Ternyata tubuh Wulan dibawa ke sebuah tempat. Wulan yang ketakutan nampak menegang saat mendapati dirinya dikelilingi oleh sosok pocong yang kain kafannya telah ia jadikan baju. Bermacam penampakan pocong di hadapannya membuat Wulan ketakutan dan akhirnya jatuh pingsan.
Sementara Wongso sedang menghadapi Ustadz Hamzah, Faiq dan Saman. Wongso nampak mulai kewalahan, apalagi Ustadz Hamzah terus merangsek maju mendekatinya.
" Menyerahlah Pak Wongso. Apa Bapak ga kasihan sama Wulan. Bapak yang terobsesi ingin menjadi dukun terkuat dan terkenal. Tapi Bapak malah mengorbankan kebahagiaan Wulan...," kata Ustadz Hamzah.
" Itu adalah kewajibannya sebagai Anak, memberi apa pun yang diperlukan Bapaknya. Bukankah Aku sudah membesarkannya selama ini. Dan anggap saja itu adalah imbalan atas apa yang telah Kulakukan untuknya...," sahut Wongso sambil melepaskan serangan berupa api yang keluar dari telapak tangannya.
Saman mendekati Faiq dan melindungi tubuh Faiq dari percikan api hingga pakaiannya terbakar.
" Pak Saman...!" jerit Faiq.
" Gapapa Nak. Ini ga sakit kok...," sahut Saman sambil tersenyum.
Faiq membuka tutup botol berisi air yang dibawanya lalu meyiramkannya ke punggung Saman. Terlihat Saman meringis menahan sakit saat air ruqyah itu menyentuh kulitnya yang terbakar. Faiq lalu menyiramkan sisa air dalam botol kearah Wongso yang nampak terkejut lalu terjatuh dengan suara berdebum.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Ustadz Hamzah menangkap Wongso lalu mengikatnya dengan sorban yang dipakainya sambil mengumandangkan takbir.
" Allahu Akbar...!" seru Ustadz Hamzah berulang kali diikuti Faiq dan Saman.
" Berhenti sia*an. Jangan ucapkan itu di sini...!" jerit Wongso sambil menggelengkan kepalanya. Terlihat darah segar mengalir keluar dari kedua telinga Wongso.
" Pak Ustadz, Kita harus keluar sekarang. Rumah ini bakal runtuh...!" kata Faiq mengingatkan.
Ustadz Hamzah berusaha mengangkat tubuh tua Wongso yang terus menerus menolak keluar. Sedangkan Faiq terlihat memapah Saman keluar dari rumah itu.
Tiba-tiba Faiq melihat para hantu pocong mendekati tubuh Wongso lalu menyerang Wongso. Rupanya dendam mereka tak sesederhana yang diketahui Faiq karena mereka terlihat beringas saat menyerang Wongso. Sedangkan Ustadz Hamzah, yang tak bisa melihat kehadiran para pocong yang menyerang Wongso, nampak terkejut melihat tubuh Wongso yang menggeliat kesakitan dengan darah di mana-mana. Faiq pun tak kuasa melerai hingga akhirnya Wongso pun jatuh mencium tanah dengan tubuh penuh luka dan darah.
Dengan susah payah Wongso mendongakkan wajahnya. Tangannya yang gemetar terulur memegangi lengan baju Ustadz Hamzah. Nafasnya terputus-putus. Wongso sekarat.
" Tolong selamatkan Wulan, jangan biarkan dia mati...," kata Wongso sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Wongso pun mengejang beberapa saat lalu mati dengan mata terbelalak dan mulut menganga. Kematian yang tragis karena tergambar ketakutan dari sorot matanya itu.
" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun...," kata Ustadz Hamzah, Faiq dan Saman bersamaan.
Seolah tersadar akan sesuatu, Faiq menoleh kearah pocong yang masih berdiri sambil menatap mayat Wongso.
" Kalian bawa kemana Bu Wulan itu...?" tanya Faiq.
" Ada di pemakaman...," sahut salah satu pocong yang hanya bisa dimengerti oleh Faiq.
Faiq bergegas mengajak Ustadz Hamzah dan Saman pergi menjemput Wulan di pemakaman desa. Saat mereka akan beranjak pergi, warga berdatangan ingin membantu.
" Untung Kalian datang, tolong urus jenasah Pak Wongso. Kami jemput Wulan dulu...," kata Ustadz Hamzah lalu mengayuh sepedanya dengan cepat mengikuti Saman dan Faiq.
" Baik Ustadz...," sahut mereka lalu bergegas membereskan kekacauan yang telah terjadi.
Jenasah Wongso diletakkan di atas dipan di luar rumah dan ditutupi sarung oleh warga. Saat mereka memberanikan diri membuka pintu rumah Wongso, tercium bau busuk yang membuat warga urung membereskan rumah. Selanjutnya warga menunggu kedatangan Ustadz Hamzah sambil mendirikan tenda di depan rumah Wongso. Warga sigap bergotong royong membereskan bagian luar rumah Wongso.
Sementara itu Faiq dan Saman sudah tiba di pemakaman. Ia melihat Wulan tengah tergeletak pingsan dengan pakaian yang tak lagi utuh. Melihat hal itu Saman segera menutupi tubuh Wulan dengan sarung yang dibawanya. Rupanya para pocong itu telah memaksa menyobek pakaian Wulan untuk mengambil kain kafan milik mereka.
