Ustadz Hamzah, Faiq dan Saman pun melaksanakan sholat berjamaah. Para pria yang tadi bertengkar pun terlihat hadir dan ikut sholat berjamaah bersama mereka. Setelah selesai sholat, kembali Ustadz Hamzah mengajak mereka bicara.
" Kita harus menguatkan pertahanan kampung ini Pak. Jangan lengah, jangan biarkan sesuatu yang tak wajar masuk dan membuat tatanan kehidupan di kampung ini rusak...," kata Ustadz Hamzah.
" Pak Ustadz benar. Kita emang udah lama ga sholat berjamaah karena takut hantu pocong. Setelah hantu pocong itu ga ada, eh Kita tetap malas ke masjid karena keenakan sholat di rumah...," kata seorang pria sambil tersenyum.
" Iya, padahal Haji Muksin udah berkali-kali ngingetin dan ngajakin Kita sholat berjamaah. Tapi karena takut, paling Kita berjamaah sampe Maghrib doang. Isya Kita sholat di rumah deh...," kata warga disambut tawa warga lainnya.
" Semoga ke depannya Kita bisa istiqomah ya Pak...," kata Saman.
" Aamiin...," sahut semua yang hadir.
" Sekarang Saya bingung gimana caranya minta surat tanah yang udah Saya kasih ke Wulan tanpa sadar itu...," keluh Pardi.
" Kok ga sadar, maksudnya gimana Pak...?" tanya Hamzah pura-pura tak tahu.
" Iya Pak Ustadz. Waktu itu Saya ketemu Wulan. Saya suka banget sama dia. Sampe waktu dia nanyain apa yang bisa Saya kasih buat bukti kalo Saya suka sama dia, tanpa pikir panjang, Saya janjiin surat tanah. Saya pulang ngambil surat itu dan ribut sama Istri Saya. Karena kesal, Saya malah ngusir Istri dan Anak Saya Pak Ustadz...," kata Pardi sambil menunduk seolah menyesali sikapnya.
" Ya Allah...," sahut semua orang.
" Saya juga. Saya udah nyuri perhiasan Istri Saya dan Saya berikan ke Wulan. Padahal perhiasan itu dibeli Istri Saya dari uang hasil jerih payahnya saat jadi TKI di Malaysia. Saya ga sadar waktu ngasih semuanya sama Wulan. Istri Saya marah dan Saya dimusuhin sampe sekarang...," kata seorang pria berbaju hitam dengan wajah kacau bernama Aswan.
" Jangan-jangan si Wulan udah pake jimat biar bikin Kita luluh dan nurutin semua kemauannya...," kata Agus berapi-api.
" Eh, benar tuh. Kok baru kepikiran sekarang ya. Apa karena Kita udah didukunin sama dia selama ini...," sahut warga lainnya.
" Melihat semuanya sadar akan kekhilafan mereka selama ini membuat Ustadz Hamzah tersenyum.
" Saya dan dua teman Saya ini akan mencoba membantu dengan cara mendatangi Wulan. Tapi Bapak-bapak juga tolong bantu Kami dengan tetap berdzikir dan mengaji di masjid ini ya...," pinta Ustadz Hamzah.
" Apa ga sebaiknya Kami ikut aja Pak Ustadz...?" tanya seorang warga.
" Ga usah Pak. Saya khawatir malah Kalian terpengaruh lagi nanti. Dan Saya bisa kerepotan kalo semuanya berbalik menyukai Wulan lagi...," gurau Ustadz Hamzah.
Semua tertawa mendengar gurauan Ustadz Hamzah. Setelah sepakat mereka pun sholat Isya berjamaah karena waktunya sudah tiba. Kemudian usai sholat, Ustadz Hamzah bersama Faiq dan Saman pun pergi ke rumah Wongso.
\=\=\=\=\=
Ustadz Hamzah turun dari sepedanya dan mendekati rumah Wongso diikuti Faiq dan Saman. Ketiganya berhenti saat mendengar suara gaduh dalam rumah.
" Ada apa ya, kok belum mulai tapi udah ada benturan...," gumam Faiq lalu melangkah cepat mendahului Ustadz Hamzah.
Faiq melihat dua hantu pocong nampak terlempar keluar dari rumah Wongso. Keduanya nampak terluka parah. Faiq mendekati mereka dan mencoba membantu.
" Kalian kenapa...?!" tanya Faiq cemas.
" Faiq, tolong bantu teman Kami di dalam sana...!" seru salah seorang pocong itu.
" Aku udah bilang bakal bantu, kenapa Kalian malah bertindak sendiri sih...," gerutu Faiq kecewa.
" Kami ga akan bertindak kalo Wongso ga menculik teman Kami dan memaksanya menjadi parewangan buat pesugihan. Kami ga mau Faiq. Makanya Kami datang ke sini buat nolongin dia...," sahut pocong itu sambil memegangi dadanya.
