Dirumah keluarga Kusuma
"Kakek, apa kakek tahu kalau tuan Adi meninggal?" Cheva bertanya pada Yudha saat mereka semua sedang berkumpul
"Ya, aku sudah dengar itu. Bagaimana dengan Galen? Apa kalian ada yang dengar tentangnya?" Yudha bertanya dengan sikapnya yang tenang dan berwibawa
"Kami tidak dengar apapun. Mereka tidak menghubungi kami sama sekali. Sepertinya semua baik-baik saja karena Lea juga tidak memberitahukan apapun pada kita" Cheva menjawab dengan sikapnya yang tenang dan nada yang manja
"Syukurlah kalau begitu. Lagipula sekarang dia sedang hamil besar. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa" Gina ikut berbicara dengan mereka
"Kenzo, Kenzie, Risha apa kalian sudah memutuskan mau masuk sekolah mana? Kalian akan masuk sekolah menengah sekarang" Gina bertanya pada ketiga cucu buyutnya
"Aku dan Kenzie akan sekolah di sekolah yang sama. Tapi Kenzo malah memilih sekolah yang lain" Risha mengadu dengan nada bicaranya yang sedikit manja
"Zo, kenapa kamu tidak masuk sekolah yang sama dengan mereka?" Yudha kini penasaran kenapa Kenzo yang malah memiliki pilihan yang berbeda
"Tidak. Jika aku masuk sekolah yang sama dengan mereka. Mereka berdua pasti akan selalu mengikutiku. Lagipula banyak yang salah mengenali aku sebagai Kenzie jika kami selalu bersama, dan itu menggangguku"
"Jelas saja itu mengganggumu. Mereka bertanya-tanya kenapa kamu begitu sinis pada mereka sedangkan aku selalu berteman dengan mereka. Tentu saja itu membuat mereka heran sendiri" Kenzie menjelaskan pada semuanya alasan kenapa mereka selalu diganggu
"Aku malas berteman degan mereka. Mereka sudah pasti hanya ingin menyontek atau membutuhkan sesuatu saja" Kenzo membela diri dengan sikap acuh tak acuhnya
"Tidak baik jika kamu begitu. Kamu tetap harus punya teman di dunia nyata. Itu akan baik untukmu nanti" Lian pun bicara dengan sikap yang acuh tak acuh
"Seperti kak Lian punya banyak teman saja. Kakak juga hanya punya kak Diaz yang mau jadi teman kak Lian
"Ya setidaknya aku memiliki Diaz sebagai sahabatku, sedangkan Kenzo tidak memiliki teman satupun"
"Pih, aku masih terlalu muda untuk menemukan teman. Nanti juga aku bisa menemukan teman yang cocok denganku"
"Haah,,, aku seperti melihat cermin pada kalian berdua" Cheva menggelengkan kepala melihat interaksi Kenzo dan Lian yang sama-sama acuh tak acuh
"Salah kak Cheva sendiri yang mau menikah dengan pria tanpa ekspresi seperti kak Lian, jadi kak Cheva juga mendapatkan anak yang sifatnya persis seperti papinya. Sama-sama memiliki wajah minim ekspresi" Radit berkomentar mendengar apa yang Cheva katakan
"Diam kamu bocah. Enak saja kalau kamu bicara. Kak Lian itu selalu lembut dan tersenyum padaku. Hanya pada orang lain saja dia tidak memiliki ekspresi di wajahnya"
"Aku bukan lagi bocah. Aku sudah mulai bekerja diperusahaan papa. Dan usiaku juga sudah 26 tahun!" Radit bersikeras menolak panggilan Cheva padanya
"Kamu belum menikah, bahkan sampai usia ini pun kamu tidak pernah pacaran, jadi dimataku kamu tetaplah seorang bocah" Cheva pun tetap memanggil Radit dengan panggilan bocah
"Terserah kak Cheva saja. Percuma saja aku berdebat denganmu! Radit pun mengalah pada Cheva dan mengakhiri perdebatannya
"Haah … kalian ini membuat kepalaku pusing saja" Ujar Yudha yang menghela napas panjang melihat perdebatan Cheva dan Radit
"Kakek benar. Aku tidak bisa fokus main game dan dari tadi kalah terus. Lebih baik aku kembali ke kamarku saja!" Kenzo yang kalah dalam bermain game langsung beranjak pergi sambil memegang konsol game miliknya
"Aku dan Risha juga akan pergi, kami memiliki pekerjaan rumah yang harus dikerjakan" Kini Kenzie dan Risha pun beranjak pergi dari hadapan semua orang
***
Di tempat lain
