"Kau sangat cantik." Batin Dave menelusuri setiap garis wajah Arvina dengan telunjuknya.
Hari sudah berganti pagi, namun Arvina masih nyenyak dalam pelukan Dave sedangkan Dave sudah tersadar duluan.
Perlahan Dave mendekatkan wajahnya pada wajah dan mencium lembut bibir Arvina.
"Um.." Arvina seketika tersadar dan meronta, namun dengan gerakan cepat Dave mengangkat tubuh Arvina hingga berada diatasnya tanpa melepas pautan bibir mereka.
Perlahan Arvina mulai terbuai dan membalas perlakuan Dave tanpa sadar.
Dave tidak berbuat lebih, bahkan tangannya tidak menggerayangi tubuh Arvina. Hanya setia menahan pinggang Arvina dengan kuat agar Arvina tidak melepaskan diri.
Dave akhirnya menyudahi aksinya dengan kecupan lembut dikening Arvina.
"Good morning, babe." Ucap Dave tersenyum manis.
"Kau ini kenapa suka sekali berbuat semaumu?" Ketus Arvina meronta untuk lepas namun bukan Dave namanya jika menurut dengan mudah.
Ia tetap bertahan memeluk Arvina diatasnya.
"Jangan pernah pergi dari ku. Aku membutuhkan mu." Ujar Dave tepat di telinga Arvina.
Seketika Arvina mematung dan mencoba mencerna perkataan Dave.
"Sudah sudah, lepaskan aku! Aku ingin ke toilet sekarang." Pinta Arvina dan akhirnya Dave melepaskannya.
Arvina segera berlari masuk kedalam toilet.
Dave hanya tersenyum melihat tingkah gadisnya itu.
Dave tidak peduli dan pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkan Arvina sekalipun harus memaksa Arvina dengan cara jahat.
"Apa kau mau ke toilet juga?" Tanya Arvina saat ia keluar dari kamar mandi.
Dave mengangguk.
Arvina hendak membantu, namun Dave melarang.
"Tugas mu menemaniku bukan melayani ku." Ucap Dave dan turun sendiri dari ranjangnya dan berjalan pelan menuju kamar mandi.
Arvina memilih untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Ken.
"Ken, apa kau tadi malam sampai dirumah dengan aman?" Tanya Arvina khawatir.
"Em..bahkan mereka mentraktir ku makan." Jawab Ken lemah.
"Kenapa kau lemah?" Tanya Arvina lagi.
"Aku mengantuk. Tadi malam adikmu sangat berisik." Ucap Ken mengeluh.
"Berisik apanya?" Tanya Arvina bingung.
Ia mulai berpikir yang tidak tidak tentang Arzena.
"Adikmu tadi malam bernyanyi sampai subuh. Aku gila dibuatnya." Keluh Ken lagi.
"Ya sudah..nanti jika kau ragu untuk berangkat sendiri ke tempat magang, kau bisa menumpang Arzena. Dan satu lagi tolong beritahu Angie kalau aku ... "
Belum selesai Arvina berbicara, Dave sudah merebut ponselnya dari belakang.
"Aku sudah mengatur semuanya untuk mu." Ucap Dave dingin dan langsung meng nonaktifkan ponsel Arvina.
Arvina mendengus kesal dan memutar malas matanya.
"Apa kau tidak bisa mengijinkan ku pulang sebentar untuk mengambil pakaian ganti ku?" Tanya Arvina memelas.
"Sebentar lagi pelayan ku akan datang dan membawa semuanya untuk mu." Ucap Dave kembali duduk diatas ranjangnya.
"Dave, apa kau tidak perlu mengabari keluarga mu?" Tanya Arvina bingung.
"Kemarilah." Titah Dave melambaikan tangannya.
Arvina menurut.
Dave menarik Arvina hingga Arvina naik dan duduk diatas pangkuannya.
"Dave, kau sedang sakit." Ucap Arvina meminta lepas.
"Diam dan jangan banyak bergerak, atau akibatnya bisa lebih buruk dari ini." Titah Dave menenggelamkan wajahnya pada dada Arvina.
"Aku tidak punya keluarga selain paman ku. Tapi dia juga sudah meninggal." Ucap Dave sendu.
