...Dilarang Mencontoh Isi didalam Part Ini!!!...
.
.
.
.
"Angie, aku pulang dulu." Pamit Arvina pada Angelo.
Sepulang dari mansion Dave tadi, Arvina tetap kembali bekerja sedangkan Ken terpaksa kembali ke rumah.
"Baiklah sweety, hati-hati dijalan okay." Ucap Angelo mengijinkan.
Arvina pun keluar dari ruangannya lalu berjalan masuk ke dalam lift dengan tidak bersemangat.
"Kenapa rasanya sesak sekali?" Gumam Arvina.
Satu hari ini ia terus mengingat semua perkataan Dave dan membuatnya gelisah.
Ting
Pintu lift terbuka pertanda ia sudah sampai dilobi perusahaan itu.
Saat ia keluar dari lift dan melangkah menuju pintu keluar, Dave dan Drick masuk ke dalam gedung itu sehingga mereka berjalan berlawanan arah.
Arvina yang melamun tidak menyadari Dave datang dari arah berlawanan, dan Dave yang menyadari sengaja tidak menimbulkan suara.
Brukk
Arvina menabrak dada kokoh Dave membuat Dave sigap menahan pinggulnya agar tidak terjatuh. Dave mengenakan kaca mata hitam sehingga hanya ia yang dapat menatap kedalam mata Arvina dan Arvina tidak.
"Dave?" Gumam Arvina tersadar dari lamunannya.
Sigap Arvina langsung berdiri dan melepaskan diri dari pelukan Dave.
"Ma ... "
Belum sempat Arvina mengucapkan kata maaf, Dave langsung pergi dari hadapannya.
"Apa apaan?" Arvina bergumam kesal.
"Mungkin dia sudah kembali waras." Gumam Arvina lagi dan kembali melangkah keluar dari gedung itu.
Ia tidak menyadari Dave kembali berbalik dan menatap kepergiaan nya.
"Matamu jelas mengatakan kau merindukanku. Tapi kenapa kau tidak ingin mengakui hatimu?" Batin Dave mengepalkan kedua tangannya.
"Drick, dimana kembaran gadisku saat ini?" Tanya Dave dengan nada dinginnya.
"Dia saat ini sedang berada di Club milik Tuan." Jawab Drick tegas.
"Jika dia ingin keluar, perintahkan bawahan mu untuk menahannya dengan cara apapun sampai aku datang kesana!" Titah Dave dingin.
Ia pun kembali masuk kedalam lift dan naik keruangan pribadinya. Selama didalam lift ia sudah menghubungi Angelo.
Sesampainya dilantai tempat ruangannya berada, ia langsung melangkah masuk kedalam karena yakin Angelo sudah menunggunya.
"Hi Tuan tampan." Sapa Angelo hendak memeluk Dave namun Dave mengangkat tangannya untuk menghentikan langkah Angelo.
"Hentikan proses pembuatan pakaian yang aku pesan beberapa waktu lalu! Berikan aku desain gaun pengantin yang indah!" Titah Dave datar.
"Siapa yang akan mengenakan gaun tersebut? Maksudku, aku membutuhkan ukuran yang tepat." Tanya Angelo gemulai.
"Arvina!" Jawab Dave tegas dan langsung keluar dari ruangannya meninggalkan Angelo.
Ia dan Drick segera menuju ke Club nya untuk menghampiri Arzena.
•••••••••••
"Sebaiknya aku membelikan sesuatu untuk Ken. Dia pasti belum makan malam." Gumam Arvina.
Ia pun menepikan mobilnya didepan suatu restoran makanan cepat saji.
Arvina lalu memesan beberapa jenis makanan cepat saji untuk dibawa pulang.
Dave kembali melihat Arvina saat lewat didepan restoran cepat saji itu, Arvina menunggu diluar karena memang didalam sangat penuh.
Arvina tidak menyadari Dave melewati nya.
"Lihatlah sayang! Bahkan takdir selalu berpihak dan mempertemukan kita." Gumam Dave tersenyum getir.
"Nona Arvina." Bagian kasir memanggil Arvina karena pesanannya telah siap.
Arvina segera masuk kedalam untuk mengambil pesanannya.
"Terima kasih." Ucap Arvina membungkuk lalu berbalik dan berjalan masuk kedalam mobilnya.
Arvina pun melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah nya.
Tak berselang lama akhirnya ia sampai di rumah nya.
Arvina segera turun dari mobilnya dengan menenteng kantong makanannya tadi dan masuk kedalam rumah.
Keadaan rumahnya gelap saat ia baru membuka pintu dan menginjakkan kakinya masuk kedalam.
"Bau minuman?" Gumam Arvina heran.
Ia mencoba meraba saklar lampu dan menghidupkan lampu ruang utamanya.
"Ken, apa yang kau lakukan?" Tanya Arvina panik saat melihat Ken begitu berantakan dan sedang menenggak minuman keras.
Disisi Ken sudah ada beberapa botol dan kaleng minuman yang kosong.
"Menjauhlah dariku!" Ucap Ken mendorong tubuh Arvina dengan keras.
"Jangan seperti ini Ken, kenapa kau menyakiti dirimu seperti ini?" Tanya Arvina terisak.
"Diamlah! Hidupku sudah hancur dan semua karena dirimu. Kau penyebab kehancuran ku." Ucap Ken menunjuk ke arah Arvina.
"Tidak Ken. Hidupmu tidak hancur. Semua orang mempunyai naik turunnya sendiri. Tenanglah, aku akan membantumu mencari jalan keluar." Ucap Arvina mencoba mendekati Ken namun Ken kembali mendorongnya.
