Selain belajar memperdalam ilmu agama, Faiq juga belajar ilmu bela diri sejak kelas tiga ( setara kelas tiga SMP ) di pesantren. Pihak pesantren menyediakan waktu dan guru khusus bagi para santri yang berminat belajar ilmu bela diri taekwondo di luar jam belajar yaitu hari Sabtu sore dan Minggu pagi.
Faiq merasa perlu berlatih bela diri karena tak ingin terlihat lemah. Dan ia ingin tak lagi mengandalkan papa dan omnya jika harus berhadapan dengan situasi yang genting nanti.
Guru taekwondo yang mengajar di pesantren bernama Guntur. Sesuai namanya, suaranya keras bagai guntur jika sedang memberi instruksi saat latihan. Perawakannya tinggi besar, kulit sawo matang dengan senyum yang irit. Hal itu membuat para santri akan terbungkuk hormat di hadapannya.
Namun belakangan ini, Faiq yang sudah duduk di tingkat akhir ( setara tiga SMA ), merasa jika sang guru taekwondo itu sedang mengalami sesuatu. Hingga saat ini Faiq hanya bisa menerka tanpa pernah bisa menebak.
" Ngapain berdiri di situ...?" tegur Faiq pada hantu Amsir yang tengah mengawasi teman-temannya berlatih taekwondo.
" Aku cuma iri aja...," sahut Amsir.
" Iri kenapa...?" tanya Faiq sambil menutup pintu kamar.
" Yah, Kalian dibekali ilmu bela diri sekarang. Kalo jamannya Aku dulu, ga ada pelajaran tambahan kaya gini...," sahut Amsir sambil mencibir.
" Mmm, mungkin karena sekarang tantangan yang dihadapi santri makin besar. Makanya Kyai sepuh memutuskan memberi pelatihan ilmu bela diri supaya para santri punya bekal yang cukup buat menghadapi lawan di luar sana...," kata Faiq bijak.
" Lawan apa maksud Kamu...?" tanya Amsir tak mengerti.
" Ck, lawan di dunia nyata, lawan yang akan menentang dakwah yang Kita sampaikan. Kan setelah lulus para santri akan mengamalkan ilmunya di kehidupan nyata. Nah, pasti banyak yang menentang tuh. Biasanya para penentang itu justru memiliki ilmu bela diri atau mereka membayar preman yang punya kemampuan bela diri dan seringkali membuat santri tak berkutik karena kalah. Makanya Kyai sepuh memutuskan memberi pelatihan kaya gini...," sahut Faiq sambil berdecak sebal.
" Ooo, gitu. Jadi paket kumplit dong santri lulusan pesantren ini. Selain bisa dakwah, punya ilmu bela diri juga. Wah, cakep tuh...!" seru Amsir dengan mata berbinar.
" Udah cukup. Aku mau ke sana. Ingat jangan ganggu lagi kaya kemaren ya...," kata Faiq sambil menatap tajam kearah Amsir yang sedang tersenyum.
Amsir memang mencoba menyerang santri yang sedang berlatih taekwondo kemarin. Berharap bisa melatih para santri dari serangan tak kasat mata. Tapi itu malah membuat para santri ketakutan. Faiq yang melihat hal itu pun segera bertindak. Ia mencekal tangan Amsir dan memutarnya hingga ke belakang tubuhnya. Amsir menjerit kesakitan. Setelah Faiq memberi pengertian, Amsir akhirnya mengerti. Dan sekarang Amsir hanya bisa menatap dari kejauhan tanpa berani mengganggu lagi.
\=\=\=\=\=
Guntur sedang membereskan barang pribadinya saat Faiq melintas. Tak sengaja Faiq melihat asap tipis berwarna hitam yang melingkupi tubuh Guntur. Faiq pun berhenti dan memperhatikan guru taekwondonya itu dengan seksama.
" Siapa...?!" tanya Guntur dengan sikap siap tempur.
" Ini Saya Saboemnim...," sahut Faiq lalu keluar dari tempat persembunyiannya.
" Faiq, sedang apa Kamu di sana. Kenapa belum ganti baju...?" tanya Guntur dengan suara berat.
" Sebentar lagi, kamar mandinya masih antri dipake teman-teman...," sahut Faiq.
" Ada apa Kamu menatap Saya seperti itu. Apa ada yang aneh...?" tanya Guntur sambil memperhatikan dirinya sendiri.
" Mmm, maaf Saboemnim. Saya ga bermaksud lancang. Tapi Saya melihat kalo ada sesutu yang sedang...," ucapan Faiq terputus saat Guntur menutup mulut Faiq dengan telapak tangannya.
" Saya ga suka membicarakan itu di sini. Kalo mau, Kita bicarakan di tempat lain...," kata Guntur sambil menatap Faiq lekat.