"Kak, hari ini kita diundang untuk acara pembukaan toko kosmetik. Lea juga di undang karena dia pernah menjadi model untuk merek yang dijual disana" Rey menjelaskan kegiatan yang harus Galen hadiri bersama Lea
"Baiklah, sore ini kita akan pergi kesana. Kamu juga harus ikut! Haah ... tapi, harusnya kamu tidak jadi asistenku lagi, kamu kini juga pemegang saham. Tidak baik jika kamu terus mengatur jadwalku" Galen bicara dengan nada yang tenang pada Rey
"Aku sudah terbiasa melakukan ini, jadi rasanya agak susah untukku melakukan hal lain" Rey menjawab sambil tersenyum canggung
"Nanti juga terbiasa. Tidak baik jika aku terus bergantung padamu, begitupun sebaliknya" Rey terdiam mendengar apa yang dikatakan Galen
"Apa ada yang salah dengan kak Galen ya? Kenapa akhir-akhir ini dia seperti mendorongku untuk menjauh darinya?" Rey mengernyitkan dahi memikirkan sikap Galen yang berbeda akhir-akhir ini
"Kenapa kamu malah melamun? Kita harus menjemput Lea dan bersiap pergi ke acara nanti sore"
"Ah iya, maaf" Rey langsung tersadar dari lamunannya ketika Galen menepuk pundaknya. Mereka pun mulai beranjak dari kantor dan menjemput Lea untuk pergi ke acara yang dikatakan Rey sebelumnya
Tak berselang lama pun mereka tiba dirumah Galen
"Lea...! Sayang, kamu dimana?" Galen berteriak mencari keberadaan Lea sambil menoleh kesetiap sudut ruangan rumahnya
"Aku disini. Ada apa kak galen teriak-teriak seperti itu?" Tanya Lea yang muncul dari arah teras samping
"Tidak ada, hanya saja saat aku masuk rumah aku tidak melihatmu. Karena itu aku berteriak mencarimu" Ujar Galen yang langsung mendekati Lea dan merangkul pinggangnya
"Ekhem-ekhem. Maaf, aku masih ada disini" Rey yang canggung melihat Galen dan Lea langsung menginterupsi dan memberitahukan keberadaannya
"Iya, aku tahu" jawab Galen datar kemudian dia kembali menoleh pada Lea "Sayang ayo kita bersiap pergi. Kita akan ke butik kemudian ke salon. Sore ini kita dapat undangan untuk peresmian gerai baru sebuah merek kosmetik yang dulu pernah kamu iklankan" Galen menjelaskan pada Lea yang terlihat bertanya-tanya
"Owh ya sudah. Aku kekamar dulu untuk ambil tasku" Lea pun berbalik dan berjalan meninggalkan Galen juga Rey untuk pergi kekamarnya.
Tak berselang lama pun Lea kembali dengan tas tangan yang dipegang di sebelah tangannya
"Ayo kak. Aku sudah siap" Ujar Lea berjalan mendekati Galen
"Ya, ayo pergi!" Jawab Galen dan Rey pun menganggukkan kepala menanggapi ajakan Galen, kemudian mereka bertiga beranjak pergi meninggalkan rumah
"Hati-hati kepalamu" Galen meletakkan sebelah tangannya diatas kepala Lea ketika dia hendak masuk mobil agar kepalanya tidak terbentur. Barulah dia naik di sampingnya sedangkan Rey yang mengemudikan mobilnya
Galen dan Rey berkendara sambil berbincang mengenai banyak hal
"Rey, apa kamu tidak memiliki kekasih? kenapa sampai sekarang kamu tidak mengenalkan seorang gadispun padaku?" Galen bertanya dengan senyum tipis di bibirnya
"Aku belum menemukannya. Mungkin karena aku terlalu sibuk bekerja, jadi aku belum bisa mencari seseorang yang cocok denganku" Rey menjawab dengan senyum lembut
"Jangan terlalu lama. Kamu sudah tidak muda lagi dan sudah waktunya untuk menikah"
"Ya, aku tahu. Kakak tidak perlu khawatir. Aku pasti akan menemukannya" Rey menoleh kepada Galen melalui kaca spion dan tanpa dia sadari ada sebuah truk yang melaju dengan ugal-ugalan di depannya
Tin tin tiiiiiinnnn
"Awaaas!!!!!!!!!!"
Brak
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 391 Episodes
Comments
Yolenta
lanjutt
2021-12-01
0
Amelisa cherry Salsabila
teka teki terjawab
2021-07-07
0
harumi
sudah ku duga kalo lathan tuh anak ya lea sama galen soalnya udh ketauan banget dicerita radit
2021-07-07
0