"Haah ... akhirnya selesai. Badanku rasanya sakit semua, aku sudah tidak punya tenaga lagi"
Andra melemparkan dirinya sendiri ke atas tempat tidur. Dia sangat lelah setelah seharian bekerja dan membereskan rumah begitu dia tiba dirumah. Bahkan Andra tidak punya tenaga lagi untuk membersihkan dirinya sendiri. Sekarang sudah hampir jam 10 malam Andra baru bisa istirahat. sedangkan dia harus sudah bangun jam 4 pagi untuk menyiapkan sarapan dan membereskan semuanya sebelum pergi bekerja ke hotel.
Andra terbaring di tempat tidur yang kecil dengan ruangan yang redup dan didalam ruangan yang kecil. Dia berada di lantai dua, dimana dulu ruangan ini dijadikan sebagai gudang oleh sang ayah
Andra sedang bermimpi dalam tidur lelapnya. Dalam mimpinya dia mengingat saat bertemu dengan sang ayah angkat untuk pertama kalinya
"Nama kamu siapa? Apa kamu sudah lama tinggal disini?"
Terlihat pak Brama Satya bertanya pada seorang gadis kecil berusia 5 tahun saat dia sedang mengunjungi panti asuhan
"Nama saya Diandra, kata bu panti saya disini sejak bayi"
Jawab Andra kecil kepada Brama dengan senyum manis dan imutnya khas anak kecil
Terlihat kalau pak Brama sangat menyukai Andra kecil yang lucu dan menggemaskan
"Diandra, kamu mau tidak kalau ikut kerumah om?"
Andra terdiam kemudian menoleh pada bu panti
"Andra, om Brama ini ingin menjadi ayah kamu. Apa kamu mau kalau om Brama jadi ayah kamu? Nanti kamu juga akan punya ibu dan saudara"
Bu panti dengan lembutnya bicara pada Andra dan memberikan pengertian padanya
"Mau-mau. Yeeaay Andra punya ayah ..."
Andra yang tidak pernah tahu siapa orang tuanya tentu saja merasa sangat bahagia ketika mendengar kalau pada akhirnya dia memiliki keluarga
"Kalau begitu, nanti kamu ikut pulang bersama dengan om ya?" Pak Brama bicara dengan sangat lembut
Andra mengangguk dengan senyum ceria
Mereka pun akhirnya pulang kerumah Brama.
"Andra, mulai sekarang ... nama kamu Diandra Anindya Satya dan kamu akan memanggil om ayah. Nanti akan ayah kenalkan pada ibu dan kakakmu"
"Baik ayah!"
Brama dengan lembutnya menuntun tangan kecil Andra yang sangat lembut dan halus. Mereka berjalan perlahan memasuki pekarangan rumah yang cukup luas
"Kita sudah sampai"
Andra terpana melihat rumah mewah dan besar berlantai dua yang ada dihadapannya
"Ayah, apa ini rumah ayah?" Tanya Andra kecil yang manis dengan mata terpana pada rumah besar dihadapannya
"Mulai sekarang ini adalah rumah kamu"
Pak Brama menyentuh lembut ujung hidung Andra sambil tersenyum lembut
"Ayo masuk!" Ajak pak Brama pada Andra "Sayang, Luna. Lulu!" pak Brama berteriak memanggil istri dan anak-anaknya
"Ayah!" Dua orang anak perempuan Brama berlari kepelukannya
"Putri ayah yang cantik. Bagaimana kabar kaiian hari ini?" Pak Brama berjongkok di hadapan kedua putrinya
"Kami baik ayah" Jawab Luna mewakilkan adiknya. Dia berusia 9 tahun sedangkan Lulu berusia 7 tahun
"Ayah, siapa anak kecil yang berada dibelakang ayah?" Tanya Lulu setelah dia melihat Andra
"Andra, sini sayang. Kenalkan ini Andra, dan mulai sekarang mereka adalah kakakmu, Luna dan Lulu. Dan yang itu ibumu, Asya"
Brama mengenalkan Andra pada istri dan kedua anaknya namun sikap mereka terlihat sangat sinis
"Yah, kita harus bicara!" Sang istri yang sejak tadi diam saja dengan melipat tangan di dada akhirnya mulai membuka mulutnya
"Andra tunggu disini sebentar ya sama kak Luna dan kak Lulu"
"Ya, ayah" Jawab Andra dengan anggukan kepala
Pak Brama pun berjalan mengikuti sang istri ke ruang lain untuk menghindari anak-anak mendengar pembicaraan mereka
"Siapa anak itu? Kenapa kamu membawanya kemari?!" Tanya sang istri dengan tenang
"Dia putrinya Biani, Diandra" Jawab Pak Brama dengan tenang
"Apa katamu?! Untuk apa kamu membawanya kemari?" Teriak sang istri pada Brama
"Dia tidak punya siapa-siapa. Sudah lama Bian menitipkannya di panti asuhan dan dia menitipkannya padaku sebelum meninggal. Jadi aku mengadopsinya" Brama memegang tangan istrinya dan bicara dengan lembut untuk menenangkan sang istri
"Kamu gila! Kembalikan dia ke panti asuhan!"
