***
Setelah mengantar Tania ke sekolahnya, ayah kini mengantarku ke sekolahku. Tentunya setelah sebelumnya sudah didaftarkan secara online oleh ayah.
“Sudah sampai. Ayo, turunlah! Masuk ke kelas belajar yang bener.”
Aku terkesiap mendengar tutur ayah. Lalu menoleh mengawasi sekitar.
“Sudah sampai ya, Yah?”
Ayah mengangguk. “Kamu tinggal langsung masuk ke kelasmu. Ayah sudah chat memberi tahu wali kelasmu kalau kamu sudah mulai masuk sekolah hari ini.” Aku mengangguk paham.
Setelah mencium punggung tangannya, aku pun turun dari mobil. Lalu masuk ke area sekolah setelah ayah pergi melajukan mobilnya.
Mengamati sekeliling, sekolah ini masih tampak asing bagiku. Murid yang sudah datang ke sekolah ini menyelidik menatap diriku dari ujung kepala hingga kaki. Perasaan penampilanku biasa saja. Lantas kenapa mereka menatapku dengan tatapan aneh?
Saat fokus mencari kelas 10 A, aku menabrak seorang cowok yang tiba-tiba keluar dari dalam kelas. Sehingga hampir saja aku terjengkang. Untungnya cowok yang aku tabrak dengan sigap menarik lenganku. Kalau tidak, mungkin aku sudah nyusruk ke lantai.
“Kamu?” ucap kami nyaris bersamaan, seraya saling menunjuk. Setelah kami berdiri saling berhadapan. Dia cowok aneh yang kemarin sore memperingatkan aku agar pergi dari rumah baruku.
“Kamu sekolah di sini juga?”
“Kamu anak baru di sini?”
Kami melontarkan tanya nyaris bersamaan lagi, lalu mengangguk kompak. Kemudian aku nyengir menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Canggung. Sementara dia, si cowok aneh di depanku pasang ekspresi datar.
“Kamu nyari kelasmu? Kelas berapa?” tanyanya kemudian. To the point tanpa ekspresi.
“Eum, kelas 10 A.”
“Oh, kita satu kelas. Ini kelasnya,” jawabnya seraya menunjuk kelas di belakangnya berdiri. Aku mengangguk.
Selepas memberi tahu dia pun berlalu dari hadapanku. Pergi entah ke mana.
Sementara aku masuk ke kelas mencari bangku kosong.
“Kamu anak baru, ya?” tanya salah seorang siswi. Aku mengangguk seraya tersenyum canggung.
“Cari bangku kosong?” tanyanya lagi, dan kujawab dengan anggukan lagi. Lantas dia menunjuk bangku yang ada di pojok kelas. Aku menoleh mengikuti ke mana arah telunjuknya menunjuk. Di sana terlihat bangku kosong. Sementara sebelahnya sudah ada yang menempati terlihat akan adanya tas yang ditaruh di atas meja.
“Tuh, bangku di kelas ini yang kosong tinggal yang itu,” jelasnya kemudian.
“Terima kasih,” balasku. Lalu mengayunkan langkah ke arah bangku yang tadi ditunjuk.
“Tapi harap hati-hati, teman sebangkumu itu agak begini,” ucapnya seraya menaruh telunjuk miring di kening. Aku menelan ludah. Merasa ngeri.
“Se-serius?” tekanku tergagap, dan siswi yang belum kuketahui namanya itu mengangguk, meyakinkan. Aku menoleh mengamati tasnya. Merasa takut, tapi mau bagaimana lagi. Mau tak mau aku harus duduk di sini. Tidak ada lagi bangku kosong selain ini di kelas.
Tak berapa lama bel tanda masuk kelas berbunyi. Semua murid pun berbondong-bondong memasuki kelas masing-masing. Semua bangku di kelas ini sudah diduduki. Kecuali bangku di sampingku, masih kosong. Pemiliknya belum masuk kelas.
Aku menunduk memainkan ujung kuku, merasa tak nyaman saat semua teman sekelasku menoleh ke arahku kemudian saling berbisik. Entah berbisik apa?
