Saat tahun ajaran baru dimulai, terlihat kesibukan di rumah Erik. Bagaimana tidak. Efliya yang baru saja masuk hari pertama sekolah, merengek pada orangtuanya agar ia membawa banyak buku dan alat tulis.
" Tapi Aku ntar dimarahin Bu guru kalo ga bawa buku Ma...," kata Efliya.
" Ga bakal dimarahin. Kan ini hari pertama Efliya sekolah. Beda sama Abang, Efliya harus kenalan dulu sama teman sekelas dan Bu Guru. Jadi hari ini Efliya belum mulai belajar. Kalo Efliya ga percaya, coba tanya sama Abang gimana kelas satunya dulu...," kata Farah dengan sabar.
" Iya, Mama benar. Hari pertama tuh Kita kenalan dulu sama teman sekelas juga wali kelas. Terus diajak keliling liat sekolah, abis itu dikasih jadwal pelajaran, terus pulang deh...," kata Faiq lalu meneguk susu di hadapannya hingga habis.
Efliya nampak serius mendengarkan ucapan Faiq. Setelahnya ia mengangguk dan menuruti ucapan sang mama. Farah nampak tersenyum melihat reaksi putri bungsunya itu.
Tak lama kemudian keluarga Erik sudah meluncur menuju sekolah dengan menggunakan mobil yang dikendarai Erik.
" Mama masuk juga kan...?" tanya Efliya sambil menggandeng tangan sang mama.
" Mama tunggu di luar ya Nak. Efliya sama teman-teman dan Bu guru nanti. Efliya berani kan...," sahut Farah.
" Ok Mama...," kata Efliya mantap.
Lalu Farah dan Faiq mengantar Efliya hingga masuk ke dalam kelas. Di dalam kelas Efliya segera bergabung dan berkenalan dengan teman barunya. Terlihat keceriaan di wajahnya.
Setelah memastikan sang adik baik-baik saja Faiq pun segera melangkah menuju ke kelasnya. Ia berpapasan dengan sosok Lila yang terus mengawasinya sejak tadi.
" Hai Faiq...," sapa Lila ramah.
" Hai Lila. Jangan ganggu Eliya ya, biar dia belajar dengan tenang di sini...," pinta Faiq.
" Ok, tapi Aku boleh main sama Adikmu itu kan...," kata Lila penuh harap.
" Iya. Tapi liatin aja dari jauh ya. Dia belom tau kalo Kamu berbeda...," sahut Faiq cemas.
Lila mengangguk. Jika tak ingat Faiq lah yang selama ini menjadi temannya dan bersedia membantunya, mungkin Lila tak ingin menuruti ucapan Faiq.
Sejak hari itu Lila selalu mengawasi Efliya. Terkadang ia muncul di samping Efliya dan membantunya menjawab soal yang diberikan oleh wali kelasnya. Efliya yang memang anak cerdas itu lama kelamaan menyadari jika Lila berbeda dengannya dan semua orang. Hal itu diutarakan oleh Efliya saat Lila lagi-lagi datang dan berdiri di sampingnya sambil melihat kearah Bu Santi, wali kelas Efliya.
" Jangan ganggu Bu Santi ya...," bisik Efliya sambil pura-pura mengambil sesuatu di dalam tasnya. Hal itu dilakukan Efliya karena melihat Lila menatap lekat kearah wali kelasnya itu.
" Kenapa Kamu ngira Aku bakal gangguin Bu Santi...?" tanya Lila terkejut.
" Abis Kamu liatin dia terus daritadi...," sahut Efliya sambil berbisik karena khawatir didengar oleh teman di sampingnya.
" Kamu udah tau siapa Aku...?" tanya Lila hati-hati sambil mengikuti Efliya keluar dari kelas karena berhasil mengerjakan soal yang diberikan oleh gurunya.
" Iya. Karena Kamu terus ikutin Aku. Harusnya Kamu juga belajar di kelas, tapi Kamu malah belajar di sini. Terus teman Aku ga ada yang bisa ngeliat Kamu. Mereka ga protes Kamu berdiri di situ. Padahal Kamu menghalangi mereka ngeliat papan tulis...," sahut Efliya dengan bahasa anak-anaknya.
" Eliya...!" panggil Faiq sambil berlari kearah sang adik yang sedang 'ngobrol' dengan Lila.
" Abang...," sahut Efliya sambil tersenyum.
" Kamu ngapain di luar kelas...?" tanya Faiq sambil menatap kearah Efliya dan Lila bergantian.
