arahku kemudian saling berbisik. Entah berbisik apa?

Tak lama ekor mataku menangkap seseorang duduk di bangku sampingku. Agak takut-takut aku menoleh memastikan siapa teman sebangkuku yang katanya agak sinting itu.

Glek.

Jadi, dia. Wajar sih, kalau dia agak kurang waras terlihat dari sikapnya yang aneh. Misterius.

Kugeser sedikit menjauh darinya bangku yang kududuki. Cowok aneh di sampingku menoleh menatapku sedemikian rupa. Membuat diri ini bergetar ketakutan saja.

Kemudian dia menatap lurus ke depan dengan kepala sedikit miring ke kiri persis kayak ayam tengleng.

Menghela napas pajang menstabilkan detak jantung yang berdetak tak menentu. Merasa ngeri kalau tiba-tiba cowok aneh di sampingku mencekikku. Sesekali melirik ke arahnya memastikan dia diam di tempatnya.

Setelah wali kelas masuk, aku disuruh maju ke depan untuk memperkenalkan diri, dan setelah prosesi itu selesai aku kembali duduk. Lantas mengikuti pelajaran pertama di sekolah baru ini.

Suasana kelas pun hening, semua serius menyimak penjelasan Bu Guru, dan mencatat pelajaran yang ditulis di papan tulis.

“Jangan ganggu gue!” pekik cowok yang duduk di sampingku seraya menggebrak meja secara tiba-tiba. Sontak membuatku terkejut hingga kursi yang kududuki terguling, aku pun nyusruk ke lantai.

“Tirta, kendalikan dirimu!” seru Bu Guru, seraya menoleh ke arah cowok yang sekarang kuketahui namanya adalah Tirta.

Tirta bergeming, ia terlihat seolah sedang menahan sesuatu.

Sementara teman sekelas yang lainnya sebagian tampak jengah akan sikap Tirta, dan sebagian lagi terlihat sudah terbiasa.

“Rania, kamu enggak apa-apa ‘kan?” tanya Bu Guru, seraya melongokkan kepalanya melihatku yang masih berada di posisi semula. Terduduk di lantai. Syok.

“I-iya Bu,” jawabku tergagap. Sambil berusaha menahan getaran yang menguasai diri.

“Ya sudah, ayo kembali duduk!” Kuangguki titah Bu Guru. Lantas bangkit dan menata kembali kursiku ke tempat semula. Lalu duduk. Aku jadi tidak fokus menyimak pelajaran hari ini. Sebentar-sebentar melirik ke arah  Tirta berada.

Pelajaran pertama telah usai. Semua murid pun keluar kelas, istirahat. Jam istirahat kugunakan untuk membaca buku saja ke perpustakaan.

“Terima kasih,” ucapku pada salah satu siswi yang sudah memberi tahuku di mana letak perpustakaan.

“Sama-sama,” pungkasnya.

Masuk ke perpustakaan lalu berjalan di sela rak buku yang berjejer membentuk seperti lorong-lorong. Khas perpustakaan. Mencari buku yang pas untuk kujadikan bacaan siang ini.

Saat berbelok hendak ke lorong rak sampingya aku berpapasan dengan Tirta si cowok misterius. Sempat terpaku beberapa saat.

“Awas!” pekiknya, seraya mendorong tubuhku hingga terjengkang.

Aku merintih, meringis kesakitan. Memegangi siku yang terasa perih pasca membentur sisi rak buku.

“Ma-ma’af, aku nggak bermaksud ....”  Aku segera berlari menjauh sebelum Tirta menyelesaikan kalimatnya. Takut.

Menoleh ke belakang sekilas, Tirta terlihat mengejarku. Aku mempercepat langkahku. Lalu masuk ke UKS, dan menutup pintunya lalu menguncinya dari dalam.

“Rania!” panggil Tirta dari balik pintu seraya menggedor-gedor daun pintu. Membuat diriku semakin bergetar ketakutan saja.

Membungkam mulut kuat-kuat, menahan isakkan.

