Faiq lulus dari SD dengan nilai yang memuaskan. Saat penentuan sekolah, Faiq memilih masuk pesantren sesuai arahan Kyai Syakir. Hal itu membuat Erik dan Farah tersenyum bangga.
" Kamu sendiri ya yang milih masuk pesantren, bukan Mama atau Papa...," kata Farah sambil tersenyum.
" Iya Ma...," sahut Faiq.
" Yakin nih mau masuk pesantren...?" tanya Farah mencoba memberi kesempatan Faiq mengemukakan pendapatnya.
" Insya Allah, Aku yakin Ma...," sahut Faiq mantap.
" Kalo Papa boleh tau apa yang bikin Kamu milih melanjutkan sekolah di pesantren Nak...?" tanya Erik.
" Karena kata Kyai Syakir, kemampuan yang Aku miliki ini akan membahayakan diriku sendiri kalo Aku ga punya bekal agama yang kuat. Nanti Aku bisa sakit juga. Kan Aku mau bantuin mereka, kalo Aku sakit gimana bisa bantuin. Makanya Aku setuju masuk pesantren biar nanti diajarin gimana caranya menghadapi mereka dan ga kebawa sama mereka...," sahut Faiq polos.
Erik tertawa lalu memeluk Faiq erat sambil mencium kepalanya.
" Papa senang Kamu mau nurutin saran Pak Kyai...," kata Erik.
" Terus Abang tinggal di sana Pa, ga pulang ke rumah...?" tanya Efliya kecewa.
" Iya Nak. Emang kenapa...?" tanya Erik sambil membelai kepala Efliya.
" Mmm, Aku bakal kesepian dong. Kan teman Abang yang namanya Lila itu udah lama ga keliatan. Terus di sekolah ga ada yang jagain Aku lagi sekarang...," sahut Efliya.
" Emang Abang satpam jagain Kamu terus. Lagian Kamu kan udah besar, bisa bedain dong mana yang boleh dan ga boleh. Jangan ngikutin teman, biar banyak kalo salah ya ga usah diikutin...," kata Faiq ketus.
" Iya...," sahut Efliya sambil mencibir.
Erik tersenyum melihat cara Faiq menasehati adiknya.
" Terus Lila itu kemana Bang. Abang ga pernah jawab setiap Aku tanya. Kenapa sih...?" tanya Efliya.
" Lila udah pergi Sayang...," sahut Erik.
" Pergi kemana...?" tanya Efliya.
" Pergi ke tempat seharusnya di akherat sana. Kan semua makhluk hidup pasti mati, nah kalo manusia meninggal lalu dikumpulkan di suatu tempat sambil menunggu hari hisab nanti. Setelah hisab selesai, tinggal ditentuin masuk surga atau neraka. Nah, sekarang Kamu mau masuk kemana...?" tanya Erik.
" Surga dong Pa...," sahut Efliya.
" Makanya jadi Anak yang baik, taat sama Allah dan RosulNya, patuh sama Papa dan Mama, jangan nakal dan berbuat sesuatu yang dilarang sama Allah. Ok...?" tanya Erik lagi.
" Ok Pa...," sahut Efliya.
Erik tersenyum sambil mengusak kepala Efliya dengan sayang. Setelah Faiq selesai berkemas, mereka pun pergi mengantar Faiq ke pesantren.
\=\=\=\=\=
Faiq menjalani pendidikan di pesantren dengan semangat. Ia nyaman berada di sana. Meski pun di awal kedatangannya ia harus kembali bersinggungan dengan makhluk ghaib yang bernama Amsir, salah satu santri senior yang meninggal karena dibunuh.
# Kisah hantu Amsir dapat dibaca di novel Guna Guna eps. 214 s/d 217 #
Setelah kasus Amsir terkuak, Faiq dan para santri bisa kembali belajar menuntut ilmu di pesantren itu dengan tenang. Kyai Saad sang pemilik pesantren dan putranya yang bernama Ustadz Hamzah pun sangat memperhatikan Faiq. Karena selain Faiq berjasa mengungkap pembunuhan itu, ternyata Faiq adalah anak yang cerdas dan tekun.
Beberapa kali Faiq meminta ijin untuk menemui keluarganya karena masalah yang lagi-lagi membutuhkan kehadiran Faiq untuk mendeteksinya. Dan dengan senang hati Kyai Saad maupun Ustdaz Hamzah memberi ijin. Toh, Faiq masih bisa mengejar ketertinggalannya dalam belajar.
