"Ken, apa kau yakin hari ini tetap akan pergi magang seperti biasa?" Tanya Arvina cemas.
Wajah Ken babak belur akibat hantaman dari tangan Dave yang bertubi-tubi tadi malam.
Bahkan untuk mengunyah sarapan saja saat ini Ken selalu meringis kesakitan.
"Em..aku yakin." Jawab Ken singkat.
"Apa tidak sebaiknya kau istirahat saja dirumah?" Tanya Arvina lagi.
"Aku tidak apa-apa sayang. Percayalah." Ucap Ken datar.
Ia tampak baik, namun hatinya memaki. Memaki kelemahannya, memaki Dave, bahkan ingin rasanya ia memaki Arvina jika Arvina bukan gadis yang ia cintai.
"Ya sudah kalau begitu." Ujar Arvina pasrah.
Mereka pun melanjutkan sarapan mereka hening.
"Ohho, lihatlah! Tampan sekali wajahmu miskin?" Tanya Arzena yang baru saja pulang entah dari mana.
Ken hanya menunduk tidak ingin menanggapi.
"Zena, kau dari mana saja? Kenapa kau sangat jarang pulang kerumah?" Tanya Arvina kesal.
"Tentu saja menghabiskan malam dengan bersenang-senang." Jawab Arzena santai.
"Zena, berhentilah sebelum kau mendapatkan masalah akibat semua kenakalan mu!" Titah Arvina lembut.
"Stt..diamlah! Jika kau ingin menjadi orang suci silahkan. Jangan ceramahi aku!" Ucap Arzena kesal dan langsung menghentakkan kakinya naik kekamar nya.
Arvina menunduk sedih.
Ia mulai merasa hidupnya semakin hari semakin banyak masalah sejak datang ke Australia.
"Sudahlah, jangan bersedih! Semua akan baik-baik saja nanti." Ucap Ken menenangkan kekasih nya.
Arvina hanya tersenyum sekilas.
"Ayo, kita berangkat sekarang." Ajak Arvina.
Ken menurut. Mereka pun keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil, dan seperti biasa, Arvina yang mengemudi.
Ken memang sudah bisa mengemudi, namun Arvina belum mengijinkan mengingat Ken juga tidak mempunyai SIM.
"Ken, aku minta maaf atas tingkah Dave tadi malam." Pinta Arvina merasa bersalah.
"Kau tidak perlu meminta maaf. Bukan salah mu." Ucap Ken memaksa untuk tersenyum.
Keduanya kembali hening dan sepanjang perjalanan pun mereka hening hingga sampai didepan perusahaan tempat magang mereka.
Sesampainya ditempat magang, mereka di suguhkan dengan pemandangan tak biasa.
Banyak pria berpakaian serba hitam menjaga disekitar gedung tersebut.
"Ada apa lagi ini?" Gumam Arvina tidak enak hati.
"Apa lagi ulah pria bangsat itu?" Gumam Ken yang yakin itu adalah ulah Dave.
Mereka berniat segera masuk kedalam gedung.
Arvina diijinkan masuk, dan saat Ken hendak masuk, dua pria yang berjaga di pintu menghalangi Ken.
"Hei, aku juga harus masuk." Ucap Ken kesal.
Kedua pria itu tidak menjawab dan tetap menghalangi Ken.
"Ada apa ini? Tuan, dia juga harus masuk, dia adalah anggota magang disini." Ucap Arvina, namun lagi lagi kedua pria tersebut tidak bersuara.
"Oh Hai Arvina." Ucap Angelo dari dalam menyambut Arvina.
"Angie, ada apa ini? Kenapa Ken dilarang masuk?" Tanya Arvina bingung.
"Aku tidak tahu sayang. Tapi pemegang saham terbesar di gedung ini hanya berpesan "Kembali padaku dan semua ku anggap selesai!" itu saja." Jawab Angelo sesuai perintah Dave.
"Dia lagi. Dimana dia sekarang?" Tanya Arvina geram.
"Di mansion nya tentu saja." Jawab Angelo lagi.
Arvina segera keluar dari gedung tersebut dan kembali masuk kedalam mobilnya tanpa menghiraukan teriakan Ken dan Angelo.
Arvina melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke mansion Dave.
Tak berselang lama akhirnya ia sampai.
Mansion Dave terlihat sepi tidak seperti beberapa waktu lalu saat ia datang. Para penjaga juga tidak kelihatan.
Arvina tidak ingin berpikir banyak dan langsung berjalan masuk kedalam mansion Dave.
"DAVE!" Teriak Arvina geram.
Tidak ada jawaban.
"Dimana Tuan mu?" Tanya Arvina saat ia berpapasan dengan seorang pelayan dirumah Dave.
"Dikamarnya, Nona." Jawab pelayan tersebut dan langsung melenggang pergi.
Arvina yang sudah tahu letak kamar Dave pun segera berlari naik ke atas kamar Dave.
Tanpa mengetuk, ia langsung masuk kedalam kamar Dave.
Dave berbaring diatas ranjangnya dengan tubuh tertutup selimut.
"Bangun bangsat!" Ucap Arvina geram dan menyibak paksa selimut Dave.
