"Jika dipikir-pikir keponakan kembarmu itu sudah terlihat jenius ya? Mereka baru berumur 7 tahun tapi sudah bisa membuat lukisan abstrak yang laku terjual dengan harga tinggi. Jika aku menggambar lukisan abstrak... bisa terjual seperti mereka tidak ya?" Candra bertanya pada Radit begitu mereka tiba di kelasnya
"Kamu mau dengar jawabanku?" Tanya Radit dengan nada yang tenang dan mata yang mendelik pada Candra
"Tidak perlu. Aku sudah tahu apa jawaban yang akan kamu berikan" Candra memalingkan wajahnya dengan kesal
"Kalau sudah tahu jawaban dariku, kenapa masih bertanya? Tapi... memangnya kamu tahu jawaban apa yang akan aku berikan padamu?" Kini Radit terlihat penasaran dengan apa yang akan dikatakan Candra
"Kamu akan bilang begini 'Keturunan keluarga kami memang semua jenius. Jika kamu yang diusia itu maka kamu tidak akan bisa memegang kuas lukis sama sekali, dan meskipun kamu melukis secara acak sekarang itu tidak akan dianggap unik oleh orang lain'. Kamu pasti bilang begitu" Candra bicara dengan nada yang mencibir
"Oh, kamu sudah bertambah pintar" Radit menjawab dengan acuh tak acuh dan pandangan fokus pada laptop di depannya
"Ya ampun... bagaimana bisa. aku tahan berteman denganmu ya? hmn... " Ujar Candra dengan menggelengkan kepalanya berkali-kali
***
Sementara itu di kediaman Kusuma. Diaz masih berada di rumah Yudha dan belum kembali ke rumahnya di negara F
"Risha, ayo bersiap, sayang. Kita akan pulang sekarang" Ujar Tania yang sedang mempersiapkan Dhefin agar bisa segera berangkat
"Mih, pih apa boleh aku sekolah disini dengan Kenzi? Aku ingin sekolah dengannya" Arisha bertanya pada Diaz dan Tania dengan mata berbinar memohon
"Tentu saja boleh. Kakek buyut sangat senang jika kalian berkumpul disini" Yudha menanggapi dengan nada bicaranya yang tenang dan senyum tipisnya
"Benarkah kakek buyut?" Risha bertanya untuk memastikan apa yang Yudha katakan dengan wajah ceria
"Tentu saja. Kakek buyut tidak pernah berbohong dengan apa yang kakek katakan" jawab Yudha dengan nada yang tenang
"Yeaayyyy ... Kenzi akhirnya kita bisa sekolah sama-sama"
"Ya, horeeee..... "
Kenzi dan Arisha bersorak bersama sambil melompat karena senang mendapatkan izin dari Yudha untuk sekolah sama-sama
"Sepertinya anak perempuan memang suka mengikuti anak laki-laki kemanapun ya? Dulu Cheva yang suka mengikutiku. Sekarang malah Risha yang mengikuti anak Cheva" Diaz berasumsi dengan nada yang tenang sambil menggelengkan kepala
"Mungkin karena mereka merasa terlindungi? Dan aku akan mengajari mereka beladiri saat akhir pekan. Itu bagus jika dilakukan saat mereka masih kecil" Lian menanggapi pernyataan Diaz dengan nada bicaranya yang tenang dan dingin
"Benarkah pih?Papi akan mengajari kami beladiri?" Kenzo terlihat sangat bersemangat begitu mendengar kalau Lian akan mengajari mereka ilmu beladiri
"Tentu saja. Itu sangat penting untuk kalian saat dalam bahaya. Tapi papi tidak ingin mendengar kalau kalian nanti berkelahi!"
"Yes"
Lian pun mulai rutin mengajari Kenzo, Kenzi dan Arisha ilmu beladiri setiap minggunya. Mulai dari taekwondo, memanah dan lainnya. Namun dia belum mengajarkan ilmu menembak, karena dirasa itu belum pas untuk usia mereka.
Sedangkan Diaz mulai jarang datang ke negara A, karena sebelumnya dia datang untuk mengantar Risha yang ingin berkunjung. Kini dia hanya akan datang satu bulan sekali
***
Pagi ini Risha, Kenzo dan Kenzie akan mulai sekolah pertama mereka di sekolah dasar
"Anak-anak cepat sarapannya! Kalian bisa terlambat ke sekolah nanti. Ini kan hari pertama kalian masuk sekolah dasar, tidak lucu kan jika kalian terlambat saat baru masuk?"
