ch 03

Om Aji dan Mom sedang mengenang kebersamaan mereka berdua dulu dengan bercerita sembari memilih batik di dekat pasar Beringharjo, bersama pasangan masing-masing tentunya.

Aku, Ara dan Nabila tidak mau ikut berdesakan di sana, toh tidak ada juga yang ingin kami beli. Kami hanya ikut meramaikan acara keluarga ini sebagai anak-anak penurut sesuai keinginan para orang tua. Sebagai gantinya kami menunggu mereka berbelanja di depan Samijaya, makan lumpia enak yang direkomendasikan Nabila.

"Iki lumpia legendaris, Dab. Enak nggak menurutmu?" tanya Nabila padaku.

"Hemm ya… enak. Mom bilang dulu juga sering makan ini. Dulu ada yang cuma isi sayur kalau nggak salah, soalnya Mom nggak mampu beli yang isi ayam…." Aku terkekeh, bersyukur hidupku tidak sesulit Mom dulu.

"Iya, mungkin udah beda generasi jadi ada pembaharuan. Lebih inovatif dari segi isian tapi tetap menjaga cita rasa yang tinggi."

"Bawangnya aku suka…" Tiara menimpali. "Aku pesan buat di rumah ya, buat nanti malam panjang, drakor lagi Bil? atau kamu mau malam mingguan sama pacarmu?"

"Nggak dikasih pacaran sama Mama," jawab Nabila tersenyum masam.

Mendengar itu Tiara langsung iseng meledek, "Soalnya Tante dulu nggak pake pacaran, ujug-ujug nikah sama Om ya?"

"Begitulah…." Kami tertawa cekikikan membayangkan kisah itu. Jodoh emang mudah bertemunya.

"Nggak sekalian cari oleh-oleh buat pacar kalian di Surabaya?" tanya Nabila. Wah, ini bakal panjang kalau dibahas bersama para wanita, jadi mending aku undur diri. Biar Tiara aja yang jawab. Toh juga nggak ada yang akan aku ceritakan dari pacarku.

Pacar? Tentu saja aku sering punya, tapi tidak pernah serius. Daftar penggemarku juga tidak sedikit, mulai yang cuma titip salam sampai yang titip bunga juga ada. Tapi tetap saja aku memacari mereka sekedarnya saja. Mereka selalu cemburu dan tidak suka pada Tiara. Akhirnya kisah cinta tidak pernah bertahan lama dan aku punya predikat yang tidak baik di kampus soal wanita. Yah, tampan itu kan memang petaka buat wanita. Apa aku salah? Salahkan saja Dad sama Mom yang begitu kompak mewariskan banyak pesonanya itu padaku.

Setelah jalan-jalan membeli gelang warna hitam kombinasi merah dari prusik yang dijalin sedemikian rupa aku kembali menghampiri Tiara dan Nabila yang masih menunggu antrian lumpia untuk dibawa pulang.

Aku lihat Dad dan rombongan juga sudah ada di sana sedang makan lumpia juga. Aku memesan kopi di angkringan yang tidak jauh dari sana, mengamati aktivitas Malioboro dengan semua pengunjungnya. Mulai dari turis lokal sampai bule banyak terlihat, juga penuh dengan siswa yang sedang karya wisata dan muda mudi yang mungkin sedang menuntut pendidikan di sini. Kota pelajar sangat tepat sebagai julukan kota ini, kota yang juga pernah menjadi ibukota negara pada tahun 1946.

"Besok mau kemana Al?" Tanya Om Aji yang duduk di sampingku dan ikut memesan kopi.

"Belum ada rencana Om, terserah Mom sama Dad aja. Al paling juga jadi supir yang baik."

"Om rasa kalau tempat wisata biasa kalian pasti sudah beberapa kali mengunjunginya."

"Begitulah, Mom sudah merekomendasikan semua tempat di sini. Biasanya Dad suka mengunjungi kenangan indahnya sama Mom, biar berkali-kali juga nggak ada bosannya," sahutku terkekeh. Menertawakan sikap Dad yang sering membuatku cemburu.

"Kamu sedang menertawakan Dad, Al?" Aku menghembus nafas keras, Dad sudah nimbrung ke dalam arena. Ini akan jadi obrolan sesama laki-laki dewasa.

"Jadi Dad sama Mom ada rencana apa atau kemana buat besok?"

"Mom yang punya rencana, bukan Dad."

"Dad kan pasti sudah tau rencananya apa, tidak ada rahasia. I remember it…." Ujarku menggoda Dad yang langsung diikuti ledakan tawa dari Om Aji.

"Mom ingin ke Imogiri," ungkap Dad tentang rahasia kecil rencana Mom buat besok.

"Tempat apa itu Dad?" Aku penasaran karena belum pernah mengunjungi Imogiri walaupun cukup sering ke Yogya.

"Anggap saja wisata religi, karena Mom juga berencana ziarah ke makam Syekh Maulana Maghribi di Bantul."

"Eh… kirain mau tour de beach ke Gunung Kidul, Dad!" Aku terkejut, jauh dari dugaanku ternyata.

"Baron? Kukup? Krakal? Siung? Kita kan udah pernah ke sana Al," sahut Dad. Walaupun Kakek sudah tidak ada, kami memang selalu berkumpul di Yogya pada saat hari raya. Dan selanjutnya menghabiskan waktu liburan dengan berwisata keliling Yogya.