"Tidak bisa. Aku tidak tega melihatnya disana sendiri. Aku mohon izinkan dia tinggal disini. Hanya sampai dia bisa menjalani hidupnya sendiri"
Air mata mulai mengalir dari pipi sang istri " Terserah! Aku tidak peduli!"
"Andra! Bangun! Andra!"
Byuurr
"Hah hah hah" Andra langsung terbangun setelah segelas air membasahi wajahnya
"Kamu bangun juga. Cepat siapkan sarapan! Kalau tidak kamu akan terlambat ke hotel, aku juga harus ke kantor lebih awal" Luna berkata dengan sinis pada Andra setelah dia menyiramnya dengan air putih
"Iya kak" Andra pun segera bangun dari tempat tidurnya dengan muka dan dada yang basah. Dia mengganti bajunya yang basah dulu sebelum mulai menyiapkan sarapan dan membereskan rumah
"Ibu, kakak. Sarapannya sudah siap!"
Andra memanggil ibu dan kakaknya yang sedang bersantai menunggu sarapan disiapkan
"Ya, kami akan sarapan sekarang!"
Jawab sang ibu dengan sikap anggun dan tenangnya
Andra pun kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap pergi ke hotel. Setelah selesai, dia kembali turun dan membereskan meja makan dimana semua makanan sudah habis dan tidak tersisa sedikitpun untuknya sarapan
"Bu, kami berangkat dulu ya"
Ujar Lulu pada ibunya
"Kak, bolehkan aku ikut sampai pertigaan ujung jalan? Dihalte sini selalu macet, jadi aku ingin naik bus dari sana" Andra dengan sedikit gugup bertanya pada sang kakak
"Tidak. Aku tidak sudi jika kamu naik mobilku. Nanti mobilku bau" Jawab Lulu kemudian pergi bersama dengan Luna mengendarai mobil mereka masing-masing
Andra tidak mengatakan apa-apa lagi dan memebereskan meja makan dengan kepala tertunduk. Setelah semuanya selesai, Andra bergegas pergi ke hotel
"Bu, aku berangkat dulu ya!" Andra berpamitan pada sang ibu
"Hmn "
Bu Asya mengiyakan tanpa menoleh pada Andra sedikitpun. Andrapun beranjak pergi keluar rumah
"Andra, tunggu!" Panggil sang ibu yang membuat Andra menghentikan langkahnya dan berbalik menatap sang ibu
"Iya bu. Ada apa?" Andra tersenyum manis karena mengira kalau sang ibu akan memberikannya semangat sebelum bekerja
"Besok kamu harus cuti dari tempat kerjamu! Kita akan kedatangan tamu penting"
"Memangnya siapa yang akan datang bu?" Tanya Andra karena dia penasaran dengan tamu yang dikatakan sang ibu
"Seorang tamu yang sedang mencari pendamping hidup. Ibu ingin menjodohkannya denganmu! Dia sudah dewasa dan kaya raya. Ibu jamin kalau kamu tidak akan merasa kekurangan kalau jadi istrinya. Kamu akan bahagia dengan hidup bergelimang harta. Dan kamu harus menerima lamarannya, karena keuangan perusahaan kita sedang menurun, jadi ibu butuh bantuan dana darinya. Ini kesempatanmu untuk berbakti pada keluarga ini"
"Tapi bu, jika dia sudah mapan, kenapa tidak menjodohkannya dengan kak Luna atau kak Lulu?" Tanya Andra yang penasaran karena kedua kakaknya juga belum memiliki pasangan
"Mereka sudah punya pacar. Kamu jangan banyak bertanya. Turuti saja apa kata ibu" Ibu Asya menjawab dengan sinis kemudian meninggalkan Andra sendiri
Andra terdiam sejenak, dia merenung dengan apa yang dikatakan sang ibu angkat
"Perjodohan? Aku? Dengan pria yang sama sekali tidak aku kenali?"
Andra melangkahkan kaki dengan suasana hati yang tidak tenang. Dia tetap pergi ke hotel meskipun sebenarnya dia sangat ingin pergi ketempat yang jauh dan tidak ada seorang pun disana
"Apa benar setelah aku menikah, aku akan bahagia meskipun bergelimang harta?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 185 Episodes
Comments
Hairani Siregar
Haduh d jodohkan hanya unt harta, semoga kamu kuat andra. n semoga jga ada keajaiban d tengah jodoh karna bisnis.
2023-01-03
0
Mella Soplantila Tentua Mella
menarik
2022-10-07
0
Nora Eliza
semangat andra
2022-01-31
0