"Haah ... rumah ini sepi sekali. Semua orang pergi kerumah sakit, tapi kita tidak di izinkan ikut menjenguk tante Lea" Risha mengeluh dengan menghela napas panjang
"Mungkin mereka tidak ingin waktu belajar kita terganggu. Kita sedang persiapan ujian untuk masuk sekolah menengah pertama" Kenzie menjawab dengan sikap yang tenang dan senyum yang ramah juga hangat
"Kenapa ekspresimu seperti itu Zo? Apa kamu kalah dalam permainanmu?" Risha bertanya pada Kenzo dengan senyum menggoda setelah melihat raut wajah Kenzo yang berubah kesal
"Diam, kalian mengganggu konsentrasiku saja!" Kenzo menjawab dengan sikap dinginnya tanpa menoleh sama sekali pada Risha
"Apa kamu tidak bisa melepaskan konsol game itu sebentar saja?! Aku benar-benar muak karena kamu selalu mengabaikan kami" Risha berteriak pada Kenzo karena kesal dengan sikapnnya
"Tidak bisa. Aku sedang mengejar target permainanku. Aku bisa tertinggal jika aku kalah kali ini" Jawab Kenzo lagi dengan sinis
"Dasar hantu game!"
"Hei... kalian tidak lelah bertengkar setiap hari? Aku saja lelah melihat kalian yang selalu berdebat setiap hari" Kenzie bertanya dengan sikap yang tenang dan senyum ramah mengembang di bibirnya
"Entahlah, aku mulai lelah dan sekarang aku butuh istirahat" Kenzo beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya
"Haah lagi-lagi dia seperti itu. Zie, apa kamu tidak kesal dengan sikap Kenzo yang terlalu dingin dan menyebalkan itu?" Risha berkata dengan nada yang kesal
"Yah mau bagaimana lagi. Dia itu saudara kembarku" Kenzie menjawab Risha dengan senyum sambil mengangkat kedua bahu secara bersamaan
"Hah, kalian sama saja"
***
Keesokan harinya
Pemakaman Galen dan Rey dilakukan hari ini. Mereka dimakamkan secacra berdampingan. Semua anggota keluarga hadir disana dan tentunya kakak angkat Galen dan Rey juga. Hanya Vio yang tetap berada dirumah sakit karena harus menunggu Lea disana
"Galen ... Rey ... hu u u u u, kenapa kalian pergi secepat ini? Kenapa kalian justru pergi meninggalkan kami lebih dulu? Hu u u u u" Astria terus menangis diatas pusara Galen dan Rey secara bergantian. Dia menangis sejak tiba di pemakaman.
Mungkin semua orang melihat mereka dengan simpati yang tinggi atas kesedihannya karena ditinggalkan kedua adiknya secara bersamaan. Namun tidak bagi keluarga Kusuma, mereka tidak pernah bersimpati secara berlebihan. Terlebih mereka sangat mengetahui bagaimana karakter kakak angkat Galen dan Rey itu sebenarnya.
"Apa kamu tidak lelah terus menangis seperti itu? Galen dan Rey sudah pergi dan disini juga tidak ada orang lain selain kami. Sepertinya sudah saatnya kamu berhenti pura-pura menangis" Cheva bicara dengan sikap dingin dan acuh tak acuhnya.
"Apa yang kamu katakan? Mereka berdua itu adikku, tidak mungkin kalau aku tidak bersedih setelah kepergian mereka!" Astria mejawab Cheva dengan sinis sambil menghapus sisa air mata di wajahnya.
"Kamu seharusnya tidak bicara seperti itu pada adikku. Kami sedang berduka sekarang dan kamu malah menambah luka dihati kami" Adnan yang sejak tadi berdiri di belakang Astria dengan wajah sedih, kini mulai maju mendekati Astria dan membantu sang adik bangun dari posisi duduknya di tanah.
"Oh, maaf kalau begitu. Aku tidak bermaksud menaburkan garam pada luka kalian. Aku hanya sedikit aneh saja dengan kalian. Setahuku selama ini hubungan kalian dengan Galen dan Rey tidak terlalu baik, lalu tepat setelah pengumuman pembagian warisan diputuskan kalau Galen juga Rey mendapatkan bagian lebih besar dari kalian ... tapi sebelum mereka menikmtmi hasil kerja kerasnya, justru mereka harus meninggal dengan tragis dalam sebuah kecelakaan. Apa itu bukan suatu kebetulan yang mencurigakan?" Cheva bicara dengan nadanya yang dingin dan sombong
"Apa maksudmu? Maksudmu kami yang merencanakan kecelakaan mereka dan menyebabkan kedua adik angkat kami meninggal dunia? Hah sungguh pemikiran yang keji. Kamu terlalu banyak nonton film atau apa? Bisa-bisanya mencurigai kami. Dasar kurang ajar!"
