Faiq masih mencari informasi tambahan di hari berikutnya. Ia ingin mengumpulkan sebanyak mungkin informasi agar bisa membantu warga hingga tuntas.
Kali ini Faiq pergi ke lapangan atau alun-alun. Di sana banyak berkumpul anak-anak seusianya untuk bermain. Banyak yang dilakukan oleh warga di sore hari itu. Ada yang main bola, layangan, kejar-kejaran bahkan berlatih bela diri.
Faiq memarkirkan sepedanya di dekat tiang gawang. Ia menatap ke sekelilingnya dengan tatapan penuh arti. Dalam penglihatan Faiq, banyak makhluk halus dengan berbagai bentuk yang berkeliaran di sana. Tapi Faiq tak peduli. Ia lebih memilih duduk sambil mengamati permainan sepak bola di hadapannya.
Tiba-tiba di samping Faiq berdiri sosok pria yang mengejutkan Faiq.
" Udah tau siapa dalang terror itu...?" tanya pria itu.
" Belum. Nih masih nyari...," sahut Faiq sambil bergumam.
" Aku bisa kasih tau kalo Kamu mau...," kata pria itu.
" Ga usah, Aku bisa cari sendiri...," sahut Faiq ketus.
" Dasar sombong. Aku yakin Kamu ga bakal dapat apa-apa...," kata pria itu sambil berlalu.
Faiq diam saja sambil terus berdzikir di dalam hati. Bukan Faiq menolak bantuan dari pria itu. Tapi pria itu ternyata adalah jelmaan jin yang setiap melakukan sesuatu pasti mengharapkan imbalan. Dan Faiq tak mau imannya tergadai hanya karena info kecil yang diberikan oleh jin itu.
Tiba-tiba sekelompok pemuda duduk di samping Faiq. Faiq mendengarkan pembicaraan mereka dengan seksama. Hingga Faiq berkesimpulan bahwa hantu itu menerror warga karena mencari miliknya yang hilang dicuri orang tak bertanggung jawab.
Faiq pun menyudahi pencariannya dan segera kembali ke pesantren.
\=\=\=\=\=
" Jadi info apa yang Kamu dapat Nak...?" tanya Ustadz Hamzah.
" Hantu pocong itu menerror warga karena mencari miliknya yang hilang Pak Ustadz...," sahut Faiq.
" Miliknya yang hilang, berupa apa...?" tanya Ustadz Hamzah.
" Mungkin bagian dari pembungkus jenasahnya. Bisa tali pocong, kain kafannya atau bahkan bagian tubuh mereka...," sahut Faiq.
" Astaghfirullah aladziim. Bagian tubuh mereka tuh buat apa. Saya ga abis pikir kalo ada yang sampe melukai jenasah dengan mengambil bagian tubuhnya. Apa mereka ga tau kalo menyakiti jenasah sama aja Kita menyakiti dia saat masih hidup...," kata Ustadz Hamzah sambil menggelengkan kepalanya.
" Yah, emang gitu kenyataannya Pak Ustadz. Mereka mana mau tau kalo itu dilarang dalam agama. Yang ada di pikiran para pencuri itu kan hanya ketamakan atas sesuatu...," sahut Faiq.
" Sebentar, tadi Kamu bilang mereka. Maksud Kamu mereka itu hantunya...?" tanya Ustadz Hamzah.
" Iya...," sahut Faiq.
" Jadi jumlahnya lebih dari satu...?" tanya Ustadz Hamzah lagi.
" Iya, mungkin akan bertambah lagi nanti. Kemarin Saya baru ngeliat tiga hantu pocong...," sahut Faiq santai.
Ustadz Hamzah menatap Faiq dengan tatapan yang tak terbaca. Ia heran bagaimana bisa Faiq terlihat santai saat membicarakan hantu yang dilihatnya. Sedangkan Ustadz Hamzah yakin jika penampilan hantu pocong itu pasti beraneka bentuk yang menyeramkan, apalagi hantu itu sedang marah.
" Jadi kesimpulannya apa Nak...?" tanya Ustaz Hamzah.
" Saya belum bisa simpulin Pak Ustadz. Kalo boleh Saya minta waktu lagi buat cari info...," sahut Faiq.
" Baik. Pergilah...," kata Ustadz Hamzah sambil tersenyum.
" Makasih Pak Ustadz. Assalamualaikum...," kata Faiq lalu mencium punggung tangan gurunya itu.
" Wa alaikumsalam, hati-hati ya Nak...," pesan Ustadz Hamzah.
" Insya Allah Ustadz...," sahut Faiq lalunmengayuh sepedanya keluar dari pesantren.
\=\=\=\=\=
Setelah beberapa hari mencari informasi, akhirnya Faiq mendapat jawaban. Saat itu Faiq pulang terlambat usai bersilaturahmi dengan Haji Muksin, guru ngaji di kampung sebelah.
