"Apa kamu senang bermain seperti itu dengannya? Sepertinya kamu membuat pelayan toko itu sangat kewalahan? Benar kan Risha?" Kenzie, Risha dan Kenzo sedang makan di sebuah tempat makan siap saji. Mereka makan sambil berincang mengenai apa yang Kenzo lakukan
"Benar. Zo, sebenarnya apa yang telah kamu lakukan padanya? Pelayan toko tadi terlihat sangat kesal" Risha pun terlihat penasaran dengan apa yang telah Kenzo lakukan pada pelayan toko itu
"Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya membuatnya naik turun tangga dan pergi kesana kemari selama hampir 2 jam untuk mencari barang. Bukankah pelayan toko itu yang membuatmu kesal kemarin?" Kenzo bicara dengan raut wajah yang datar dan nada yang dingin. Itu seperti bukan apa-apa baginya karena dia bicara sambil menikmati makanannya
"Hahaha ... kami bisa bayangkan bagamana kesalnya dia hari ini. Bukankah harusnya kamu memiliki rasa kasihan karena dia seorang perempuan?" Kenzie terbahak membayangkan ekspresi pelayan toko itu saat menghadapi Kenzo
"Zo, kamu benar-benar hebat. Bagaimana kamu bisa tahu kalau pelayan toko itu yang membuat Kenzi kesal? Pantas saja kamu ingin diantarkan oleh supir Kenzie" Risha bicara sambil tersenyum pada Kenzo yang sedang asyik dengan makanannya
"Aku mendengar pembicaraan kalian kemarin. Karena itu aku tahu apa yang membuat Kenzie kesal" Kenzo menjawab dengan acuh tak acuh
"Ternyata kamu perhatian juga meskipun sangat dingin dan tidak menunjukkannya" Risha tersenyum menggoda Kenzo
"Ya, aku juga baru tahu kalau saudara kembarku punya sisi seperti ini. Zo, maafkan aku ya? Dan terimakasih sudah membalaskan kekesalanku pada pelayanan itu" Kenzie bicara dengan nada yang lembut dan senyum yang terlihat sangat ramah
"Sudahlah. Tidak perlu bahas ini lagi. Cepat makan, lalu kita pulang. Aku ada janji bertanding game siang ini. Aku bisa terlambat gara-gara mengurusi hal seperti ini" Kenzo kembali pada sikapnya yang acuh dan acuh tanpa mempedulikan apa yang dikatakan Kenzie dan Risha
"Baiklah-baik. Tetap saja aku berterimakasih karena aku masih lebih penting daripada game milikmu itu" Ujar Kenzie yang terus tersenyum ceria setelah melihat Kenzo yang perhatian padanya
***
"Halo kak. Aku ingin memberitahukan sesuatu padamu" Rey sedang menghubungi Galen saat dia hendak bersiap kekantor
"Ada apa Rey? kenapa nada bicaramu terdengar sangat sedih?" Galen bertanya dengan sikap tenang dan lembut
"Ayah ... dia sudah meninggal. Sekarang semua sedang berkumpul untuk menunggumu" Rey bicara dengan nada yang sedih
"Ayah? meninggal?"Galen terkejut dan seketika terdiam, namun perasaan yang dia rasakan entah kenapa tak dapat dijelaskan. Haruskan dia sedih karena kehilangan orang yang membawanya masuk kedalam kehidupan yang sama sekali tidak dia inginkan? Atau haruskah dia senang karena mulai sekarang dia bisa bebas dari keluarga Surendra?
"Kak, kak Galen? Apa kamu masih mendengarkanku?" Rey kembali bertanya karena tidak mendengar jawaban apapun dari Galen
"Ya, aku masih mendengarkanmu. Kapan pemakamannya dilaksanakan? Aku akan datang kesana dengan Lea nanti" Galen menjawab dengan suara yang lemah.
"Mungkin hari ini juga pemakamannya akan dilaksanakan. Aku akan menunggumu, hati-hati saat perjalananmu nanti" Ujar Rey bicara pada Galen
"Ya, sampai jumpa nanti" Galen dan Rey pun mengakhiri panggilan telepon diantara mereka berdua
"Ada apa? Siapa yang sudah menghubungimu?" Tanya Lea yang baru saja keluar dari kamar mereka dengan perut yang sudah terlihat membesar
"Rey. Dia bilang kalau ayah telah meninggal" Lea terdiam mengamati ekspresi suaminya sekarang ini
"Apa kamu baik-baik saja?" Lea bertanya pada Galen yang diam saja dengan menundukkan kepala. Diapun mendekati Galen dan duduk disebelahnya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Galen
"Sudah sering kali aku bersandar padamu seperti ini" Lea mengangkat kembali kepalanya dan menatap Galen yang berlinang air mata" Kali ini biarkan dirimu bersandar padaku" Ujarnya lembut menenangkan Galen
Seketika tangis Galen pecah di pelukan Lea "Aku tidak tahu harus bagaimana. Apa aku harus merasa lega karena akhirnya bisa bebas dari keluarga ini atau aku harus sedih karena orang yang membesarkanku dengan didikannya telah pergi untuk selamanya?"
