Ali menatap marah kearah tamunya. Ia tak suka mengetahui niat mereka yang ingin membangkitkan kenangan lama Murti yang susah payah berusaha ditutupi oleh pihak keluarga.
" Saya ga suka Kalian lancang mengorek luka lama Kakak Saya...!" kata Ali sambil menggebrak meja.
" Bukan gitu Pak. Dengar dulu...," kata Erik berusaha membujuk.
" Dengar apa. Kalian ini cuma penipu yang mau memanfaatkan penyakit Kakak Saya kan...?!" kata Ali tak suka.
" Astaghfirullah Aladziim. Jangan nuduh sembarangan Pak...," sahut Erik hampir terpancing.
" Dia orangnya Pa...!" kata Faiq sambil menunjuk foto gadis cilik berambut keriting yang terpajang manis di dinding ruangan.
" Apa maksudmu Nak...?" tanya Erik sambil menoleh kearah Faiq.
" Dia Caca yang datang dan minta Kita antar ke sini Pa. Sekarang Caca ada di samping Ibu itu. Kata Caca, dia punya boneka beruang coklat yang telinga kirinya putus karena dia gigit...," kata Faiq yang sedang berkomunikasi dengan Caca.
Ali terkejut mendengar ucapan Faiq. Karena boneka yang dimaksud sengaja disembunyikan olehnya. Ia tak mau sang kakak histeris setiap kali melihat boneka kesayangan Caca itu. Mata Ali nampak berkaca-kaca. Kini ia percaya bahwa tamunya datang atas permintaan Caca sang keponakan tersayang.
Ali melangkah mendekati lemari lalu mengeluarkan boneka beruang yang disimpan rapi dalam sebuah plastik kaca. Saat melihatnya Caca berlari menghampiri bermaksud merebut boneka itu dari tangan Ali. Ali tertegun saat boneka beruang itu jatuh ke lantai seolah baru saja ada yang merebutnya.
" Itu Caca yang jatohin barusan Pak. Caca mau ambil boneka itu dan diserahin ke Mamanya..," kata Faiq.
" Caca, Caca...," kata Murti lirih saat melihat boneka beruang itu.
Disaksikan semua orang yang ada di dalam ruangan itu, boneka beruang coklat milik Caca pun melayang mendekati Murti dan jatuh di atas pangkuannya. Padahal sejatinya dalam penglihatan Faiq, Caca lah yang membawa boneka itu dan meletakkannya di atas pangkuan sang mama.
Murti menangis terisak memeluk boneka kesayangan Caca sambil terus memanggil nama Caca dengan suara bergetar.
Ali menelan salivanya kasar. Dengan bukti yang ada di depannya Ali pun sadar bahwa tamunya memang membawa amanat dari Caca yang entah ada dimana sekarang.
Lalu Ali kembali duduk di hadapan Erik dengan mata menerawang. Ia menghisap rokoknya kuat-kuat lalu mulai bercerita.
" Kak Murti adalah janda. Suaminya meninggal di laut saat ia hamil Caca. Makanya Kak Murti sangat menyayangi Caca dan membesarkannya sendiri tanpa punya niat menikah lagi. Tapi wujud Kak Murti yang cantik membuat banyak laki-laki datang mencoba meminangnya. Termasuk preman kampung sini. Namanya bekennya Goreng, laki-laki kasar yang cinta mati sama Kak Murti. Tapi Kak Murti menolak apalagi Goreng itu kasar dan ga suka sama Anak-anak. Suatu hari Kak Murti ngajak Caca pergi ke mall XX yang baru aja dibuka. Entah gimana ceritanya, pas pulang Kak Murti udah linglung dengan pakaian yang robek di sana sini. Kayanya dia baru aja ngalamin pelecehan se**al. Dia nyariin Caca, padahal jelas-jelas Caca sama dia tadi. Kami ga bisa bantu karena Kak Murti cuma teriak-teriak ga jelas...," kata Ali sambil menghapus air mata yang jatuh tanpa diundang.
