"Kenzo, berhentilah bermain game. Sebaiknya kamu bermain dengan Kenzi dan Risha. Kamu tidak ingin bermain dengan mereka? Mereka terlihat sangat bahagia dan kamu juga akan masuk sekolah, om rasa kamu juga harus bergaul dengan teman lainnya" Radit berusaha membujuk Kenzo agar dia melepaskan konsol gamenya dan bermain dengan Kenzi dan juga Risha
"Tidak. Aku tidak ingin bermain lari-larian seperti anak kecil. Melihat mereka saja aku sudah lelah. Lebih baik aku bermain dengan konsol game milikku" Kenzo menjawab dengan sikap acuh tak acuhnya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari game miliknya
"Kamu ini.. heeeuh" Raditpun dibuat gregetan dengan sikap dari keponakannya yang satu ini hingga dia mengeratkan gigi dan mengepalkan tangannya dengan kuat
"Kenapa? Apa salahnya dengan game? Aku sedang ada pertandingan dan ini sangat menyenangkan"
"Zo, meskipun kamu menyukai game, tapi kamu tetap harus bersosialisasi dengan orang lain dan teman baikmu. Itu tidak baik jika kamu hanya menghabiskan waktu dengan game saja" Radit berusaha memberitahu keponakannya itu
"Siapa bilang aku tidak punya teman? Aku punya banyak teman yang selalu bertanding denganku, dan aku selalu berhasil mengalahkan mereka" Kenzo menjawab dengan sikapnya yang sombong penuh dengan rasa bangga
"Hadooh ... kak Cheva sebenarnya bagaimana caramu membesarkannya? Kenapa dia bertingkah seperti orang dewasa saat baru berusia 7 tahun?" Radit yang pusing memukul keningnya sendiri dan menghela napas panjang karena pusing dengan sikap keras kepala Kenzo yang tidak bisa diberi pengertian
"Daripada aku kehabisan rambut karena harus memikirkan jawaban anakmu yang tidak ada habisnya, lebih baik aku berangkat ke kampus sekarang" Radit yang kesal pun pergi keluar dari rumah untuk pergi ke kampus
"Hei, Dit apa maksudmu menyalahkanku? Kamu sendiri yang mengajarinya bermain game!" Teriak Cheva pada Radit yang berjalan semakin jauh darinya.
Tania hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat Radit dan Cheva
"Haah ... kalian ini tidak pernah berubah. Padahal kalian sudah sama-sama dewasa"
***
Dikampus Radit
"Dit, sebelah sini!" Teriak Candra ketika melihat Radit telah memarkirkan mobilnya
Radit berjalan dengan santai ke arah Candra. Dia terlihat tampan dengan t-shirt yang di padukan sweater dan celana jeans panjang. Backpack yang di dikenakan di sebelah pundak membuatnya semakin terlihat mempesona
"Kamu sudah lama sampai?" Tanya Radit dengan sikapnya yang tenang
"Tidak, aku juga belum lama tiba disini. Kenapa kamu terlambatt? Tidak seperti biasanya kamu datang saat kelas akan dimulai sebentar lagi" Candra bertanya sambil berjalan beriringan dengan Radit
"Ada sedikit keributan di rumah dengan si kembar" Keluh Radit dengan sikap yang tenang
"Kenapa lagi keponakanmu? Mereka membuat kekacauan apalagi sekarang?" Candra bertanya dengan nada yang sinis
"Kali ini mereka hanya berdebat karena Kenzi selalu mengganggu Kenzo yang sedang asyik bermain game. Dan Kenzo sama sekali tidak bisa lepas dari konsol game miliknya"
Candra menganggukan kepala mengerti kemudian dia kembali mengingat apa yang Radit ceritakan mengenai ulah Kenzo dan Kenzi sembari berjalan menuju kelas mereka
Flash back on
Cheva sedang sibuk dengan prusahaan Kusuma karena sedang ada tender baru, sedangkan Lian hanya melukis karena dia sedang tidak sibuk dan berencana dirumah menemani kedua anaknya.
"Kak Lian, ayo antar aku ke kantor! Aku ada meeting penting pagi ini" Ujar Cheva pada Lian yang tengah menyelesaikan lukisannya
"Tentu. Kamu bersiaplah dulu. Aku akan membereskan dulu lukisanku ini" Jawab Lian dengan lembut pada Cheva
"Ya, aku akan mengambil tasku dan menunggu dibawah"
"Hmn..." Lian pun mengangguk dan membiarkan Cheva pergi untuk bersiap
"Kenzi, Kenzo, mami dan papi pergi dulu ya. Kalian jangan nakal dan tunggu papi pulang!" Cheva memberi nasehat pada kedua putranya
"Baik mami" Kenzo dan Kenzi menjawab dengan serempak namun ekspresi yang berbeda. Kenzo dengan wajah datarnya dan Kenzi dengan wajah dan suara yang ceria
Cheva dan Lian pun beranjak pergi meninggalkan rumah untuk mengantarkan Cheva ke kantor Kusuma
"Zi, lihat lukisan papi belum selesai.. Bagaimana kalau kita bantu selesaikan?" Ajak Kenzo yang melihat lukisan Lian yang baru setengah jadi
"Tapi, bukankah papi akan marah?" Kenzi tampak ragu mengikuti apa yang dikatakan Kenzo
"Tidak. Papi tidak mumgkin marah pada kita" Kenzo berusaha meyakinkan Kenzi sambil meraih kuas dan cat minyak yang sebelumnya sudah Lian bereskan
"Baiklah. Ayo kita beri kejutan pada papi!"