"Bagaimana dengan orang tua mu?" Tanya Arvina.
"Mereka hidup tapi juga mati." Ucap Dave dengan air mata mulai menetes.
"Maafkan aku." Ucap Arvina dan tangannya reflek mengelus kepala Dave.
Dave menangis dalam diam. Untuk pertama kalinya Dave berani menangis didepan seorang perempuan dan hanya didepan Arvina.
"Arvina, menikahlah dengan ku dan jadi keluarga ku satu satunya!" Pinta Dave dengan nada memerintah.
"Tidak Dave. Pernikahan harus didasari dengan cinta. Tapi kita tidak saling mencintai." Ucap Arvina bimbang.
"Aku mencintaimu." Jawab Dave tegas.
"Tapi aku tidak." Balas Arvina.
Dave merasa kesal, namun ia mencoba mengontrol diri.
"Baiklah. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku terlebih dulu, baru setelah itu kita menikah!" Ucap Dave tegas.
"Aku tidak mau." Arvina menolak.
"Aku tidak menerima penolakan! Terlebih lagi dari mu." Ucap Dave memegang dagu Arvina dengan satu tangannya sedangkan tangan yang lain untuk menahan tubuh Arvina diatas pangkuannya.
Arvina hanya mendengus kesal dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Maaf mengganggu Tuan." Ucap seorang pelayan Dave yang baru sampai.
"Letakkan saja disofa!" Titah Dave tanpa melepaskan Arvina, ia tahu pelayan nya itu membawa barang pesanannya, sedangkan Arvina langsung menenggelamkan wajahnya pada pundak Dave karena malu.
Si pelayan menurut.
"Pergilah! Jika aku membutuhkan mu, aku akan memanggil." Titah Dave lagi.
Si pelayan pun langsung pergi.
"Sudah." Ucap Dave yang tahu jika Arvina sedang malu.
"Bersihkan dirimu dulu. Sebentar lagi anak buah ku akan datang membawakan makanan untuk kita." Ucap Dave mengelus lembut wajah Arvina yang baru ia sadari sudah tidak ditutupi plester lagi.
Arvina menurut, ia turun dari pangkuan Dave dan mengambil asal paperbag yang ada disofa dan segera ia masuk kedalam kamar mandi.
Dikamar mandi, ia memeriksa dulu isi paperbag tersebut dan ternyata memang semua perlengkapan untuk perempuan.
Segera Arvina pun membersihkan dirinya. Sesekali Arvina bersenandung membuat Dave yang mendengar ikut tersenyum.
Dave benar benar jatuh dalam pesona seorang Arvina yang menurutnya berbeda dengan semua wanita yang pernah menghabiskan malam bersamanya.
Selesai dengan ritual mandinya, Arvina keluar dari kamar mandi dengan raut wajah cemberut sedangkan Dave tertegun melihat Arvina sangat anggun dalam balutan dress berwarna peach dengan panjang hingga lutut dan berlengan buntung.
"Kau sangat cantik sayang." Puji Dave pada Arvina.
"Tapi aku tidak suka pakaian seperti ini. Aku lebih suka pakaian seperti yang ku pakai tadi." Ucap Arvina merengek.
Arvina lebih suka berpenampilan boyish namun tetap tidak melupakan jati dirinya sebagai perempuan, ia lebih suka mengenakan kemeja, kaos, atau celana daripada dress yang menurutnya sangat merepotkan.
"Aku lebih suka kau yang sekarang. Satu hari ini saja." Pinta Dave tanpa mengalihkan pandangannya.
Arvina menghembuskan nafas kesal.
Ia akhirnya memutuskan untuk kembali kedalam kamar mandi mengingat rambutnya masih sedikit basah.
"Kemarilah! Aku akan membantu mu." Titah Dave seolah mengerti pergerakan Arvina.
Arvina pun akhirnya melangkah mendekati Dave dan memberikan handuk kecil yang ia pegang pada Dave.
Arvina duduk disamping Dave namun Dave merubahnya hingga membelakangi dirinya.
Dengan lembut Dave membantu Arvina mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil tersebut.
Dave tersenyum seolah ia sedang memanjakan istrinya.
"Dave, apa lukamu sudah pulih sehingga kau bisa bergerak dengan mudah?" Tanya Arvina penasaran.
