Setelah dari pemakaman Galen. Cheva, Lian, dah Radit langsung bergegas pergi ke kantor polisi untuk menemui supir truk dan juga rekannya
"Jadi kamu yang menabrak mobil Galen?" Cheva bertanya dengan sikapnya yang tenang dan senyum tipis pada supir truk itu
"Itu kecelakaan. Mobil truk yang aku kendarai tiba-tiba tidak bisa dikendalikan dan mobil itu ada di depanku. Aku sudah berusaha menghindar tapi bagian belakang mobilku mengenai mobil itu" Supir truk itu menjawab dengan sikap tenang dan tanpa merasa bersalah.
"Jadi kamu sama sekali tidak menyesal telah menabrak mobil itu hingga Galen dan Rey meninggal dunia dan Lea kritis?" Cheva masih tetap tenang dengan senyum lembut di bibirnya
"Aku menyesal tapi mau bagaimana lagi, itu sebuah kecelakaan dan juga anggap saja itu sudah jadi takdir mereka" Supir truk itu bicara dengan sikap yang sangat santai
Radit yang kesal mengepalkan kedua tangannya dengan sangat keras
"Sebaiknya kamu katakan dengan jujur, siapa yang memintamu untuk menabrak mobil itu?" Radit kini bicara dengan sikapnya yang dingin
"Harus berapa kali aku katakan kalau itu hanya sebuah kecelakaan. Aku sama sekali tidak sengaja melakukannya dan tidak ada orang yang menyuruhku melakukannya" Supir truk itu bersikeras dengan apa yang dia katakan
"Kamu akan menyesal jika kamu tidak mengatakan yang sebenarnya pada kami. Hidupmu sekarang ada ditangan kami, jadi sebaiknya kamu ikut bekerja sama dengan baik" Lian pun ikut bicara dengan nada yang dingin dan auranya cukup mengintimidasi
"Apa maksudnya? Kalian mengancamku?" Supir truk itu terlihat sangat kesal dan gemetar mendengar ucapan Lian
"Waktu kunjungan habis" Penjaga menginterupsi perbincangan mereka
"Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik! Kami memberimu satu lagi kesempatan. Besok kami akan datang lagi menjengukmu dan harus sudah ada jawabannya" Cheva tersenyum ceria sambil beranjak dari duduknya, sementara Lian dan Radit langsung berdiri tanpa mengatakan apapun lagi
"Berani-beraninya dia mengancamku. Untung saja dia cantik jadi aku bisa dengan mudah memaafkannya" Supir truk itu bergumam sambil beranjak pergi kembali ke sel tahanan. Dia tidak tahu kalau dibalik wajah cantik Cheva dan sikapnya yang ceria juga ramah, tersimpan sesuatu yang lebih menyeramkan. Cheva telah membayar teman satu sel supir truk itu agar mereka menghajarnya
"Hei anak baru, kemari! Pijit kakiku sekarang!" Ujar salah satu napi kepada supir truk
"Kenapa aku harus memijat kakimu? Kamu saja yang pijat kakinya!" Supir truk itu menolak dan dia meminta rekannya yang memijat
"Kenapa harus aku? Kamu yang diminta memijat kakinya. Jika bukan karena kamu, kita juga tidak akan di penjara seperti ini"
"Hei kalian! Kami tidak ingin mendnegar keluhan kalian. Pijat kaki kami sekarang! Kalau tidak, kalian akan menyesal" Ancam napi lama itu dengan serius
"Memangnya kamu berani? Disini banyak penjaga, tidak mungkin me5eka membiarkanmu memukuli kami"
"Owh ... kamu tidak percaya? Ingin mencobanya? Hajar dia!"
Bagh bugh bagh bugh
"Penjaga...! Tolong ...! Mereka memukuliku ..." Supir truk itu terus dipukuli dan di tendang oleh 3 orang napi lama, namun tidak ada petugas yang datang menolongnya
"Ah, ampun! Hentikan! Aku minta maaf. Aku akan memijat kakimu!"Supir truk itu akirnya berhenti di pukuli setelah seluruh wajahnya babak belur dan rekannya hanya bisa diam karena takut dipukuli juga jika dia membantu
"Cih, lupakan saj! Aku sudah tidak ingin di pijat" 3 napi itu kembali ke sudut lain dan membiarkan supir truk itu tergeletak tak berdaya di lantai
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya rekan supir truk
"Apa kamu melihatku baik-baik saja dengan seluruh luka di tubuh dan wajahku? Aduhhh ... hsss" Supir truk menjawab dengan suara lemah sambil meringis kesakitan dan kembali duduk di sudut sel tahanan
***
Dirumah sakit
Lea sudah melewati masa kritisnya, namun dia masih belum sadarkan diri. Vio selalu berada disampingnya tanpa beranjak dari samping Lea sama sekai
"Sayang, kapan kamu bangun? Ini sudah berhari-hari sejak tragedi itu terjadi. Kamu tidak ingin melihat anakmu? Putramu sangat tampan dan menggemaskan. Dia seperti perpaduan antara kamu dan Galen. Bangunlah...! Dia pasti ingin sekali dipeluk oleh ibunya.. hiks.. hika... hiks..."
