"Ada apa dengan Zena tadi malam?" Gumam Arvina bingung.
Ia saat ini sedang di dapur untuk menyiapkan sarapan.
Kebetulan hari ini sudah masuk akhir pekan, jadi hari ini ia tidak perlu bekerja.
Tadi malam Arzena diantar pulang oleh beberapa bawahannya dan saat sudah diturunkan paksa dari mobil, Arzena masuk kedalam rumah dengan berteriak-teriak seperti orang gila karena masih dalam pengaruh obat terlarang yang Dave berikan kepadanya.
"Atau mungkin aku yang salah dengar?" Gumam Arvina lagi.
Arvina segera menggeleng untuk menepis segala prasangka buruknya.
Segera ia menyelesaikan kegiatan masaknya.
Selesai memasak, ia pun menata makanannya diatas meja.
"Selesai." Ucap Arvina semangat sambil menepuk kedua tangannya seolah membersihkan sisa kotoran ditangannya.
Ia pun segera naik ke kamar Arzena untuk membangunkan Arzena agar sarapan bersama.
"Zena, bangunlah!" Ucap Arvina menggoyang pelan tubuh Arzena.
Arzena menurut dengan manis. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum bangkit dan duduk.
"Morning sis." Ucap Arzena terlebih dulu.
"Morning." Jawab Arvina lalu melangkah untuk membuka tirai jendela kamar Arzena.
"Ayo sarapan bersama." Ajak Arvina mengecup puncak kepala Arzena.
"Kau turunlah dulu. Nanti aku menyusul." Jawab Arzena tersenyum.
Arzena merasa tubuhnya jauh lebih segar ketika bangun pagi ini.
Arvina pun keluar dari kamar Arzena dan niatnya ingin membangunkan Ken.
Saat Arvina hendak membuka pintu kamar Ken, saat itu juga Ken keluar dari kamarnya.
"Ken, aku sudah menyiapkan sarapan. Ayo kita sarapan bersama." Ajak Arvina lembut.
"Jangan mengganggu ku! Jika kau ingin makan, makan saja sendiri." Jawab Ken kasar dan berlalu dari hadapan Arvina.
Ken bahkan keluar meninggalkan rumah Arvina.
Arvina sedih, namun ia mencoba tersenyum.
"Mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya." Gumam Arvina sedih.
Ia pun turun dan duduk di kursi meja makan untuk menunggu Arzena.
Setengah jam kemudian Arzena turun dan bergabung bersama Arvina.
"Dimana si miskin itu?" Tanya Arzena sambil mengunyah makanannya.
"Namanya Ken, Zena." Tegur Arvina lembut.
"Terserah lah." Arzena menimpali dengan malas.
"Zena, apa kau tadi malam yang teriak-teriak saat pulang?" Tanya Arvina ragu.
"Tidak. Aku pulang memang sudah larut. Tapi untuk apa aku berteriak?" Jawab Arzena berkilah.
Arvina mengangguk pelan walau ia ragu dengan jawaban Arzena.
"Bagaimana dengan rekaman mu? Apa semuanya berjalan dengan baik?" Tanya Arvina perhatian.
Arzena hanya menjawab dengan anggukan.
Mana mungkin ia memberitahu pada Arvina bahwa selama ini ia hanya berbohong tentang kontrak rekamannya, dan juga ia mengambil cuti kuliah dengan alasan berobat hanya agar bisa pergi jauh dari orang tuanya dan menikmati kebebasannya.
"Syukurlah. Jangan membuat Dad dan Mom khawatir. Sebaiknya sesekali hubungi mereka untuk memberi kabar." Usul Arvina.
Dan Arzena kembali hanya mengangguk.
"Um, aku sudah kenyang. Aku harus kembali ke kamar untuk sedikit latihan." Ucap Arzena dan langsung bangkit dari duduknya dan beranjak naik ke kamarnya.
Ia lebih baik memilih menghindar dari Arvina atau obrolan mereka akan semakin panjang dan bisa-bisa membuatnya keceplosan.
Arvina hanya menggeleng melihat tingkah adik kembarnya.
Arvina juga segera menyelesaikan kegiatan sarapannya dan membereskan sisa-sisa makanan yang mereka buat.
Setelah selesai dengan semuanya, Arvina masuk kedalam kamarnya dan duduk bersandar di atas ranjangnya.
Entah kenapa tiba-tiba otaknya kembali mengingat Dave dan semua perkataan Dave.
"Astaga, kenapa aku mengingatnya?" Batin Arvina memukul ringan kepalanya.
"Sebaiknya aku keluar menikmati udara segar." Ucap Arvina lagi dan ia pun meraih tas selempang nya dan turun dari kamarnya.
Setelah mengganti sepatu ia pun keluar dari rumahnya.
Arvina memilih berjalan kaki.
Ia terus berjalan hingga sampai di sebuah taman yang ditumbuhi bnyak bunga-bunga indah.
"Indah sekali. Kenapa aku baru tahu jika didekat sini ada taman seindah ini?" Gumam Arvina sambil melangkah masuk kedalam taman itu dan duduk dikursi taman tersebut.
Arvina memejamkan matanya dan menengadahkan kepalanya menghadap langit dengan senyuman yang sangat manis.
"Bukankah ini indah?" Bisikan seorang pria tepat ditelinga Arvina, bahkan pria itu merangkul pundaknya dari belakang membuat Arvina tersentak.
"Kenapa kau bisa disini?" Tanya Arvina kesal sedikit takut.
