"Vina, kemana Arzena? Dad tidak melihatnya dari tadi malam?" Tanya Derex curiga.
Bahkan setelah Ken pulang larut malam, Derex masih menunggu kedatangan Arzena namun nihil.
"Zena dia sekarang sibuk rekaman, Dad." Jawab Arvina asal.
Arvina bahkan tidak menatap mata Derex dan sok sibuk membuat secangkir kopi.
"Ini kopi untuk Daddy." Ujar Axnes memberikan secangkir kopi yang ia buat pada Derex.
"Thanks." Ucap Derex menerima kopi tersebut dan langsung menyesap nya.
Arvina tidak berani lebih tepatnya tidak ingin menceritakan kenakalan Arzena pada Derex karena ia tahu Derex bahkan lebih tegas dari kedua orang tuanya.
Siapapun yang berbuat salah didalam keluarga mereka, jika Derex tahu, Derex tidak segan menghukum mereka bahkan dengan cara kejam sekalipun.
"Selamat pagi semuanya. Hoam." Ucap Ken yang masih menguap dan duduk bergabung dimeja makan bersama kedua orang itu.
"Pagi Ken." Jawab Arvina berbinar.
"Kau kenapa masih mengantuk?" Tanya Derex bingung.
Setahu nya, tadi malam Ken masuk ke kamar cukup awal, tak lama setelah Arvina masuk.
"Tadi malam aku menyelesaikan desain ku yang ditugaskan Angie. Aku harus bekerja keras agar bisa mendapatkan uang banyak." Jawab Ken tanpa ragu.
"Bagus. Seorang pria sejati memang harus seperti itu." Ucap Derex mengacungkan jempol pada Ken.
Derex juga tak kalah menyayangi Ken meski Ken bukanlah bagian dari keluarga mereka sesungguhnya.
"Ah Uncle Derex." Arzena yang baru pulang berteriak kegirangan dan langsung berlari memeluk Derex dari belakang.
"Sudah ku bilang, panggil aku Daddy." Ucap Derex kesal.
"No no. Daddy ku cukup satu orang." Ujar Arzena melepaskan pelukannya.
"Kenapa kau sangat bau minuman?" Tanya Derex curiga.
"Hah, tadi malam setelah selesai rekaman mereka mengajak ku berpesta sampai pagi. Tapi kami hanya minum saja, tidak lebih." Jawab Arzena berkilah.
Arzena berbohong, lebih tepatnya ia menghabiskan malam bersama dengan kekasihnya.
Arvina hanya bisa mendengus kesal mendengar jawaban Arzena.
"Ah, sudahlah. Aku ingin membersihkan diri dulu." Ucap Arzena dan langsung berlari kecil menuju ke kamarnya.
Lebih baik dirinya cepat menghindar atau ia akan diinterogasi lebih dalam.
"Vina, siapa pria yang mengantar mu tadi malam?" Tanya Derex penasaran.
"Dave. Dia itu teman saat aku dan Zena PAUD dulu." Ucap Arvina santai.
Ken hanya bisa mengelus dada menahan cemburu.
"Apa kalian menjalin hubungan?" Tanya Derex.
Derex tidak akan melarang anak anaknya menjalin hubungan selama mereka bisa menjaga diri.
"Entahlah. Dia selalu bilang dia mencintaiku. Tapi aku sendiri tidak merasakan cinta untuknya." Jawab Arvina apa adanya.
Arvina memang lebih terbuka karena menurutnya nasehat orang tuanya sangat penting.
"Siapapun pria itu, pastikan kau memilih seseorang yang tulus mencintaimu." Ucap Derex menasehati Arvina.
Ken hanya senyum.
"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu apa dia tulus atau hanya berpura-pura. Dia itu gangster seperti Daddy." Ujar Arvina jujur.
"Gangster tidak semuanya jahat. Terlebih lagi untuk perempuan yang mereka cintai, mereka akan rela melakukan apapun." Jelas Derex.
"Daddy, aku ingin bertanya. Apa semua gangster selalu tidak ingin ditentang dan ditolak?" Tanya Arvina penasaran.
Derex tampak berpikir sejenak.
"Aku tidak tahu mereka. Tapi aku tidak suka ditentang apalagi ditolak oleh wanita yang aku cintai." Jawab Derex tegas.
"Jadi aunty Alice tidak pernah menentang Daddy sekalipun dirinya yang benar?" Tanya Arvina lagi.
Derex mengangguk juga menggeleng.
"Saat pertama dulu ia. Aku selalu tidak ingin ia tentang. Tapi setelah ada Mommy mu, Mommy mu yang banyak menasehati ku bahwa hubungan suami istri adalah hubungan timbal balik. Jadi tidak bisa hanya Alice yang mendengarkan ku, tapi juga harus sebaliknya." Jelas Derex.
Arvina mengangguk paham.
Ken juga serius mendengarkan.
Ponsel Arvina kemudian berdering.
"Ya?" Ucap Arvina saat menjawab panggilan yang sudah jelas itu dari Dave.
"Apa begitu caranya menjawab panggilan dari kekasihmu?" Tanya Dave terkekeh.
"Hah kau ini, berbicara sesuka hatimu saja." Gerutu Arvina.
Derex setia memperhatikan ekspresi wajah Arvina.
"Haha. Ayolah, apa kau tidak mau membekali ku sesuatu? Aku akan meninggalkan mu selama satu bulan." Ujar Dave tertawa kecil.
"Memangnya aku harus memberi bekal apa untukmu? Harta mu saja sudah berlimpah. Kau tidak kekurangan apapun." Ucap Arvina tersenyum kecil.
Samar samar Derex dapat mendengar suara Dave karena ia duduk disamping Arvina.
