Faiq mengikuti kemana perginya pocong-pocong itu. Hingga tibalah Faiq di depan sebuah rumah sederhana yang letaknya menepi jauh dari jalan desa.
" Kenapa ke sini...?" tanya Faiq.
" Kamu liat aja sendiri ke sana...," kata pocong itu.
Faiq meninggalkan sepedanya lalu melangkah mendekati rumah itu dengan cara mengendap-endap. Faiq mencari celah di dinding agar bisa mengintip ke dalam.
" Ga usah takut ketauan, ga bakal ada yang liat juga. Kan ga ada orang yang berani keluar di jam segini...," kata salah satu pocong.
Faiq tersenyum mengiyakan. Lalu Faiq melanjutkan penyelidikannya, bukan, tapi mengintip tepatnya (he he he).
Dari celah kusen Faiq dapat melihat seorang kakek tengah duduk berhadapan dengan seorang wanita. Mereka seperti membicarakan sesuatu. Di hadapan mereka teronggok helaian kain kafan lusuh yang merupakan pembungkus jenasah dan para pemilik kain kafan itu sekarang tengah mengintai mereka juga.
" Sudah lengkap tujuh lembar. Sekarang Kamu jahit, satukan dan jadikan pakaian...," perintah kakek itu.
" Tapi ini kotor Pak, bau lagi. Aku takut makenya. Ntar yang ada mereka malah menjauh bukannya tertarik...," keluh wanita itu yang tak lain adalah Wulan, anak dari kakek itu.
" Tapi memang begitu syaratnya. Kamu tenang aja, setelah dijahit dan dipake ga bakal bau lagi...," kata Kakek bernama Wongso itu terkekeh geli.
" Ya udah. Tapi Bapak janji ini ga bakal bahaya buat Aku ya...," kata Wulan.
" Iya...," sahut Wongso sambil mengelus jenggot dan kumisnya perlahan. Tiba-tiba Wongso melirik kearah celah kusen dimana Faiq tengah mengintip. Faiq yang terkejut pun segera menjauh.
Faiq segera pergi dari tempat itu sambil mengayuh sepedanya dengan cepat dan menjauhi rumah kakek Wongso. Hingga ia berhenti di suatu tempat. Para pocong itu melayang mengikuti Faiq seolah ingin tahu bagaimana pendapat Faiq.
" Gimana...?" tanya pocong itu.
" Iya, Aku tau apa yang harus Aku lakukan. Sekarang Aku balik ke pesantren dulu ya, mau laporan sama guruku biar Kalian bisa cepat ditolong...," sahut Faiq.
" Baik, terima kasih Faiz...," kata pocong itu.
" Bukan Faiz, tapi Faiq. Namaku Faiq...," kata Faiq tegas.
" Iya, iya maaf. Cuma salah huruf aja kan...," gurau pocong lainnya.
" Dasar aneh, udah jadi hantu masih aja bisa ngelawak...," sindir Faiq sebal.
Para pocong itu nampak tertawa, tapi bukan tawa yang menyenangkan untuk didengar oleh orang awam. Faiq makin memonyongkan bibirnya melihat mereka tertawa.
" Tapi Aku punya syarat, jangan ganggu warga lagi ya. Kalian sembunyi aja...," pinta Faiq sebelum pergi. Para pocong itu saling menatap kemudian mengangguk membuat Faiq tersenyum lega.
\=\=\=\=\=
Faiq sedang menghadap Kyai Saad dan Ustadz Hamzah di rumahnya. Faiq yang ditemani Saman sang marbot masjid pun nampak serius menceritakan pengalamannya tadi.
Kyai Saad terbatuk-batuk mendengar cerita Faiq. Ia merasa sedikit menyesal karena di usia tuanya ia malah baru mengenal seorang anak berbakat seperti Faiq. Tapi Kyai Saad tersenyum melihat ekspresi Faiq saat menceritakan apa yang dilihatnya.
" Jadi kain kafan itu memang dicuri oleh orang yang sama...," kata Ustdaz Hamzah.
" Betul Pak Ustadz...," sahut Faiq cepat.
" Terus kata Kamu kain itu disuruh disatukan terus dijahit begitu...?" tanya Saman.
" Iya Pak. Emang gitu kata Kakek itu sama Anaknya...," sahut Faiq.
" Tapi buat apa ya...?" tanya Ustadz Hamzah sambil mengetuk meja dengan ujung jarinya.
" Buat pengasihan...," sahut Kyai Saad.
" Maksud Abah...?" tanya Ustadz Hamzah.
" Iya, setelah dijahit jadi baju, lalu dipake. Nah yang make perempuan kan, anaknya si Wongso. Itu buat pengasihan supaya pria-pria tertarik sama wanita itu. Kalo ga salah ingat, Anaknya Wongso itu udah dua kali menikah tapi selalu gagal...," kata Kyai Saad.