Semua yang ada di ruangan itu termasuk Caca mendengarkan cerita Ali dengan seksama.
" Sampe beberapa hari Kak Murti seperti orang ga waras. Lari ke sana kemari tanpa tujuan sambil manggil nama Caca. Sesekali dia ketakutan dan bilang kalo dia takut sama Goreng. Kadang dia bilang kalo dia diper**sa Goreng dan Caca dibuang sama Goreng entah dimana. Kami ga tau gimana lagi cara membantunya. Apalagi pengakuannya kalo dia diper**sa itu ga cukup bukti dan saksi. Akhirnya dengan terpaksa Kami memasukkan Kak Murti ke Rumah Sakit Jiwa. Selama bertahun-tahun Kak Murti dirawat di sana. Sampe akhirnya Goreng dipenjara seumur hidup karena kasus premanisme, pembunuhan dan penganiayaan terhadap warga. Juga kasus pemer**saan terhadap wanita kampung sebelah...," kata Ali mengakhiri ceritanya.
Suasana hening sejenak. Faiq maju ke depan dan memegang tangan Ali.
" Caca liat Mamanya ditin*ih sama Om besar itu. Caca mau nolongin, tapi Om besar itu marah terus mukul Caca pake balok kayu sampe kepala Caca pecah dan berdarah. Mata Caca juga sampe lepas karena kerasnya pukulan itu...," kata Faiq dengan suara bergetar.
" Ya Allah...," kata Ali dengan mata berkaca-kaca.
" Caca dan Mamanya dibawa naik mobil lalu Caca ditinggalin di pinggir jalan. Sedangkan Mamanya dibawa pergi sama Om besar itu entah kemana...," kata Faiq lagi.
" Jadi Caca dilenyapkan karena Caca adalah saksi kunci pemer**saan terhadap Ibunya. Dan orang itu ga mau Caca cerita sama orang lain. Waktu ditinggal di pinggir jalan Caca dalam keadaan sekarat hingga ia meninggal di sana. Dan arwah Caca penasaran kemana laki-laki itu membawa pergi Ibunya...," kata Fatur memberi kesimpulan.
" Keliatannya begitu. Meski jasadnya udah diurus sama pihak berwajib, tapi arwahnya masih mencari keberadaan Ibunya karena Caca sangat menyayangi Ibunya...," kata Kyai Syakir.
Ali menangis makin keras. Sedangkan wajah Murti nampak basah dengan air mata. Meski pun ia terlihat tak waras, tapi ia mengerti isi pembicaraan Ali dan tamunya.
" Caca me-ning-gal...," kata Murti terbata-bata sambil mempererat pelukannya pada boneka beruang itu.
" Iya Kak, Caca meninggal...," kata Ali sambil memeluk Murti erat.
" Faiq, tanya Caca. Gimana ciri-ciri Om besar yang udah nyakitin dia dan Mamanya...," kata Erik tiba-tiba.
Faiq menatap kearah Caca lalu mengangguk.
" Badannya besar, berewok, ada gambar pisau rante di tangan kanannya, pake kalung emas panjang, matanya rusak satu...," sahut Faiq.
" Sia*an. Itu benar si Goreng. Kurang ajar, bang**t...!" jerit Ali marah sambil meninju dinding hingga buku jarinya berdarah.
Fatur menenangkan Ali. Ia menepuk punggung Ali sambil membisikkan sesuatu.
" Tapi ga usah balas dendam ya Pak. Toh si Goreng juga udah kena karmanya sendiri...," kata Fatur.
" Kamu benar Mas. Saya dengar di penjara Goreng jadi bulan-bulanan preman lain yang lebih hebat dari dia. Sampe kakinya patah dan kupingnya tuli. Rupanya Allah punya cara sendiri buat menghukum dia...," kata Ali sambil mengusap wajah Murti yang masih menangis.