" Aku udah selesai ngerjain soal yang dikasih sama Bu guru. Kata Bu guru, yang udah selesai boleh istirahat. Makanya Aku di sini...," sahut Efliya sambil duduk di kursi panjang di depan kelasnya.
" Terus...?" tanya Faiq lagi.
" Terus Aku kasih tau dia supaya jangan gangguin Bu guru...," sahut Efliya sambil menunjuk kearah Lila.
" Kamu udah tau kalo dia bukan manusia...?" tanya Faiq hati-hati.
" Iya...," sahut Efliya.
" Kok bisa...?" tanya Faiq tak mengerti.
Efliya menjelaskan keanehan yang ditunjukkan Lila hingga membuatnya menebak jika Lila bukanlah manusia seperti mereka.
" Kamu ga takut...?" tanya Faiq.
" Ga dong. Kan Lila ga serem. Cuma bajunya sedikit kotor, muka pucatnya dan rambutnya yang ga pernah rapi itu bikin Aku nebak kalo dia hantu...," sahut Efliya santai.
Faiq tersenyum lega mengetahui sang adik tak terganggu dengan kehadiran Lila. Tapi saat ia menoleh kearah Lila, terlihat kesakitan di wajah Lila yang membuatnya berubah menjadi sosok yang menyeramkan. Sebelum sosok Lila berubah sepenuhnya menjadi menakutkan, Faiq segera memeluk Efliya dan menghalangi pandangannya dari melihat Lila.
" Pergi dari sini Lila...!" hardik Faiq.
" Tolong Aku Faiq...," kata Lila lirih sebelum menghilang.
" Abang, kenapa Lila berubah...?" tanya Efliya sambil mendongakkan wajahnya menatap Faiq.
" Gapapa. Kamu di sini aja. Sebentar lagi Om Bonbon jemput, Kamu langsung pulang ya...," pesan Faiq lalu melangkah cepat kearah belakang sekolah.
Efliya mengangguk dan membiarkan Faiq menyusul Lila.
\=\=\=\=\=
Di tepi lubang galian tempat Lila jatuh dan meninggal.
Beberapa pekerja terlihat mondar mandir seperti sedang mengerjakan sesuatu. Rupanya akan ada pembangunan kantor di sana, dan lubang galian itu rencananya akan dijadikan sumur resapan septictank. Keputusan itu diambil mengingat di dalam lubang itu terdapat gas beracun yang dapat membahayakan manusia.
Faiq nampak menatap sekitar lubang galian untuk mencari penyebab kesakitan Lila. Saat itu jam pulang sekolah dan Faiq ke sana diantar Bonbon.
" Wah mau ada pembangunan kayanya ya Pak...," sapa Bonbon pada seorang security yang berada di dalam area pembangunan itu.
" Iya Pak, mau bangun kantor cabang. Abis nyari tanah susah juga di Jakarta. Mahal. Makanya Bos manfaatin tanah yang ada aja. Walau agak jauh dari kantor pusat tapi lumayan rame di sini...," sahut sang security itu ramah.
" Terus itu kenapa dikasih kembang gitu Pak...?" tanya Bonbon sambil menyerahkan sebungkus rokok kepada security itu sebagai pancingan agar dia mau memberi informasi.
" Ooh itu. Biasalah, kerjaan paranormal yang dibayar Bos buat ngusir hantu di sekitar sini Pak. Kan katanya pernah ada Anak kecil yang meninggal di sana, makanya disajenin supaya hantunya ga gangguin para pekerja di sini nanti Pak...," sahut security itu.
" Bukannya malah ngundang makhluk halus lainnya Pak kalo kaya gitu...?" tanya Bonbon.
" Wah, Saya ga tau kalo soal itu Pak. Saya mah cuma security, tugas Saya ngamanin wilayah. Kalo yang kaya gituan ada bagiannya sendiri Pak. Saya ga bisa ikut campur, ga enak...," sahut security itu lagi.
" Oh gitu. Ya udah, Saya permisi dulu Pak. Nih keponakan Saya minta pulang...," kata Bonbon beralasan.
" Silakan Pak. Makasih lho rokoknya...," kata security.
" Sama-sama Pak...," sahut Bonbon sambil tersenyum lalu menggandeng tangan Faiq dan membawanya pergi dari tempat itu.
" Kita harus bilang sama Papa Om. Ntar biar Papa yang ngundang Kyai Syakir buat bantuin Lila. Kasian, Lila malah terpenjara di sana...," kata Faiq sedih.
