ch 20

Aku juga lama tidak bertemu Risa. Seperti biasa dia kalau marah tidak mau terima telepon atau membalas pesanku. Aku belum sempat mengunjunginya, aku sibuk dengan urusanku menyiapkan sidang skripsi.

Melintas di depan gedung C aku melihat Dika bersama beberapa teman wanitanya.

"Dik, lihat Risa nggak?" Aku menghampirinya sehingga teman wanitanya pergi meninggalkannya.

"Tadi ada, masih di lantai atas mungkin. Tumben kamu nyari Risa, biasanya yang sering terjadi sebaliknya," kata Dika dengan sindiran nggak enaknya.

"Berarti sedang ada yang penting, Dik."

"Kamu tuh nggak ada peka-pekanya sama wanita Al, Risa itu kan dari dulu suka sama kamu. Tapi kamu nggak pernah nganggep dia ada."

"Sebenarnya bukan nggak nganggep, tapi aku taunya dia itu sukanya sama kamu, Risa sendiri pernah bilang sama aku." Jawabku membela diri.

"Baru seminggu lalu dia bilang ingin berubah untuk kamu!"

"Berubah gimana?" Tanyaku antusias.

"Ya ingin tampil lebih cantik dan menarik perhatian, mosok gitu aja nggak paham rek?"

"Oh tampil beda gitu tah?"

"Iya, harusnya kamu melihat usahanya."

"Hemm… jadi serius gini sih bahas soal Risa?" tanyaku sembari tertawa.

Aku merasa Dika juga sedikit tampil berbeda dari sebelumnya. Apa karena lama tidak jumpa dan mengobrol dengannya atau karena aku yang sekarang jadi lebih sensitif dengan hal yang sulit dilogika?

Aku jadi ingat apa yang dikatakan Risa soal Dika, pacarnya 2 belum termasuk selir dan dayangnya. Aku lihat pesonanya memang tidak pada umumnya.

"Jangan pernah mengabaikan perasaan wanita Al!"

"Maksudnya gimana Dik?" Tanyaku tidak paham arah pembicaraannya.

"Maksudnya ya terima aja si Risa itu, atau siapapun yang suka sama kamu. Hidup lebih berwarna karena dikelilingi dan dipuja wanita!"

"Oh contohnya seperti kamu gitu, pacar banyak?"

"Iya." Jawab Dika terbahak-bahak tanpa merasa berdosa. "Kita masih muda, Al. Pumpung belum nikah, puas-puasin main sama makhluk yang namanya wanita."

"Ngumpulin Harem dari sekarang ya? Gimana caranya biar nggak pada berantem, Dik?"

"Ntar aku kasih tau rahasianya, itu Risa baru keluar. Buruan sana, kejar! Lihat Al, lihat! Ada dua pria bersamanya, nyesel kamu nanti kalau sampai nggak dapat Risa," usir Dika. Aku melihat Risa yang sedang berjalan dengan 2 orang pria.

"Bagi rahasianya dulu, Dik!" Aku melirik gelang dengan batu berwarna krem tua di tangan kirinya.

Dika kembali nyengir jenaka, mempermainkanku dengan gaya jahilnya. "Kalau aku kasih tau nanti kamu ngabisin stok wanita di kampus ini, Al!"

"Gelangmu itu ada isinya ya?" tanyaku langsung. Aku yakin itu rahasianya. Sesuatu menguar dari sana. "Itu jimat pengasihan kan?"

"Eh… kok kamu tau, Al?" Dika malah jadi salah tingkah menutupi kegugupannya.

"Cuma kira-kira, Dika. Nggak usah panik begitu!" Aku menepuk bahunya dan pergi meninggalkannya untuk mengejar Risa.

Pantas saja dia digandrungi banyak wanita, dia memakai Mustika Penarik Sukma. Mungkin digabungkan dengan ajian pengasihan yang dipelajarinya, sehingga efeknya benar-benar nyata. Tidak menyangka kalau Dika ternyata juga suka dengan ilmu-ilmu pelet Jawa yang mungkin sekarang sudah makin sedikit peminatnya.

Sebenarnya bukan sedikit, tapi mereka cenderung menyembunyikan apa yang dipelajarinya dan menggunakannya secara diam-diam, mungkin malu karena ini urusan asmara dengan unsur dipaksa.

"Risa…." Aku memanggilnya sedikit berteriak karena jarak yang agak jauh. Dia hanya menoleh sejenak dan kembali melanjutkan jalan dengan temannya.

"Risa, aku ada perlu sama kamu!" Kataku setelah sampai di depannya, sengaja mengusir kedua teman prianya secara halus dengan langsung menggandeng tangannya dan menariknya agar mengikutiku.

Risa mengucapkan janji ketemu selanjutnya dengan mereka dan dengan terpaksa berjalan di sampingku.

"Ada apa?" Tanyanya dengan nada ketus. Duh ampun juteknya bikin gemas.

Aku memperhatikannya dengan seksama, ini masih Risa yang kukenal. Hanya saja dia terlihat lebih dewasa dan mempesona. Seminggu tidak melihatnya ternyata banyak hal yang berubah. Dika benar soal usaha Risa. Salon mana yang sudah membuatnya jadi begini cantik dan memikat para pria?

Penampilannya membuatku menahan nafas, seksi sekali. Celananya membentuk bagian belakangnya dengan sempurna, dipadukan atasan kaus V neck sedikit rendah ke belahan dadanya. Kemeja tipisnya dibiarkan tidak terkancing, hanya sebagai formalitas di kampus saja. Aku menelan ludah karena pakaiannya menggambarkan lekuk tubuhnya.

