Aku mencari berkeliling 3 tenda sembari memanggil nama Denis dan Lucia. Marahku harus ku lampiaskan pada siapa aku juga tidak tau. Bagaimana mungkin 4 pria kalah dengan 1 orang wanita?
Riuh suara terdengar tidak jauh setelah aku menajamkan seluruh inderaku. Banyak orang menawarkan barang dan terdengar transaksi jual beli, sepertinya aku dekat dengan sebuah pasar. Bukan pasar sembarangan, ini pasarnya makhluk halus. Pada pendakian sebelumnya aku tidak menemukan hal ganjil ini.
Akhirnya aku mendatangi pasar itu, celingukan mencari Denis, firasatku mengatakan dia tersesat di sini. Seorang ibu tua dengan mata yang lebih lebar dari pada umumnya menawariku untuk membeli dagangannya yaitu jajan pasar. Aku merogoh kantung jaket untuk mencari koin kuno yang kutemukan di kolam ikan rumah dan memberikan padanya. Seperti ada sebuah bisikan yang mengatakan jika ditawari dagangan maka beli dan bayarlah dengan sesuatu. Mungkin itu pemberitahuan dari Sang Danyang. Ibu tua itu tersenyum aneh dan memberikan satu kantung isi jajanan untukku.
"Rencange sampeyan teng mriko, Den bagus." Tunjuknya mengarah ke bangunan kecil di ujung pasar. Bagaimana ibu tua ini tau kalau aku sedang mencari temanku? Aku berterima kasih dan berjalan sesuai arahannya.
"Denis," panggilku pelan sembari menepuk bahunya.
Dia menatapku dengan wajah bodoh dan linglung. Aku mengusap wajahnya dan kembali memanggil namanya. "Denis?"
"Bang Al? Kok Abang tau saya di sini? Lucia di sana!" Dia sadar sepenuhnya dan mengajakku ke tempat Lucia berada.
Lucia sedang sibuk melihat setiap sudut pasar ini untuk mencari sesuatu. Mungkin mencari Damar Jati, suaminya. Dia ditemani makhluk hitam berbadan besar dan perempuan yang selalu menundukkan wajahnya itu. Aku menarik lengan Lucia dan Denis lalu memaksa mereka untuk pergi dari pasar itu.
Sesampai di tenda aku mendorong Lucia, setengah mencekiknya. "Jangan macam-macam denganku, Lucia! Dan jangan biarkan Asih Jati selalu berkuasa atas tubuhmu!"
Matanya berkilat merah, Asih keluar dari tubuhnya seketika. Lucia hanya menatapku kosong ketika aku meninggalkannya.
"Jaga Lucia, Denis! Bangunkan yang lain!"
Aku berlari keluar tenda menuju batu besar tempat Asih Jati menghilangkan dirinya. Aku duduk bersila mengatur nafas dan konsentrasiku, mohon izin kepada Sang Danyang gunung untuk memasuki wilayah kekuasaannya.
Asih termangu di alam lain tapi di bagian gunung ini. Berdiri membelakangiku dengan kepala sedikit mendongak. Keris kuning di tangan kanannya memijar seperti bara api.
"Aku tidak ingin ditangkap tanpa suamiku, anak muda!" Ujarnya ketus.
"Kau menebar angkara dengan memanfaatkan tubuh manusia!" Aku mengangkat tombak sepuh Pandowo dan memutarnya di udara. Warnanya yang hitam angker membuatnya tersembunyi dibalik gelapnya malam. Aku kembali menangkapnya dengan mudah dan bersiap menyerang.
Aku berlari ke arah Asih Jati dengan tombak hitamku yang menderu-deru seperti suara gasing. Bukan Asih yang menyambutku tapi makhluk hitam besar itu menghadang di depanku dengan kukunya yang panjang sebagai senjatanya.
Dia menyabetkan kukunya yang panjang dan runcing dengan sangat cepat. Seperti diserang dengan 10 belati sekaligus membuatku kewalahan. Kecepatannya berpindah tempat dengan langkah lebar membuatnya mudah membentang jarak serangan dan menghindar dari tombakku.