Tak lama ekor mataku menangkap seseorang duduk di bangku sampingku. Agak takut-takut aku menoleh memastikan siapa teman sebangkuku yang katanya agak sinting itu.
Glek.
Jadi, dia. Wajar sih, kalau dia agak kurang waras terlihat dari sikapnya yang aneh. Misterius.
Kugeser sedikit menjauh darinya bangku yang kududuki. Cowok aneh di sampingku menoleh menatapku sedemikian rupa. Membuat diri ini bergetar ketakutan saja.
Kemudian dia menatap lurus ke depan dengan kepala sedikit miring ke kiri persis kayak ayam tengleng.
Menghela napas pajang menstabilkan detak jantung yang berdetak tak menentu. Merasa ngeri kalau tiba-tiba cowok aneh di sampingku mencekikku. Sesekali melirik ke arahnya memastikan dia diam di tempatnya.
Setelah wali kelas masuk, aku disuruh maju ke depan untuk memperkenalkan diri, dan setelah prosesi itu selesai aku kembali duduk. Lantas mengikuti pelajaran pertama di sekolah baru ini.
Suasana kelas pun hening, semua serius menyimak penjelasan Bu Guru, dan mencatat pelajaran yang ditulis di papan tulis.
“Jangan ganggu gue!” pekik cowok yang duduk di sampingku seraya menggebrak meja secara tiba-tiba. Sontak membuatku terkejut hingga kursi yang kududuki terguling, aku pun nyusruk ke lantai.
“Tirta, kendalikan dirimu!” seru Bu Guru, seraya menoleh ke arah cowok yang sekarang kuketahui namanya adalah Tirta.
Tirta bergeming, ia terlihat seolah sedang menahan sesuatu.
Sementara teman sekelas yang lainnya sebagian tampak jengah akan sikap Tirta, dan sebagian lagi terlihat sudah terbiasa.
“Rania, kamu enggak apa-apa ‘kan?” tanya Bu Guru, seraya melongokkan kepalanya melihatku yang masih berada di posisi semula. Terduduk di lantai. Syok.
“I-iya Bu,” jawabku tergagap. Sambil berusaha menahan getaran yang menguasai diri.
“Ya sudah, ayo kembali duduk!” Kuangguki titah Bu Guru. Lantas bangkit dan menata kembali kursiku ke tempat semula. Lalu duduk. Aku jadi tidak fokus menyimak pelajaran hari ini. Sebentar-sebentar melirik ke arah Tirta berada.
Pelajaran pertama telah usai. Semua murid pun keluar kelas, istirahat. Jam istirahat kugunakan untuk membaca buku saja ke perpustakaan.
“Terima kasih,” ucapku pada salah satu siswi yang sudah memberi tahuku di mana letak perpustakaan.
“Sama-sama,” pungkasnya.
Masuk ke perpustakaan lalu berjalan di sela rak buku yang berjejer membentuk seperti lorong-lorong. Khas perpustakaan. Mencari buku yang pas untuk kujadikan bacaan siang ini.
Saat berbelok hendak ke lorong rak sampingya aku berpapasan dengan Tirta si cowok misterius. Sempat terpaku beberapa saat.
“Awas!” pekiknya, seraya mendorong tubuhku hingga terjengkang.
Aku merintih, meringis kesakitan. Memegangi siku yang terasa perih pasca membentur sisi rak buku.
“Ma-ma’af, aku nggak bermaksud ....” Aku segera berlari menjauh sebelum Tirta menyelesaikan kalimatnya. Takut.
Menoleh ke belakang sekilas, Tirta terlihat mengejarku. Aku mempercepat langkahku. Lalu masuk ke UKS, dan menutup pintunya lalu menguncinya dari dalam.
“Rania!” panggil Tirta dari balik pintu seraya menggedor-gedor daun pintu. Membuat diriku semakin bergetar ketakutan saja.
Membungkam mulut kuat-kuat, menahan isakkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Keynan Milky
wah pnyq Indra ke 7 tuh😁
2024-02-12
0
Biah Kartika
mgkin Tirta anak indigo
2023-03-25
0
👑Ria_rr🍁
Anak indome sudah mulai nampak, Tirta kamu sefrekuensi sama Anak angkat Erli🤭
2022-07-21
0