Keluarga Kusuma langsung datang kerumah sakit setelah Leo menghubungi mereka dan memberitahu kalau Lea telah sadarkan diri
"Lea, sayang, akhirnnya kamu sadar juga. Nenek senang melihatmu baik-baik saja" Gina langsung mendekati le1a dan memegang tangannya begitu dia tiba dirumah sakit
"Terimakasih nek. Aku juga senang ternyata aku dan bayiku bisa selamat" Lea menjawab dengan senyuman yang ramah
"Apa kamu sudah memberi nama bayimu? Ini sudah berhari-hari dan dia masih belum diberi nama" Gina bertanya pada Lea yang kini sudah bisa duduk bersandar
"Sudah nek. Namanya Lathan Gevaril Surendra. Itu nama yang sudah aku dan kak Galen pilih untuk anak kami" Lea menjawab dengan senyum ceria sambil menatap bayinya dengan penuh cinta
"Nama yang bagus. Cantik seperti rupanya. Nenek harap dia bisa jadi pemimpin untuk keluaganya nanti"
"O iya nek, apa kalian tahu bagaimana keadaan kak Galen? Kalian sudah melihatnya? Apa dia baik-baik saja?" Lea bertanya pada Gina karena dia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Vio dan Leo
Yudha dan Gina saling menatap satu sama lain sebelum memberikan jawaban yang dapat menenangkan Lea
"Mereka baik-baik saja. Kamu tidak perlu cemas. Tapi sebainya kamu pulihkan dirimu dulu, agar saat bertemu dengannya nanti dia tidak khawatir padamu" Gina dengan lembutnya menyarankan pada Lea untuk memulihkan kondisinya terlebih dahulu
"Syukurlan jika kak Galen dan kak Rey baik-baik saja. Aku akan ikuti saran nenek agar kak Galen tidak khawatir saat bertemu denganku" Lea tersenyum lembut dengan wajah pucatnya yang kini terlihat semangat
"Bagus. Kamu juga harus ingat kalau sekarang kamu punya bayi yang harus kamu rawat"
"Euh"
Lea hanya tersenyum disertai anggukkan kepala. Yudha dan Gina pun ikut tersenyum menanggapi Lea, namun hati mereka kini terasa sangat sakit jika membayangkan bagaimana reaksi Lea nanti jika dia tahu kalau Galen dan Rey sudah meninggal dunia. Dia pasti akan sangat hancur
"Kakek keluar sebentar" Yudha beranjak keluar dari ruangan Lea dan menemui anggota Kusuma lain yang menunggu diluar karena mereka tidak bisa masuk semua kedalam ruangan Lea
"Cheva, kakek ingin kamu segera selesaikan masalah ini dan berikan balasan yang setimpal pada orang yang membuat Lea menderita. Kakek sama sekali tidak rela jika mereka berkeliaran dengan bebas dan tertawa ceria sementara Lea menderita karena kehilangan Galen"
Yudha yang biasanya bersikap tenang kini terlihat sekali kalau dia sedang marah saat bicara pada Cheva
"Kakek tenang saja. Tidak akan ada yang bisa lolos dari kita. Aku akan pastikan mereka yang terlibat membusuk di penjara dan melalui hari-hari mereka dengan penderitaan. Kematian itu hadiah yang terlalu indah untuk mereka" Cheva mengiyakan apa yang Yudha katakan dengan senyum mencibir terlihat diwajah cantiknnya
"Bagus. Biarkan Radit bermain denganmu untuk melampiaskan kekesalannya. Kakek tahu kalau kamu ingin membalas kesedihan kakakmu, iya kan?" Yudha beralih pada Radit yang terus melihat ke arah Lea dari jendela kamarnya
"Tentu saja kek. Rasanya aku ingin menabrakkan wajah mereka semua ke atas trotoar jalan dimana mereka menabrak mobil kak Galen. Bahkan itu tidak cukup untuk menebus kesalahan mereka" Radit bicara dengan penuh emosi dan juga linangan air mata yang tertahan di pelupuk matanya
"Jangan menunjukkan emosimu. Kamu harus bisa mengontrol emosi agar lawanmu tidak mempermainkan perasaanmu" Yudha memberitahu Radit ketika melihat ekspresi cucunya yang penuh dengan emosi dan kebencian
"Iya kek. Aku mengerti"
***
Kediaman Surendra
"Kakak, kudengar Lea sudah sadar. Itu berarti, dia akan jadi ahli waris Galen. Maka semua usaha kita akan sia-sia saja. Bagaimana ini?" Astria bicara dengan wajah panik dan bingung