"PERGI! PERGI PADA PRIA BERANDAL ITU! Dengan begitu aku bisa kembali menjadi desainer. Aku bisa kembali memulai karier ku." Bentak Ken penuh amarah.
"Ken, sadarlah! Apa hubungan kita sedangkal itu? Apa hanya karier mu jauh lebih penting dibandingkan cinta kita? Semua pasti ada jalan keluar Ken." Ucap Arvina membujuk Ken.
"Aku mohon tenanglah dulu!" Pinta Arvina.
Ken tidak menghiraukan dirinya dan beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan sempoyongan hingga masuk kedalam kamarnya dan membanting pintu dengan sangat kuat membuat Arvina tersentak kaget.
"Kenapa? Kenapa semuanya jadi begini? Apa salahku?" Gumam Arvina menangis bahkan memukuli dadanya sendiri.
••••••••••
Jika Arvina sedang bersedih dan merenungi kehidupannya yang mulai dihampiri satu persatu rintangan, maka Arvina sedang bersenang-senang dengan beberapa orang teman prianya.
Bahkan hanya Arvina sendiri dikelilingi beberapa orang pria. Arvina tidak segan menari erotis didepan para pria itu dan menunjukkan lekuk tubuhnya dengan mengenakan pakaian yang sangat-sangat terbuka.
"Woooohh.." Para pria yang mengelilinginya bersorak saat Arzena melepaskan dress sexynya dan hanya berbalut pakaian dalam saja.
Sungguh Arzena sudah terkontaminasi dan bahkan sudah sangat parah, jauh lebih buruk dari yang Arvina takutkan dan bayangkan.
Arzena sudah berperilaku seperti seorang perempuan penghibur.
"Hei, kenapa kalian semua pergi?" Teriak Arzena dengan suara erotis saat satu persatu teman prianya meninggalkan dirinya.
"Hai, Arzena." Sapa Dave dingin dan duduk di sofa berwarna merah maroon itu.
"Aw, rupanya ada Tuan yang jauh lebih tampan dari mereka semua." Ucap Arzena dengan suara erotis dan tanpa rasa malu langsung naik keatas pangkuan Dave.
Ia hendak mencium Dave, namun Dave menghindar.
"Apa kau lupa padaku?" Tanya Dave dengan seringai menakutkan.
"Siapa dirimu Tuan tampan? Aku rasa aku belum pernah memberimu service panas ku." Tanya Arzena berpikir keras.
Arzena sudah dalam keadaan mabuk.
"Aku Dave. Teman kecil mu dulu. Anak kecil yang sudah menerima ciuman pertama mu." Bisik Dave dengan nada sensual ditelinga Arzena.
"Akh..kau Dave. Wah, setelah dewasa kau bahkan lebih tampan dari artis pria tertampan tahun ini." Ujar Arzena terkagum-kagum.
"Kau membutuhkan teman untuk menghangatkan mu? Aku siap. Tidak perlu bayaran, kita lakukan suka sama suka. Tapi ingat untuk memakai pengamanan." Tawar Arzena hendak mencium Dave lagi namun Dave kembali menghindar.
"Aku kesini untuk memberikan hadiah untukmu. Ku dengar kau adalah pelanggan setia di Club DAVEIL ini. Sekedar informasi, club ini milikku." Ucap Dave sambil mengeluarkan sebatang jarum suntik kecil berisi cairan dari saku dalam jasnya.
"Apa ini Dave?" Tanya Arzena penasaran.
"Devil!" Jawab Dave singkat.
"Apa kegunaannya?" Tanya Arzena penasaran.
"Membantu mu bermimpi indah. Devil akan memberikanmu mimpi indah. Kau tertarik? Percobaan pertama ku berikan gratis untukmu." Ucap Dave memancing Arzena.
"Suntikan padaku Dave! Aku ingin tahu sehebat apa Devil mu itu." Titah Arzena.
Dave yang merasa mangsanya sudah masuk kedalam perangkap pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
Dave segera menyuntikkan obat terlarang tersebut pada lengan Arzena dan dosis yang Dave berikan adalah dosis tinggi. Dengan satu kali pemakaian bisa membuat orang tersebut langsung kecanduan setelahnya.
Devil adalah zat adiktif sejenis Halusinogen yang membuat pemakainya dapat berhalusinasi setelah memakai obat tersebut dan Dave meracik obat tersebut di club nya.
"Sudah selesai." Ucap Dave mengangkat tubuh Arzena dan melemparkan kesamping nya dengan cukup kasar.
Dave berdiri dan merapikan pakaian.
"Wajahmu memang mirip dengan gadisku, tapi tingkahmu sangat murahan. Bahkan lebih murah dari wanita penghibur." Hina Dave melemparkan tabung suntikan bekas itu pada Arzena.
"Arvina, permainan kita dimulai. Lihat saja, kau atau aku yang kalah terlebih dulu." Gumam Dave lalu berbalik meninggalkan Arzena.
"Bawa dia kembali kerumahnya!" Titah Dave pada bawahannya.
"Hei, jangan pergi sayang..ah..aku ingin dirimu.." Teriak Arzena mulai terpengaruh dengan obat yang Dave suntikkan tadi.
...~ TO BE CONTINUE ~...
######
Untuk nama obat terlarang itu aku karang sendiri..dan untuk zar adiktif yang disebutkan itu memang asli tapi tidak aku jelaskan secara rinci..
Sekali lagi semua adegan diatas tidak untuk dicontoh!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Emak Femes
waduuuuw waduuuuwww
Dave kok kayak Devil sih 😵😵
2021-07-01
0
Ai
like harian datang lagi kk slm totok pembangkit
2021-06-28
1
sariz07
davee....
2021-06-24
1