Makan malam keluarga Kusuma berakhir dengan tenang. Meskipun ada sedikit insiden yang membuat Cheva menjadi pusat perhatian dari pada Lea yang sebenarnya bintang utama hari ini. Tapi itu tidak berlangsung lama, dan perhatian yang lain kembali tertuju pada makan malam bersama untuk merayakan kehamilan Lea.
"Aku bersyukur mami tidak hamil lagi. Jika sampai mami hamil lagi, maka hari-hari kita melihat sikap papi yang menyebalkan akan dimulai" Ujar Kenzo dengan sikapnya yang dingin dan cuek
"Kamu benar Zo. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sikap papi" Pikiran Kenzie pun melayang membayangkan seandainya Cheva hamil lagi
"My princess, kamu ingin makan apa? Biar aku carikan untukmu"
"Sayang, kamu tidak boleh terlalu lelah. Biar aku yang bawakan tasmu, ini pasti berat" Ujar Lian berusaha membawa tas tangan milik Cheva
"Tidak papa kak Lian. Ini sangat ringan" Cheva berusaha menahan Lian agar tidak mengambil tasnya
"Sayang, kamu tidak boleh naik ke lantai atas. Mulai sekarang, kita akan pindah ke kamar bawah saja!"
"Tidak tidak tidak. Aku tidak bisa membayangkannya lagi. Ini terlalu menyebalkan untuk aku bayangkan" Kenzie mnggelengkan kepalanya berkai-kali berusaha menyingkirkan pikirannya tentang orang tuanya
"Sebenarnya apa yang kamu bayangkan sampai seperti itu? Aku sangat yakin kalau kamu membayangkan hal yang tidak-tidak" Ujar Kenzo setelah melihat reaksi Kenzie
"Aku tidak membayangkan apa-apa. Hanya saja aku membayangkan bagaimana sikap papi kalau mami benar-benat hamil lagi. Tentu kamu tahu juga bagaimana sikap papi pada mami? Saat mami jatuh saja dan kakinya sedikit lecet, papi selalu menggendong mami dan tidak membiarkan dia berjalan sedikitpun" Kenzie menceritakan apa yang dia pikirkan mengenai Cheva
"Kenapa kalian sangat memikirkan itu? Harusnya kalian senang jika tante Cheva hamil lagi. Bukankah akan sangat bagus jika kalian memiliki adik lagi?" Risha yang melihat sikembar Kenzo dan Kenzie sedang kebingungan sejak makan malam akhirnya mendekati mereka
"Kami tidak mau!" Kenzo dan Kenzie menjawab Risha dengan serempak
"Apa karena kalian kembar jadi pendapat kalian juga sama? Tapi bukankah selama ini kalian tidak pernah mneyukai hal yang sama?" Tanya Risha yang bingung dengan jawaban Kenzo dan Kenzie
"Cerewet!" Kenzo dan Kenzie kembali bicara dengan serempak
"Haah, dasar kembar menyebalkan! Bagaimana bisa aku bertahan disini dan tetap bersama kalian?" Risha yang ikut kesal akhirnya memilih pergi meninggalkan mereka sambil menggerutu dan berderai air mata, namun dia dengan cepat mengusap air matanya agar tidak ada yang melihatnya, tapi saat itu Radit tiba-tiba lewat saat hendak menuju kamarnya
"Kenapa menangis? Apa yang dilakukan si kembar nakal itu padamu?" Radit bertanya dengan penuh perhatian
"Tidak, aku tidak apa-apa" Risha menjawab sambil menghapus sisa air mata yang masih ada di pipinya
"Risha, kamu tidak boleh cengeng. Sebentar lagi kamu akan masuk sekolah menengah, jika kamu mudah menangis maka orang lain akan mudah menindasmu dan mereka akan sangat senang. Jadi ingat sebagai darah keluarga Kusuma, kamu harus kuat dan bisa membaca situasi! Jangan biarkan ada orang lain yang menindasmu, Mengerti?" Radit bicara dengan lembut namun pegangan tangannya pada pundak Risha terasa sangat keras seakan dia meminta Risha untuk kuat dan tangguh
"Ya, aku mengerti om. Aku akan mengingat itu. Aku tidak akan di tindas siapapun meskipun aku seorang perempuan" Risha menjawab dengan penuh pendirian dan tegas
"Bagus. Itu baru keponakanku" Radit dengan senyum lembutnya bicara pada Risha dan juga sebelah tangannya membelai lembut kepala Risha
"Sepertinya tadi om sangat menakutkan? Kenapa sekarang dia bersikap baik? Cih, sama saja seperti Kenzo dan Kenzie" Risha mengerucutkan bibir dan bicara dalam hati. Dia tidak berani mengatakannya langsung pada Radit