"Tenang dulu. Sebelumnya kita sudah mengancam supir truk dan rekannya untuk tidak membuka suara. Sekarang kita harus menyingkirkan Lea juga agar rencana kita sempurna dan kita bisa menikmati harta keluarga kita tanpa ada pengganggu. Haah … padahal ini milik kita sendiri, tapi malah kita yang harus bekerja keras mendapatkan warisan kita sendiri" Adnan mengeluh dengan keputusan ayahnya dalam membagikan warisan
"Kakak benar. Kita seperti hendak merebut warisan milik keluarga lain padahal ini seharusnya milik kita karena ini warisan ayah kandung kita sendiri" Astria pun mengeluh pada Adnan
"Sayangnya kita tidak bisa protes atas ketidak adilan ini. Jika ada yang harus disalahkan, ini semua adalah salah ayah. Kita sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Jika saja ayah tidak membuat keputusan yang merugikan kita. Kita juga tidak akan berbuat sejauh ini. Ah sudahlah. Kalau begitu kita akan pergi kerumah sakit untuk menjenguk Lea nanti. Kita harus lihat sendiri bagaimana kondisinya sekarang"
Adnan pun berjalan pergi meninggalkan Astria sendiri
***
Kantor polisi
Cheva, Lian dan Radit kembali datang untuk mengunjungi supir truk
"Kalian lagi. Untuk apa lagi kalian datang kemari? Aku akan tetap memberikan jawaban yang sama dengan sebelumnya karena itu adalah kecelakaan" Supir truk terlihat kesal saat melihat Cheva, Lian dan Radit yang datang mengunjunginya
"Wah wah wah. Apa yang terjadi dengan wajahmu? Hanya dalam waktu satu hari wajahmu bisa jadi seperti ini. Bagaimana jika kamu berada disini selama bertahun-tahun?" Cheva bicara dengan senyum manis dan nada bicara yang seakan mengejek dan penuh ancaman
"Apa maksudmu?!" Tanya supir truk bingung
"Bukankah sudah aku bilang sebelumnya kalau aku bisa melakukan apapun padamu meskipun kamu berada dalam penjara sekalipun" Senyum Cheva terlihat menyeramkan meskipun nada bicaranya lembut dan tenang
"Jadi ini semua … jangan-jangan ini ulahmu?!"
"He em" Cheva menanggapi dengan mengangkat kedua bahunya bersamaan dan bersikap seakan dia tidak peduli
"Bagaimana kalian bisa bersikap seperti ini kepadaku?!" Teriak supir truk dengan kesal
"Kami hanya meminta satu jawaban darimu. Siapa yang menyuruhmu membuat mobil kakakku celaka? Jika kamu memberikan kami jawaban yang memuaskan, maka kami bisa berikan hadiah yang setimpal" Radit bicara dengan nada yang dingin dan sorot mata yang tajam
"Aku sudah katakan kalau itu kecelakaan. Kecelakaan bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja" Jawab supir truk dengan acuk acuhnya
"Kamu benar. Kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Bahkan itu bisa terjadi padamu didalam penjara"
Supir truk itu langsung diam setelah Lian bicara dengan sorot mata yang tajam dan aura seakan ingin membunuh
"Ka-ka-kalian kalian ingin membunuhku?!"
"Ya, tidak ada pilihan jika kamu tidak ingin bekerja sama dengan kami" Radit tersenyum membuat supir itu kembali gemetar
Supir truk seakan bisa mati saat yidak berjaga
"Baik baik. Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Yang memintaku adalah sepasang pria dan wanita. Mereka memintaku untuk melenyapkan suami istri itu. Mereka juga mengirimkan foto dan detil mobil dan petunjuk lainnya agar aku bisa mengenali mobil itu" Akhirnya supir truk itu mengatakan hal yang sebenarnya
"Kamu tahu siapa mereka?" Tanya Radit singkat
"Aku tidak tahu. Aku hanya dengar si pria memanggil wanita itu Astria"
"Cih, ternyara kecurigaan kita memang benar" Lian mencibir sinis kemudian berdiri dari dan hendak pergi
"Kalian akan membebaskanku kan?" Tanya supir truk penasaran
"Kami tidak mengatakan akan membebaskanmu. Kami mengatakan akan memberi hadiah setimpal. Dan kamu pantas membusuk dipenjara karena membuat kakakku celaka. Akan ku pastikan kalian tidak bisa bebas dari sini"
"Dasar kalian penipu!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 391 Episodes
Comments
Yolenta
hahahhaa .. mantap
2022-01-11
0
😊👋
🤧🤧🤧gue mudah nngis kloo kek gini Thor🤧🤧
2021-08-01
0
anna
lanjut
2021-07-19
0