Faiq menghabiskan masa remajanya di pesantren karena ia menempuh pendidikan di sana selama enam tahun, setara dengan SMP dan SMA jika di sekolah umum. Di usia remaja itu, sama seperti anak lain yang seusianya, Faiq pun mulai mengenal lawan jenis. Faiq menyukai sosok gadis manis yang merupakan sepupu Rafi, teman sekamarnya.
Gadis belia itu bernama Cempaka. Usianya sama dengan Faiq. Cempaka akan datang menjenguk Rafi sebulan sekali bersama kedua orangtua Rafi.
Faiq menyukai Cempaka diam-diam. Ia suka saat melihat Cempaka tersenyum. Saat bicara, gadis itu terlihat begitu semangat dan membuat lawan bicaranya akan fokus menatap dan mendengarkannya. Namun satu yang disayangkan, Cempaka masih mengumbar auratnya. Cempaka suka memakai baju kurang bahan dan Faiq tak suka itu. Meski pun Cempaka memakai pakaian yang sopan saat menjenguk Rafi, tapi Faiq tetap tak suka.
" Hai Faiq...!" sapa Cempaka.
" Assalamualaikum...," kata Faiq meralat ucapan Cempaka.
" Ups, sorry. Assalamualaikum Faiq...," kata Cempaka meralat ucapannya.
" Wa alaikumsalam. Ngapain Kamu di sini...?" tanya Faiq dengan mimik wajah tak suka.
" Lho kok ngapain. Aku lagi jenguk Rafi kaya biasa. Kenapa malah nanya sih...," gerutu Cempaka.
" Rafi ada di sana. Kenapa Kamu malah ke sini...?" tanya Faiq lagi.
" Aku ga sengaja liat Kamu lagi duduk di sini, makanya Aku ke sini. Keluargamu belum ada yang datang ya, atau Kamu ga dijenguk hari ini...?" tanya Cempaka sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
" Bukan urusan Kamu...," sahut Faiq sambil melengos.
" Oh bukan gitu. Daripada Kamu sendirian di sini, mending gabung aja sama Aku dan Rafi di sana. Mamanya Rafi yang nyuruh Aku ke sini buat jemput Kamu tadi...," kata Cempaka.
" Ga usah, makasih. Sebentar lagi orangtuaku juga datang kok...," sahut Faiq sambil siap berlalu.
Namun sebelum pergi, Faiq sempat mengatakan sesuatu yang membuat Cempaka membulatkan matanya.
" Cempaka, Kamu cantik. Tapi sayang kalo Kamu membiarkan siapa saja melihat tubuhmu itu. Alangkah baiknya kalo Kamu memakai hijab dan baju yang tertutup...," kata Faiq sambil berlalu.
" Ish, apaan sih dia. Kenapa ngatur-ngatur segala soal pakaian Aku. Segini juga lumayan sopan kan. Ga ketat atau bolong. Dasar santri aneh...," gumam Cempaka sambil membalikkan badannya dan melangkah kearah keluarganya.
" Lho, mana Faiqnya Ka...?" tanya Mama Rafi.
" Ga mau Tante. Katanya lagi nungguin keluarganya juga...," sahut Cempaka.
" Oh, ya udah gapapa. Sini, Kita makan dulu yuk...," ajak mama Rafi sambil tersenyum dan diangguki Cempaka.
\=\=\=\=\=
Sepulang dari pesantren Cempaka langsung masuk ke dalam kamarnya. Sejak Rafi masuk pesantren Cempaka memang tinggal di rumah Rafi sesuai permintaan mama Rafi.
Cempaka pun duduk di atas tempat tidur dan memikirkan ucapan Faiq yang sangat mengena di hatinya. Ia gelisah saat menyadari dirinya memang tak seharusnya berpakaian terbuka seperti itu.
" Kayanya Aku harus mulai mengganti penampilan. Bukan karena Faiq, tapi emang udah seharusnya kan wanita muslimah itu menutup aurat dan berhijab...," gumam Cempaka.
Lalu Cempaka membuka lemari pakaian dan mulai memilah pakaian yang mana saja yang bisa dipakai nanti.
" Lumayan banyak. Tinggal cari hijabnya aja deh...," kata Cempaka sambil tersenyum puas.
Karena kelelahan, Cempaka lalu beristirahat dan tertidur dengan cepat.
Esoknya Cempaka mulai membicarakan niatnya menutup aurat kepada kedua orangtua Rafi.
" Alhamdulillah...!" seru papa dan mama Rafi bersamaan.
" Kami senang dengarnya Nak...," kata mama Rafi antusias.
" Kalo gitu, nih Om kasih uang buat Kamu beli hijab. Mudah-mudahan bermanfaat ya...," kata papa Rafi sambil menyodorkan lima lembar uang ratusan ribu ketangan Cempaka.