"Belum. Hanya saja aku tidak boleh lemah. Terlebih lagi aku seorang pria." Jawab Dave datar.
"Tapi seorang pria juga manusia. Ada kalanya mereka juga perlu menjadi lemah." Ucap Arvina.
Sekali lagi Dave jatuh dalam kehangatan yang tanpa Arvina sadar sudah Arvina berikan padanya. Bagaimana bisa Dave membiarkan dirinya kehilangan seorang Arvina? Itu tidak akan pernah terjadi.
"Baiklah. Aku akan menjadi lemah untukmu." Ucap Dave malah memeluk Arvina dari belakang.
"Astaga Dave, itu tidak perlu. Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk bersamamu." Bantah Arvina.
"Tidak sekarang, tapi nanti!" Ucap Dave lagi.
"Hah, aku malas berdebat dengan mu. Sekarang ayo, aku akan membantu mu mandi." Ucap Arvina yang malah disalah artikan oleh Dave.
"Tidak. Belum saatnya kau membantuku mandi. Aku bisa sekarang." Ujar Dave lalu turun dari ranjang dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.
"Ken ku, aku merindukan mu." Batin Arvina sedih.
"Maaf menganggu Nona. Ini makanan untuk Tuan dan Nona." Ucap seorang anak buah Dave menyimpan satu paperbag pada meja sofa.
Ruangan tempat Dave menginap adalah ruangan v
VVIP, maka dari itu fasilitasnya cukup lengkap.
"Terima kasih." Jawab Arvina sopan.
"Gadis ini sangat berbeda. Pantas saja Tuan Dave sanggup menunggunya dan tidak pernah ingin menjalin hubungan serius dengan wanita manapun hanya untuk menunggunya." Batin pria tersebut lalu membungkuk sedikit dan keluar dari ruangan tersebut.
Selesai Dave mandi, ia pun keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit sempurna di pinggangnya menampilkan bentuk badannya yang atletis, tak lupa tato yang menghiasi kedua tangannya bahkan beberapa didada dan punggungnya.
"Sayang, bantu aku mengganti perban luka ku." Pinta Dave lalu duduk diatas ranjang masih dengan handuk melilit sempurna di pinggangnya.
"Ah ya ampun, aku lupa kalau bekas jahitan mu tidak boleh terkena air." Ucap Arvina panik.
Ia yang tadi sibuk menyiapkan makanan pun segera mendekat pada Dave.
"Tenanglah, semua sudah ku atasi." Ucap Dave mengusap lembut rambut Arvina.
Arvina bernafas lega. Ia pun segera membantu Dave mengolesi bekas jahitan Dave dengan salep khusus dari dokter lalu menutupnya dengan perban dan plester.
"Terima kasih." Ucap Dave mengecup kening Arvina lalu turun dari ranjang dan meraih paperbag yang tadi dibawa pelayannya dan segera mengenakan pakaiannya.
Dave tidak ingin mengenakan pakaian pasien dari rumah sakit.
Arvina tidak menutup mata namun juga tidak melihat kearah Dave.
"Sayang, kemarilah! Aku sudah lapar." Titah Dave saat melihat Arvina mematung di tepi ranjang.
Arvina akhirnya mendekat dan duduk di sampingnya.
"Makanlah!" Titah Dave menyodorkan sesendok makanannya pada Arvina.
Arvina menerima suapan darinya membuatnya tersenyum puas.
Dari mulai makan hingga selesai, Dave sibuk menyuapi Arvina tanpa mengijinkan Arvina makan sendiri. Arvina jadi bingung, yang sakit dirinya atau Dave sebenarnya?
"Sayang, temani aku. Aku janji setelah aku sembuh total, aku akan mengijinkan mu pulang dan beraktivitas seperti biasa. Tapi kau jangan nakal, karena aku akan mengawasimu." Ucap Dave.
Arvina hanya mengangguk, malas untuk berdebat.
......~ To Be Continue ~......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
coco
maaf, nyicil dulu ya kak
2021-07-15
1
Emak Femes
dave arvina 😍😍
dapat jempol.dari.mamaknya Raanjhana 👋👋
2021-06-30
1
👑Meylani Putri Putti
hadir nih thor
2021-06-24
1