ch 14

Lucia melihatku tajam, matanya berkilat merah dan mendengus geram. Dengan setengah hati dia akhirnya menghentikan kidung sugeng rawuhnya. Aku yang tak paham dengan lagu tersebut hanya mengasumsikan bahwa itu sejenis dengan kidung pemanggil setan.

Sedangkan langkah berat dan besar itu semakin mendekat. Bulu tubuhku berdiri semua merasakan kehadirannya, aku bahkan mulai mendengar deru nafas kasarnya.

Aku berdehem untuk menarik perhatian yang lain karena aku akan berhenti sebentar. Miko langsung mendekatiku dan bertanya dengan suara pelan, "ada apa Bang?"

"Istirahat bentar aja Mik."

"Serius nggak ada apa-apa kan Bang?" Matanya mulai jelalatan mencari sesuatu.

Aku hanya menggeleng untuk meyakinkannya. Melihat ke belakang, makhluk hitam besar itu mulai terlihat. Langkahnya menggetarkan udara sekitar. Mata besar berwarna merah menyorot kepadaku, dia juga menyeringai menunjukkan gigi taringnya yang panjang.

Headlamp ku tiba-tiba mati begitu cahayanya aku arahkan ke makhluk itu. Aku melepasnya dan coba menyalakannya lagi tapi tidak bisa, sehingga aku memilih menyimpannya di dalam tas dan memakai senter biasa. Sepintas tadi aku melihat kuku-kuku panjang berwarna hitamnya menggaruk-garuk tanah menimbulkan suara kerikil berlompatan.

Aku meminta Faisal kembali melanjutkan perjalanan agar segera bisa istirahat lebih panjang di pos 2. Makhluk itu tetap berjalan di belakangku, tidak mendahului dan tidak melakukan apapun. Hanya seperti mengawasi perjalanan kami.

Kami tiba di pos 2 menjelang tengah malam, aku tidak memperbolehkan Faisal mendirikan tenda untuk tamu. Aku hanya memberikan mereka matras untuk istirahat makan dan minum. Aku memilih istirahat di atas, jika mungkin bisa bertemu dengan pendaki lain. Aku risih makhluk besar hitam itu terus mengikuti kami.

"Mik, anterin kencing yuk!" Aku dengar Denis berbicara dengan Miko yang sedang sibuk membuka kaleng sarden.

"Eh Den, tinggal nyelip bentar kesitu masak nggak berani sih!" Jawab Miko terganggu.

"Kalau aku berani ngapain minta anter Mik?"

Faisal menengahi, menawarkan untuk menemani. Mereka berdua berjalan mendekati tempat makhluk hitam itu berdiri.

"Jangan kesana Sal, sebelah sini aja." Aku menunjuk tempat yang aman buat mereka.

Denis langsung berlari mendekatiku dengan wajah ngeri. Dia menunjuk ke arah tempat dia sama Faisal tadi. "Bang…." Hanya itu kata yang keluar, tidak berani melanjutkan. Dia buang air kecil tidak jauh dariku dengan tergesa pada akhirnya.

Miko menyajikan makanan dalam diam, semua juga menikmatinya tanpa suara. Tidak ada acara ngopi santai seperti biasanya. Kami hanya beristirahat sebentar setelah makan dan Faisal mengajak untuk segera naik lagi. Semua sadar bahwa ada sesuatu yang ganjil di tempat ini. Bahkan Lucia yang biasanya banyak menggoda kali ini juga diam tidak bicara.

"Kamu baik-baik saja Lucia?" Tanyaku ketika kami mulai berjalan lagi.

"Iya… tidak." Jawabnya singkat.

Gelagatnya sedikit aneh. Kadang dia terlihat biasa, kadang gelisah, kadang takut. Mungkin karena Asih Jati tidak sepenuhnya ada di tubuhnya. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan wanita itu untuk mencari suaminya di sini?

Faisal terpekik, dia berjingkat karena mendengar ada suara benda jatuh berdebam di depannya. Dia mundur sedikit, senter di tangannya jatuh. Dia memungutnya dan menatapku mencari jawaban. Denis yang tepat di belakangnya memanggilku dengan gemetar, "Bang?"

"Ayo jalan lebih cepat, nggak ada apa-apa!" Aku menyemangati dengan wajah tegang yang kusembunyikan. Di depan Faisal sekarang ada wanita berbaju putih kusam sedang menunduk dalam. Bercak hitam di seluruh kain lusuh itu seperti masih baru. Beberapa terlihat menetes dan membuat aliran yang akhirnya jatuh ke tanah. Menimbulkan bau anyir di sepanjang jalan.

Aku tidak bisa melihat wajahnya karena memang dia menyeret langkahnya ke depan. Seperti sedang memimpin kami dalam pendakian seram ini.

