Dingin dan sedikit basah, tapi pandangan mata masih luas karena kabut turun tidak terlalu tebal. Kopi yang mulanya panas berasap sekarang sudah hangat dengan cepat karena perbedaan suhu udara yang besar dengan sekitarnya.
Kami menunggu Faisal yang sedang melapor di pos pendakian bahwa kami akan naik sore ini juga. Masih jam 4 sore, dan kami akan membuka tenda untuk beristirahat di pos 3 atau jika mungkin naik sedikit agar perjalanan menuju puncak tidak terlalu siang esok harinya.
Tamu kami yang ternyata bernama Lucia dan Ferdi itu bukan pasangan suami istri. Itu majikan dan supirnya. Dan sejak berangkat aku sama sekali belum mendengar suaranya berbicara. Padahal aku berharap dia memakiku, karena aku lihat dia masih marah padaku. Perempuan itu adalah orang yang aku tabrak di Bandara Adi Sucipto dua Minggu lalu ketika aku hendak menjemput Mom dan Dad.
Entah ada angin apa dia hendak naik ke gunung Lawu hari ini, dan beberapa gunung di minggu-minggu berikutnya. Apa yang dicarinya di gunung?
Aku ingin sekali bertanya, tapi ada sesuatu yang sepertinya membuatku enggan mendekatinya. Mungkin karena keangkuhannya atau mungkin karena ada tabir yang melingkupinya. Dua Minggu lalu ketika aku menabraknya aku belum bisa merasakan hal aneh ini, tapi sekarang itu begitu kentara. Benar jika Aryo mencurigainya, sialnya dia melibatkanku sekarang.
Selama hampir 30 menit kami ngopi menunggu Faisal, Lucia hanya satu kali melihatku. Itupun hanya sekilas, caranya memandang masih sama seperti ketika kami bertemu di Bandara, seperti sampah yang mengganggu pemandangan di sekitarnya.
"Bang, tamunya sombong banget ya? Padahal kita mau naik bareng, tapi nggak ada basa basinya dikit aja sama kita." Miko melirik tamu kami dan berbisik padaku.
"Mereka bukan orang yang dididik seperti kita, ala Mapala." Aku terkekeh dengan melihat wajah kesal Miko.
"Biar cantik kalau begitu mah cowok juga males, Bang!"
"Anggep aja kita ini bukan kasta yang harus diramahin sama dia. Mungkin dia ramah pada kalangannya. Kamu tau burung kan? Biar sama-sama jenis burung tapi burung merak nggak berteman dengan burung hantu, Mik!" Ujarku sarkastik yang diikuti ledakan tawa dari Seto.
"Jadi kita ini si Owl yang malang ya Bang?" Sahut Seto masih cekikikan.
Aku meringis dan mengangguk sopan pada supirnya yang mungkin berumur 30 tahunan. Dia melihat kami yang sedang tertawa dengan raut wajah tidak senang. Mungkin merasa ditertawakan.
Miko memberi komando pada kami untuk segera bersiap karena Faisal sudah bergabung lagi. Aku segera menyeruput habis kopiku dan memakai topi untuk menutupi rambut agar tidak lembab terkena kabut. Walaupun nanti juga pasti akan basah oleh keringat.
Hari masih sore ketika kami mulai naik ke pos 1. Faisal dan Seto membuka jalan di depan, diikuti dengan tamu kami. Sedangkan aku dan Miko berjalan beberapa langkah di belakang mereka sebagai sweeper.
"Bang, tu cewek bisa ngomong nggak sih? Atau memang bisu?" tanya Miko usil.
"Coba kamu tanya sama supirnya kalau segitu penasarannya." Ledekku membalas keusilannya.
Tidak seperti kami yang saling mengobrol sepanjang perjalanan agar tidak bosan, tamu kami tetap diam tanpa suara sedikitpun. Kadang supirnya yang meminta kami untuk istirahat sebentar sekedar mengambil nafas atau pada saat Lucia haus dan ingin minum.
Istirahat cukup lama di pos 1 karena waktu magrib tiba. Seto membuka matras untuk bergantian salat magrib bagi kami yang muslim. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan ke pos 2.
Berbeda dengan perjalanan ke pos 1 tadi sore, perjalanan ini sangat berat dan melelahkan. Bagaimana tidak, Lucia yang sore tadi berjalan lambat sekarang jadi sangat cepat dan terburu-buru. Bahkan dia tidak perlu jeda untuk istirahat bernafas atau minum sesuatu. Staminanya jadi berlipat ganda. Dia benar-benar tidak memperhatikan kondisi kami yang hampir kehabisan nafas mengejarnya. Aku lihat supirnya sudah pucat dan kehabisan tenaga.
