Pendakian tidak bisa dilanjutkan sesuai rencana. Pertama, semua teamku baru sadar ketika matahari terbit. Kedua, tamu kami justru sedang tidur dengan nyenyaknya saat pagi tiba setelah aktivitas panas mereka. Akupun akhirnya ikut tidur karena lelah berjaga.
Faisal kesal dan terus mengomel karena pendakian dimulai lagi hampir pukul 3 sore. Terlalu malam saat nanti kembali dari puncak. Sebagai korlap dia bertanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan tidak membahayakan tamu dan rekannya.
Seperti kemarin sore, perjalanan lambat karena Lucia harus mengambil jeda untuk menarik nafas. Diapun kembali menyimpan suaranya dan berjalan tanpa tenaga. Kami hanya diam mengamati tingkahnya.
Setelah menyusuri padang rumput bermandikan cahaya matahari sore akhirnya kami sampai di puncak Lawu. Baru kali ini aku dan team merasakan magriban di puncak gunung. Menyenangkan melihat matahari yang sangat indah terbenam dari atas sini, mengagumi karya sang pencipta seutuhnya.
Angin berhembus kencang di puncak Hargo Dumilah, matahari telah beristirahat ke peraduan. Dan gelap merambati padang rumput.
Faisal mendekati Lucia yang sedang berdiri tegak memandang jauh alam sekitarnya. Ajakan turunnya ditolak mentah-mentah oleh perempuan aneh itu.
"Kita akan membeku di sini, Lucia. Aku yang bertanggung jawab dalam pendakian ini, kita akan istirahat di bawah pos 4, kami tidak mau mati konyol jika ada badai."
Faisal menyuruh Ferdi supirnya untuk membujuk Lucia yang kelihatannya juga tidak berhasil.
"Bang, tolong bantu bicara sama tuh cewek dong!" Faisal menghampiriku dengan wajah putus asa.
Aku menghampiri Lucia yang masih saja memandang ke satu arah. "Apa sebenarnya yang kamu cari di sini, Lucia?"
Dia hanya mengedikkan bahu tidak menjawab, tapi wajahnya mengisyaratkan kekecewaan dan kesedihan. Aku berkata lirih di dekatnya, "Kita harus turun sekarang Lucia, demi keselamatan semua."
Tanpa aku duga dia mengangguk dan menuruni padang rumput dengan berlari. Meskipun malam tidak terlalu gelap tapi sangat berbahaya jika tergelincir. Aku seketika mengejarnya dan berteriak memanggilnya. Supirnya kalang kabut, hanya bisa berjalan cepat dengan teamku yang tertinggal di belakang.
Aku meraih tangannya dan memegangnya erat, memaksanya berhenti menunggu yang lain. Nafasku hampir putus karena berlari mengejarnya.
"Kamu lelah mengejarku, Al?" Dengan santai dan rasa tidak bersalah dia menertawakan kepanikanku.
Breng*sek, nggak perlu ditanya lagi. Kalau saja bukan wanita mungkin sudah aku tempeleng kepalanya biar sadar kalau kelakuannya itu gila dan berbahaya.
"Tunggu yang lain Lucia, begitu aturannya!"
Ketika akhirnya semua sudah bergabung kami turun bersama, aku tidak membiarkan Lucia berjalan sendiri. Aku memegang tangannya agar dia menyamakan kecepatan dengan langkah kami, dengan begini semua aman dan terkendali sampai pos 3.
"Mau langsung turun apa istirahat di sini?" tanya Faisal.
Melihat Lucia penuh energi di waktu malam aku berpikir lebih baik turun, toh baru mau jam 10 malam. "Turun aja, Sal. Kita buka tenda di pos 2, jadi perjalanan besok lebih ringan." Ideku langsung disetujui yang lain.
Semua orang terlihat lelah begitu sampai pos 2, lebih banyak diam ketika menyiapkan makan dan tenda. Hanya ada suara Lucia yang terdengar melantunkan lagu 'My heart will go on' dari depan tendanya. Hiburan tengah malam yang menegakkan bulu roma.
"Bang minta ganti lagu 'No woman no cry' dong!" Bisik Miko usil padaku karena aku akan mengantarkan sereal panas dan biskuit untuk Lucia.
Aku menemani Lucia karena supirnya langsung meringkuk di dalam tenda. Aku menyapanya, dia terlihat sedih dan kecewa. "Punya kenangan manis dengan lagu itu?"
Dia hanya diam menatapku, matanya berkilat merah. "Kamu akan menemaniku sampai pagi?"
"Baiklah, kita akan ngopi sambil bercerita apa saja sampai pagi."
"Aku tidak tertarik, aku butuh teman-temanmu untuk menghibur kesedihanku malam ini." Katanya sembari menyeringai.
"Jangan ganggu teman-temanku Lucia!"
"Jadi kamu sendiri yang akan menghiburku, Sayang? Lihatlah begitu mudahnya aku membuat semua orang tertidur. Dan Miko akan tidur bersama Ferdi." Dia terkikik melihatku yang sedang kesal.
Begitu Lucia selesai berbicara seperti itu, Faisal dan Seto menguap dan masuk tenda. Sedangkan Miko membawa sleeping bagnya ke tenda Ferdi dan menutupnya. Tinggal aku bersama Lucia di luar tenda duduk beralas matras. Aku menelan ludah kasar, aku berharap kali ini mantra sirepnya bekerja padaku juga.
