Beberapa hari kemudian.
Setelah memastikan persiapan yang dibuat oleh Ustadz Hamzah dan Faiq cukup, Kyai Saad pun mengijinkan mereka pergi membantu para hantu pocong itu. Kali ini Saman ikut serta karena tak ingin terjadi sesuatu dengan Faiq, santri yang telah membantu temannya itu.
Tapi rupanya Wulan sudah memulai aksinya. Ia menebar pesonanya dan menjerat para pria di kampung itu hingga membuat para istri kebingungan.
Para pria itu begitu terpesona dengan penampilan Wulan yang terlihat lebih cantik dan menggoda.
" Heran deh. Di kampung ini selelu aja ada musibah yang silih berganti datangnya...," kata seorang penjual sayur keliling.
" Maksud teh Mira apa sih...?" tanya seorang pembeli yang memakai hijab.
" Iya gitu. Kemaren hantu pocong. Sampe sebulan lebih semua orang ketakutan dan ga berani keluar kalo udah lewat Maghrib. Sekarang udah tenang ga ada lagi hantu pocong, eh malah ada kejadian aneh lagi. Semua laki-laki dewasa di kampung ini kepincut sama janda Anaknya Kek Wongso...," sahut Mira.
" Astaghfirullah, jangan suudzon gitu teh, ga baik...," kata wanita itu.
" Tapi emang bener Bu. Coba liatin si Wulan itu...," kata seorang wanita sambil menunjuk Wulan yang tengah melintas dengan sepedanya.
Semua wanita yang sedang belanja di lapak Mira itu pun menoleh kearah Wulan. Mereka melihat penampilan Wulan yang lebih 'kinclong' dibanding sebelumnya. Tapi wanita berhijab itu nampak mengerutkan keningnya karena dia melihat keanehan pada sosok Wulan.
" Makanya Saya kesel. Gara-gara si Wulan itu Suami Saya tiap hari ngomongin dia terus. Make muji-muji segala...," kata wanita bertubuh gemuk sambil membanting bayam di tangannya.
" Kesel sih kesel. Tapi jangan barang dagangan Saya juga yang dirusak, ntar kalo ga laku gimana, rugi dong Saya...," sindir Mira.
" Eh, iya. Tenang aja Bu, Saya beli kok bayamnya...," sahut wanita itu sambil tersenyum.
Semua pembeli pun tertawa melihat perdebatan kecil antara Mira dan wanita itu.
\=\=\=\=\=
" Kita kemana Iq...?" tanya Ustadz Hamzah sore itu.
" Keliling dulu Pak Ustadz. Kita ga mungkin langsung ke rumahnya Kek Wongso buat ngelabrak dia kan...," sahut Faiq santai.
" Iya benar juga. Kamu jadi ikut Man...?" tanya Ustadz Hamzah sambil menoleh kearah Saman yang terlihat lebih rapi dari biasanya.
" Iya dong. Yuk jalan sekarang...," ajak Saman sambil mengayuh sepedanya dan keluar lebih dulu melalui pintu gerbang pesantren.
Faiq dan Ustadz Hamzah nampak tersenyum melihat tingkahnya. Kemudian mereka menyusul di belakang Saman. Ketiganya bersepeda dengan santai menyusuri jalan di kampung itu. Banyak warga yang menyapa karena mereka mengenal Uztadz Hamzah dan Saman.
Setelah memasuki kampung yang dimaksud, Ustadz Hamzah pun merasakan aura yang berbeda di sana.
" Agak ga enak hawanya ya Iq...," kata Saman.
" Iya Pak. Auranya lebih gelap dibanding waktu Saya ke sini kemarin...," sahut Faiq.
" Jelas aja, kan dia mulai beraksi. Nah efeknya ya kaya gini...," kata Ustadz Hamzah.
Faiq dan Saman mengangguk tanda mengerti.
Tiba-tiba di depan sana terlihat kerumunan orang. Mereka bertiga perlahan mendekat karena ingin tahu apa yang terjadi. Rupanya sedang ada perkelahian massal antara para pria. Lima pasang pria terlihat sedang bergelut, saling memukul dan menendang. Sedangkan yang lain menonton dan memberi semangat seperti sedang menonton sabung ayam.
Dari mulut mereka terdengar ucapan yang tak pantas namun wajar diucapkan oleh mereka. Ustadz Hamzah pun melerai mereka dan berhasil. Semua warga yang sungkan dengan kealiman Ustadz Hamzah pun nampak menundukkan wajah karena malu.
" Ada apa ini Bapak-bapak. Kok ribut di tengah jalan. Yang lain juga kenapa ga misahin malah nyorakin. Ini udah hampir Maghrib lho Pak. Bukannya bersiap ke masjid, eh malah berkelahi di sini. Ada apa sampe Kalian rubut massal kaya gini...?!" tanya Ustadz Hamzah dengan suara menggelegar.
Faiq nampak terkejut melihat sikap Ustadz Hamzah yang selama ini dikenalnya sebagai sosok yang lembut dan penyabar. Sedangkan Saman nampak tersenyum tipis melihat 'sifat asli' Ustadz Hamzah itu.
" Wulan itu punya Aku...," kata seorang pria.
" Ga bisa, dia cuma buat Aku. Aku bahkan udah ngasih satu set perhiasan emas sama dia...," sahut yang lain.
" Tapi Aku malah udah ngasih surat tanah sama dia...," kata pria lain tak mau kalah.
" Aku juga udah ngusir keluargaku biar Wulan bisa tinggal di rumahku...," kata seorang pria berkulit hitam dengan nada suara tinggi.
" Kalian ga bakal bisa ngelawan Aku. Aku malah udah tidur sama dia, otomatis Aku lah yang bakal menikahinya...," kata seorang pria dengan perhiasan emas di sekujur tubuhnya sambil tersenyum bangga.