"Mengikutimu." Jawab pria tersebut santai lalu berjalan duduk disamping Arzena.
"Dave, hentikan semua ini." Titah Arvina kesal.
Dave tersenyum sinis.
"Aku terlanjur memulai semuanya. Jadi aku tidak akan berhenti sampai aku mendapatkan yang aku inginkan." Ucap Dave menatap tajam kedua manik teduh yang selalu membuatnya tenang itu.
"Kembalikan pekerjaan Ken!" Titah Arvina.
"Dengan senang hati, tapi kau tentu tahu syaratnya. Kembali padaku dan aku melakukan semuanya, apapun itu untukmu." Ucap Dave santai lalu mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya, membakarnya dan menghisap nya dalam.
"Percuma aku bersamamu jika aku tidak mencintaimu." Ujar Arvina mencoba membujuk Dave.
"Aku tidak keberatan. Karena cinta bisa ditumbuhkan saat dua orang itu hidup bersama." Jawab Dave santai.
"Kau memang sangat keras kepala." Gerutu Arvina menahan amarahnya.
"Aku akui. Dan kau tahu? Hanya kau yang bisa meruntuhkan sifat keras ku. Sayangnya kau tidak ingin menjadi orang itu." Ujar Dave menghisap lagi rokoknya.
"Jika aku bersamamu hanya karena ingin menolong Ken, maka sama saja aku membohongimu." Ujar Arvina lagi.
"Aku tidak pernah keberatan dengan semua hal yang kau lakukan asalkan kau bersedia hidup bersamaku." Dave menimpali.
"Aku tidak bisa Dave." Ucap Arvina lalu bangkit dari duduknya dan hendak melangkah pergi, namun perkataan Dave menghentikannya sejenak.
"Maka lihatlah bagaimana aku menghancurkan satu persatu orang yang kau sayangi hingga kau sendiri yang akan datang memohon dan menyerahkan dirimu padaku. Semoga saja saat hari itu tiba, cinta untukmu masih ada dalam hatiku." Ucap Dave lalu berdiri dan melangkah meninggalkan Arvina terlebih dulu.
Perasaan Arvina menjadi semakin tidak enak, pikirannya semakin bercampur baur. Namun sekali lagi ia segera menggeleng untuk menepis segala prasangka buruknya.
Ia memilih melangkah pergi dari taman itu dan memutuskan untuk kembali kerumah nya.
•••••••••
"Kenapa aku dingin sekali?" Gumam Arzena memeluk tubuhnya sendiri.
Badannya juga gemetar, dan mengucurkan keringat dingin.
"Aku membutuhkan Devil milik Dave." Gumamnya lagi.
Arzena lalu meraih ponselnya dengan tangan gemeter dan menghubungi Dave.
Panggilan langsung terhubung dan diangkat oleh Dave.
"Dave..aku membutuhkan Devil. Berikan padaku, berapapun harganya akan ku bayar." Pinta Arzena dengan suara gemetar.
"Oh wow...apakah Devil ku semenarik itu sampai kau begitu cepat jatuh cinta padanya?" Tanya Dave santai.
"Aku mohon Dave." Pinta Arzena memelas.
Keringat dingin semakin membasahi tubuhnya.
"Baiklah. Aku akan memberikanmu lagi secara gratis. Sebentar lagi anak buahku akan menjemputmu." Ucap Dave dan langsung menutup panggilannya.
Arzena segera bersiap. Arzena sudah mulai kecanduan dengan obat terlarang tersebut.
Setelah bersiap, Arzena segera keluar dari rumahnya dengan langkah buru-buru namun sempoyongan.
"Zena, kau mau kemana?" Tanya Arvina khawatir.
"Bukan urusanmu dan jangan ikuti aku." Ucap Arzena.
Tett tett
Bunyi klakson mobil anak buah Dave.
Arzena pun segera masuk kedalam mobil tersebut dan mobil tersebut langsung melaju pergi.
Tak butuh waktu lama mobil tersebut pun berhenti didepan mansion Dave.
Anak buah Dave menuntun Arzena hingga masuk kedalam satu ruangan dimana Dave sudah menunggu di ruangan tersebut.
"Dave, berikan aku Devil sekarang!" Titah Arzena berlutut didepan Dave.
Dave tersenyum sinis dan memainkan sebuah jarum suntik ditangannya.
"Dave aku mohon." Pinta Arzena kini menggosok hidungnya dan memeluk tubuhnya.
"Kali ini aku memberikannya sekali lagi secara gratis untukmu. Tapi setelah ini, ada harga mahal yang harus kau bayar." Ucap Dave dengan seringai menakutkan.
"Apapun Dave. Apapun akan ku lakukan untuk mu asal kau berikan Devil padaku." Ucap Arzena pasrah.
"Bagus." Ucap Dave melemparkan jarum suntik berisi cairan haram itu pada Arzena.
Arzena segera membuka tutup jarum suntik tersebut dan menyuntikkan pada lengannya.
Dave pun segera keluar dari ruangan itu.
Tak lama Arzena mulai dipengaruhi obat tersebut dan mulai meracau hal yang bukan-bukan.
...~ TO BE CONTINUE ~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Ricka Monika
baik Dev maupun Ken sama sama tidak ada yg baik perilakunya
2023-09-01
0
Mommy Gyo
2 like hadir thor
2021-08-01
1
🦊⃫⃟⃤Haryani_hiatGC𝕸y💞🎯™
senin semangat kakak🤗
2021-07-05
1