" Bu Wulan...," panggil Faiq sambil menepuk pipi Wulan lembut.
Wulan pun terbangun dengan linglung.
" Siapa, ini dimana...?" tanya Wulan sambil merapikan sarung yang dipakainya.
" Alhamdulillah, Bu Wulan minum ini dulu ya...," kata Faiq sambil menyerahkan botol berisi air ruqyah.
Wulan meneguk cepat air dalam botol hingga habis. Seolah baru tersadar dari mimpi buruk, Wulan pun menangis keras.
" Udah Bu, semuanya udah selesai. Ayo, Ibu harus pulang ke rumah...," ajak Faiq lembut.
" Ga mau. Aku takut Bapak marah kalo Aku ga mau nurut sama Bapak. Semua bukan mauku, bukan salahku. Bapak yang maksa Aku...," kata Wulan sambil menggelengkan kepalanya.
" Mmm, tapi Kek Wongso udah meninggal Bu. Apa Ibu ga mau ngurus jenasahnya dengan baik untuk terakhir kalinya...?" tanya Faiq hati-hati.
" Mati. Bapakku mati...?" tanya Wulan dan diangguki oleh Faiq.
Wulan pun tertawa keras. Lalu Wulan berputar dan menari bahagia sambil tertawa saat mendengar Wongso meninggal. Faiq nampak menatap sedih kearah Wulan. Ia mengerti mengapa Wulan bisa bereaksi seperti itu. Rupanya tekanan yang diberikan Wongso selama ini membuat Wulan depresi.
\=\=\=\=\=
Setelah pemakaman Wongso dilakukan, warga pun beranjak pergi meninggalkan kediaman Wongso. Semula warga menolak mengurus jenasah Wongso mengingat kejahatannya selama ini. Tapi nasehat Ustadz Hamzah membuat mereka sadar dan bersedia mengurus jenasah Wongso.
Malam itu juga jenasah Wongso dimakamkan secara islami di pemakaman desa. Banyak pelayat yang mengumpat dan memaki almarhum Wongso. Sebagian merasa iba kepada Wulan yang telah menjadi korban ketamakan bapaknya.
Sebelumnya Wulan yang terlihat tak waras itu diurus oleh ibu-ibu. Mereka memandikan Wulan, mengganti pakaiannya dan menyisir rambutnya. Lalu Wulan didudukkan di samping jenasah Wongso. Tak ada reaksi apa pun saat Wulan berada dekat jenasah Wongso. Tatapannya kosong dan sesekali tersenyum. Hingga jenasah Wongso dimakamkan, Wulan pun masih belum menyadari keadaan di sekelilingnya.
Setelah selesai mengurus jenasah Wongso, Ustadz Hamzah, Faiq dan Saman pun kembali ke pesantren. Mereka bertiga mengunci rapat mulut mereka tentang kejadian sebenarnya. Bahwa sesungguhnya kejadian terror hantu pocong dan terror Wulan saling berkaitan. Warga kampung tak pernah tahu jika para pocong juga lah yang telah menyerang Wongso.
" Ternyata Kek Wongso juga melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mencuri kain kafan milik para hantu pocong itu Kyai...," kata Faiq saat mereka melapor kepada Kyai Saad.
" Oh ya. Apa yang dilakukan Wongso hingga membuat mereka marah...?" tanya Kyai Saad.
" Kek Wongso juga melecehkan jenasah perempuan sebelum mencuri kain kafannya Kyai...," sahut Faiq dengan wajah merona karena malu.
" Astaghfirullah aladziim...!" seru Kyai Saad, Ustadz Hamzah dan Saman bersamaan.
" Dan Kek Wongso berniat menjadikan pocong itu pesuruhnya sebagai alat untuk mencari uang. Saya liat satu pocong yang sedang disiksa oleh Kek Wongso saat Kita datang ke rumah mereka...," kata Faiq lagi.
" Kalo Wulan itu kenapa Kyai...?" tanya Saman tak mengerti.
" Wulan itu sebenarnya cuma boneka Bapaknya. Kandasnya rumah tangga Wulan juga karena campur tangan Bapaknya itu. Wongso selalu ingin terkenal dan cepat kaya. Kala menantunya ga bisa memenuhi ambisinya, maka mereka dipisahkan dari Wulan, dipaksa bercerai. Dan yang terakhir Wongso menjadikan Wulan sebagai kelinci percobaan dari ilmu sesat yang diperolehnya. Berharap menjadi kaya dengan memanfaatkan kafan jenasah yang dicurinya itu sekaligus menjadi pengasihan agar Wulan dicintai banyak pria...," kata Kyai Saad panjang lebar.
" Ternyata harta bisa membuat orang gelap mata...," gumam Saman.
" Lemah iman yang membuat orang ga bersyukur dan rela melakukan kesesatan hanya untuk memenuhi ambisinya...," kata Kyai Saad.
Faiq nampak berusaha mencerna kalimat yang diucapkan Kyai Saad hingga ia kembali ke kamarnya untuk istirahat.
\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 459 Episodes
Comments
Intan Reyfandi
bagus thor
2022-02-17
2