Faiq mengangguk setelah Guntur melepaskan bekapan tangannya di mulut Faiq. Guntur memberi kode agar Faiq mengikutinya ke tempat parkir.
Di sana Faiq mulai bicara dari hati ke hati dengan Guntur. Ternyata setelah menyampaikan maksudnya, Faiq mengetahui satu hal. Guntur hanya terlihat dingin di permukaan, tapi lembut dan menyenangkan saat diajak bicara.
" Apa yang mau Kamu sampaikan Faiq...?" tanya Guntur.
" Mmm, Saya melihat ada sesuatu yang buruk yang tengah mengikuti dan itu cukup mengganggu Saboemnim...," sahut Faiq hati-hati.
" Hmm, jadi benar kata Hamzah kalo Kamu memiliki sesuatu ya Faiq...," kata Guntur sambil menatap Faiq lekat.
" Maksud Saboemnim...?" tanya Faiq tak mengerti.
" Saya liat saat kemaren teman ghaibmu itu mengganggu santri lain yang sedang latihan. Semua panik saat ada serangan tak kasat mata itu, tapi Saya perhatikan cuma Kamu yang ga panik. Bahkan Kamu berhasil meringkus pengacau ghaib itu. Iya kan...?" tanya Guntur sambil tersenyum.
" Ehm, itu. Maafkan teman Saya, dia ga bermaksud jahat kok. Dia cuma ingin melatih santri dengan memberi serangan tak kasat mata. Tapi Saya udah kasih pengertian sama dia, kalo Kami semua baru tahap awal belajar dan belum sampe pengujian yang kaya gitu. Dia ngerti dan janji ga bakal ganggu lagi...," sahut Faiq salah tingkah.
" Ok, Saya ngerti. Terus yang Kamu bilang tadi, apa maksud Kamu dengan cukup mengganggu. Emangnya menurut Kamu apa yang sedang Saya alami...?" tantang Guntur.
Faiq terdiam sebentar. Ia menatap kearah Guntur sambil menggelengkan kepalanya.
" Maaf, Saya ga mau ikut campur urusan rumah tangga Anda...," kata Faiq tiba-tiba sambil berlari menjauh.
Guntur terkejut dan tak sempat mencegah Faiq yang berlari menjauhinya. Guntur termangu sejenak lalu membalikkan badan dan segera menstarter motornya. Ia melajukan motornya perlahan meninggalkan halaman pesantren itu.
\=\=\=\=\=
Guntur tiba di rumah dan langsung membersihkan diri. Setelahnya ia menyeduh kopi lalu duduk di teras depan rumahnya sambil menikmati suasana malam hari.
" Faiq, Faiq. Keliatannya dia Anak yang istimewa. Sejak awal melihatnya Aku tau kalo dia memiliki sesuatu. Keliatannya dia juga bisa membantuku menyelesaikan masalah ini...," gumam Guntur sambil meneguk kopinya perlahan.
Guntur memang sedang bermasalah dengan istrinya. Pernikahannya yang sudah berjalan sepuluh tahun tengah diguncang prahara. Entah mengapa istri yang dicintainya itu tiba-tiba pergi dan menggugat cerai. Padahal selama ini kehidupan rumah tangga mereka berjalan normal dan baik-baik saja.
Guntur mencoba menghubungi istrinya dan meminta penjelasan. Tapi istri cantiknya yang bernama Niken itu marah dan menjauhinya. Sekarang Guntur tak tahu dimana istrinya tinggal. Karena sejak ia datang ke rumah orangtua Niken dan meminta Niken kembali, Niken pun pergi tanpa pamit.
Kedua orangtua Niken pun dibuat pusing tujuh keliling atas ulah anaknya itu. Selain tak mengetahui dimana Niken tinggal, mereka juga harus kehilangan beberapa aset penting milik keluarga berupa surat tanah dan perhiasan yang jika diuangkan jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah.
" Untuk apa Niken membawa lari semuanya Yah...," keluh ibu Niken sambil memijit keningnya.
" Iya Bu. Selama menikah sama Guntur dia ga pernah mengusik harta yang Kita miliki. Tapi saat minta cerai dari Guntur dia malah mencuri semuanya. Aku khawatir Niken dipengaruhi oleh orang yang tak bertanggung jawab...," sahut sang ayah.
Guntur tampak mengepalkan tangannya saat mendengar pembicaraan kedua mertuanya itu.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 459 Episodes
Comments
[Bayu Pratama]
umumnya kalo pesantren itu bela diri yg di ajarkan silat bukan taekwondo
2022-05-28
2
Annisa Saskia
taekwondo
2021-09-12
1
Fitriya Kasmawati
gregetan,,,,,,🤭
2021-06-23
3