Kedatangan Faiq membuat Haji Muksin senang. Meski pun baru mengenal Faiq, Haji Muksin merasa dekat dengan Faiq. Mereka berbincang akrab tentang banyak hal hingga mendekati waktu Maghrib. Karena jarak rumah Haji Muksin dan pesantren cukup jauh, maka Faiq memutuskan sholat di musholla dekat rumah Haji Muksin.
" Udah hampir Maghrib. Saya rasa Kamu ga bakal sampe ke pesantren Nak. Gimana kalo sholat berjamaah di musholla sini, setelah itu baru Kamu balik ke pesantren...?" tanya Haji Muksin.
" Baik Pak Haji...," sahut Faiq.
Faiq dan Haji Muksin pun berjalan menuju musholla. Setelah menunaikan sholat Maghrib, terlihat para jemaah yang bergegas pergi dari musholla itu. Melihat hal itu Faiq nampak mengerutkan keningnya karena bingung.
" Saya pamit duluan Pak Haji...," kata seorang pria setelah mencium punggung tangan Haji Muksin.
" Iya, silakan...," sahut Haji Muksin sambil tersenyum.
" Maaf Pak Haji. Kenapa mereka semua pulang, padahal biasanya kan ada dzikiran dulu setelah Maghrib sambil menunggu sholat Isya...?" tanya Faiq.
" Iya, biasanya sih gitu. Tapi sejak terror hantu pocong, banyak jemaah yang semuanya laki-laki itu ketakutan dan lari terbirit-birit setelah sholat berjamaah...," sahut Haji Muksin sedih.
" Tarror hantu pocong itu apa benar ada Pak Haji...?" tanya Faiq hati-hati.
" Ada Nak. Saya sempat bertemu beberapa kali sama hantu itu. Tapi mereka langsung menghilang saat berpapasan dengan Saya...," sahut Haji Muksin.
" Sebenarnya apa yang mereka cari sampe harus menerror warga ya Pak Haji...," kata Faiq bingung.
" Saya juga ga tau Nak. Saya ga bisa berinteraksi sama mereka dan nanya apa maunya mereka menerror warga...," sahut Haji Muksin sambil melanjutkan dzikirnya.
" Mmm, kalo gitu Saya pulang sekarang ya Pak Haji. Udah malam, nanti Saya dimarahin sama pengurus pesantren kalo pulang telat...," kata Faiq sambil tersenyum.
" Insya Allah ga dimarahin kok. Bilang aja abis sowan ke rumah Haji Muksin, mereka pasti mengerti. Hati-hati di jalan, jangan melamun dan banyak berdzikir...," kata Haji Muksin sambil mengusap kepala Faiq.
" Baik Pak Haji, Assalamualaikum...," pamit Faiq.
" Wa alaikumsalam...," sahut Haji Muksin sambil tersenyum melepas kepergian Faiq.
Faiq pun mengayuh sepedanya perlahan menuju pesantren. Jalan desa di malam hari terlihat berbeda. Apalagi suasana sepi terasa mencekam.
Saat sedang asyik mengayuh sepeda sambil berdzikir dalam hati, Faiq dukejutkan oleh kemunculan sosok pocong di hadapannya. Pocong itu berdiri tepat di tengah jalan seolah sengaja menghentikan Faiq.
" Astaghfirullah, Om ngagetin aja sih...," kata Faiq sambil mengerem sepedanya.
" Tolong Aku...," kata pocong berjenis kelamin laki-laki itu dengan mimik sedih.
" Insya Allah. Apa yang bisa Kubantu...?" tanya Faiq.
" Kembalikan kain kafanku yang dicuri...," sahut pocong itu dengan suara dan wajah datar.
" Kain kafan, berapa bagian yang dicuri...?" tanya Faiq.
" Satu helai...," sahut pocong itu.
Faiq terkejut mendengarnya. Belum hilang rasa terkejutnya, di depan Faiq bermunculan beberapa pocong yang juga meminta bantuannya.
" Tolong Aku juga...," kata pocong lain sambil berdiri di atas dahan pohon nagka.
" Aku juga...," kata pocong lain yang berdiri di dekat pohon pisang.
" Hah, berapa banyak yang dicuri dan untuk apa...?!" tanya Faiq tak mengerti.
" Kemarilah, ikuti Kami...," kata pocong yang mengahadang jalan Faiq tadi.
Faiq pun mengikuti mereka sambil mengayuh sepedanya perlahan. Jika diperhatikan Faiq memang sendiri saja malam itu, padahal ada beberapa pocong yang mengikuti Faiq di samping kanan dan kirinya.
\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 459 Episodes
Comments
takut tapi penasaran 😢
2022-09-05
1
Ade Rista
klo aq dh pingsan tu ktemu yg ke gituan
2022-08-03
0
Purnomo perkasa
ngopi thor, semangat ya....
2022-04-09
1