" Makasih Om...," kata Cempaka.
" Sama-sama, kan udah kewajiban Kami menanggung semua keperluanmu sampe Rafi cukup mampu bertanggung jawab sama Kamu nanti...," kata papa Rafi sambil tersenyum.
Cempaka dan mama Rafi mengangguk tanda setuju dengan ucapan papa Rafi.
\=\=\=\=\=
Dan di bulan berikutnya Cempaka kembali datang menjenguk Rafi di pesantren dengan penampilan yang jauh berbeda.
" Gimana Raf. Kamu suka ga liat Cempaka yang sekarang...?" tanya mama Rafi.
" Ehm, iya Ma. Aku suka...," sahut Rafi cepat.
" Terus menurut Kamu gimana penampilan Cempaka Nak...?" tanya Mama Rafi lagi.
" Mmm, lebih cantik Ma...," sahut Rafi malu-malu.
Jawaban Rafi membuat wajah Cempaka merona malu. Cempaka mengalihkan tatapannya dan tak sengaja matanya melihat Faiq yang juga sedang menatap kearahnya. Cempaka tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Terlihat Faiq yang mengangguk sambil mengacungkan kedua jempolnya kearah Cempaka.
Faiq pun menghampiri keluarga Rafi. Ia mencium punggung tangan kedua orangtua Rafi lalu menoleh kearah Cempaka.
" Nah gitu dong. Kan lebih enak diliatnya, iya ga Raf...," kata Faiq sambil tersenyum.
" Iya...," sahut Rafi.
" Oh, jadi karena Faiq yang nyuruh berhijab jadi sekarang Kamu pake hijab Ka...?" tanya papa Rafi membuat Cempaka salah tingkah.
" Mmm, itu...," ucapan Cempaka dipotong cepat oleh Faiq.
" Ga juga sih Om. Mungkin hidayah dari Allah datangnya pas Cempaka sering ikut jenguk Rafi ke sini. Kan hidayah datangnya bisa darimana dan kapan aja...," kata Faiq menengahi.
" Iya, Kamu benar juga. Wah pinter banget sih Faiq ini, Om salut deh sama Kamu...," puji papa Rafi sambil menepuk lembut pundak Faiq.
" Alhamdulillah, biasa aja Om. Kan emang diajarin juga di sini. Iya kan Raf...," kata Faiq malu.
" Iya Pa. Yang Faiq omongin itu sama persis kaya yang diomongin sama guru-guru di sini...," sahut Rafi sambil tersenyum.
Cempaka merasa lega mendengar ucapan Faiq dan Rafi. Ia tak ingin kedua orangtua Rafi salah paham padanya.
" Ngeliat kedekatan Kalian Papa jadi senang. Nanti kalo udah lulus, jangan lupa undang Faiq saat Kamu menikah ya Nak...," kata papa Rafi.
" Menikah, emang lulus dari sini Rafi mau nikah Om...?" tanya Faiq tak percaya.
" Bukan nikah, tapi tunangan. Papa nih suka salah aja, ntar yang dengar salah paham lho Pa...," sahut mama Rafi.
" Iya maaf, tunangan. Nih calonnya aja udah ada di sini...," kata papa Rafi sambil tertawa.
Cempaka dan Rafi nampak salah tingkah mendengar ucapan kedua orangtua Rafi. Keduanya terlihat saling melirik satu sama lain. Sedangkan Faiq merasa seolah dilempar ke dalam jurang yang sangat dalam. Ia menatap kearah Cempaka dengan tatapan kosong. Dan saat itu juga Faiq menyadari bahwa cinta pertamanya kandas di tengah jalan. Karena dia tak mungkin mencintai gadis yang sudah ditunangkan dengan orang lain, apalagi orang itu adalah Rafi, teman sekamarnya.
\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 459 Episodes
Comments
Asyiyah Setiawan
hehe.. faiq, laki2 shalih akan bertemu dgn wanita shalihah jg.. setiap org akan dipasangkan dgn yg sesuai, mungkin yg terbaik nanti untuk masa depan rumah tangga faiq, istri yg akan mensupport tugas faiq menolong banyak makhluk dan org lain sesuai keahlian yg dimilikinya, itu butuh banget support keluarga lho.. kalau istrinya ga paham berat nantinya.. tenang aja udh ada istri yg pas buat faiq dr Allah.. (pdhl yg jodohin nanti authornya ya hehehe)
2023-05-16
1
yusrul ʏṳṧ
lha jare sepupu.. kok kon tgg jwb rafi?
2022-06-09
2
abian lim
yaaa patah hati ya faiq
2021-12-11
2