"Hemm iya sih…." Aku mengangguk sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.

***

Malam makin larut sehingga masing-masing memilih untuk pergi beristirahat di kamar. Aku sendirian menonton film horor di televisi. Kopiku habis dan aku enggan membuatnya, Tiara asisten pembuat kopi sedang tertawa cekikikan bersama Nabila. Kebetulan kamar Nabila bersebelahan dengan ruangan ini sehingga samar-samar aku masih mendengar acara gosip mereka. Aku yakin mereka bicara cukup keras saat ini.

Demi menyambung mulut yang mulai kecut, aku terpaksa berdiri dan membuat kopi sendiri. Mengambil setoples biskuit sebagai teman. Ketika aku kembali ke depan televisi, Tiara sedikit membuka pintu dan menegurku.

"Kak, suara televisinya kecilin dikit dong! Serem suaranya, horor nih jadinya suasananya. Aku sama Nabila udah mau tidur," protesnya cerewet.

Aku tidak menjawab, hanya mengambil remote dan memencet tombol untuk mengurangi volumenya yang memang cukup keras. Tadi kan untuk mengimbangi suara mereka juga.

Suasana sedikit sepi setelah lewat tengah malam, hanya ada suara televisi dan aku yang sedang menyeruput kopi. Suara lain seperti desis entah apa sesekali terdengar. Aku tidak menghiraukan karena masih asyik mengikuti film yang hampir selesai. Mungkin itu suara penyejuk udara atau sesuatu dari dapur.

Akhirnya acara selesai, aku mematikan televisi dan meletakkan gelas bekas kopi di dapur. Aku berjingkat kaget, bahkan hampir melompat karena tiba-tiba ada suara nafas berhembus dekat dengan telingaku dan desis aneh yang sangat keras lewat disampingku. Aku tidak tahan untuk tidak memaki kasar, "Cuu*kk…."

Aku segera naik ke kamar dengan rasa deg-degan yang masih tertinggal. Tidak mungkin rumah ini jadi berhantu. Kalaupun iya, Om Aji pasti sudah bercerita dan aku pasti tidak akan melewatkan informasi tersebut. Tapi desisan dan suara nafas tadi itu apa?

Jendela dan pintu kamar aku biarkan terbuka dan aku tidak tidur, duduk di pintu memandang keluar kamar menunggu sesuatu. Mungkin suara-suara itu akan lebih jelas berasal dari mana jika aku mendengarnya dalam kondisi penuh kesadaran.

Sialnya mereka tidak muncul sama sekali selama 1 jam lebih. Aku yang frustasi akhirnya merebahkan diri dan tertidur. Suara orang berjalan mondar-mandir di depan kamar begitu mengganggu, ditambah suara nafas besar dan desisan mengurangi nyenyak tidurku. Aku enggan membuka mata meskipun telingaku tergelitik berontak karena suara-suara aneh itu. Mengapa mereka baru muncul saat aku sedang tidak ingin diganggu?

Aku mengabaikan semua suara itu dan fokus untuk tidur lebih dalam. Kakung menyambutku di dalam ruangan seperti pendopo dengan senyum hangatnya. Mempersilakan aku duduk di depannya, kami dibatasi meja kayu kecil dengan model yang ketinggalan jaman.

"Ini namanya keris Kebo Dengen atau Mahesa Dengen, luknya ada 13. Keris ini milik kakek buyutmu. Diwariskan secara turun temurun di keluarga kita. Keris ini dulu kekuatannya untuk menjaga tanah pertanian buyutmu di Jombang, biar tidak ada yang nakal membuat tanaman jadi gagal panen. Suara nafas besar yang kamu dengar itu berasal dari sini, Cah bagus," Kakung menunjukkan betapa bagus dan elegannya keris dengan warangka kayu jati berukir itu. Membiarkan aku menyentuh dan mengamati.

"Kalau ini namanya tombak sepuh Pandowo, Cah bagus. Luknya hanya 5. Ini juga warisan leluhur, Kakung simpan karena tidak boleh dijual. Dulu ini dipakai leluhurmu untuk menjaga diri. Isinya naga, suara desis yang kamu dengar tadi dari pusaka ini. Sejatinya mereka yang mengeluarkan bunyi hanya ingin berkenalan denganmu."

Kakung menyerahkan tombak berwarna hitam pekat itu, ukiran sisik naga dan kepalanya yang menghadap ke bawah menghipnotisku. Aku menyentuh ujungnya dan tersengat, ada energi yang masuk ke dalam tubuhku, membuatku terbangun dan langsung duduk di tengah ranjang dengan keringat dingin membasahi dahi.

***

Terpopuler

Comments

Land19

Land19

apakah ia yg akan menjadi penerus untuk meneruskan benda pusaka itu

2025-02-02

1

Rika Iftakul

Rika Iftakul

alhamdulilah syukur dad mu kaya aL....tapi mom mu juga bnyak uang kok pas jual pusaka AL 🤭🤭

2025-02-05

0

Oneng Satrio

Oneng Satrio

kata om mandra... "sombong amat... " 😁😁😁

2024-12-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!