Terpopuler

Comments

Keynan Milky

Keynan Milky

wah pnyq Indra ke 7 tuh😁

2024-02-12

0

Biah Kartika

Biah Kartika

mgkin Tirta anak indigo

2023-03-25

0

👑Ria_rr🍁

👑Ria_rr🍁

Anak indome sudah mulai nampak, Tirta kamu sefrekuensi sama Anak angkat Erli🤭

2022-07-21

0

lihat semua
Episodes
1 Rumah Baru
2 Sekolah Baru
3 Teman Baru
4 Sesajen Di Kolong Ranjang Tania
5 Sesajen Di Belakang Sekolah
6 Sajen Itu Ada Lagi
7 Ada Sajen Di Sawah
8 Curiga
9 Kesal
10 Pulang Dari Rumah Sakit
11 Tidak Mungkin Ayah Pelakunya
12 Mencari Pelaku
13 Pergi
14 Hilang
15 Tertangkap
16 Disekap
17 Ruang Pembantaian
18 Hanyut
19 Sadar
20 Sosok Yang Menyerupai Tania
21 Astral Projection
22 Kembali Dari Dunia Gaib
23 Mata Batin Bayu
24 Tolong
25 Mimpi Buruk
26 Gugur
27 Perpisahan
28 Mendadak Indigo
29 Sampai Tujuan
30 Kejanggalan
31 Misteri Keberadaan Tirta
32 Sihir Di Pabrik Singkong
33 Sepotong Kabar Soal Tirta
34 Pengendara Motor Ninja
35 Ke Danau
36 Mulai Menjalankan Misi
37 Tersesat Di Makam Angker
38 Bola Api
39 Gagalnya Rencana A
40 Rencana B
41 Ada Udang Di Balik Batu
42 Ritual Penumbalan
43 Tragedi Di Makam Tua
44 Teror Arwah Sekar
45 Angin Aneh
46 Tangisan Misterius
47 Minder
48 Sah!
49 Kerasukan di Malam Pertama
50 Bulan Madu
51 Gagal Romantis
52 Sesajen
53 Memancing
54 Tertangkap
55 Selamat
56 Disandera
57 Satu Ruangan dengan Hantu dan Hewan Berbisa
58 Bebas
59 Penunggu Rumah Sebelah
60 Kerasukan
61 Viral
62 Kecelakaan
63 Serangan
64 Gentayangan
65 Perjalanan
66 Tersesat
67 Terjebak di Dunia Lain
68 Penjara Jiwa
69 Banas Pati
70 Malih Rupa
71 Walik
72 Hantu Introvert
73 Telepon
74 Tipu Muslihat
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Rumah Baru
2
Sekolah Baru
3
Teman Baru
4
Sesajen Di Kolong Ranjang Tania
5
Sesajen Di Belakang Sekolah
6
Sajen Itu Ada Lagi
7
Ada Sajen Di Sawah
8
Curiga
9
Kesal
10
Pulang Dari Rumah Sakit
11
Tidak Mungkin Ayah Pelakunya
12
Mencari Pelaku
13
Pergi
14
Hilang
15
Tertangkap
16
Disekap
17
Ruang Pembantaian
18
Hanyut
19
Sadar
20
Sosok Yang Menyerupai Tania
21
Astral Projection
22
Kembali Dari Dunia Gaib
23
Mata Batin Bayu
24
Tolong
25
Mimpi Buruk
26
Gugur
27
Perpisahan
28
Mendadak Indigo
29
Sampai Tujuan
30
Kejanggalan
31
Misteri Keberadaan Tirta
32
Sihir Di Pabrik Singkong
33
Sepotong Kabar Soal Tirta
34
Pengendara Motor Ninja
35
Ke Danau
36
Mulai Menjalankan Misi
37
Tersesat Di Makam Angker
38
Bola Api
39
Gagalnya Rencana A
40
Rencana B
41
Ada Udang Di Balik Batu
42
Ritual Penumbalan
43
Tragedi Di Makam Tua
44
Teror Arwah Sekar
45
Angin Aneh
46
Tangisan Misterius
47
Minder
48
Sah!
49
Kerasukan di Malam Pertama
50
Bulan Madu
51
Gagal Romantis
52
Sesajen
53
Memancing
54
Tertangkap
55
Selamat
56
Disandera
57
Satu Ruangan dengan Hantu dan Hewan Berbisa
58
Bebas
59
Penunggu Rumah Sebelah
60
Kerasukan
61
Viral
62
Kecelakaan
63
Serangan
64
Gentayangan
65
Perjalanan
66
Tersesat
67
Terjebak di Dunia Lain
68
Penjara Jiwa
69
Banas Pati
70
Malih Rupa
71
Walik
72
Hantu Introvert
73
Telepon
74
Tipu Muslihat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!