Kedua saudara kembar itu pun mulai asyik dengan kuas dan cat minyak milik ayah mereka. Para pembantu yang ada sedang di dapur dan sibuk membereskan rumah jadi mereka tidak tahu apa yang sedang majikan kembar mereka lakukan
Beberapa saat kemudian
"Apa-apaan ini?" Lian begitu terkejut melihat kedua anaknya sedang ayik mewarnai lukisan miliknya hingga wajah dan tubuh mereka penuh dengan coretan cat minyak
"Papi ..." kenzo dan Kenzi menoleh dengan wajah terkejut, mereka takut kalau Lian akan memarahi mereka
"Haah ... gambar apa yang kalian buat? Kenapa tidak menggambar di kertas yang baru saja?" Lian yang kesal hanya bisa menghela napas panjang melihat lukisannya telah berubah bentuk menjadi apa yang digambarkan kedua anaknya
"Kami hanya membantu papi saja. Kami lihat lukisan papi belum selesai, jadi kami ingin membantu papi" Kenzi menjawab dengan menundukkan kepala dan merasa bersalah. Sedangkan Kenzo tetap bersikap tenang dan menatap Lian
"Kenzi tidak bersalah pih. Aku yang memiliki ide itu dan mengajak Kenzi melakukannya. Jadi kalau papi mau, hukum saja aku, jangan Kenzi" Mata Kenzo terlihat yakin dengan apa yang dia katakan. Tidak ada keraguan atau pun rasa takut saat meminta hukuman dari Lian
"Bagaimana bisa bocah 7 tahun ini begitu berani meminta sebuah hukuman?" Pikir Lian menatap keyakinan dimata Kenzo
"Papi tidak akan menghukum kalian. Kalian hanya bermain dengan lukisan papi, dan lagi niat kalian kan ingin membantu papi" Lian bicara dengan lembut tapi wajah yang datar
"Tidak. Kami salah dan papi harus memberikan kami hukuman" Kenzo tetap pada keinginannya untuk mendapatkan hukuman dari Lian
"Biarkan papi lihat dulu hasil lukisan kalian" Lian pun mendekati lukisan yang dibuat Kenzo dan Kenzi
"Sepertinya mereka memiliki bakat melukis. Mereka menjadikan lukisanku sebagai lukisan abstrak, tapi warna yang mereka gunakan sangat cantik" Pikir Lian mengamati lukisan anaknya
"Apa yang kalian pikirkan saat membuat lukisan papi?" Tanya Lian yang masih mengamati lukisannya
"Tidak ada. Kami hanya menggunakan kombinasi warna yang menurut kami bagus saja" Kenzi menjawab dengan polosnya
"Papi tidak akan menghukum kalian, asalkan kalian membuat lukisan kalian sendiri-sendiri. Jangan buat 1 lukisan bersama. Papi ingin lihat lukisan siapa yang paling bagus" Lian mengajukan apa yang menjadi syaratnya agar tidak marah
"baik kami setuju" Jawab Kenzo dan Kenzi serempak
"Aku akan letakkan ini di galeri. Aku ingin tahu apa pendapat orang lain mengenai lukisan mereka ini"
Lian pun meletakkan lukisan anaknya di galeri dan siapa sangka kalau lukisan itu ternyata di beli dengan harga tinggi. Diapun menceritakannya pada keluarganya. Akhirnya Kenzo dan Kenzi yang sebelumnya di salahkan oleh keluarga Kusuma, kini dipuji karena lukisan abstrak mereka
Flash back off
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 391 Episodes
Comments
Asih Ningsih
aku jadi lupa krn lama gak bc ni anak2 awalnya gimana ya thor maf klu sy tanya.
2023-01-09
0
Popon Tika
wah dah lama kelanjutan cerita cheva dan Lian semoga ceritanya tmbh seru ya Thor,dgn titelnya klrga Kusuma tidak boleh di tindas semoga dgn anak2 nya ini jg TDK mudah di tindas harus seperti org tuanya Thor 💪💪💪
2021-12-10
0
Yolenta
mantaapp, keturunan siapa dulu? kusuma gituu
2021-09-23
0