Keesokan harinya semua keluarga Kusuma berkumpul untuk makan malam bersama guna merayakan kehamilan Lea. Biru dan Jingga pun datang bersama anak dan cucu mereka.
Hari biasanya dimana hanya ada keluarga Cheva dan Radit juga Arisha saja rumah Yudha sudah ramai. Hari ini semua berkumpul lengkap, tentu saja rumah Yudha semakin berisik dengan canda tawa.
"Sudah lama kita tidak berkumpul semua seperti ini. Bi, bagaimana kabarmu? Kita sama-sama di negara F tapi tidak pernah bertemu" Ji berbincang dengan Biru yang sedang menggendong Dhefin dipangkuannya
"Kamu benar Ji, kita sangat sulit untuk bertemu. Padahal biasanya kita bisa sesekali makan bersama. Tapi karena perusahaanku sedang mendapat tender baru, aku jadi ikut sibuk mengawasi jalannya tender itu" Jawab Bi dengan sikapnya yang tenang
"Ku kira kamu tidak akan terlalu sibuk setelah Diaz juga turun tangan di perusahaan" Ji bertanya dengan nada yang menggoda
"Tante, aku tidak bisa menghendel semuanya sendiri. Tentu saja aku masih butuh bantuan papi" Diaz yang sejak tadi diam saja kini membuka suara
Semuanya saling bercengkrama satu sama lain dan disaat mereka sedang asyik. Perhatian mereka tersita oleh sesuatu
Hoek hoek
Semua menoleh dan terlihat cukup terkejut karena yang mual itu bukanlah Lea melainkan Cheva
"Sayang, kamu tidak papa? Apa yang tidak enak? Kita kerumah sakit sekarang?"
"My princess, apa kamu baik-baik saja? Sejak kapan kamu merasa tidak enak badan? Kita panggil ambulance ya?"
Lian dan Ed dengan cepat mendekati Cheva dengan wajah panik dan segala macam tawaran pertolongan. Suasana rumah yang tadinya riuh oleh perbincangan, seketika menjadi hening dengan tatapan heran semua orang pada kedua pria itu
"Mereka mulai lagi" Gumam Radit melihat sikap Ed dan Lian
"Mami, apa mami baik-baik saja?" Kenzie bertanya dengan raut wajah khawatir
"Mami tidak papa. Sepertinya mami hanya kelelahan" Cheva menjawab dengan senyum yang dipaksakan
"Papi, kakek. Bagaimana bisa mami langsung dibawa kerumah sakit hanya karena mual? Kan kita bisa panggil dokter kerumah!"
Lian dan Ed saling menatap satu sama lain setelah mendengar ucapan Kenzo
"Kalian ini, Cheva sudah bukan anak kecil lagi, tapi kalian masih terus saja bersikap seperti itu" Ji menggelengkan kepala perlahan menanggapi sikap suami dan menantunya yang terlalu mengkhawatirkan Cheva
"Mereka ini bersikap seperti Cheva seorang bayi yang harus ekstra dijaga" Ujar Gina menanggapi Lian dan Ed
"My queen, Cheva ini putriku satu-satunya. Tentu aku tidak ingin jika sesuatu terjadi padanya, karena itu jika dia merasakan sesuatu, tentu harus langsung diperiksa kan?" Ed melakukan pembelaan diri atas sikapnya
"Ya, ya ya. Va, sejak kapan kamu merasa mual seperti itu? Kapan terakhir kali kamu datang bulan?" Ji bertanya pada Cheva dengan nada yang lembut dan tenang
"Aku tidak tahu mih. Sudah lama aku tidak datang bulan karena menggunakan alat kontrasepi, jadi aku sama sekali tidak ingat kapan aku datang bulan terakhir"
"Sebaiknya kita panggil dokter saja kemari!" Gina menyarankan sambil menghubungi dokter
Kini semua kembali berbincang. Sedangkan Lian dan Ed menjadi sibuk sendiri. Mereka terus menanyakan keadaan Cheva hingga dia yang sedang merasa mual jadi merasa pusing juga karena sikap suami dan ayahnya
Semua orang terus memperhatikan Ed dan Lian. Termasuk kenzo dan Kenzie
"Zo, bagaimana menurutmu jika kita memiliki adik lagi?" Kenzie bertanya pada Kenzo dengan berbisik padanya
"Aku tidak mau. Lihatlah sikap papi. Jika mami mengandung lagi, maka kita akan semakin kerepotan dengan sikapnya yang berlebihan pada mami" Jawab Kenzo dengan sikap yang tenang sambil menunjuk pada Lian yang sangat khawatir pada Cheva
