Aku mampir basecamp mapala sebelum pulang, Aryo sedang mengobrol dengan team yang akan berangkat besok ke Merapi yaitu Faisal, Miko dan Denis.
"Bang, tamu kita ngabarin kalau besok dia minta Abang ikut."
Aku menggeleng, aku tidak akan ikut. Aku tersinggung dengan makian Lucia. Aku putuskan tidak mau berhubungan dengannya dalam urusan apapun. Kalau bisa aku akan mengurus Asih Jati tanpa sepengetahuannya.
"Nggak bisa aku Yo, besok ada janji ketemu pembimbing sampai jam 3 sore. Sedangkan kalian abis jumatan udah jalan."
"Bang, aku juga berat mau berangkat. Bukan tanpa alasan, tapi mengingat ke Lawu kemarin rasanya gimana gitu…." Miko memasang wajah ngeri, membuat mental yang lain jadi menurun.
"Coba negosiasi ulang sama tamunya, bilang kalau kita nggak sanggup. Kembalikan semua uangnya!" Ujarku memberi usulan. Pendakian akan sangat berbahaya jika situasi di Lawu sampai terulang.
"Sudah Bang, tapi mereka keberatan. Justru mereka berniat membayar dua kali lipat dari kesepakatan awal asal pendakian ini dilanjutkan." Jawab Aryo gusar memberikan penjelasan.
"Aku sungguh tidak tertarik dengan pendakian ini, menurutku terlalu berbahaya," ungkapku pada akhirnya. Aku tidak mau bertaruh nyawa di Merapi.
"Faisal bilang Abang bisa mengendalikan wanita itu, mungkin jika Abang ikut akan lebih aman keadaannya." Aryo masih berpendapat lain.
"Sejujurnya aku sudah tidak ingin berurusan dengannya." Mereka tidak tau sedang berurusan dengan seseorang yang jauh dari kata biasa.
"Jadi solusinya apa bang?"
"Bisa temukan aku dengan mereka? Biar aku yang bicara pembatalannya, atau membuat kesepakatan baru sesuai aturan kita."
"Belum lama tadi kesini kok Lucianya, nyari Abang," kata Miko sedikit bersiul meledek. Sedang Aryo langsung menghubungi Lucia agar datang lagi ke basecamp mapala.
"Suruh nunggu 5 menit katanya, Bang!"
"Ya," jawabku sembari menulis pesan untuk Tiara.
Dengan malas aku menemui perempuan dingin dan angkuh itu ketika dia mendatangiku.
"Kamu mencariku tadi?" Sapaku ramah berusaha melupakan kalau beberapa hari lalu dia menamparku.
"Iya, aku ada perlu. Bisa kita keluar sebentar?" Aku mengikutinya setelah menitipkan kunci pada Miko. Tiara mungkin 1 jam lagi akan mencariku di basecamp.
"Ada apa?" Tanyaku datar.
"Ikut aku!"
"Kemana?"
"Makan." Dia melempar kunci kendaraannya padaku setelah sampai parkiran. "Aku lapar."
Lucia masih saja jutek dan sedikit bicara, sayang sekali kecantikannya jadi tidak keluar seutuhnya.
"Aku minta maaf, Al. Aku salah sudah mengatakan hal buruk padamu saat di Lawu. Dan harusnya aku minta maaf tidak seterlambat ini." Ucap Lucia terdengar tulus ketika sudah di mobilnya.
"Hemm ya, aku juga minta maaf sudah melakukan hal bodoh padamu…" juga sudah melihatmu tidak pakai baju. Lanjutku dalam hati. "Bagaimana kalau kita lupakan saja kejadian buruk itu dan mulai berteman dengan baik dari sekarang?"
"Deal, kamu besok nggak ikut mengantarku ke Merapi? Miko bilang begitu tadi."
"Aku sibuk, maaf." Jawabku santai.
"Kamu tidak takut aku mengganggu teman-temanmu?" Tanya Lucia santai juga tapi dengan seringai licik.
"Apa maumu sebenarnya Lucia?"
"Kamu sudah tau jawabannya, jadi mengapa masih bertanya, Al?"
"Jangan berani melakukan hal tidak senonoh pada temanku, Lucia!"
"Kamu tau aku tidak bisa mengendalikan diri kan?"
Aku mendengus kesal. "Aku akan mengembalikan uangmu, batalkan semua rencana mendakimu. Aku nggak mau kamu membahayakan teman-temanku!"
"Mau makan apa , Al?" Lucia menawarkan beberapa tempat makan yang kami lewati. Mengabaikan perkataanku.
"Laksa."
"Laksa Singapore?"
"Penang. Di sebelah sana kayaknya tempatnya."
"Kamu sering kesini ya?" Dia memilih makanan dan minuman yang sama denganku.
Aku tertawa mendengarnya, "Aku lahir di sini Lucia, dan tempat ini umurnya lebih tua dariku. Warga Surabaya pasti sering kesini. Kamu suka tinggal di Surabaya?"
"Sejujurnya nggak, tapi kedepannya mungkin harus suka," jawabnya masam.
"Apa yang membuatmu tidak suka?"
Dia hanya mengedikkan bahu dan tersenyum. "Entahlah…."
"Kamu harus banyak tersenyum seperti itu Lucia."
"Why?"
"Beautiful."
