"Dimana bocah itu?" Ucap Isabella setelah memasuki rumah keponakannya.
"Hei bocah!! Kau di mana?" Teriak Isabella, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
"Ahh! Bibi sudah datang" kata Densha senang, berlari dari arah pintu gudang bawah tanah.
"Kenapa kau muncul dari sana?" Tanya Isabella, memperhatikan pintu gudang yang sedikit terbuka.
"Ahh! Bukan apa-apa" ucap Densha mengusap bagian belakang kepalanya.
"Silahkan duduk! Apa bibi sendirian?" Tanya Densha, sembari berjalan ke ruang tamu.
"Tidak! Bibi bersama asisten dan pak supir" jawab Isabella, wanita itu duduk di sofa dengan sangat elegan.
"Sepertinya tidak ada hal yang aneh di rumah ini" kata Isabella, melirik kiri dan kanan, memperhatikan isi rumah, tidak ada gerak-gerik mencurigakan sama sekali.
"Sudah aku bilang kan!" Seru Densha, pria itu tersenyum senang.
"Tunggu! Sejak kapan kau jadi periang begini?" Tanya Isabella, tidak biasanya dia melihat Densha begitu ceria, pasti ada sesuatu di baliknya.
"Apa? Aku bersikap normal tuh" jawab Densha mengangkat bahu nya.
"Mau ikut bibi sebentar?" Tanya Isabella, wanita paruh baya ini sedang merencanakan sesuatu di pikirannya.
"Kemana? Aku sedang tidak ingin pergi kemanapun" ucap Densha, menolak halus ajakan Isabella.
"Pergi ke minimarket terdekat, aku traktir kau makan" kata Isabella, "Sudah lama kita tidak makan bersama. Benar kan??" Kata Isabella lagi, wanita itu berdiri dan menenteng tas menunggu jawaban keponakannya itu.
"Baiklah, tapi setelah itu berjanjilah bibi akan segera pulang" kata Densha kesal.
"Dasar s*tan kecil!! Kau mengusir bibi mu ini hah?!" Ucap Isabella, memukul lengan Densha.
"Sakit!" Densha memegangi lengannya.
"Aku tunggu kau di luar" ucap Isabella, melemparkan kunci mobil ke arah Densha, dengan sigap Densha menangkap kunci mobil tersebut.
"Eh! Apa ini? Apa aku yang menyetir?" Tanya Densha bingung.
"Tentu saja! Kau bisa kan?" Ucap Isabella, mengedipkan sebelah mata.
"Bukankah minimarket ada di ujung jalan, kenapa membawa mobil?" Tanya Densha mengikuti langkah bibi nya.
"Kaki ku terlalu cantik untuk berjalan kaki" jawab Isabella tersenyum.
"Kenapa bibi tidak lumpuh saja" gumam Densha lirih, mengatai bibinya dari belakang.
"Kau bilang apa?" Tanya Isabella, menoleh ke arah Densha ketus.
"Bukan apa-apa, Ayo jalan!" Kata Densha, menutup pintu rumah namun tidak di kunci.
Pria itu duduk di kursi pengemudi, menutup pintu mobil dan menyalakan mesin, dia memperhatikan bibi nya yang sedang berbicara serius kepada asisten dan supir pribadinya. Namun ia tidak bisa mendengar percakapan mereka.
"Tolong, cek seluruh isi rumah ini tanpa terkecuali. Jika menemukan sesuatu segera laporkan padaku, aku akan membawa Densha pergi sebentar. Jadi gunakan waktu kalian sebaik mungkin" kata Isabella, memerintah asisten dan supirnya.
"Baik, Nona!" Ucap asisten, membungkukkan badan.
"Apa kamar Tuan muda juga?" Tanya sang supir.
"Tanpa terkecuali" jawab Isabella, dan pergi meninggalkan mereka, wanita itu masuk ke mobil duduk di depan sebelah keponakannya.