Cheva berusaha membujuk Risha, Kenzo dan Kenzie untuk mempercepat sarapan mereka agar bisa berangkat sekolah
"Aku sudah selesai, tapi lihat mereka berdua yang lamban saat melakukan apapun!" Kenzo bicara dengan nada yang dingin dan mata mendelik pada Risha dan Kenzie
"Kamu benar. Tapi Risha itu anak perempuan, jadi wajar jika dia makan dengan pelan. Sedangkan kamu Kenzie, kenapa kamu sangat lamban sekali makannya?" Kini Cheva bertanya pada Kenzie yang makan dengan hati-hati
"Aku sedang menikmati makananku mih. Tidak enak kalau kita makan dengan terburu-buru" Kenzie menjawab dengan senyum ceria dan mulut penuh dengan sandwich
"Ya terserah kamu saja. Tapi jika kamu terus makan seperti itu, maka kalian akan terlambat ke sekolah" Gina bicara dengan tenang
Akhirnya Risha dan Kenzie selesai dengan sarapan mereka dan siap untuk pergi ke sekolah. Supir yang akan mengantar mereka sudah menunggu mereka di depan rumah
"Apa kalian sudah memeriksa semua barang yang kalian butuhkan? Tidak ada yang tertinggal?" Cheva kembali bertanya untuk memastikan
"Ya, kami sudah membawa semuanya"
"Kalian yakin?"
"Jika mami terus bertanya, maka kami akan terlambat" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang dan acuh tak acuh
"Cih dasar kloning kak Lian" Gumam Cheva mencibir sikap Kenzo yang sangat mirip dengan Lian
"Ya sudah. Kalian hati-hati dan jangan nakal selama di sekolah. Kalian harus jadi anak baik" Cheva kembali menasehati ketika ketiga anak itu sudah naik ke dalam mobil yang akan mengantar mereka ke sekolah
"Oke mami"
"Oke tante"
Risha dan Kenzie menjawab dengan ceria, lain halnya dengan Kenzo yang tidak menanggapi
"Jalan pak! Kita bisa terlambat" Kata Kenzo tanpa mempedulikan Cheva
Cheva yang melihat Kenzo tidak menanggapi kembali kesal melihat mobil yang mengantar anaknya semakin menjauh
"Dasar anak itu. Memangnya salah kalau aku mengingatkan mereka untuk berhati-hati dan tidak nakal? Kenapa sikapnya malah seperti itu? Sepertinya aku selalu mengajarinya bersikap sopan pada orang tua? Ada apa dengannya?"
Cheva menggerutu kesal begitu dia kembali masuk ke dalam rumah.
"Ada apa? Kenapa kamu sudah marah-marah? ini masih pagi" Tanya Lian dengan sikapnya yang tenang
"Itu kak, tadi aku mengingatkan anak-anak untuk hati-hati dan tidak nakal disekolah. Risha dan Kenzie menjawabku sebelum pergi. Tapi Kenzo, dengan sikapnya yang dingin itu dia mengabaikan aku" Cheva mengeluh pada Lian
"Berapa kali kamu menahan mereka untuk pergi ke sekolah? Mereka sudah hampir terlambat, pasti kamu juga yang menghambatnya kan?"
Yudha yang mendengar keluhan Cheva menjawab tanpa menoleh pada cucunya itu
"Tidak. Aku tidak melakukan itu kakek. Kakek jangan asal menuduhku ya?" Kini Cheva berdebat dengan Yudha
"Kakek tahu kamu sangat merepotkan jadi anakmu juga pasti kesal dengan ocehanmu" Jawab Yudha lagi
"Apa maksudnya aku merepotkan? Aku hanya mengingatkan mereka sudah memeriksa semuanya belum? Jangan makan sembarangan, jangan nakal, harus mendengarkan apa yang dikatakan gurunya dan bla bla bla"
Cheva menjelaskan apa yang dia katakan dengan sangat panjang
"Pantas saja Kenzo memilih mengabaikanmu. Jika dia mendengarkanmu sudah pasti mereka tidak jadi ke sekolah karena pesanmu yang tidak pernah habis" Yudha mengejek Cheva dengan senyum tipisnya
"Cih, kakek tidak pernah membelaku. Sudahlah, kakek menyebalkan! Kak Lian ayo kita berangkat kekantor! Tidak ada habisnya kalau berdebat dengan kakek" Cheva pun meraih tasnya dan keluar rumah lebih dulu untuk pergi ke kantor. Dia terus menggerutu dengan wajah ditekuk. Sedangkan Lian dan Yudha hanya tersenyum saja melihat tingkah Cheva yang kini sudah dewasa namun bersikap seperti anak kecil.
"Kamu senang sekali menggoda cucumu itu" Ujar Gina yang sejak tadi hanya memperhatikan sambil menuangkan teh pada Yudha
"Aku suka melihat emosinya yang berapi-api. Itu menjadi hiburan tersendiri untukku"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 391 Episodes
Comments
Dede Aiv
mkax q bingung ma ceritx ternyata q gak bc yg sesen 2 heee
2022-12-05
0
Ulil Zamhariroh
kakek Yudha nenek Gina
semoga sehat selalu 🤲
2021-11-24
0
Yolenta
hai kakek nenek uyut .. apa kabar?
rame ya rumah besar 🤭🤭
2021-09-27
0