"Kamu pandai menggombal, Al." Katanya malu-malu menatapku.
"Aku jujur." Aku baru mengenal Lucia yang lain. Tidak lagi angkuh dan dingin. Karakternya memang sulit dipahami, dia menutupi sifat pribadinya, mungkin karena ada hal lain dalam dirinya.
"Ternyata kamu orangnya menyenangkan, Al. Aku jujur." Katanya tertawa lepas. Dia sungguh cantik kalau sedang tertawa.
"Jika besok aku tidak ikut, apa yang akan kamu lakukan Lucia?" Tanyaku kembali pada pokok permasalahan.
"Aku akan memaksamu ikut. Aku tidak bisa membatalkan pendakian ini." Dia sangat serius dengan jawabannya. "Dan kamu pasti akan ikut, Al. Kamu akan membantuku mencari Damar!"
"Yakin sekali…."
"Bantulah aku jika kamu bisa, Al! Aku mohon." Dia menggenggam tanganku dan wajahnya terlihat seperti anak perempuan kecil sedang minta dibelikan boneka barbie.
Aku hanya melihat dalam pada matanya. Mata Lucia dan mata Asih Jati yang memandangiku secara bersamaan. Mata yang penuh kesedihan.
"Ayo kita nonton sekarang," ajakku menggandengnya keluar dari tempat makan. Aku tidak tahan melihatnya sedih.
"Sebenarnya aku tidak begitu suka menonton, Al."
"Jadi apa yang kamu suka? Memasak?" Tanyaku jenaka.
Dia menunjuk pada beberapa wanita yang membawa banyak kantung belanjaan sembari tertawa. "Belanja, Al."
"Aku jelas tidak mampu membayar belanjaanmu Lucia, aku cuma mahasiswa yang semua kebutuhannya masih disubsidi orang tua," sahutku masam. "Bisanya cuma bayar makan sama nonton."
"Loh aku kan nggak ngajak belanja, Al. Aku bicara apa adanya apa yang aku sukai dan sebaliknya." Ujarnya kalem. "Mau nonton apa? Biar aku yang antri tiketnya?"
Aku menunjuk film horor yang sedang tayang. "Itu aja."
"No, aku sedang tidak ingin ditakut-takuti. Yang lain?"
"Tenang Lucia, aku bisa memelukmu nanti," jawabku usil.
"Kenapa aku tidak mendengar itu saat di gunung?"
"Kamu bukan Lucia saat itu."
"Apa kamu pikir aku Lucia sekarang?"
"Aku juga tidak yakin, aku hanya iseng gambling aja."
"Kebiasaan menebar pesona ya Al?"
"Mungkin." Aku terkekeh, sulit menghentikan mulutku yang kadang usil merayu.
"Aku sungguh minta maaf telah menamparmu, padahal waktu itu aku yang menebar jala. Aku akan mencium bekas tamparan itu sebagai gantinya, mungkin nanti." Ucapnya tersipu-sipu.
"Aku tidak mau."
"Why?"
"Kamu bukan Lucia." Aku terkekeh menggodanya.
"Sialan kamu, Al!" Lucia mencubit keras lenganku. "Jadi gimana untuk besok? Kamu belum menjawab pertanyaanku dari tadi."
"Aku mau saja pergi, tapi dengan syarat." Jawabku menatapnya tajam.
"Sebutkan apa saja syaratnya!"
"Akan aku sampaikan besok kalau sudah di lokasi."
Aku melihat tiket yang dibeli Lucia, film baru akan mulai 35 menit lagi sehingga kami menunggu di kafe bioskop untuk minum kopi.
"Aku ke kamar mandi sebentar ya Al!, mumpung filmnya belum di mulai."
"Ya," jawabku sembari memperhatikan sekitar.
Sepasang muda mudi masuk pintu sinema menarik perhatianku. Wanita yang bersama pria itu adalah seseorang yang sudah mencuri perhatian banyak mahasiswa di kampus. Wajahnya yang ayu juga kadang melintas sebagai bunga mimpiku. Wulan. Bersama laki-laki yang cirinya seperti Risa ceritakan.
Aku tidak berhenti melihatnya ketika sedang membeli minuman dan popcorn, mungkin dia merasa jika ada yang memperhatikan sehingga dia menoleh. Wow, matanya yang indah itu akhirnya menemukanku. Melemparkan senyum tipis, setipis bibirnya yang membuat dia terlihat sangat cantik hari ini.
Senyumnya memudar dan berpaling dari tatapanku karena prianya menggandeng tangannya dan membawanya masuk ke dalam studio, mungkin film yang akan mereka tonton segera dimulai.
Kenapa aku jadi ingat sebuah lagu ya? Aku terkekeh sendiri menggumamkan lagu itu.
Hei kamu yang cantik jangan berpaling dahulu, aku masih ingin memandangmu
Hei kamu yang cantik kuingin dekat denganmu tapi kutakut dengan an*jingmu
***
Yuk ah dengerin lagu Hey Cantik nya Shaggydog dulu biar tau suasana hati Al..! Horornya masih belum dimulai, jadi nggak usah tegang😀😀
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Oneng Satrio
ya, aq baca aj sambil nyanyi...
2024-12-16
0
Land19
mendaki untuk mencari damar
2025-02-02
0
Ali B.U
next
2024-07-23
1