"Aku hanya kekurangan satu hal. Yaitu dirimu dan cintamu." Ujar Dave kini serius.
Arvina terdiam sejenak.
"Keluarlah! Aku ada didepan rumah mu." Titah Dave lagi.
"Jangan bercanda Dave. Tidak lucu." Sanggah Arvina.
Tett tett
Dave membunyikan klakson mobilnya sebagai bukti.
Arvina yang mendengar bunyi klakson mobil Dave segera berlari keluar.
Benar saja, Dave sedang didepan rumahnya dan berdiri bersandar pada mobilnya.
Derex dan Ken juga mengikuti Arvina.
"Ada apa kau kesini?" Tanya Arvina bingung.
"Ingin mengambil bekal ku." Jawab Dave menarik Arvina kedalam pelukannya.
Dave bahkan tidak menghiraukan Derex dan Ken yang sedang menatapnya.
Derex dan Ken dapat mendengar jelas semua obrolan mereka.
"Dave, jangan seperti ini. Tidak enak dilihat Daddy Derex." Pinta Arvina meminta lepas.
Dave tidak menghiraukan.
"Aku akan sangat sangat merindukan mu." Ucap Dave membelai rambut Arvina dan menghirup dalam aroma tubuh Arvina yang memenangkan sekaligus candu untuknya.
"Sepertinya pria itu memang tulus pada Vina. Jika benar begitu, semoga saja Vina tidak membuat masalah yang akan memancing kemarahan nya." Batin Derex melihat kelembutan dari gerak gerik Dave memperlakukan Arvina.
"Kau disana akan banyak yang menunggu giliran untuk menemanimu." Ucap Arvina namun tanpa sadar ia membalas pelukan Dave.
"Tidak. Aku tidak ingin yang lain. Dan aku berjanji aku tidak akan menjamah wanita lain lagi. Aku akan menahan diri mulai saat ini hanya untukmu." Ucap Dave tulus.
Jujur saja, Arvina terharu dengan semua ucapan Dave. Namun tetap saja masih ada Ken yang membayangi hatinya.
"Dave, aku tidak bisa berjanji apapun untukmu." Ucap Arvina.
"Kau tidak perlu berjanji apapun. Kau hanya perlu belajar! Belajar mencintaiku dan menjadikan diri dan hatimu milikku." Ucap Dave melepaskan pelukannya.
Mata tajamnya menatap lekat kedua mata teduh Arvina.
"Aku mencintaimu Arvina. Dan aku tulus. Aku berjanji tidak akan menyakitimu dan tidak akan meminta hal yang melewati batas. Tapi aku minta, berikan hatimu untukku." Pinta Dave.
Ken mengepalkan kuat tangannya, Derex menyadari hal itu dan bisa tahu Ken juga menyukai Arvina.
"Tapi Dave ... "
"Aku akan menunggu sekalipun itu akan lama. Tapi aku mohon jangan pernah menolak ku." Pinta Dave lagi.
"Ah, dia sangat keras kepala dan pemaksa seperti ku saat muda dulu." Batin Derex tersenyum.
"Baiklah. Aku akan mencoba. Tapi aku tidak bisa berjanji." Ucap Arvina menyerah.
Dave tersenyum bahagia.
"Terima kasih sayang. Aku berjanji aku tidak akan pernah membuatmu kecewa dan bersedih. Aku akan membuatmu bahagia dan menjadikanmu Ratu ku satu satunya." Ucap Dave kembali memeluk Arvina erat.
Ken marah dan cemburu langsung berbalik dan masuk kedalam rumah. Tinggal Derex seorang.
Dave melepaskan pelukannya dan sigap bibirnya menyerang bibir Arvina.
Derex tidak akan melarang selama Dave tidak berbuat lebih dari itu. Ia juga tidak ingin terlalu mengekang anak anaknya, apalagi ia sangat tahu seperti apa seorang Arvina.
"Jangan nakal. Aku akan usahakan kembali secepatnya." Ucap Dave setelah melepaskan pautan bibir mereka.
Arvina hanya mengangguk.
"Aku pergi sekarang." Pinta Dave.
Arvina mengangguk.
"Hati-hati. Jika sudah sampai kabari aku." Ucap Arvina tanpa sadar.
Dave pun masuk kedalam mobilnya, namun sebelumnya ia membungkuk untuk memberi hormat pada Derex.
Setelahnya ia pun menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Arvina.
"Sweetheart, Daddy bisa melihat ketulusannya dari cara nya memperlakukan dan menatap dirimu." Ucap Derex merangkul Arvina setelah Arvina berbalik.
"Pria itu sangat berani." Ucap Derex lagi.
"Entahlah Dad, aku juga bingung dengan hatiku." Jawab Arvina jujur.
"Kau tahu, jika kau sudah mencoba untuk mencintai nya, tugasmu hanya satu. Jaga kepercayaan nya dan jangan membuatnya kecewa, maka selamanya ia akan memperlakukan mu dengan baik." Ujar Dave memberi nasehat.
Arvina hanya mengangguk namun hatinya masih ragu.
"Ya sudah, Daddy akan mengantarmu dan Ken ke tempat magang kalian. Ken cepatlah. Aku akan mengantar kalian." Ucap Derex pada Arvina lalu berteriak memanggil Ken.
...~ To Be Continue ~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Ricka Monika
ya udahlah Ken mengalah lebih baik dan sadar diri juga jauh lebih baik sekali,Krn Ken TDK punya apa-apa, terima takdir dan nasib ken
2023-09-01
0
el Putriᵉˡ̳༆
trus ken bagaimana?
2021-07-18
1
Bang Regar
👍👍👍👍
2021-06-21
1