Aku kembali memutar tombak ketika cakar kanannya menyerang lagi sehingga benturan dahsyat sulit dihindari. Tanganku bergetar dan hampir saja tombakku lepas, tapi kuku hitamnya yang beradu dengan mata tombak semua hancur jadi abu hingga ke ujung jarinya.
Makhluk itu mendongak dan melolong panjang dengan mata yang makin merah menatap kuku tangan kanannya yang habis terbakar. Dia menyeringai dan berkelebat menerkam, menyerang membabi buta dengan sisa tangannya. Aku berhasil menusuk dadanya, tapi di saat yang sama kukunya juga merobek lengan kananku. Aku meringis menahan ngilu. Namun keberuntungan masih berpihak padaku, sebelum kukunya menancap lebih dalam dia sudah berubah jadi abu.
Belum lagi aku istirahat tiba-tiba banyak rambut melilit lenganku, memaksa agar aku melepaskan senjataku. Tentu saja aku tidak akan membiarkannya, dengan sekuat tenaga aku menarik rambutnya dengan tangan kiriku sampai dia lebih dekat padaku. Kakiku menendang perutnya sehingga dia berusaha melepaskan rambutnya dari lenganku. Seketika aku menariknya lagi, menangkap dan membantingnya. Ketika tombak angker itu melesak kedalam kepalanya seketika itu juga tubuhnya hilang tertiup angin sehingga tombakku menancap di tanah.
Getaran seperti lindu langsung mengguncang di sekitarku. Aku lupa kalau tombak leluhurku ini adalah pusaka bumi. Mata tombaknya akan mengguncang tanah jika aku menancapkannya.
Melihat dua makhluk yang melindunginya jadi abu, Asih Jati meraung keras sehingga pijaran kuning pada kerisnya makin terang bercahaya. Panasnya bahkan terasa sampai di tempat aku berdiri. Tidak tau akan jadi apa jika benda panas itu menyentuh kulitku. Memikirkannya saja membuat nyaliku menciut.
Aku memutar tombak menciptakan angin besar untuk menghalau panas yang keluar dari keris itu. Aku lebih beruntung karena tombak ini senjata yang panjang, tidak harus melakukan pertarungan dengan jarak yang cukup dekat. Meskipun kadang terdesak aku masih bisa menghindar. Sedikit melepuh di bahu karena sabetan keris yang meleset saja panasnya seperti disundut bara. Apalagi jika sampai menusuk perut, mungkin aku akan langsung matang seperti kambing guling.
Asih Jati kembali mengangkat tinggi kerisnya, menyiapkan diri untuk serangan berikutnya. Aku harus bersiasat karena aku tidak mungkin membunuhnya demi menemukan suaminya. Penebar angkara di tempat lain yang aku belum tau lokasinya.
Tapi melumpuhkannya bukan perkara mudah. Apalagi sekarang dia sangat marah padaku.
"Kau cantik sekali jika sedang marah, Asih Jati!"
"Rayuanmu tidak akan berpengaruh apa-apa padaku, anak muda!" Jawabnya ketus.
"Ehm… setauku kau yang penggoda, apa kau lupa kalau kau pernah mengajakku bercinta?" Aku terkekeh sembari memasang kuda-kuda. Mengarahkan tombak padanya dengan waspada.
Aku maju menyerang duluan, tangkisannya mengirimkan rasa panas pada tombak yang segera menjalar ke tubuhku. Berkali-kali tanganku bergetar hampir melepaskan tombakku. Hingga satu kesempatan aku bisa menendang siku tangannya sehingga kerisnya jatuh ke tanah. Aku melompat dan dengan sigap menodongkan mata tombakku yang menempel ketat di batang tenggorokannya.
Aku menjauhkannya dari senjatanya sehingga dalam lompatan lain aku sudah memegang keris kuningnya dengan tangan kiri. Meski rasanya panas dan terbakar aku berusaha menahannya, mengatur energinya agar berpindah ke tubuhku secara perlahan sehingga aku bisa menguasainya kemudian.