"Apa yang bibi bicarakan?" Tanya Densha, setelah Isabella masuk ke dalam mobil.
"Ah! Tidak ada, hanya masalah kecil di kantor" ucap Isabella, tersenyum.
Densha hanya menggelengkan kepala mempercayai ucapan bibi nya itu, menjalankan mobil pergi meninggalkan halaman rumahnya, memperhatikan kaca spion mobil, melihat kedua orang asisten itu tetap berdiri disana tidak bergerak.
Semuanya pasti baik-baik saja - kata Densha dalam hati.
************************************
Malam itu, Katrina memutuskan untuk membawa Fuu jalan-jalan ke tempat yang aman, tempat yang ramai dan banyak orang, berusaha untuk tidak bertemu para preman yang mengejar mereka.
"Fiuhh! Sepertinya kita aman disini" ucap Katrina menghela nafas lega.
Fuu menoleh ke kiri dan ke kanan, mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Katrina benar" ucap Fuu lalu tersenyum manis.
"Hei Fuu, sedang apa kau keluyuran malam-malam? Bukan kah kau dan Densha tinggal bersama? Dimana dia?" Tanya Katrina bertubi-tubi.
"Densha sedang tidak ada disini" jawab Fuu sedih.
"Aku juga tau! Maksudku dia dimana? Kenapa membiarkanmu keluyuran sendiri?" Tanya Katrina kesal, gadis itu mulai membenci karakter Densha.
"Bibi Densha sedang berkunjung ke rumah, Densha meminta Fuu untuk keluar rumah sebentar sampai bibi nya pulang" kata Fuu, gadis itu duduk di bangku pinggir jalan, ia merasakan sakit di kedua kakinya.
"Kau tahu? Cara bicaramu semakin bagus saja! Kau belajar dengan cepat ya!" Ucap Katrina senang dan mengusap lembut rambut Fuu. Gadis itu terdiam dan menoleh ke arah Katrina, matanya seakan ingin mengatakan sesuatu, Katrina paham akan hal itu.
"Katakan saja" Katrina tersenyum.
"Kenapa Katrina melakukan itu?" Tanya Fuu bingung.
"Eh! Melakukan apa?" Menjawab pertanyaan Fuu dengan pertanyaan.
"Seperti ini" ucap Fuu lalu mengusap kepala Katrina lembut.
"Densha juga sering melakukannya" kata Fuu lagi dan menjauhkan tangannya dari kepala Katrina.
"Densha juga? Hahaha" tanya Katrina tidak percaya, mana mungkin pria sedingin Es itu melakukan hal imut seperti ini.
"Fuu berkata benar" kata Fuu, menganggukan kepala.
"Hem! Ini artinya 'Anak pintar', begitu Fuu" ucap Katrina senang.
"Anak pintar?" Fuu terlihat bingung.
"Yahh, jika kau melakukan sesuatu dengan benar, orang akan senang dan mengusap kepalamu seperti ini" jawab Katrina sembari mengusap kepala Fuu.
"Begitu ya?" Ucap Fuu lalu memalingkan pandangan ke arah lain.
"Ayo pergi! Mau ke rumahku?" Ajak Katrina pada Fuu, gadis itu hanya terdiam memandang kakinya tidak mengatakan apapun.
"Hei, Fuu ada apa?" Tanya Katrina pelan, menyentuh pundak Fuu.
"Kaki Fuu sakit sekali" kata Fuu, mata gadis itu sedikit berkaca-kaca, energinya habis di buat berlari, Fuu tidak akan menangis jika sakit yang di rasa tidak terlalu kuat. Jika sampai gadis itu menangis berarti rasa sakitnya amat hebat.
"APA?!" Teriak Katrina lalu dengan cepat menutup mulutnya dengan kedua tangan, "Kau baik-baik saja?" Tanya Katrina pelan, menggenggam erat tangan gadis cantik di sampingnya.