"Jaga bicaramu! Istriku tidak mengatakan kalau kalian yang menyebabkan kecelakaan mereka. Dia hanya mengatakan kalau ini kebetulan yang sedikit membingungkan karena waktu kejadian yang sangat dekat dengan hasil dari pembagian warisan kalian" Lian dengan nada bicaramya yang dingin dan tegas membela Cheva dari Adnan. Aura mengintimidasi terasa jelas dari sorot matanya yang tajam
"Aku tidak bermaksud kurang ajar, tapi istrimu yang bertingkah kurang ajar lebih dulu. Bahkan tuan Yudha membiarkan cucunya bertingkah seperti itu saat pemakaman saudara iparnya sendiri" Adnan bicara sambil mendelik pada Yudha. Namun Yudha tetap tenang dan terus memperhatilkan Adnan dengan sikap yang penuh wibawa
"Aku selalu membebaskan anak dan cucuku melakukan apapun yang mereka inginkan, karena aku selalu mengajarkan batas tolerasi yang tidak boleh mereka lewati, jadi aku yakin mereka bisa mnejaga batasan mereka" Adnan terdiam mendengar apa yang dikatakan Yudha
"Jadi anda mendidik dan membiarkan anak juga cucu anda bertindak seenaknya?!"
"Yah, bisa dibilang begitu. Tapi anak dan cucuku semuanya berhasil. Tidak ada yang salah dengan didikan keluarga kami" Yudha bicara dengan senyum tipis dan nada acuh tak acuhnya
"Pak Adnan, bu Astria, kami turut berbela sungkawa atas kepergian Galen dan Rey. Karena mereka juga sudah jadi bagian dari keluarga besar Kusuma, maka aku memutuskan untuk membantu kalian untuk mengusut penyebab kecelakaan mereka. Setidaknya pelakunya akan di tangakap dan mendapatkan ganjaran yang setimpal" sambung Yudha lagi dengan tenang
"Eh. Ti-tidak perlu. Polisi sudah mengatakan kalau kejadian ini murni karena kecelakaan dan pelakunya sudah tertangkap, jadi anda tidak perlu repot-repot mengurus ini lagi" Wajah Adnan dan Astria seketika menjadi panik saat Yudha mengatakan kalau mereka akan melakukan penyelidikan untuk kecelakaan Lea
"Kami tidak merasa direpotkan sama sekali. Lagipula cucuku juga masih kritis karena kecelakaan itu, tentu saja aku harus tahu penyebab sebenarnya itu terjadi" Yudha kembali menjawab dengan sikap yang tenang
"Tapi tuan, meskipun penyelidikan ini dilanjutkan. itu tetap tidak bisa menghidupkan kembali Galen dan Rey. Jadi biarkan saja mereka tenang"
"Pak Adnan, aku tahu itu tidak bisa menghidupkan kembali Galen dan Rey. Tapi seenggaknya dengan melakukan penyelidikan. kita bisa mengetahui penyebab pastinya kecelakaan itu terjadi. Dan kita bisa menghukum orang yang melakukan itu dengan hukuman yang setimpal. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Mereka sudah berani mengusik ketenangan keluargaku. Sekarang saatnya mereka menikmati hasil dari apa yang mereka lakukan. Aku salalu adil untuk segala hal, terlebih ini menyangkut nyawa orang-orang yang aku sayang. Jadi, mata dibayar dengan mata, gigi dibayar dengan gigi" Yudha menunjukkan senyum mencibir dengan mata mendelik pada Adnan
Adnan semakin terdiam mendengar apa yang Yudha katakan. Tubuhnya seketika gemetar dan lemas seakan bisa dengan mudah terjatuh ke tanah. kedua tangannya yang memegangi Astria pun terlihat bergetar hebat sekali
"Bagaimana ini. Aku harus segera ke kantor polisi dan membuat supir truk dan rekannya itu tutup mulut, apapun yang terjadi"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 391 Episodes
Comments
chindi
ga nyangka umur galen sama rey pendek di novel ini 😭😭
2022-02-18
0
Yolenta
😂🤣mampusss
2022-01-11
0
Amelisa cherry Salsabila
trik cantik keluarga kusuma perangkap untuk musuh
2021-07-16
0