Keesokan harinya di sekolah
"Risha, Apa kamu melihat Kenzie?" Tanya salah satu teman sekelasnya yang biasa belajar bersama dengan Kenzie lebih tepatnya menyontek hasil pekerjaan rumahnya
"Tidak, aku tidak tahu dia dan Kenzo pergi kemana" Risha menjawab dengan tenang dan menggelengkan kepala bersamaan
"Tolong bilang pada Kenzie kalau kami menunggunya di perpustakaan! Kuharap kamu cepat menemukannya karena sebentar lagi akan masuk kelas" dia bicara sambil berbalik pergi meninggalkan Risha
"Sejak kapan aku jadi pembawa pesan ya? Aku tidak ingat kalau aku bertugas sebagai burung pengantar pesan? Awas saja kalian! Aku tidak mau lagi menuruti mau kalian untuk membujuk Kenzje!" Gumam Risha sambil menatap teman-temannya yang berlari menjauh menuju perpustakaan
"Akhirnya kamu sadar juga kalau mereka hanya memanfaatkan kita" Kenzo dan Kenzie tiba-tiba muncul dari salah satu ruangan di dekat Risha
"Apa maksudmu Zie? Mereka hanya memanfaatkan kita untuk mendapatkan nilai bagus?"Risha terlihat bingung menatap Kenzo dan Kenzie
"Kamu tidak benar-benar berpikir kalau mereka minta di ajari kan? Toh selama ini mereka hanya menyontek saja" Kenzie memberitahu Risha dengan nada bicara yang tenang
"Kamu sudah tahu kalau mereka hanya memanfaatkan kita? Lalu kenapa kamu diam saja dan mengikuti apa yang aku katakan?" Tanya Risha pada Kenzie
"Tentu saja aku tahu. Tapi bukankah kamu bilang ingin punya teman selain kami? Kami ingin kamu tahu bagaimana karakter anak-anak lain" Kenzie menjawab dengan tenang
"Cih, kalian seperti orang tua saja"
"Hei. Bukankah kakek buyut dan papi sering kali memberitahu kita kalau kita harus hati-hati dengan orang lain? Kamu saja yang tidak mengerti!" Kenzo bicara dengan nadanya yang sinis dan dingin
"Aku tidak ingin bicara padamu Zo. Kalian berdua membiarkan aku dibodohi oleh mereka. Jahat sekali!" Risha pun berbalik dan pergi meninggalkan Kenzo dan Kenzie
"Zo, bagaimana ini? Risha sepertinya marah" Tanya Kenzie dengan raut wajah khawatir
"Kamu bujuk saja dia dengan coklat!" Kenzo bicara dengan acuh tak acuh sambil berbalik pergi dan meninggalkan Kenzie
"IIIih rasanya aku ingin menjambak rambutmu Zo. Kamu bisa bicara begitu dan membiarkan aku membujuk Risha sendiri" Kenzie terlihat kesal sendiri dengan sikap Kenzo yang sama sekali tidak peduli dengan perasaan orang lain
"Haah ... untungnya kamu itu saudaraku, kalau saja bukan, aku pasti sudah mengajakmu berduel" Kenzie terus saja menggerutu sambil mengikuti Kenzo dari belakang
"Silahkan saja. Aku tidak takut untuk duel denganmu" Kenzo menjawab dengan tenang dan sombong
"Ah yang benar saja. Kamu tetap harus membantuku membujuk Risha!" Ujar Kenzie dengan nada memaksa
"Tidak mau. Kamu belikan saja dia coklat dan gula-gula, maka dia tidak akan menolak" Kenzo terus bersikap acuh tak acuh
"Hei kamu tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja. Bantu aku membujuknya!" Kenzie terus saja mengikuti Kenzo
"Tidak mau. Jika kamu mengikutiku lagi. Awas saja kamu!" Kenzo bicara dengan sikapnya yang dingin
"Mau pergi kemana kamu Zo?" Tanya Kenzie karena Kenzo bukan berjalan mengarah ke kelas
"Taman, main game" Kenzo menjawab tanpa menoleh pada Kenzie
"Kamu diam-diam membawa konsol game?" Kali ini Kenzo tidak lagi menanggapi apa yang ditanyakan Kenzie dan terus berjalan menuju taman
"Haah, dia benar-benar seperti papi. Tidak suka banyak bicara dan jutek"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 391 Episodes
Comments
Yolenta
ga sabar liat kembar nakal gede ..
kalo udh baca ini, suka lupa waktu
2021-09-28
0
Nasya Lau
🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗
2021-08-09
0
Cathy Yulianti
yah bnr kata om radit..risha hrs jd gadis yg kuat...pantangan bgi kluarga kusuma klw smp di tindas..okok
2021-07-04
0