Rambutnya panjang menyentuh tanah, menutupi kakinya yang mengambang sejengkal di atas tanah. Sepertinya dia punya pijakan tak terlihat untuk menapak dan menyeret kaki hitamnya itu. Tinggi badannya yang mencapai dua meter membuatnya mencolok terlihat dari belakang.

Perasaan yang semula kurasa aneh sekarang makin terasa ganjil. Kami diapit oleh dua makhluk mengerikan. Dan aku masih belum mendapatkan penjelasan dari apa yang sedang kupikirkan. Aku melirik Lucia yang tersenyum miring melihat kondisi ini.

"Apa yang kamu lakukan Lucia?"

"Aku tidak melakukan apapun, Al. Aku hanya memanggil beberapa teman."

Aku geram mendengar dua jawaban berbeda itu. Asih Jati sedang mempermainkanku. Dia bersembunyi dan menghindar berkonfrontasi denganku dengan menghadirkan sosok lain sebagai pengalih perhatianku.

"Dengar Lucia! Sebentar lagi kita akan sampai tempat istirahat. Aku tidak mengizinkan kamu ke puncak sebelum matahari terbit. Dan kita juga akan turun gunung dari puncak maksimal jam 8 sebelum kabut menutup jalan," ucapku tegas tak ingin didebat.

Lucia hanya diam menatapku kesal, aku tidak peduli bagaimana caranya Asih Jati akan mencari suaminya. Aku lebih peduli pada keselamatan teman-temanku yang sekarang semakin gelisah dengan suasana tak lazim ini.

Sesampainya di Pasar Bubrah hari masih gelap, Faisal memimpin mendirikan tenda untuk beristirahat. Aku hanya membantu sedikit karena perhatianku fokus pada Lucia yang hanya berdiri memandang ke arah puncak.

Aku harap dia tidak cukup gila untuk berlari ke puncak sekarang dengan medan berat seperti itu. Pasir dan batu dengan kemiringan mencapai 45°, dan aku tidak akan sanggup mengejarnya jika itu terjadi. Aku masih waras dan cukup sayang dengan nyawaku.

Baru saja terpikir seperti itu, aku melihat Lucia mulai berjalan digiring oleh kedua makhluk yang mengikuti kami tadi di sisi kiri dan kanannya. Berlari dengan cepat menuju puncak yang masih gelap.

Aku berteriak dengan panik, tetap menyuruh Faisal dan team berjaga di sana sementara aku dengan kalap berlari mengejar Lucia yang semakin menjauh. Keberuntungan sedang ada di depanku karena Lucia tergelincir batu yang memang tidak stabil posisinya. Aku menariknya dan memaksanya kembali ke tenda.

Dia memberontak marah dan nyalang menatap mataku, berteriak seperti orang kesetanan sehingga aku menyuruh semua temanku untuk memeganginya agar tidak kabur ke puncak. Aku sendiri akan mengurus dua makhluk buruk rupa yang sudah bersiap membawa Lucia pergi.

"Bang, gimana ini Lucia? Dia berontak terus." Teriak Miko mengganggu konsentrasiku.

"Buat dia pingsan aja Mik, pukul tengkuknya atau gimana terserah, kalian kan berempat." Aku menjawab seperlunya dan menjauh dari lokasi tenda berada.

Aku duduk bersila, mengeluarkan bunga kenanga dari kantung yang dibawakan Mom, mengetuk tanah tujuh kali dan membaca mantra pemanggil Danyang. Tiga detik kemudian hawa hangat keluar dari tanah seperti uap, Sang Danyang penunggu gunung keluar.

Bulu kudukku berdiri tegak, tapi aku beranikan diri untuk mengatakan maksud kedatanganku. Aku menanyakan apakah Damar Jati ada di sekitar gunung ini karena aku datang mengantarkan istrinya.

Sebuah bisikan yang tidak jelas terdengar di telingaku. Aku mengartikannya bahwa aku tidak akan menemukan yang kami cari di sini. Aku mengucapkan terima kasih ketika bunga kenanga yang diberikan Mom untuk Lucia sudah kering menghitam.

Aku kembali ke tenda mendapati Faisal, Miko dan Ferdi si supir mendengkur dengan nyenyak. Sementara Denis dan Lucia pergi entah kemana.

"Cuuu*kkk…."

***

Terpopuler

Comments

Land19

Land19

aya² wae thor
ngebayangin jalan di hutan walaupun rame tapi berasa kaya sendirian
hiii

2025-02-02

0

Atiqa Fa

Atiqa Fa

Deg-deg.an bgt bacanya, gini kok banyak yg suka mendaki

2024-12-01

1

Ali B.U

Ali B.U

next.

2024-08-01

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!