"Aww!" Pekik Fuu, melepas genggaman tangan Katrina, membuat Katrina begitu terkejut.
"Hei!" Seru Katrina, perlahan Katrina menyentuh tangan Fuu dan memperhatikannya dengan seksama, membuka sedikit rok yang di pakai Fuu sehingga memperlihatkan paha putih milik Fuu. Katrina terbelalak, tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Astaga! Fuu kau terluka" kata Katrina panik, dan mengembalikan rok Fuu ke posisi semula.
"Fuu tidak apa-apa" kata Fuu pelan, nafasnya mulai terdengar berat.
"Apanya yang tidak apa-apa!! Dasar bodoh! Bagaimana ini?" Katrina bangkit dari duduknya, mondar-mandir di depan Fuu, mencoba memikirkan sesuatu.
"Rumah sakit! Kita ke rumah sakit ya Fuu" Seru Katrina menggandeng tangan Fuu.
"Lepas!" Kata Fuu dengan nafas berat.
"Fuu tidak ingin ke rumah sakit" katanya lagi, wajahnya meringis menahan sakit.
"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Katrina, ia merasa Frustrasi dengan keadaan Fuu yang melemah secara tiba-tiba.
"Fuu tidak apa-apa, Katrina jangan khawatir" kata Fuu pelan, berusaha tersenyum di depan Katrina.
"Ah! Kita ke rumahku saja!" Usul Katrina antusias.
"Katrina" panggil Fuu pelan, mencoba menggenggam jemari Katrina.
"Apa?" Jawab Katrina, menatap Fuu sedih.
"Bisa Katrina belikan Fuu air" pinta Fuu, gadis itu berusaha mengusir Katrina secara halus.
"A.. Air? Oke.. Ba.. baik, kau tunggu disini jangan kemana-mana" ucap Katrina berlalu pergi meninggalkan Fuu seorang diri.
Fuu memperhatikan Katrina yang pergi menjauh dan hilang di antara kerumunan pejalan kaki yang lain, merasa ada kesempatan, gadis itu perlahan berdiri, walaupun sakit ia tetap memaksakan kakinya untuk terus berjalan, berjalan menjauh mencoba menuju ke bibir pantai, ia sedang mencari tempat yang sepi.
Semoga Katrina tidak marah karena aku berkata tidak jujur - kata Fuu dalam hati, gadis itu tidak ada pilihan lain selain berkata tidak benar pada temannya itu.
Fuu berjalan pelan menuju bibir pantai, melangkahkan kaki mungilnya ke air, tubuhnya di sambut oleh air laut yang cukup tenang, perlahan gadis itu menenggelamkan diri ke air, meronta-ronta kesakitan, merobek semua pakaian yang ia kenakan di tubuhnya, kakinya perlahan menjadi satu, membentuk sirip panjang dengan duri tajam di bagian belakangnya. Jemari tangannya dan bagian sirip di punggung Fuu di tutupi oleh selaput tipis, dia nampak seperti monster dengan gigi tajamnya namun masih bisa di kenali bahwa gadis itu adalah Fuu, karena wujudnya yang menjadi duyung tidak merubah wajah cantiknya. Gadis itu berenang bebas menuju lautan lepas, siripnya begitu cepat, dia terlihat bahagia saat berenang di dalam laut, senyum manis terpampang di wajah cantiknya. Fuu, tidak bisa terlalu lama berada di daratan, ia harus meminum air laut sekali-sekali, saat ia berusaha mendapatkan topi yang di beri Densha, ia merasa kurang lama berenang, minum dan makan di lautan, namun ia tetap harus memilih untuk menyelamatkan Densha. Alhasil tubuhnya sekarang melemah, kulitnya melepuh, ruam-ruam di sekujur tubuh dan jika dia terlambat sedikit saja kemungkinan besar ia akan mati. Saat ia di dalam laut terlalu lama ingatannya akan dunia manusia akan samar-samar baginya, bahkan bisa saja beberapa kenangan akan terlupakan begitu saja.