Ustadz Hamzah dan Saman nampak menunggu di kejauhan. Mereka melihat dengan jelas bagaimana Faiq berinteraksi dengan kedua pocong itu. Dan itu membuat mereka merinding.
" Iya, Kalian tunggu di sini dan menjauh dari rumah itu. Apa pun yang terjadi jangan dekat, paham ga...?!" kata Faiq galak.
" Iya, iya...," sahut kedua pocong itu.
Faiq mendekati Ustadz Hamzah dan menceritakan semuanya. Saman nampak mendengarkan tapi dengan tatapan kearah lain karena tak ingin melihat penampakan pocong yang menyeramkan itu.
" Ya udah, Kita ke sana sekarang...," kata Ustadz Hamzah.
Kemudian Ustadz Hamzah mengetuk pintu rumah Wongso. Tak ada sahutan. Keributan yang sempat terdengar tadi mendadak hilang. Suasana mendadak sunyi.
Perlahan pintu terbuka. Terlihat Wulan yang tampak tersenyum manis. Dengan mata batinnya Faiq bisa melihat jika Wulan sedang mengenakan baju hasil penggabungan tujuh lembar kain kafan itu di tubuhnya. Faiq mendengus kesal dan memalingkan wajahnya kearah lain sambil terus berdzikir.
" Maaf, ada perlu apa Kalian ke sini...?" tanya Wulan dengan suara mendayu-dayu.
" Kami mau bertemu dengan Pak Wongso...," sahut Ustadz Hamzah tegas.
" Ada perlu apa sama Bapak Saya...?" tanya Wulan sambil memilin rambutnya yang terurai ke depan itu dengan tangannya.
" Saya mau ngasih ini...," sahut Ustadz Hamzah sambil memperlihatkan segepok uang ratusan ribu ke hadapan Wulan.
Mata Wulan nampak berkilat senang. Ia menyeringai, mengira bahwa ketiga tamunya juga telah masuk dalam perangkap yang dibuat oleh bapaknya.
" Oh, kalo gitu mari silakan masuk...," kata Wulan sambil membuka pintu lebar-lebar.
Ketiganya masuk ke dalam rumah yang terasa pengap karena dipenuhi aura mistis itu. Faiq mengedarkan pandangannya dan melihat sosok pocong yang sedang kepayahan karena baru saja mengalami penyiksaan. Faiq mengepalkan tangannya sambil menatap marah kearah Wongso.
Wongso yang mendengar cerita Wulan pun menghampiri ketiga tamunya dengan wajah berbinar. Ia mempersilakan ketiga tamunya untuk duduk sambil menunggu Wulan membawakan suguhan untuk mereka.
" Kenalkan Saya Hamzah, Anak Kyai Saad pemilik pesantren...," kata Ustadz Hamzah membuka percakapan.
" Saad...," kata Wongso dengan wajah membeku dan gigi bergemeletuk.
" Iya, dan ini kedua teman Saya Saman dan Faiq...," kata Ustadz Hamzah lagi.
" Apa maumu ke sini...?!" tanya Wongso dengan tatapan tak suka.
" Saya datang membawa amanat dari Abah Saya untuk Bapak...," sahut Ustadz Hamzah sambil menyerahkan sepucuk surat.
" Hmmm...," kata Wongso menyambar surat itu lalu membacanya cepat.
Tiba-tiba Wongso berdiri sambil menggeram marah. Ia melemparkan semua benda yang berada di dekatnya.
" Hentikan rapalan mantra Kalian dan jangan ganggu kesenanganku...!" kata Wongso marah sambil menoleh kearah ketiga tamunya.
Sesungguhnya yang terjadi adalah, selama Ustadz Hamzah bicara dengan Wongso, Faiq dan Saman terus berdzikir dalam hati. Dan itu membuat benturan energi di dalam rumah itu hingga menggetarkan dinding rumah.
Mendengar ucapan Wongso, ketiga tamunya pun berdiri dan bersiap menghadapi segala kemungkinan. Wulan yang baru saja kuar membawa nampan berisi hidangan itu nampak terkejut.
" Bapak ada apa ini...?" tanya Wulan sambil meletakkan nampan di atas meja.
" Menjauh dari sini Wulan. Pergi lah...!" perintah Wongso.
" Aku ga mau Pak. Kalo Aku pergi Bapak gimana...?" tanya Wulan panik.
Tiba-tiba pocong yang nampak kepayahan tadi menyerang Wulan lalu menyeretnya keluar rumah. Terdengar jeritan Wulan yang semakin jauh. Suasana di dalam rumah pun semakin tegang.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 459 Episodes
Comments
Nurjanah Tamim
kasimun s wulan..mky jng bermain main ma pocong...d ajak loncat loncat bru nyaho
2021-08-22
11
🎎 Lestari Handayani
makin seru. semangat 💪
2021-07-21
2
Fitriya Kasmawati
masih seru udah abis aja,,, 🤭🤭🤭
2021-06-22
2