Lea mengusap punggung Galen dengan lembut dan penuh perhatian. Dia bisa mengerti bagaimana perasaan sang suami. Galen berhutang budi karena mendiang ayah angkatnya telah merawat dan membesarkannya dari kecil. Meskipun bukan dengan kasih sayang, karena Galen terpaksa masuk keluarga Surendra agar Rey, teman satu panti asuhan yang dia anggap seperti adik sendiri bisa berobat dari penyakitnya saat dia kecil.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu. Sekarang ayahmu sudah pergi untuk selamanya. Kuharap kak Galen bisa memaafkannya dan membiarkan dia pergi dengan tenang, karena meski bagaimanapun dia telah berjasa membangun masa depan kak Galen dan kak Rey" Lea berusaha menenangkan Galen dengan memberikan kata-kata yang mungkin bisa menjadi penyemangat untuknya
"Ya, kamu benar. Aku harus membiarkan dia pergi dengan tenang, karena sekarang aku juga akan menjalani hidupku dengan tenang tanpa harus merasa terbebani dengan ayah angkatku lagi" Galen kembali mengangkat kepalanya dan bicara dengan penuh keyakinan
"Kalau begitu kita bersiap untuk pergi kesana sekarang!" Lea berdiri lebih dulu dan mengulurkan tangannya pada Galen
"Ya, tapi ... apa kamu baik-baik saja jika pergi kesana? Tidak lama lagi kamu akan melahirkan anak kita. Aku tidak mau kamu kelelahan. Mau ku antarkan ke rumah mama saja?" Kali ini Galen terlihat khawatir dengan Lea
Lea tersenyum melihat wajah Galen yang terlihat sangat khawatir padanya. Dia kemudian mengulurkan sebelah tangannya dan memegang sebelah pipi Galen "Aku baik-baik saja. Usia kandunganku masih 8 bulan, jadi masih tidak papa jika aku bepergian keluar"
Galen pun menganggukkan kepala disertai senyum dibibirnya "Baiklah, tapi jika kamu merasa lelah atau apapun, kamu harus langsung memberitahuku"
"Baik, aku mengerti" Galen dan lea pun pergi kekamar mereka untuk bersiap pergi ke rumah utama keluarga Surendra
***
Beberapa jam kemudian kediaman Surendra
"Akhirnya kakak datang juga" Rey menyambut Galen dan Lea begitu mereka turun dari mobil
"Apa yang lain sudah berkumpul?" Galen bertanya dengan sikapnya yang tenang
"Ya, semua sudah menunggumu datang. Pemakaman akan dilakukan sekarang setelah kamu melihatnya untuk yang terakhir kali" Rey menjelaskan pada Galen sambil berjalan bersama untuk melihat jenazah tuan Adi
Galen dan Lea kin berdiri di depan tubuh tuan Adi yang terlihat kaku dengan wajah yang terlihat sangat pucat dan kurus
"Ayah, aku sudah disini. Aku datang untuk mengantarkanmu ketempat peristirahatan terakhirmu. Karena ayah sudah tidak ada, maka tanggung jawab yang aku janjikan pada ayah juga selesai sampai disini. Aku sudah mengelola perusahaan milik keluarga ini dan menjaga semua milikmu. Sekarang setelah kamu tidak ada, maka aku memutuskan untuk menentukan jalan hidupku sendiri. Aku akan keluar dari keluarga Surendra dan melanjutkan masa depan bersama istri dan anakku" Galen langsung berbalik dan pergi menemui tamu lain dan kedua kakak angkatnya setelah dia bicara pada jenazah ayah angkatnya
"Kita pergi ke pemakaman sekarang dan setelah itu selesai, aku akan membacakan surat wasiat yang ditinggalkan mendiang tuan Adi sebelum dia meninggal dunia" Ujar pengacara pribadi keluarga Surendra. Semua keluarga pun setuju. dan mulai beranjak pergi menuju pemakaman
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 391 Episodes
Comments
Yolenta
lanjuuttt
2021-11-24
0
ukhty fulanah
game mulu si kenzo nya mah, jadi g ada waktu luang sama kembarnya, pdhl kan butuh juga sosialisasi sm keluarganya
2021-07-17
0
Amelisa cherry Salsabila
emmmm semakin condong nih latnan siapakah jati dirimu sebenarnya
2021-07-03
0