(Di Rumah)
Kenapa perasaanku memburuk? - batin Densha bingung.
"Ada apa sayang?" Tanya Isabella cemas, memperhatikan keponakannya yang tiba-tiba sedih.
"Ah! Bukan, bukan apa-apa"
"Kau tahu? Kau bisa cerita apapun pada bibi mu ini" ucap Isabella menenangkan.
"Jam berapa ini? Apa bibi tidak ingin kembali ke rumah?" Tanya Densha ketus, pria itu mulai mengkhawatirkan sesuatu.
"Jam 9 malam" ucap Isabella memperhatikan jam di pergelangan tangannya.
"JAM SEMBILAN??" Teriak Densha terkejut.
"Wow! Santai saja" kata Isabella yang terkejut dengan teriakan keponakannya itu.
"Bibi harus benar-benar pulang!" Kata Densha kesal, pria itu berjalan menuju pintu rumah, membukanya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman rumahnya.
"Kau mencari siapa?" Tanya Isabella yang berdiri tepat di belakang Densha.
"Tidak, aku tidak mencari siapa-siapa" kata Densha panik.
Isabella menatap asisten pribadinya, dan sang asisten seolah mengerti apa yang di katakan Isabella, ia hanya menganggukan kepala pelan.
"Baiklah, bibi akan pulang" ucap Isabella kesal, karena merasa di usir oleh Densha.
"Ya" jawab Densha cepat, matanya masih mencari-cari sesuatu.
"HEI BIBI BILANG AKAN PULANG BODOH!!" Teriak Isabella menarik telinga keponakannya.
"Aduh! Iya.. Iya.. Cepat pulang sana" kata Densha menahan sakit.
"Dasar bocah! Setidaknya beri bibi mu ini pelukan" ucap Isabella, memeluk keponakannya dengan paksa.
"Ya.. ya.. hati-hati" jawab Densha memeluk bibi nya itu, pria itu masih terlihat mencari-cari sesuatu.
Asisten membukakan pintu mobil untuk Isabella, wanita itu masuk kedalam mobil, disusul pak supir dan si asisten, wanita itu menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan ke arah keponakannya itu sebelum ia pergi.
"Hati-hati" ucap Densha yang juga melambaikan tangannya, memperhatikan mobil itu perlahan dan hilang di ujung jalan.
"Bagaimana? Apa kalian menemukan sesuatu yang menarik?" Tanya Isabella datar.
"Iya, Nona" jawab si asisten.
"Benarkah? Apa itu?" Tanya Isabella senang, akhirnya ia menemukan rahasia keponakannya itu.
"Ini" kata si asisten, menyerahkan plastik bening ke tangan Isabella, "Pak Supir yang menemukannya saat menggeledah kamar Tuan muda" tambah sang Asisten menjelaskan.
"Banyak sekali disana" Sahut pak supir dari kursi depan.
"Rambut?" Tanya Isabella bingung.
"Rambut ini panjang Nona, dan lagi warnanya cokelat madu, yang pasti ini bukan rambut Tuan muda" kata sang Asisten tersenyum.
"Rambut gadis ya?" Ucap Isabella tersenyum senang, seakan-akan ia memenangkan sebuah game.
"Baiklah, akan aku simpan ini" kata Isabella lagi.
"Mau di apakan rambut itu Nona?" Tanya pak supir dari depan.
"Mau di apakan lagi, akan aku tes DNA" kata Isabella senang.
"TES DNA??" Tanya asisten dan pak supir bersamaan.
"Ck! Kalian ini bodoh sekali, ini caraku satu-satunya untuk mengetahui siapa gadis itu. Jika aku menanyakan langsung pada Densha, dia tidak akan pernah mengakuinya, aku ingin bertemu gadis yang telah berhasil mencuri perhatian keponakanku" terang Isabella panjang lebar, wanita itu menatap keluar jendela kaca mobil dan tersenyum senang.
