"Arvina." Lirih Dave saat melihat Arvina berdiri ditepian rooftop.
Ia semakin mempercepat langkahnya dan langsung memeluk Arvina dari belakang.
Arvina tersentak dan langsung meronta lepas.
PLAKK
Arvina menampar Dave.
"Pria brengsek, kau pikir kau siapa? Seenaknya memeluk ku." Ketus Arvina.
Dave tidak marah dan malah tersenyum.
"Ya ampun sayang, kau dari kecil sampai sekarang benar benar tidak berubah. Masih saja suka menampar ku." Ucap Dave mencubit gemas hidung Arvina.
"Dasar pria aneh." Ucap Arvina ketus lalu hendak melangkah pergi dan Dave segera menahannya.
"Kau lupa padaku?" Tanya Dave sendu.
"Aku bahkan tidak ingin mengenalmu." Ketus Arvina lagi.
Dave menarik tangan Arvina hingga Arvina kembali jatuh kedalam pelukannya.
"Aku Dave. Dave mu." Ucap Dave dengan percaya diri.
Ia kemudian melepaskan ikat rambut Arvina dari lengannya dan mengikat rambut Arvina menggunakan ikat rambut itu.
Arvina merasa bingung dengan perlakuan Dave.
"Dan ikat rambut itu adalah pemberian mu." Ucap Dave menangkup wajah Arvina.
Arvina tampak mencoba mengingat.
"Astaga. Jadi kau adalah bocah kecil yang mesum itu?" Tanya Arvina tak percaya.
Dave terkekeh.
"Benar." Jawab Dave.
"Hah, kau ini. Dari kecil sampai sekarang selalu saja membuatku marah." Gerutu Arvina sebal.
"Maafkan aku. Wajahmu pasti sakit." Ujar Dave mengelus wajah Arvina yang terluka karena cengkeraman ya tadi.
"Wajahku tidak sesakit hati ku. Kata kata mu itu sangat keterlaluan." Ujar Arvina geram.
"Maaf. Aku tidak tahu kalau kau adalah Arvina ku." Dave kembali meminta maaf dan masih mengelus wajah Arvina.
Dua kali Dave meminta maaf, padahal seumur hidupnya pantang baginya untuk meminta maaf sekalipun dia yang bersalah.
"Siapa yang Arvina mu? Jangan menyebut sembarangan. Lagipula jika aku bukan Arvina pun, seharusnya kau berlaku sopan pada siapapun yang menghormati mu." Celoteh Arvina panjang lebar.
Dave hanya tertawa kecil.
"Kau menjadi gadis yang sangat cantik. Tapi caramu bicara dan menghormati seseorang sama sekali tidak berubah." Batin Dave kagum pada gadisnya.
"Kau milikku Arvina, jangan pernah lupakan itu!" Ucap Dave santai namun terdengar seperti ancaman.
Arvina memutar malas matanya dan menganggap itu hanya candaan.
"Terima kasih. Terima kasih kau datang untukku." Ucap Dave tanpa rasa malu dan kembali memeluk Arvina.
"Aku kemari untuk magang Dave, bukan datang untukmu." Sanggah Arvina.
"Tidak. Garis takdir yang membawamu kepadaku." Ujar Dave dengan percaya diri.
"Sudahlah, lepaskan aku. Aku bisa mati karena pelukan mu ini." Gerutu Arvina kesal.
Dave melepaskan pelukannya dan menarik lembut tangan Arvina untuk mengikutinya.
"Hei, kau mau bawa aku kemana?" Protes Arvina.
Dave tidak menjawab, ia menarik Arvina hingga masuk kedalam lift dan menekan tombol panel lift yang membawanya ke parkiran bawah tanah gedung itu.
Selama menunggu lift tiba di tujuan, Dave menggenggam erat tangan Arvina seakan Arvina akan pergi jika ia melepaskan tangan itu.
Ting..
Pintu lift terbuka.
Dave kembali menarik Arvina keluar dari lift dan mengikutinya..
Semuanya Dave lakukan dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
Dave membawa Arvina masuk kedalam mobilnya.
"Ada apa ini?" Arvina menyilang tangannya menutupi dadanya saat Dave mengunci pintu mobilnya.
"Aku tidak akan melakukan itu sekarang sayang." Ucap Dave lembut.
Arvina bernafas lega.
"Eh, tidak sekarang? Hei, kau juga tidak bisa melakukan itu padaku di masa mendatang." Protes Arvina.
"Kau milikku Arvina. Jadi kita akan melakukan itu setelah kita menikah dan saat kau siap tentunya." Timpal Dave penuh percaya diri.
"Memangnya siapa yang mau menikah dengan nya?" Gumam Arvina, Dave tentu dapat mendengarnya namun ia memilih mengabaikan.
Ia mengeluarkan kotak obat kecil dari dalam laci mobilnya.
"Apa ini? Jangan bilang kau ingin membius ku lalu kau akan melakukan hal itu padaku?" Tuduh Arvina.
"Astaga sayang, kenapa kau selalu berpikir hal buruk tentang ku?" Tanya Dave sedikit kesal.
"Karena kau itu..mesum sejak kecil." Jawab Arvina memelankan suaranya pada tiga kalimat terakhir.
Dave memutar malas matanya.
Ia kemudian mengeluarkan beberapa jenis obat untuk mengobati wajah Arvina.
"Tutup mata mu." Titah Dave lembut.
Arvina sudah malas berdebat pun akhirnya menurut.
Dengan telaten Dave membersihkan luka diwajah gadisnya itu.
Wajah mereka sangat dekat membuat keduanya merasa gugup, terutama Dave.
Deru nafas mereka saling bersautan, membuat Dave sebagai pria sejati merasa tubuhnya memanas.
