Setelah mengetahui jika gadis yang ditaksirnya adalah calon tunangan Rafi, Faiq pun tak berkecil hati. Ia tetap semangat belajar dan menjaga hubungan baiknya dengan Rafi. Namun jika biasanya Faiq akan ikut 'nimbrung' dengan keluarga Rafi saat jam berkunjung, kini Faiq lebih membatasi diri. Ia hanya akan menyapa orangtua Rafi tanpa bergabung dengan mereka.
Sementara Amsir, si hantu senior, terus mengikuti Faiq. Meski nama baiknya sudah dipulihkan dan pembunuh sebenarnya sudah tertangkap, tapi Amsir enggan meninggalkan Faiq. Amsir merasa nyaman berteman dengan Faiq. Karena tak merasa terganggu, Faiq pun membiarkan saja hantu Amsir itu mengikutinya kemana pun ia pergi. Toh, hantu Amsir hanya bisa berinteraksi dengannya selama ia masih ada dalam lingkungan pesantren. Di luar itu Amsir tak bisa menjangkaunya, seperti hari itu.
" Kamu kemana saja sih. Pergi kok ga balik-balik...?!" tanya Amsir marah.
" Lho, ini kan liburan. Ya wajar kalo Aku pulang menemui keluargaku. Emang kenapa sih...?" tanya Faiq balik.
Saat itu Faiq usai mengikuti pemakaman Neneknya, Gendis, yang baru saja meninggal sekaligus tasyakuran kelahiran sepupunya ( anak Fatur dan Bilqis ).
# Kisah ini dapat diikuti di novel Guna Guna eps terakhir ya readersku... #
" Bukan begitu. Di kampung sebelah lagi rame berita hantu pocong. Dan itu meresahkan warga...," sahut Amsir melunak.
" Terus hubungannya sama Aku apa. Kan bukan Aku yang jadi pocong atau nyuruh pocong itu berkeliaran...," kata Faiq santai.
" Kamu bisa serius dikit ga sih Iq. Kan biasanya Kamu tau tuh apa sebabnya sampe para hantu itu menerror warga. Bukan hanya satu atau dua orang yang diganggu, tapi hampir satu kampung. Coba bayangin gimana paniknya warga yang Anaknya pulang malam. Dan gara-gara itu juga pengajian Haji Muksin sepi...," kata Amsir menjelaskan.
" Kok sepi...?" tanya Faiq tak mengerti.
" Kan pengajian Haji Muksin mulainya bada Maghrib. Nah sejak ada terror hantu itu, Anak-anak takut pergi ke rumah Haji Muksin. Takut pulang kemalaman dan ketemu hantu...," sahut Amsir gusar.
" Gitu ya. Terus apa kata Kyai Saad dan Ustadz Hamzah...?" tanya Faiq.
" Mereka belum tau soal ini. Makanya, Kamu lah yang cerita, masa Aku. Kan Kamu dekat sama mereka...," kata Amsir lagi sambil melengos.
" He he he, iya Aku lupa kalo mereka kan ga bisa ngeliat Kamu. Ok, insya Allah ntar Aku sampein deh. Sekarang Aku mau istirahat dulu ya, boleh kan...," kata Faiq dengan tatapan memohon.
" Iya. Tapi jangan lama-lama tidurnya...," sahut Amsir sambil menyingkir dari hadapan Faiq.
" Ga janji ya, namanya juga orang ngantuk plus capek...," kata Faiq sambil menguap.
Amsir hanya menggelengkan kepalanya melihat Faiq yang langsung pulas saat kepalanya menyentuh bantal.
\=\=\=\=\=
Rupanya berita terror hantu pocong itu sudah sampai ke telinga Kyai Saad dan pengurus pesantren lainnya. Kini mereka tengah membahas bagaimana mencari solusi dari masalah tersebut agar terror itu segera berhenti.
Faiq yang kebetulan lewat di ruang guru pun dimintai pendapatnya oleh para pengurus pesantren.
" Faiq, kemari sebentar Nak...!" panggil Ustadz Hamzah.
" Baik Pak Ustadz...," sahut Faiq sambil menganggukkan kepalanya kearah para guru yang hadir di sana.
Ustadz Hamzah pun mulai menceritakan terror hantu yang dialami warga. Faiq mendengarkan dengan serius seolah-olah baru pertama kali mendengar berita itu. Setelah ustadz Hamzah menyelesaikan ceritanya, semua guru menoleh kearah Faiq yang nampak salah tingkah.
" Mmm, kenapa ngeliatin Saya Pak Ustadz. Apa ada yang aneh...?" tanya Faiq bingung.
" Kami di sini udah tau kalo Kamu itu indigo Faiq. Jadi bisa kan Kamu bantu cari tau apa penyebab terror itu...?" kata Ustadz Imron sambil tersenyum mewakili para guru.