"Oh iya! Jangan lupa, kita mampir ke pantai sebentar nanti" perintah Isabella pada pak supir.
"Baik Nona" jawab pak supir menganggukan kepala.
Katrina berlari terburu-buru menuju komplek rumah Densha, walaupun sedikit jauh dari tempatnya bertemu Fuu dan berlawanan arah dari rumahnya gadis itu tetap nekat pergi ke rumah Densha, ia mengkhawatirkan Fuu, saat ia kembali dari membeli air tiba-tiba Fuu menghilang begitu saja. Takut terjadi sesuatu, ia mencari Fuu kemana-mana namun tak di temukan akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke rumah Densha, mengecek apakah Fuu ada disana atau tidak.
Hosh! Hosh! Hosh!
Nafas Katrina tidak beraturan, ia berusaha menata pernafasannya saat sudah sampai di depan rumah Densha.
Tenang Katrina! Bisa saja Fuu sudah di rumah - batin Katrina menenangkan diri sendiri.
Katrina bingung mendapati Densha sedang mengunci rumahnya, pria itu memakai Jaket Hodie tebal, dan celana training panjang.
"Mau kemana dia?" Ucap Katrina lirih.
"Kau??" Ucap Densha terkejut saat membalikan badan ada Katrina memasuki halaman rumahnya.
"Anu, apa Fuu sudah pulang?" Tanya Katrina yang tersadar dari kebingungannya sendiri.
"Fuu??" Tanya Densha bingung.
"Iya Fuu, gadis yang tinggal serumah denganmu itu br*ngsek!" Maki Katrina, ia sangat kesal saat ini.
"Dia tidak pulang, aku baru saja ingin pergi mencarinya" kata Densha santai menatap Katrina.
"Apa? Baru saja ingin mencarinya? Sebenarnya kau apakan dia hah! Aku bertemu dengannya tubuhnya terluka, seluruh badannya melepuh, dasar pria bodoh!!" Tak habis-habisnya Katrina memaki Densha.
"Kau bertemu dengannya?" Kata Densha memegang pundak Katrina.
"Iya!! Tapi sekarang aku tidak tahu dia ada dimana, dia memintaku untuk membeli air, tapi saat aku kembali dia menghilang. Aku berusaha mencarinya tapi tidak ketemu" ucap Katrina menjelaskan, gadis itu tanpa sadar menangis, ia sangat panik saat ini.
"Kenapa bisa hilang? Dasar bodoh!!" Maki Densha pada Katrina, pria itu berjalan pergi, mengambil jalur kiri untuk mencari Fuu.
"Bukan sebelah sana bodoh!!" Teriak Katrina, menghapus air mata di pipinya dan menyusul Densha untuk mencari Fuu bersama-sama.
Densha berbalik arah dan mengambil ke arah kanan, ia berjalan berdampingan dengan Katrina menuju lokasi terakhir Katrina kehilangan Fuu.
"Jika terjadi sesuatu padanya aku tidak akan memaafkan mu" ucap Densha pelan.
"Berisik! Aku juga khawatir tau! Sejak kapan kau jadi sehangat ini" kata Katrina kesal pada pria di sampingnya ini.
Densha tidak menggubris kalimat Katrina, matanya dengan seksama mencari keberadaan Fuu di antara kerumunan orang-orang.
BERSAMBUNG!!
Jangan lupa Like 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Nenk Manieez
katrina jd slh sangka ,,d kirai densha yg nyiksa fuu
2022-02-09
1
Queen Swike
Thor.. Maaf, karakter duyung ny jgn d samain kek siren yak, biar kerasa beda dr cerita duyung yg laen...
2021-04-14
1
Just Rara
densha dan Katrina sibuk nyariin fuu,tp yg dicari lg asik berenang dilaut😄😄😄
2021-03-06
2