Aku menariknya ke bagian gedung yang sepi dari mahasiswa, masih belum menjawab pertanyaan yang beberapa kali diajukannya. Entah mengapa aku ingin berdua dengannya, ingin meminta maaf dengan cara yang istimewa seperti caranya Lucia.

Pikiranku begitu kotor membayangkan akan melakukan sesuatu yang tidak pernah terbersit sedikitpun selama ini pada Risa. Aku menganggap pertemanan kami lebih dari sekedar cinta. Dan aku sudah mempertahankan status itu dengan menolak jadi pacarnya.

Tapi apa sekarang? Aku bahkan tidak berusaha mengendalikan diri. Aku justru akan menjebaknya dalam rayuan gombal yang sebentar lagi akan aku khususkan untuknya.

"Kita ini mau kemana Al?" Tanyanya sedikit terhuyung karena aku terlalu kuat menariknya. Sejak kapan dia pakai heels di kampus? Menambah kesan jenjang di kakinya saja.

"Ups sorry," kataku mengurangi kecepatan langkah dan menyeimbangkan diri dengan langkahnya.

"Stop, kalau mau bicara ya bicara aja Al. Ngapain harus muter-muter gedung? Nggak jelas banget kamu ini!" Dia berhenti dan menggerutu dengan ketusnya.

Akhirnya aku mengalah, aku ikut berhenti dan membimbingnya berdiri bersandar di dinding dan mulai bicara. Meski tidak bisa dibilang sepi tapi tempatnya bisa buat ngobrol berdua tanpa menarik perhatian.

"Aku minta maaf, Risa. Aku mau menjelaskan masalah yang sebenarnya. Cewek yang kamu lihat di rumah tempo hari itu namanya Lucia…."

Aku menunggu reaksinya. Dia masih saja jutek dan tidak mau melihatku. Belum pernah Risa seperti ini, ngambek tingkat dewa.

"Lalu apa? Kamu mau menikah dengannya?" Dia bertanya sembari melengoskan wajahnya. Wuih, kelihatan banget cemburunya.

"Nggak," jawabku singkat.

"Bukannya dia hamil?"

"Bukan aku yang menghamilinya," ujarku ringan.

Risa melihatku dengan tatapan tidak percaya. "Lalu?"

"Kamu sudah salah paham Risa. Seharusnya kamu bertanya, bukan malah marah seperti ini!"

"Apa aku masih pacarmu?"

"Eh… apa itu yang jadi masalah Ris? Status kita?" Astaga, Risa benar-benar tidak mendengarkan alasanku. Kenapa dia jadi terobsesi jadi pacarku?

Aku menyugar rambut dan menatapnya tajam, dan itu adalah kesalahan besar. Karena aku tersihir oleh sesuatu pada bibirnya.

Aku menghimpitnya di dinding dan melingkupinya dengan kedua tanganku di sebelah kepalanya.

"Mau apa kamu?" Tanyanya gugup. "Ini kampus!"

"Iya, aku tau ini kampus, tapi nggak ada yang memperhatikan kita." Aku menjawab dengan cuek dan mendekati wajahnya. Mengecup bibirnya pelan dan menyesap bibir bawahnya yang sangat menantang. Aku tersenyum saat mendapatkan sesuatu dari bibirnya itu.

Jariku menyentuh lehernya dan perlahan turun ke belahan dadanya. Aku sengaja tidak melepaskan sesapan pada bibirnya agar dia tidak fokus dengan apa yang sedang aku lakukan. Aku menyusurinya sampai ke gundukannya, aku menahan nafas karena hampir menyentuh puncaknya dan setelah itu aku menyudahinya karena benda kecil yang ada di sana sempurna menempel di telunjukku, seperti besi menempel pada magnet. Begitulah aku mencabut susuk yang ditanam di dadanya.

Aku melepas ciuman yang hanya sesaat itu, mengeluarkan jarum emas kecil yang panjangnya hanya seruas jari dari mulutku. Susuk yang dia pasang di bibir bawahnya juga lepas. Bayangan nenek tua pergi berkelebat meninggalkan tubuh Risa saat itu juga.

Kugenggam tangannya ketika dia membuka mata, dia belum sadar sampai aku menyerahkan dua jarum emas kecil ke telapak tangannya, dan membantunya merapatkan jemarinya agar benda yang sudah ada padanya itu tidak jatuh.

"Kamu nggak perlu sampai melakukan hal sejauh ini, Risa! Kamu sudah cantik," bisikku pelan.

Dia membuka tangannya, melihat sebentar susuk kecantikan itu lalu mendorongku dengan keras, air mata merebak memenuhi bulu matanya. Dia berlari menjauhiku, meninggalkan suara heels yang bersahutan dengan sumpah serapahnya.

"Maafkan aku, Ris!" Gumamku yang pasti tidak terdengar olehnya. Aku memukul dinding dengan keras sebagai pelampiasan karena kebodohan yang kulakukan barusan.

***

Terpopuler

Comments

Land19

Land19

nyatanya bener banget
mengingatkan aku sama spv aku waktu aku masih kerja ia dari seberang dan punya ilmu jimat pengasihan.

2025-02-03

0

Yulay Yuli

Yulay Yuli

luntur diisep sama Al itu susuk ya😂

2025-01-20

0

Hulatus Sundusiyah

Hulatus Sundusiyah

segala cara dilalukan risa...

2024-09-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!