"Hei, apa semuanya sudah siap?" Tanya Arvina memastikan.
"Sudah." Jawab Ken semangat.
Mereka tadi malam bergadang untuk menyelesaikan tugas dari Angelo. Mereka berhasil mendesain satu pasang pakaian untuk pria dan wanita sesuai pesanan Angelo.
"Ayo, kita harus segera berangkat. Angie sudah berpesan agar kita tidak terlambat." Ajak Arvina pada Ken.
Ken menurut lalu mereka pun masuk ke dalam mobil, dan Arvina segera melajukan mobilnya menuju ke tempat magang mereka.
"Semoga saja hasil desain kita bisa terpilih dan aku akan mendapatkan pendapatan pertama ku." Gumam Ken seolah sedang berdoa.
"Kau ini ada ada saja." Ujar Arvina mengacak sayang rambut Ken.
Semakin hari Arvina semakin berani menunjukkan rasa sayangnya pada Ken.
"Vin, apa tadi malam Arzena tidak pulang?" Tanya Ken penasaran.
Ken juga mengkhawatirkan Arzena sekalipun Arzena tidak pernah suka padanya.
"Em..dia bilang dia langsung diminta untuk rekaman." Jawab Arvina sesuai isi pesan dari Arzena.
Ken hanya mengangguk, namun hatinya merasakan sesuatu yang tidak beres tentang Arzena.
Hampir satu jam, akhirnya mereka tiba di tempat magang mereka.
"Angie." Teriak Arvina dan Ken bersamaan saat mereka melihat Angelo yang hendak masuk ke dalam gedung berlantai dua puluh tersebut.
Mereka berlari menghampiri Angelo dan masing-masing mendapatkan pelukan serta kecupan di pipi.
"Angie, ini hasil desain kami." Ucap Ken menyerahkan map yang berisi dua lembar hasil desainnya dan Arvina.
Angelo segera memeriksa.
"Oh God, this so amazing. Hasil desain kalian sangat indah dan ah..aku tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata." Ucap Angelo dengan gaya dan nada gemulai khasnya.
Arvina dan Ken tersenyum.
"Eits, tapi kalian tidak bisa senang sekarang. Yang akan menentukan pilihan adalah sang pemegang saham terbesar di gedung ini. Jadi kalian berdoa saja agar kita bisa lolos." Ujar Angelo mengingatkan.
Keduanya mengangguk semangat.
"Ayo kita masuk." Ajak Angelo pada dua anak buahnya itu.
Mereka pun masuk ke dalam perusahaan itu.
Saat mereka hendak mencapai lift, keadaan lobi gedung itu menjadi heboh.
Hampir semua karyawan baik pria maupun wanita mulai berbisik.
"Itu bukankah Dave Alexon?"
"Ah..dia sexy sekali walau berpenampilan sangar seperti itu?"
"Aku dengar saat ini dia adalah Ketua Gangster penguasa di negara ini."
"Ya ampun, ingin sekali aku menjadi dirinya. Tampan, kaya raya, dan digilai banyak wanita."
"Aku dengar dia tidak pernah serius dalam menjalin hubungan dengan wanita, paling lama hanya bertahan satu minggu. Dan rumornya, dia sudah ada wanita yang ia cintai sejak dulu."
Begitulah bisikan bisikan yang terdengar dan masih banyak lagi.
Arvina dan Ken serta Angelo berbalik untuk melihat sumber kericuhan.
"Oh wow Tuan Dave. Selamat datang." Ucap Angelo langsung menghampiri Dave.
Dave adalah Dave Alexon, teman saat Arvina masih duduk di bangku PAUD.
Ia adalah anak kecil yang pernah ditampar Arvina saat mencium Arzena.
Kini setelah lima belas tahun, ia menjelma menjadi pria yang digilai banyak kaum hawa.
Gangster Kejam Penguasa Australia julukannya. Yah, saat ia berumur tujuh belas tahun ia mulai bergabung dalam satu kelompok gangster, dan setelah lima tahun ia kini mampu menjadi ketua.
Jelas, dengan berbagai cara busuk hingga akhirnya ia mampu naik sebagai ketua, dan membuat hampir semua kelompok gangster lain takut padanya.
Ia memiliki saham besar di banyak sektor usaha. Harta yang pamannya tinggalkan untuknya, ia jadikan saham dan ia tanamkan pada perusahaan besar salah satunya adalah tempat Arvina dan Ken magang sekarang.
"Bagaimana kabar mu banci?" Tanya Dave ketus.
"Aku tentu saja baik." Jawab Angelo tanpa merasa tersinggung.
Ia sudah biasa dengan kata-kata pedas dari Dave.
"Aku rasa dia kaya juga karena harta peninggalan keluarganya." Gumam Arvina menatap Dave dari atas sampai bawah dan bawah sampai atas.