Semua orang yang ada di tempat itu terkejut sambil menatap marah kerah pria yang dikenal berprofesi sebagai rentenir itu.
" Kau bohong...!" seru mereka bersamaan.
" Aku ga bohong. Aku ke rumahnya buat nagih hutang yang dipinjam Bapaknya. Karena ga bisa bayar, dia merelakan tubuhnya sebagai alat pembayaran. Dan Aku ga mau munafik karena Aku emang menginginkannya. Jadi yah, Aku beruntung bisa menik*ati tubuhnya lebih dulu dibanding Kalian yang sudah mengeluarkan banyak uang bahkan menyakiti keluarga sendiri demi Wulan...," kata rentenir itu dengan pongah.
Tak perlu menunggu waktu, para pria yang tersulut emosinya itu pun menerjang ke depan dan mengeroyok rentenir itu hingga babak belur. Melihat hal itu, Ustadz Hamzah membuat gerakan cepat dengan cara menotok urat para pria itu hingga mereka kaku tak bisa bergerak.
Faiq ternganga dibuatnya. Melihat semua orang di tempat itu ( kecuali dia, Saman dan Ustadz Hamzah ) dalam keadaan kaku tak bisa bergerak dengan posisi yang beraneka ragam. Ada yang sedang bersiap memukul, ada yang marah, melotot, bahkan ada yang dalam sikap menendang dengan kaki yang menggantung di udara.
" Masya Allah, apa ini Ustadz. Kok mereka kaku ga bisa gerak kaya gini...?" tanya Faiq sambil mendekati para pria yang kaku itu satu per satu.
" Itu namanya jurus menotok Faiq...," sahut Saman santai.
" Saya terpaksa karena mereka ga bisa dicegah pake omongan tadi...," sahut Ustadz Hamzah.
Faiq mengangguk memperhatikan para pria yang kaku itu, meski tak bisa bergerak, nampaknya mereka masih bisa bicara, melirik dan berkedip.
" Mereka juga masih bisa mendengar lho Iq...," kata Ustadz Hamzah seperti mengerti jalan pikiran Faiq.
" Oh gitu...," sahut Faiq sambil nyengir.
Lalu Ustadz Hamzah dan Saman membasuh wajah mereka satu per satu dengan air yang mereka bawa. Setelahnya Ustadz Hamzah pun mulai memberi nasehat kepada para pria itu. Saman nampak mengawasi andai diantara mereka ada yang ingin menikung Ustadz Hamzah.
" Dengarkan Saya. Kalian ini sudah melakukan sesuatu yang sia-sia dan ga masuk akal. Kalian rela mengeluarkan uang dengan jumlah besar hanya untuk menarik perhatian seorang wanita. Bahkan Kalian rela mengabaikan Anak dan Istri yang selama ini setia menemani Kalian hanya untuk memuaskan wanita yang bukan siapa-siapa. Ditambah lagi, Kalian seperti orang bo*oh yang menceritakan aib Kalian sendiri kepada orang lain. Dan liat hasilnya, Kalian malah ribut dan baku pukul di sini. Apa Kalian sadar, bahwa wanita itu hanya memanfaatkan Kalian untuk kesenangan pribadinya. Dan siapa yang beruntung mendapatkannya, ga ada. Malah dia yang hanya keluar uang sedikit yang mendapatkan tubuh wanita itu. Karena dia meminjamkan sejumlah kecil uang kepada wanita itu dan itu ga sebanding dengan apa yang Kalian keluarkan. Tapi dia bisa menikmati wanita itu karena uang yang dia pinjamkan berbunga dan wanita itu tak sanggup membayarnya. Gimana, apa Kalian sadar apa yang sesungguhnya terjadi di sini...," kata Ustadz Hamzah panjang lebar.
Para pria itu nampak berpikir sejenak. Setelahnya mereka seperti tersadar lalu bicara bersahutan.
" Kita tertipu. Ternyata Wulan mau mengadu domba Kita. Dia hanya memanfaatkan Kita dan memberi harapan kosong...," kata seorang pria.
" Iya, ujung-ujungnya dia cuma jadiin Kita sapi perah untuk menimbun harta tanpa pernah mau menikah...," kata pria lainnya.
" Kami sadar Pak Ustadz, tolong bantu Kami lepas dari pengaruh wanita ular itu...," kata beberapa pria besahutan.
" Cuma satu jalan agar Kalian bisa lepas dari ini...," kata Ustadz Hamzah.
" Apa Ustadz...?" tanya mereka bersamaan.
" Kembali ke Allah dan RosulNya. Sholat berjamaah di masjid, makmurkan masjid, patuhi perintah Allah jauhi laranganNya, amalkan sunnah Rosulullah. Insya Allah, jika Kalian lakukan itu Kalian akan selamat...," sahut Ustadz Hamzah tegas.
Hening sejenak. Lalu mereka terlihat menitikkan air mata. Melihat hal itu Ustadz Hamzah pun maju melepaskan totokan di tubuh mereka satu per satu hingga mereka kembali ke keadaan semula.
" Ayo bersiap, sudah hampir Maghrib...," kata Ustadz Hamzah.
Setelah mengucapkan terima kasih para pria itu membubarkan diri. Faiq nampak terkagum-kagum melihat Ustadz Hamzah yang ternyata menyimpan sesuatu dalam dirinya. Kini mereka bertiga tengah menuju ke masjid untuk sholat Maghrib berjamaah di sana.
\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 459 Episodes
Comments
kiki
si wulan kan udh dapet tanah, emas, masih aja gak bisa bayar rentenir
2022-06-18
1
Ricky Barmans
mantab
2022-04-05
2
Annisa Saskia
top
2021-09-11
2