Vio terus bicara pada Lea sambil menggenggam tangannya. Air mata tak kunjung berhenti meskipun berkali-kali dia menghapusnya. Vio membenamkan wajahnya disamping Lea karena tak kuasa menahan pedih dihatinya melihat putri cantiknya kini terbaring tak berdaya
"Sayang, sudahlah. Kita doakaan saja yang terbaik untuk Lea" Leo berdiri di berlakangnya sambil mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang untuk menenangkan sang istri
"Ma-ma"
Vio langsung mengangkat kepalanya dan menatap Lea setelah samar-samar mendengar suaranya
"Ma-ma"
"Sayang, kamu sudah bangun?!"
"Aku akan panggilkan dokter" Leo langsung berlari keluar kamar Lea untuk memanggil dokter
"Bagaimana perasaanmu? Mana yang sakit? Apa ada yang tidak nyaman?" Vio dengan sisa air mata yang masih mengalir di pipinya bertanya pada Lea dengan senyum ketir dan nada yang panik
"Ma, Kak Galen ...?" Dengan nada suara yang masih parau dan tatapan mata yang masih sayu, Lea menanyakan keadaan sang suami
"Tidak apa. Kamu tenang dulu"
Belum juga Lea mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, Leo datang dengan tergesa-gesa bersama dokter dan suster
"Sayang, aku membawa doternya"
"Permisi, biarkan saya memeriksanya terlebih dahulu"
"Silahkan dokter" Leo dan Vio mundur dari tempatnya dan membiarkan dokter juga suster memeriksa keadaan Lea
"Kondisinya sudah semakin membaik, tapi pasien masih harus banyak istirahat dan jangan sampai stres" Ujar dokter memberitahu Vio dan leo
Leo dan Vio saling menatap satu sama lain seakan mereka bertanya mengenai Galen. Mereka harus menyembunyikannya dari Lea untuk sementara waktu hingga kondisinya pulih.
"Baik dokter, kami mengerti. Terimakasih banyak"
"Iya, permisi" Dokter dan suster pun beranjak pergi setelah memeriksa keadaan Lea
"Ma, pah? Bagaimana kondidi kak Galen dan kak Rey? Apakah luka mereka parah? Aku ingat wajah mereka berlumuran darah" Lea terus bertanya mengenai Galen
"Mereka tidak papa. Apa kamu ingin minum atau makan sesuatu? Papa akan carikan untukmu" Leo mengalihkan pembicaraan agar Lea tidak membahas Galen lagi
"Aku tidak ingin apapun"
"Sayang, apa kamu ingin melihat putramu? Dia sangat tampan dan sekarang sudah dikeluarkan dari inkubator" Vio kini membicarakan putra Lea yang belum dilihatnya
"Apa aku bisa melihatnya? Aku ingin melihat dan memeluk putraku" Ujar Lea dengan suara masih lemah
"Tentu, mama akan membawa putramu kemari" Vio langsung beranjak meninggalkan Lea untuk membawa putranya dari ruang bayi
"Papa akan menghubungi kakek mu dan yang lain untuk memberitahu mereka kalau kamu sudah sadar" Leo pun meninggalkan Lea untuk menghubungi Yudha
Tak berapa lama Vio kembali dengan seorang bayi laki-laki di pangkuannya
"Lea, lihatlah ini putramu. Dia sangat tampan. Kamu akan memberi dia nama siapa?" Vio bicara sambil membaringkan bayi Lea di sampingnya
"Mama benar. Dia sangat tampan. Aku dan kak Galen sudah sepakat memberikan nama Lathan Gevaril Surendra"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 391 Episodes
Comments
Yolenta
lanjut
2022-01-11
0
Arunika
Apakah setelah Lea tau Galen meninggal dia akan stres..??
2021-07-17
1
Syfa Atul
akhirnya
2021-07-16
0