"Kamu benar. Aku tidak mengerti kenapa papi dan kakek bersikap seperti itu, sedangkan yang lainnya bersikap biasa saja pada pasangan mereka. Bahkan tante Lea yang sedang hamil juga tidak diperlakukan secara istimewa oleh om Galen. Kurasa kita harus siap-siap untuk punya adik kecil lagi sekarang" Ujar Kenzie dengan sikap yang tenang
"Haah entahlah. Yang jelas aku ingin makan malam ini segera berakhir. Rasanya menyebalkan saat harus berada diantara banyak orang, aku ingin segera bermain game" Kenzo mengeluh pada Kenzi mengenai apa yang dia rasakan
"Sabarlah sebentar. Keluarga kita jarang berkumpul begini. Tidak baik jika kamu bersikap seperti itu" Kenzie berusaha menyemangati Kenzo agar tetap mengikuti makan malam hingga selesai
"Ya, tapi ini lama sekali. Aku sudah bosan" Terlihat jelas kalau kenzo menunjukkan rasa bosannya
"Hei Zo, bagaimana jika kamu jauh dari kami? Om Lian bilang kamu akan masuk ke sekolah yang berbeda saat sekolah menengah nanti" Risha bertanya pada Kenzo yang kebosanan
"Aku hanya akan berbeda sekolah dengan kalian, bukannya pindah rumah juga" Jawab kenzo dengan sikap acuh tak acuhnya pada Risha
"Kamu benar juga. Kita masih tetap bisa bertemu setelah pulang sekolah nanti, lagipula disekolah pun kamu tidak pernah bermain dengan kami. Jadi harusnya tidak masalah meskipun kamu masuk sekolah berbeda setelah ini" Risha pun mengutarakan pendapatnya pada Kenzo
"Ngomong-ngomong kenapa dokternya lama sekali ya? Bukankah nenek buyut sudah memanggilnya sejak tadi? Lihatlah papi dan kakek! Mereka seperti sedang merawat anak kecil yang sakit" Kenzie menunjuk lagi pada Ed dan Lian yang sedang sibuk dengan Cheva.Ed terus mengipasi Cheva dengan mengibaskan tangannya sedangkan Lian memberikan perhatian dengan menawarinya makanan dan minuman
"Ed, apa yang kamu lakukan?" Tanya Ji yang terus memperhatikannya
"Aku takut dia kepanasan karena itu aku mengipasinya" Jawab Ed masih dengan nada yang panik
"Jangan konyol kamu! Rumah ini menggunakan AC, jadi tidak mungkin Cheva kepanasan. Dan kamu Lian, karena Cheva sedang mengalami masalah dengan perutnya, jadi dia tidak akan mau makan apapun. Meskipun dia makan sesuatu sudah pasti akan muntah" Ji yang kesal dengan sikap mereka berdua akhirnya memprotesnya
"Ji ... Ji. Kamu memiliki suami dan menantu yang sangat unik. Semua orang tahu kalau Ed dan Lian adalah pria paling dingin dan menyebalkan, siapa sangka kelau mereka juga pria yang paling posesif, protektif dan berlebihan" Ujar Biru menggoda Jingga
"Kamu benar Bi. Tidak akan laki-laki lain yang mengalahkan sikap over protektif mereka berdua" Ji menjawab dengan mata mendelik pada Lian dan Ed
"Permisi, dokternya telah datang" Ujar salah satu pengawal memberi tahu kedatangan dokter
"Akhirnya kamu datang juga. Cepat periksa putriku!"
"Dokter, tolong jalannya di percepat. Istriku sudah menunggu lama sampai kamu datang kesini"
Lian dan Ed kembali sibuk ketika dokter datang. Bahkan Lian bergegas menghampiri dokter dan menariknya agar lebih cepat memeriksa Cheva
"Kasihan sekali dokternya. Lihatlah wajahnya yang begitu frustrasi dan tegang!" Ujar Radit memperhatikan raut wajah dokter
"Dokter bagaimana keadaannya? Dia sakit apa?"
"Apa dia hamil lagi? Atau dia mengalami penyakit lain?"
Lian dan Ed bertanya pada dokter secara bergantian setelah melihat dokter mulai memeriksanya
"Dia tidak papa. Hanya kelelahan dan sedikit mengalami masalah lambung"
"Dokter yakin? Tadi dia mual-mual, itu bukan pertanda hamil?"
"Benar. Bukannya biasanya kalau mual itu berarti hamil"
Tanya Lian dan Ed lagi
"Maaf pak Edward, pak Lian, tapi mual-mual bukan berarti gejala kehamilan saja"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 391 Episodes
Comments
Fenita Dewayani
banyak banget tokoh nyaaa...sampai pusing le mengingat namanya. .. hehehee
2022-04-08
0
Yen
😂🤣😂🤣😂🤣
2022-01-16
0
Sartini Sartini
baru baca lagi novel dari author..selalu bikin menghibur..dari gina sampe ke buyut² nya..maksih thor.ceritanya menarikk bangtt..sukses slalu
2021-12-26
0