Dave malah sengaja memperlambat gerakannya untuk menguji dirinya sendiri.
"Dave, kenapa lama sekali?" Protes Arvina.
Dave tersadar dari lamunan liarnya dan segera menyudahi kegiatan nya.
Dave menyimpan kembali kotak obat tersebut.
"Terima kasih." Ucap Arvina.
Dave tersenyum.
Arvina hendak turun dari mobil Dave, namun Dave tidak mengijinkan.
"Astaga Dave, aku harus bekerja. Jika aku bolos, bisa bisa nilai ku jelek dan aku bisa mengecewakan Dad dan Mom."Pinta Arvina.
" Apa mempunyai orang tua sangat bahagia? Orang tua ku bahkan tidak pernah menganggap diriku ada." Tanya Dave sendu dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobilnya.
"Selama ini hanya paman ku yang peduli padaku. Tapi karena sakit, akhirnya dia meninggal saat aku berumur enam belas tahun." Keluh Dave sendu.
Arvina hanya diam. Ia sekarang mengerti kenapa Dave sangat nakal saat kecil dulu.
"Rasanya tidak ada yang peduli padaku selain pamanku dan dirimu." Ucap Dave lagi lalu memejamkan matanya.
"Aku? Darimana peduli ku padanya? Apa dia tidak sadar kalau aku membencinya?" Gumam Arvina.
Dave tersenyum.
"Aku rasa kau mencintaiku sayang. Kata katamu lima belas tahun lalu membuat ku bersemangat untuk menjadi lebih kuat dari siapapun bahkan menjadi yang terkuat." Ucap Dave kini menatap lekat pada Arvina.
"Apa benar kau adalah ketua gangster terkuat di negara ini?" Tanya Arvina ragu.
"Em..dan itu semua demi dan untuk dirimu." Jawab Dave.
"Aku bahagia bertemu denganmu lagi." Ucap Dave lagi dan satu tangannya terulur untuk mengelus pipi Arvina.
"Dave, aku harus bekerja." Pinta Arvina merengek.
"Sayang, aku adalah atasan mereka semua. Jadi kau tidak perlu takut. Dan soal nilai, aku akan mengaturnya untuk mu." Ucap Dave santai, lalu mengeluarkan sebatang rokok dari laci mobilnya.
"Astaga pria ini benar-benar. Apa dia tidak suka ditentang?" Gumam Arvina kesal saat dengan santainya Dave menurunkan jendela mobilnya dan membakar rokoknya lalu menghisap nya dalam.
"Kau pintar. Aku tidak suka ditentang bahkan dalam hal kecil sekalipun." Jawab Dave.
Arvina akhirnya pasrah, daripada dirinya mendapat bahaya pikirnya.
"Sayang, apa kau sudah punya kekasih saat ini?" Tanya Dave dengan nada yang terdengar menakutkan.
"Aku tidak punya. Tapi aku punya seseorang yang aku sukai." Jawab Arvina jujur.
Dave tersenyum sinis yang entah apa itu artinya.
"Baiklah jika aku harus berjuang sedikit untuk mendapatkan hatimu, aku siap." Ucap Dave tanpa ragu.
Dave adalah pria yang tidak suka penolakan, sesuatu yang ia inginkan harus ia dapatkan bahkan dengan cara kotor sekalipun.
"Dave aku mohon, aku harus kembali bekerja." Pinta Arvina memasang wajah memelas dan mengatup kedua tangannya dihadapan Dave.
"Baiklah baik. Aku akan mengantar mu kembali ketempat mu." Ucap Dave lalu mematikan puntung rokoknya pada asbak yang ada di dashboard mobilnya.
Dave turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Arvina.
Ia menggenggam tangan Arvina hingga masuk kedalam lift.
Didalam lift, ia mencuri kesempatan dengan memeluk Arvina dari belakang. Dave merasa sangat tenang saat menempel pada tubuh mungil itu.
Begitupun Arvina, hanya saja hatinya tetap memikirkan Ken walau ia nyaman dalam pelukan Dave.
Pintu lift terbuka, namun Dave tidak segera me mengijinkan Arvina keluar.
Ia membalikkan tubuh Arvina dan memeluk Arvina dari depan.
"Jangan bekerja terlalu keras. Jika kau butuh uang mintalah padaku, karena semua hartaku adalah milikmu juga. Jika kau ingin mendapatkan nilai yang bagus, aku akan mengaturnya untuk mu. Tapi jangan sampai kau mengacuhkan ku." Ucap Dave.
Entah sadar atau tidak, tapi Arvina mengangguk.
"Keluarlah. Lain kali aku akan menjemput dan mengantar mu. Sekarang aku tahu kau pasti membawa kendaraan sendiri." Ucap Dave melepaskan pelukan nya.
Dan sekali lagi Arvina mengangguk.
Dave kemudian mengecup kening Arvina dengan lembut.
"Pergilah." Titah Dave menuntun Arvina keluar dari lift namun tidak dengannya.
Dave melambaikan tangannya dan Arvina pun melangkah pergi.
"Syukurlah tidak ada yang melihat." Ucap Arvina mengelus dada.
"Kau milkku Arvina! Dan sampai kapanpun akan tetap milikku. Jika kau menolak, aku tetap akan memaksamu dan mendapatkan mu meski dengan cara kotor sekalipun." Batin Dave setelah didalam lift.
...~ To Be Continue ~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Cahya's
aku suka semua ceritamu thor
2021-08-26
1
Kadek Eni
bagus banget ceritanya dan mudah mudahan ceritanya nyambung terus
2021-07-20
1
coco
mampir LG.
jgn lupa mampir juga ya
2021-07-11
0