" Sekarang Caca mau pamit Pak. Dia ke sini cuma mau ketemu sama Mamanya dan bilang kalo dia udah baik-baik aja di sana. Dia mau Bu Murti jangan sedih dan nyariin dia lagi...," kata Erik.
" Kalo Mamanya mau ziarah, makamnya ada di pemakaman umum dekat 'Rumah Sakit R' Pak. Ada dekat pos security, tanya aja sama petugas di sana...," kata Faiq menambahkan.
" Baik makasih ya Nak. Maaf kalo Saya salah sangka tadi...," kata Ali.
" Gapapa Pak...," sahut Faiq sambil tersenyum.
" Kalo udah selesai, Kita pulang sekarang ya Nak...," ajak Erik.
" Sebentar Pa. Caca bilang mau peluk Mamanya dulu. Pak Kyai, bisa bantu Caca peluk Mamanya ga...?" tanya Faiq.
Kyai Syakir yang mengerti maksud Faiq pun mengangguk. Ia berdiri lalu menghampiri Murti. Kyai Syakir berdzikir dan membaca doa tertentu. Hingga Caca bisa terlihat oleh Murti lalu Caca memeluk Murti seolah nyata.
Murti yang bisa melihat anaknya ada di hadapannya dan tengah memeluknya pun menangis makin keras. Ia mendengar Caca membisikkan sesuatu yang membuatnya lebih tenang dan mengikhlaskan kepergian Caca.
" Aku sayang Mama. Jangan sedih lagi ya Ma...," bisik Caca sambil mencium kedua pipi Murti.
Hening sesaat. Hanya isak tangis Murti yang terdengar. Faiq pun menatap kepergian Caca yang tersenyum dengan wajah berseri-seri. Gaun pink lusuh yang dipakai Caca selama ini pun berganti dengan warna putih bersih.
" Makasih Faiq. Bilang makasih juga sama Papa, Om Kamu dan Pak Kyai. Buat Paman Aku, Aku titip Mama ya, makasih udah jagain Mama Aku. Sekarang Aku bisa pergi dengan tenang. Daahh Faiq...," kata Caca sambil melambaikan tangannya lalu menghilang.
" Sama-sama Caca...," sahut Faiq sambil menitikkan air mata haru.
Erik memeluk Faiq dan membiarkannya menangis dalam pelukannya. Setelah beberapa hari bersama, Erik yakin jika Faiq memiliki kesan tersendiri terhadap Caca. Apalagi sikap Caca mengingatkan Faiq pada mama dan adiknya di rumah.
Faiq menyampaikan pesan Caca pada sang paman. Ali tak hentinya mengucap terima kasih atas kunjungan Erik dan rombongan. Yang lebih menggembirakan, Murti terlihat lebih sehat setelah Caca memeluknya tadi. Meski pun ia tak lagi bisa bertemu dengan Caca, tapi setidaknya ia tahu jika buah hatinya bahagia di alam sana.
" Rupanya penyesalan yang selama ini dirasa Murti hingga membuatnya depresi. Ia menyesal karena ga bisa menyelamatkan Anaknya dan mengetahui bagaimana nasib Anaknya setelah ditinggalkan di pinggir jalan waktu itu...," kata Kyai Syakir saat perjalanan pulang.
" Betul Kyai. Apalagi sekarang Bu Murti tau dimana Caca dimakamkan. Dan itu pasti menenangkan dia...," sahut Fatur sambil mengemudi dengan santai.
Sedangkan Faiq nampak tertidur kelelahan di pelukan Erik. Seulas senyum menghias wajah tampannya, seolah mengisyaratkan rasa puas di dalam hatinya.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 459 Episodes
Comments
Pamod Raharjo
Bagus membacanya bisa terhanyut persaann penulis membawakan penulisannya dengan bagus
2024-12-07
1
Risa Istifa
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
2022-11-10
1
Regita Regita
seru !!!!aku mampir Thor
2022-10-26
1