"Ok semua istirahat di sini dulu, kita akan mengisi tenaga. Makan, ngopi dan bersantai sebentar sebelum lanjut ke pos 3," Aku memberi komando menggantikan Faisal yang sedang mengatur nafas. Miko dan Seto membuka satu tenda dome untuk tamu agar mereka bisa beristirahat sembari menunggu kami membuat makanan. Lucia melihatku tajam sebelum akhirnya masuk ke dalam tenda.
Miko menyikut tanganku dan melirik ke tenda yang tertutup, "Abang berasa ada sesuatu yang aneh nggak sih?"
"Sesuatu apa seseorang, Mik?" tanya Seto pelan.
Aku memberikan tanda pada mereka untuk diam dan tidak membahasnya sekarang. Tentu saja aku ingin menjawab banyak yang aneh tentang Lucia. Selain tenaganya yang mendadak jadi banyak di waktu malam, pandangan matanya padaku tidak lagi sama dengan sore tadi.
Dia menjelma menjadi orang yang berbeda di waktu malam. Beberapa kali berbicara agar kami berjalan lebih cepat. Dia juga mengamatiku dan teman-teman seperti sedang menimbang sesuatu dengan ragu. Tidak segan menarik tangan supirnya agar bisa sejajar dengan langkahnya. Dan itu semua tidak terjadi pada sore hari tadi.
Faisal bertepuk dua kali minta diperhatikan, "ayo bersiap, kita akan kedinginan di sini jika tidak segera berangkat. Kita akan tidur di pos 3 dan lanjut ke puncak besok setelah subuh."
Udara memang semakin dingin, angin juga berhembus kencang seperti akan turun hujan. Semua melangkahkan kaki dalam diam. Hanya sesekali terdengar nafas besar mereka untuk mengimbangi jantung yang berdetak cepat karena harus berjalan tergesa-gesa.
"Stop dulu, Bang!" Teriak Faisal, suaranya seperti orang tercekik. Dia langsung mengambil posisi istirahat dan meneguk air untuk membasahi kerongkongannya.
"Mau aku bantu bawa tasnya, Bang?"
Kami semua melihat ke satu arah, terkejut dan membelalakkan mata. Itu suara Lucia yang sedang menawarkan bantuan pada Faisal. Suaranya sedikit menggoda dan terkesan genit di telingaku. Alih-alih menawarkan bantuan, suaranya itu lebih seperti sebuah 'undangan'. Apa Lucia tertarik pada Faisal? Hal itu membuatku menelan ludah kasar.
Perjalanan kami lanjutkan dalam diam. Hanya Lucia yang terlihat riang dan bersenandung ketika berjalan. Kami? Jangankan bersenandung, bisa bernafas lancar saja sudah untung.
"Kita istirahat di sini, buat tenda untuk istirahat sampai besok," suara Faisal memberi perintah. Aku dan Miko mendirikan 3 tenda dome sedangkan Faisal dan Seto mengatur tempat untuk sekedar membuat kopi dan sereal. Kami tidak menyalakan api, penerangan di dalam dan di luar tenda menggunakan camping lamp.
Aku sedang menata matras dan sleeping bag di tenda dome tamu ketika Lucia tiba-tiba masuk tenda dan menutupnya.
"Aku kedinginan, Al," katanya dengan sangat manja sembari menyentuh lenganku dan melihatku dengan penuh pengharapan. Walaupun tidak ada kulit yang bersentuhan karena tertutup jaket, tapi aku sangat merinding dibuatnya. Bukan merinding karena gairah, tapi merinding karena sesuatu yang terasa mistis pada dirinya. Aroma parfum melatinya itu terasa aneh di hidung.
"Aku akan meminta Seto membuat sereal, pakailah ini!" Aku menunjuk sleeping bag dan segera akan keluar tenda.
"Al…." Lucia menarik lenganku dari belakang. Suaranya sangat gemulai dan menggetarkan jiwa. Aku hampir mabuk dibuatnya.
"Aku akan mengantarkan serealnya segera," aku melirik matanya yang berkilat menatapku. Aku membuka tenda dan meninggalkannya. Entah mengapa aku merasa lega.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Rika Iftakul
wah apa lucia itu mbak kunti lagi...soalnya habis magrib staminanya jadi cepat padahal pas sore lambat
2025-02-06
0
Bunda Silvia
firasatku ternyata benar cewek yg di tbrak al di bandara
2024-07-06
1
Ali B.U
,next
2024-06-05
1