"Bukankah kau sudah kalah, Asih Jati?" Dengan dua pusaka di tangan aku menantangnya kembali bertarung. Aku melempar tombak ke atas dan membuatnya kembali memutar seperti gasing.
Dengan nekat Asih jati menyerang dengan tangan kosong. Hawa panas yang tertiup deru angin dari tombak membuatnya sama sekali tidak bisa mendekatiku. Hal itu membuatnya frustasi dan semakin marah. Aku hanya menyeringai bengis padanya. Aku akan membuatnya lelah dan menyerah padaku.
"Ayolah Asih, mana kesaktianmu?" Aku fokus menyerang dengan senjatanya membuatnya menghindar mati-matian. Tentu saja dia tidak ingin terbakar pusakanya sendiri.
Nafasnya mulai tidak teratur dan wajahnya terlihat putus asa. Aku kembali mempermainkannya dengan sabetan-sabetan panas dari kerisnya. Kakung benar tentang kesaktian keris penganten ini, aku merasakan energinya sangat besar. Aku tidak membayangkan jika keris ini bertemu pasangannya, tanpa tanding bukanlah hal bohong yang disematkan dalam cerita yang katanya hanya mitos itu.
Keris kuning dengan pijar membara itu hampir menebas batang lehernya. Asih mundur dan jatuh dengan lutut sebagai penyangga tubuhnya. Nafasnya megap-megap dan dengan lemah dia berkata, "aku mengaku kalah, anak muda."
"Lalu apa?" Tanyaku kemudian sambil menodongkan tombak hitamku di depan dadanya.
"Aku akan membebaskan gadis itu, Lucia milikmu!"
"Bukan kau yang membuat pengaturannya Asih! Kau kalah, kau tak punya suara di sini."
"Jadi apa maumu anak muda?"
"Kau yang akan jadi milikku!"
"Apa maksudmu?" Dia bertanya dengan nada tidak menyenangkan.
"Aku akan mengembalikanmu ke dalam pusaka dan aku yang akan menyimpan benda itu."
"Aku tetap akan keluar tanpa kau sadari."
"Aku akan menyegelmu di dalam pusaka itu agar kau tidak jadi wanita penggoda. Bertapalah sampai bertemu lagi dengan suamimu!"
"Aku tidak mau." Ujarnya keras kepala.
"Kalau begitu aku tidak ada pilihan lain selain menghabisimu dan suamimu." Bentakku lebih mendekatkan tombakku hingga hampir menyentuh kulitnya. "Jadi apa keputusanmu?"
"Bagaimana dengan suamiku jika aku mengikutimu?"
"Aku akan membantumu menemukannya!" Aku menatapnya tajam, menatap mata yang penuh kerinduan, kesedihan dan harapan.
"Sendiko dawuh Den bagus." Katanya sembari merapatkan kedua tangannya, menunduk dan menghilang.
Aku menyimpan kedua pusaka itu dan kembali pada tubuhku yang rasanya seperti hancur. Mengelap darah di sudut bibir dan berjalan gontai kembali ke tenda. Waktu hampir pagi dan semua orang masih terjaga karena menungguku kembali.
"Kalian baik-baik saja?" Tanyaku lesu. Dadaku bergemuruh dan panas.
"Iya Bang." Jawab Faisal dan Miko bersamaan. "Abang gimana?"
"Sebentar lagi pagi, kalian saja yang mengantar Lucia ke puncak. Aku mau tidur, bangunkan aku begitu kalian turun." Aku mengambil sleeping bag dan memejamkan mata.
"Aku tidak ingin ke puncak Al, aku juga ngantuk." Kata Lucia, aku merasakan ada yang tidur di sebelahku. Itu Lucia, tercium dari parfum melatinya.
Dan selanjutnya aku sudah jauh dari alam nyata, terlelap dalam mimpi lainnya, berkelana bersama Sang Danyang penunggu gunung.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Land19
al pemecah misteri
walaupun emaknya masih khawatir sama al
moga kedepannya baik² ya al
2025-02-02
0
Yulay Yuli
Al tidur dialam nyata, dialam ruh dia ngayap 😁
2025-01-20
0
Ali B.U
next
2024-08-01
1