Dave dapat mendengar perkataan Arvina karena ia memiliki pendengaran yang tergolong tajam.
Dave melangkahkan kakinya mendekati Arvina.
Ia berhenti tepat didepan Arvina dan membuka kaca mata hitam yang menghalangi pandangannya hingga mata tajamnya bertemu dengan mata teduh Arvina.
"Aku kaya karena harta peninggalan keluargaku. Ya, memang aku akui itu. Lalu kau? Dari atas sampai bawah, semua yang kau pakai adalah barang branded. Apa kau menjual diri untuk membeli semuanya?" Tanya Dave dengan penuh hinaan.
"Kau ... " Arvina sudah mengangkat tangannya hendak menampar wajah Dave namun ia urungkan.
"Kau tahu Nona? Kau sangat mirip dengan gadisku. Gadis yang suka sekali menampar wajah seseorang, namun perkataannya sangat menenangkan." Ucap Dave tersenyum sinis sambil menggulung lengan bajunya hingga menampakkan kedua lengan kekarnya yang dipenuhi tato.
"Haha..badan mu kekar Tuan. Tapi kau memakai gelang yang mirip dengan ikat rambut perempuan." Ucap Arvina tertawa terbahak. Ia tidak menyadari bahwa gelang ditangan Dave adalah ikat rambut miliknya waktu kecil.
Dave tersulut emosi, dan mencengkram kuat dagu Arvina membuat Arvina meringis.
"Jangan pernah menghina gelang ini bi*ch." Ucap Dave geram dan penuh hinaan.
"Lepaskan dia Tuan. Dia tidak bermaksud menghinamu." Pinta Ken mencoba melerai.
Angelo akhirnya ikut melerai.
"Tuan Dave, maaf atas ketidaknyamanan ini. Vina tidak tahu apa apa. Jadi aku mohon maaf mewakili Vina." Pinta Angelo.
Dave dengan kuat memalingkan wajah Arvina hingga wajahnya terpelanting kesamping, bahkan terluka akibat kuku Dave namun ia tidak menyadari nya.
"Banci, kau ikut aku." Titah Dave lalu melangkah meninggalkan Arvina yang sudah menangis.
Ken mencoba menenangkan Arvina dan Angelo mengikuti Dave.
Beberapa orang yang ada disana merasa iba pada Arvina dan mendekati nya serta menghibur nya.
Dave membawa Angelo sampai di ruangan pribadinya.
"Mana yang aku minta?" Tanya Dave tanpa basa basi.
Angelo langsung memberikan hasil desain Arvina dan Ken pada Dave.
"Em..kali ini kau bekerja dengan baik huh..cepat jahit dan jadikan itu sebagai busana yang indah. Aku akan segera kembali dan melamar gadisku." Ucap Dave sedikit tersenyum namun Angelo tidak dapat melihat senyuman itu.
"Oh ya, aku ingin data diri dari yang membuat desain ini." Ujar Dave.
Angelo pun segera memberikan sebuah map yang berisi biodata Arvina dan Ken.
Dave segera membacanya.
"Arvina Anthony?" Gumam Dave tak percaya dengan nama yang ia baca.
Ia membaca dengan teliti dan seksama setiap isi biodata Arvina.
Jantungnya seketika berdegup dengan sangat kencang.
"Apa mungkin takdir yang membawanya kemari sehingga aku tidak perlu kembali ke London?" Gumam Dave bahagia.
"Banci, yang mana gadis yang bernama Arvina ini?" Tanya Dave semangat.
"Um..itu..gadis yanh tadi menertawakan mu Tuan." Jawab Angelo menunduk.
DEG..
Jantung Dave berpacu lebih cepat dari yang tadi.
Seketika ia merasa bersalah karena sudah menyakiti gadisnya.
Dave segera berlari keluar dari ruangannya dan masuk kedalam lift, lalu turun ke lobi namun sudah tidak mendapati keberadaan Arvina.
Hanya ada Ken berbincang kecil dengan rekan kerja yang lain.
Dave ingin bertanya pada Ken, namun ia yakin Ken tidak akan menjawabnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk mencari sendiri.
Lama mencari namun tidak ada hasil, bahkan para karyawan di gedung itu termasuk Ken merasa heran melihatnya.
Akhirnya Dave memutuskan untuk naik ke lantai paling atas, yaitu rooftop gedung itu.
Dave keluar dari lift. Ia melangkahkan kakinya dengan penuh harap agar Arvina berada disana.
...~ To Be Continue ~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Mommy Gyo
like hadir thor
2021-07-17
1
coco
mampir LG kk
2021-07-09
1
Lizaz
Aku mampir thor bawa like dan favorit juga rate 5
Mampir juga di karya aku cinta agresif tuan muda
Saling mendukung ❤️
2021-07-03
1