Bonbon pun mengangguk. Ia segera menghubungi Erik dan menceritakan semuanya. Erik yang mengerti pun mengijinkan Bonbon membawa Faiq menemui Kyai Syakir.
Dan kini Faiq sudah ada di hadapan Kyai Syakir sedang bercerita tentang Lila. Sedangkan Bonbon memilih menjauh karena tak ingin terlibat lebih jauh.
" Keliatannya itu bukan sekedar sajen Nak. Dukun itu memperalat Lila untuk menjadi pelayan yang bisa ia suruh-suruh untuk melakukan sesuatu yang bisa menghasilkan uang...," kata Kyai Syakir mencoba menerawang.
" Maksud Kyai, dukun itu mau mengikat Lila dan menjadikannya parewangan agar bisa disuruh melakukan kejahatan nantinya...," kata Erik tiba-tiba.
" Papa...!" seru Faiq senang saat melihat kehadiran papanya yang nampak tersenyum menghampiri mereka.
" Assalamualaikum Kyai...," sapa Erik sambil mencium punggung tangan Kyai Syakir.
" Wa alaikumsalam. Aku yakin Kamu ga akan biarkan Anakmu sendirian menghadapi ini...," kata Kyai Syakir sambil menepuk punggung Erik.
" Iya Kyai. Saya minta Bonbon antar Faiq ke sini biar bisa langsung curhat sama Kyai. Dan Saya harus kelarin meeting dulu tadi...," sahut Erik.
Kyai Syakir mengangguk lalu melanjutkan ucapannya.
" Dan kalo Lila menolak perintah si dukun, maka dukun itu akan menyiksa Lila. Dan siksaan itu keliatannya udah dimulai karena Faiq ngeliat Lila kesakitan tadi...," kata Kyai Syakir.
" Kita harus tolongin Lila Kyai...," pinta Faiq.
" Baik Nak. Tapi resikonya Kamu ga akan bisa ketemu sama dia lagi. Kita akan membuat ruhnya kembali kepada kodratnya karena tempatnya memang bukan di sini. Toh yang bikin dia penasaran udah ga ada lagi di sini...," kata Kyai Syakir sambil menatap Faiq lekat.
Faiq nampak berpikir sejenak lalu mengangguk. Faiq setuju membebaskan Lila dari rasa sakitnya meski pun ia dan Efliya tak lagi bisa melihat Lila.
Maka Kyai Syakir pun memulai proses penyelamatan Lila. Dibantu Erik dan Faiq yang baru saja usai berwudhu. Mereka berzikir dan berdoa. Lantunan ayat suci membuat suasana menjadi tegang.
Faiq memanggil Lila lalu meraih tangan Lila yang terikat tali berduri terbuat dari besi. Kyai Syakir dan Erik ikut memegangi tangan Faiq yang terulur itu. Dalam penglihatan Faiq terlihat bayangan cambuk melukai tubuh Lila dan membuatnya menangis kesakitan.
" Ayo, udah waktunya Kamu pergi. Jangan cemas, Kamu tenang aja di tempat yang baru ya...," kata Faiq dengan suara bergetar menahan tangis.
" Iya, Aku pergi Faiq. Makasih udah nolongin Aku. Bilang sama Adikmu, Aku sayang sama dia...," kata Lila sambil menangis.
Lantunan ayat suci Al Qur'an, doa dan dzikir yang dibacakan Kyai Syakir, Erik dan Faiq membuat lilitan tali berduri yang melilit tubuh Lila putus dan terlepas. Lila nampak melayang bebas di udara sambil tersenyum dengan rambutnya yang berkibar tertiup angin.
Perlahan tubuh Lila berubah menjadi cahaya putih lalu melesat cepat ke angkasa dan menghilang.
" Alhamdulillah...," kata Kyai Syakir, Erik dan Faiq bersamaan.
" Kamu gapapa kan Nak...?" tanya Erik hati-hati.
" Iya Pa. Aku senang karena Lila ga bingung dan kesakitan lagi sekarang...," sahut Faiq sambil tersenyum.
Erik memeluk Faiq erat lalu mencium kepalanya lembut. Untuk kesekian kalinya Erik merasa bangga dengan sang putra yang berhasil menyelamatkan makhluk lain dari penderitaan.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 459 Episodes
Comments
Risa Istifa
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
2022-11-10
1
Ryosa
lanjutauthor
2021-10-19
1
Novie Smith
mampir di indigo ya..makasih
2021-09-08
1