" Insya Allah Saya bantu cari tau Pak Ustadz...," sahut Faiq.
" Kabarkan kalo ada info sekecil apa pun itu. Kami percaya sama Kamu ya Faiq...," kata Ustadz Hamzah sambil menepuk pundak Faiq lembut.
Faiq mengangguk dan segera kembali ke kelasnya.
\=\=\=\=\=
Sore itu Faiq keluar dari pesantren untuk mencari tahu kebenaran cerita terror hantu pocong di kampung sebelah. Berbekal surat ijin dari Ustadz Hamzah, Faiq bebas keluar masuk pesantren jam berapa pun. Padahal pesantren memiliki aturan, jika Maghrib tiba maka pintu gerbang akan ditutup.
Faiq menggunakan sepeda milik Ustadz Hamzah untuk berkeliling kampung. Ia mengawasi setiap sudut kampung dan mencoba mencari keberadaan orang yang berkerumun yang mungkin sedang membahas terror hantu itu.
Namun setelah lama berkeliling dan melihat situasi kampung, Faiq belum memperoleh info apa pun.
" Ya Allah, kemana lagi nyari info. Kok daritadi ga ada yang aneh. Semuanya biasa aja. Apa jangan-jangan ini cuma gosip ya. Hutf, bikin susah orang aja sih. Niat banget tuh orang yang bikin berita kaya gini...," keluh Faiq dalam hati.
Kemudian Faiq berhenti di sebuah warung untuk membeli minuman dingin. Saat membayar minuman yang dibelinya, Faiq terkejut. Karena ia melihat si pemilik warung memiliki wajah yang menyeramkan dan tak lazim. Ditambah lagi di sudut warung Faiq melihat sosok pocong sedang berdiri mengawasi si pemilik warung.
" Astaghfirullah aladziim...," kata Faiq.
" Kenapa istighfar sih Dik. Emang Saya hantu...?" tanya si pemilik warung.
" Maaf Pak, Saya kaget aja. Abis Bapak nongol tiba-tiba...," sahut Faiq gugup.
" Kamu bukan orang asli sini ya, kok Saya belum pernah liat Kamu. Kamu santrinya Kyai Saad kan...?" tanya pemilik warung sambil menatap seragam pesantren yang dikenakan Faiq.
" Iya Pak...," sahut Faiq sambil tersenyum.
" Kok masih di luar pesantren. Ini kan udah hampir Maghrib. Sebaiknya Kamu balik aja ke pesantren, bahaya kalo kemalaman di jalan. Bukannya pintu gerbang juga tutup sebelum Maghrib ya...," kata si pemilik warung mengingatkan.
" Iya sih Pak. Saya lagi jalan-jalan aja, nih juga mau balik. Tapi tadi Bapak bilang bahaya, emang kenapa Pak. Apa ada begal di sini...?" tanya Faiq pura-pura lugu.
" Bukan begal, tapi hantu...," sahut pemilik warung sambil bersiap menutup warungnya.
" Hantu apa Pak...?" tanya Faiq lagi.
" Hantu pocong. Udah berapa minggu ini warga diterror sama hantu pocong. Jumlahnya banyak dan ganti terus tiap hari. Mereka nerror warga kaya nyari sesuatu. Ga tau apa yang dicari. Hiiy, Saya aja juga takut. Udah ya Dik, Saya tutup dulu warungnya, kan udah hampir Maghrib...," sahut pemilik warung yang nampak ketakutan itu.
" Iya Pak, silakan...," kata Faiq.
Faiq menghampiri sepeda yang terparkir di depan warung dan pura-pura akan pergi dari sana. Saat si pemilik warung menutup pintu, Faiq pun berbalik.
" Jadi ini sebabnya...," gumam Faiq sambil tersenyum.
Lalu Faiq pun mengayuh sepedanya perlahan. Ia kembali memperhatikan jalan di kampung yang mulai sepi seolah tak ada kehidupan di sana. Kelihatannya warga kampung itu benar-benar takut akan terror yang sedang melanda kampung mereka itu. Faiq melihat lampu-lampu di jalan dan di dalam rumah warga pun mulai dinyalakan pertanda hari mulai gelap.
Setelah merasa cukup mendapat informasi, Faiq pun mengayuh sepedanya lebih cepat agar bisa sholat berjamaah di masjid pesantren.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 459 Episodes
Comments
neng ade
ayo thor lbh semangat lg ya yg bnyk up nya
2021-06-20
3
neng ade
semakin seru thor.. s3mangat ya up nya.. msh kerasa sedih karena bunda gendis udh meninggal apa lagi disini diceritain klo faiq abis pulang karena pemakaman alm bunda gendis. 😢😍💪ayo
2021-06-20
3
Rania Puspa
lnjuut thoor seruu 💙💙
2021-06-20
3