" Kyai kenal sama Kakek itu...?" tanya Faiq polos.
" Iya, Aku berteman dengannya sejak kecil. Dia memang sedikit pembangkang dan sering bikin guruku marah. Tapi Aku ga nyangka kalo dia malah jadi sesat di usia tuanya. Dia malah belajar ilmu kanuragan beraliran hitam dan membuat onar di kampung. Aku udah ngingetin dia dulu dan dia marah. Makanya Kami ga saling menyapa sejak beberapa tahun ini...," sahut Kyai Saad.
" Anaknya Pak Wongso itu namanya Wulan bukan Kyai...?" tanya Saman hati-hati.
" Iya Kamu betul Man. Apa Kamu pernah suka sama Anaknya Wongso itu...?" goda Kyai Saad.
" Ah, Kyai sepuh bisa aja...," sahut Saman malu-malu.
" Wulan mana sih Man. Aku kok ga inget ya...," kata Ustadz Hamzah yang memang teman sepermainan Saman.
" Wulan yang sering dikatain gula jawa itu lho Ustadz. Yang kulitnya hitam tapi manis...," sahut Saman sambil tertawa.
" Oh itu. Yang sering jadi rebutan Anak kampung sebelah itu ya, yang Bapaknya galak...?" tanya Ustadz Hamzah mencoba mengingat.
" Iya...," sahut Saman disambut tawa Ustadz Hamzah.
Faiq dan Kyai Saad pun ikut tertawa saat mendengar Saman dan Ustadz Hamzah bernostalgia menceritakan masa remaja mereka.
" Udah, cukup ketawanya. Masih ada hal yang harus diurus selain mengenang masa remaja Kalian itu...," kata Kyai Saad menengahi.
" Iya Abah...," sahut Ustadz Hamzah.
" Jadi Kita harus gimana Kyai sepuh...?" tanya Saman serius.
" Kita harus datang ke rumah Wongso. Temui dia dan ingatkan supaya ga jauh melangkah. Tapi sebelum ke sana Kalian harus mempersiapkan diri dengan baik. Aku khawatir dia akan berbalik menyerang dan melukai Kalian nanti...," kata Kyai Saad.
" Baik Bah. Nanti Aku bakal siapin semuanya. Dan Kamu Faiq, tingkatkan amalanmu ya Nak...," pesan Ustadz Hamzah.
" Insya Allah siap Ustadz...," sahut Faiq.
" Makasih juga udah memberi informasi yang penting ini. Insya Allah Kita bisa membuat keadaan kembali normal nanti...," kata Ustadz Hamzah sambil menepuk punggung Faiq lembut.
" Sama-sama Ustadz. Saya senang bisa membantu...," sahut Faiq sambil tersenyum.
Setelah selesai menyusun rencana, Faiq pun kembali ke kamarnya. Di depan kamar terlihat hantu Amsir sedang berdiri menunggunya.
" Gimana hasilnya...?" tanya Amsir.
" Pake nanya, bukannya tadi Kamu udah ikutin Aku ke rumahnya Kyai Sepuh...?" tanya Faiq sambil membulatkan matanya.
" He he he, ketauan ya...," sahut Amsir sambil menggaruk kepalanya.
Faiq melengos lalu mengetuk pintu kamar sambil mengucapkan salam. Sesaat kemudian Idris membuka pintu.
" Darimana aja sih Iq. Berapa hari ini Aku perhatiin Kamu pulang malam terus...," kata Idris dengan tatapan curiga.
" Aku lagi dapat tugas dari Kyai sepuh...," sahut Faiq sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.
" Tugas apaan...?" tanya Idris dan Rafi bersamaan.
" Rahasia...," sahut Faiq sambil menguap.
" Ga asik Lo...!" seru Rafi sambil melemparkan bantalnya.
" Ini emang tugas rahasia. Semua santri pasti pernah dapat tugas rahasia dari Kyai sepuh. Tunggu aja, giliran Kalian juga bakal tiba nanti...," kata Faiq sambil memejamkan matanya.
Rafi dan Idris saling menatap. Mereka memang pernah mendengar bahwa Kyai Saad kadang memberi tugas rahasia kepada para santrinya. Dan artinya tak boleh diketahui oleh santri lainnya. Menyadari hal itu Rafi dan Idris pun mengerti lalu ikut memejamkan mata dan tidur.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 459 Episodes
Comments
🥀princes_novel❤️🥀
gmna ya liat reaksi si poci tertawa pakai ngelawak pula tuh🤣🤣🤣kasian si Faiq diketawain si poci🤣🤣
2023-03-13
1
Novie Smith
mampir di indigo...novel perdana ku..terimakasih
2021-09-10
1
neng ade
seruu.. semangat terus up nya .. sukses selalu utk mu thor ..😍💪👍
2021-06-21
3