"Bisakah kita menghabiskan makanan ini dulu? Aku lapar," jawabku mengulur waktu.
"Pintar. Jangan berani menipuku dengan cara mengulur waktu, Al!" Huh, tertawanya membuat orang bergidik. Dia pergi ke tenda yang seharusnya aku tempati bersama Miko dan menungguku di sana. "Lima menit, Sayang!"
Lucia dikendalikan oleh kekuatan lain yang menempati tubuhnya di waktu malam. Mataku melihat sosok wanita misterius dalam dirinya. Aku harus mengeluarkan wanita penuh birahi itu dari tubuhnya.
Aku mengingat pelajaran malamku dan berusaha fokus membuka semua indera, membuka aliran tenaga dan mempersiapkan senjata. Setelah itu aku baru masuk ke dalam tenda dengan waspada.
Fokusku goyah melihat Lucia yang hanya mengenakan pakaian dalamnya, aku melihat ke arah lain dengan nafas tertahan. Benar-benar sialan ini perempuan. Tidak perlu dihipnotispun pria normal pasti akan menubruknya.
Dia menarikku paksa sehingga aku jatuh terduduk di depannya, mendorongku untuk tidur telentang dan dengan jalangnya dia sudah duduk di atas perutku. Mendekatkan wajah dan langsung mencium dengan nafsu yang berkobar.
Aku memejamkan mata berkonsentrasi pada Lucia yang sebenarnya, aku melihatnya di sana berurai air mata. Aku akan menjemputnya agar dia kembali menempati tubuhnya.
Dengan sekuat tenaga aku membalik posisi agar tubuh Lucia berada di bawahku. Memegang kedua tangannya di samping kepala dan menjepit tubuhnya agar tidak banyak bergerak. Wow, posisi yang sangat pas untuk membuatnya mendesah. Aku segera menghentikan pikiran mesumku dan menekan dahiku pada dahinya.
"Aku akan memasukimu sekarang Lucia," ucapku bergetar. Aku akan masuk ke dalam tubuhnya, tapi aku butuh ijin agar dia tidak menolakku. Permohonan yang menurutku ambigu. Dan wanita mesum yang menguasai tubuhnya pasti akan salah paham. Dan memang itu yang aku rencanakan.
"Segeralah, Sayang. Aku sudah tidak tahan," jawabnya sembari memejamkan mata.
Aku menghantamkan dahiku keras sehingga Lucia pingsan seketika. Tidak menunggu lama aku membuka gerbang tubuhnya dan masuk ke sana. Bukannya Lucia, yang kutemui justru seorang perempuan cantik lainnya dengan baju ala pendekar wanita bersenjatakan keris berwarna kuning dengan 7 Luk yang indah yang menyambutku.
"Kau menipuku anak muda!"
"Mana Lucia?" tanyaku dingin pada wanita itu. Mengancamnya dengan mengarahkan tombak sepuhku tepat di depan wajahnya.
"Aku akan memberikan Lucia sepenuhnya jika kau mampu mengalahkanku, itu pilihan pertama. Pilihan kedua, temukan suamiku! Damar Jati." Sahutnya dengan melintangkan keris di depan dadanya.
"Jadi tujuanmu kesini untuk mencari Damar? Apa dia pendaki yang hilang di gunung?"
"Tidak, tapi kami pernah berjanji jika kami terpisah, kami akan bertemu di salah satu gunung yang akan akan kami daki."
"Sejak kapan kalian terpisah?"
"Satu bulan yang lalu"
"Dan kenapa kamu ada pada tubuh Lucia?"
"Karena dia perempuan pertama yang menemuiku."
"Kenapa kamu memanfaatkan tubuhnya untuk kepentingan birahimu?"
"Itu kutukanku, bahwa aku tidak boleh terpisah dari suamiku. Karena bukan hanya aku yang menebar maksiat, suamiku juga menebar benih dan angkara jika jauh dariku."
Tanpa basa-basi lagi aku menyabetkan tombak sepuhku yang dengan sigap ditangkis dengan kerisnya. Energi besar membentur ujung tombak yang langsung mengalir deras ke tubuhku. Seketika tangan kananku kebas, sehingga dengan sigap aku memindahkan tombak ke tangan kiri dan memberikan tusukan lanjutan yang mengejutkannya.
Perempuan itu menangkap ujung tombak dengan tangannya, pilihan yang salah karena aku mengalirkan energi yang besar ke ujung pusaka saat itu juga. Dia terdorong mundur beberapa langkah dan dengan licik menghilangkan dirinya, keluar dari tubuh Lucia.
"Jika kau menghabisiku, artinya kau juga harus menghabisi suamiku anak muda!" Teriakannya terdengar menjauh dariku.
Ketika Lucia kembali sadar di pagi hari, dia menampar dan memakiku dengan sumpah serapahnya karena mendapati aku yang tidur satu tenda dengannya. Walaupun dia hanya mengenakan pakaian dalam tapi aku membungkus rapat tubuhnya dengan kantung tidur dan sama sekali tidak menyentuhnya.
"Tau akan begini jadinya mending aku perkosa saja kamu malam tadi, Lucia!" Aku menggerutu padanya, tersinggung dengan ucapannya. Dan aku masih kesal dengannya sampai kami tiba di Surabaya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Land19
ouuh jadi begitu ,
kenapa lucia punya tingkah laku yg seperti itu.
2025-02-02
0
Ali B.U
next.
2024-06-05
2
Abisena
konsepnya gmn itu
2023-06-15
0