Seketika Arvina terkejut melihat begitu banyak bekas goresan pisau dilengan serta tubuh Dave karena Dave sedang bertelanjang dada.
"Dave, kau kenapa?" Tanya Arvina panik dan naik ke atas ranjang Dave lalu memeriksa keadaannya.
"Panas sekali?" Gumam Dave saat merasa tubuh Dave sangat panas.
"Pergilah!" Titah Dave dengan suara lemah.
"Kau sakit dan harus diobati!" Ucap Arvina pelan.
"Aku bilang pergi! Jangan mengganggu ku! Pergi dan urus pria lemah itu!" Ucap Dave lagi dengan nada lebih tinggi namun Arvina masih tidak menghiraukan dan mencoba mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menurunkan suhu tubuh Dave.
"Aku bilang pergi!" Titah Dave geram dan mendorong tubuh Arvina hingga jatuh dari ranjangnya saat Arvina hendak meng kompres keningnya.
Dave turun dari ranjangnya dengan gontai tanpa ada niatan untuk membantu Arvina.
"Kau tahu Arvina? Hanya kau gadis satu-satunya yang mampu membuat ku terpuruk seperti ini. Hanya kau yang mampu membuat ku tersiksa seperti ini. Aku sakit bukan pada tubuhku, tapi hatiku." Ucap Dave sendu sambil memegangi dadanya.
Arvina bangkit dari posisinya dan berdiri berhadapan dengan Dave.
"Arvina, kau membuatku jatuh cinta hingga begitu dalam kepadamu sejak kita masih sangat kecil. Kalimat mu membuatku bertekad untuk menjadi pria yang kuat agat tidak diremehkan orang lain dan agar aku dapat melindungimu satu hari nanti hingga akhirnya Dave yang kuat seperti sekarang ada disini. Setelah semua yang aku perjuangkan aku pikir aku bisa hidup bahagia bersamamu dan cinta darimu. Tapi aku salah, aku masih salah. Aku bahkan tidak ada harganya dimatamu." Ucap Dave sedikit meninggikan suaranya.
"Aku saat ini membencimu dan mencintaimu secara bersamaan. Dan kau tahu? Rasanya sakit bahkan berjuta kali sakit melebihi luka di tubuhku." Ucap Dave lagi dan Arvina hanya diam memandangi Dave.
"Dave, sungguh kau bisa menemukan perempuan yang lebih baik dariku." Ucap Arvina membujuk Dave.
"Tidak. Tidak ada perempuan sebaik dirimu. Tidak ada yang mampu membuat ku tenang selain dirimu. Bahkan saat ini aku sedang marah padamu, tapi hatiku tenang hanya dengan melihat dan mendengar suaramu." Ucap Dave lagi.
"Dave, sungguh aku tidak ingin menyakitimu. Dari awal aku sudah bilang aku tidak mencintaimu. Aku hanya menganggap mu teman." Ucap Arvina.
"Lalu kenapa mau menerima pelukanku? Kenapa kau menerima begitu saja saat aku menciummu dan bahkan kau membalasnya? Kenapa kau harus merawat ku dengan sangat baik? Sekalipun aku yang memaksamu, kau masih bisa menolak semua itu." Tanya Dave getir dan Arvina kembali terdiam.
"Kau tahu? Sejak lahir sampai sekarang aku hanya merasa nyaman berada di dekat pamanku dan dirimu. Kau membuatku membutuhkan dirimu dan kau juga yang membunuhku." Teriak Dave frustasi.
"Arvina, aku beri satu kesempatan terakhir untukmu, untuk kita. Kembali padaku sekalipun kau tidak pernah mencintaiku dan aku akan melupakan semuanya. Aku akan mengembalikan si lemah itu ke tempatnya semula dan bahkan akan menaikkan posisinya dan memberinya kesempatan untuk meraih mimpinya. Kembali padaku." Ucap Dave bernegosiasi dengan Arvina.
"Tidak! Aku tidak bisa. Aku tidak mungkin mengkhianati Ken. Tidak mungkin." Tolak Arvina dan berbalik hendak keluar dari kamar Dave namun langkahnya tertahan mendengar perkataan Dave.
"Baik. Pergi saja! Dan lihat bagaimana aku menghancurkan orang-orang yang kau sayangi satu-persatu. Mulai dari pria lemah itu. Dan lihatlah bagaimana nanti kau akan memohon untuk mereka." Ucap Dave dengan seringai menakutkan dan langsung berjalan masuk kedalam kamar mandi dengan membawa ponselnya.
Arvina pun segera keluar dari kamar Dave bahkan meninggalkan rumah Dave.
Dave menghubungi Drick sambil mengguyur tubuhnya dengan air shower yang mengalir.
"Pantau kembaran dari gadisku dan beritahu aku lokasinya!" Titah Dave tanpa basa basi dan langsung mematikan ponselnya.
...~ TO BE CONTINUE ~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
el Putriᵉˡ̳༆
Arzena jadi sasaran Dave
2021-07-19
1
abjdefghij
like 💋
2021-06-25
1
oyttigiz
like kaka
2021-06-23
1