ch 16

Miko membangunku pukul 07.30 dan mengajak turun karena tidak ada yang berminat ke puncak. Benar dugaanku, Lucia yang meringkuk di sebelahku. Wajah cantiknya pucat kemerahan. Aku membangunkannya agar bersiap-siap.

Udara sangat dingin dan kabut yang menyelimuti puncak mulai bergerak turun menutupi jalur pendakian. Aku mengikis keinginan untuk menikmati ketinggian 2.900 mdpl kali ini. Mungkin di lain waktu aku akan bertamu lagi.

"Boleh aku berpegangan padamu, Al!" Pinta Lucia setelah kami membongkar tenda dan bersiap turun.

"Tentu saja Lucia, tidak ada yang keberatan kamu menggandengku. Iya kan Mik?" Aku terkekeh geli melihat ekspresi Miko.

"Minta gendong pun aku rela melakukannya untuk Lucia, Bang!" Jawab Miko santai tak lagi malu.

"Aku juga masih sanggup kok Bang kalau cuma ketambahan beban Lucia di pundak," sahut Denis dengan senyum sintingnya. Hanya Faisal yang tidak menggubris kekonyolan teamnya.

"Apaan sih?" Lucia melengos menahan malu. Tidak seperti sebelumnya, keakraban kami mulai tercipta dan kami turun dengan perasaan gembira.

"Bang Al itu pacarnya banyak Lucia, nanti kamu kecewa. Mending sama aku saja!" Sambung Denis masih berusaha menggoda.

Faisal dan Denis di depan sebagai leader, aku dan Lucia di tengah. Sementara Miko dan Pak Supir di belakang sebagai sweeper.

Sebenarnya kepalaku pusing dan juga lelah, tapi aku tidak bisa menolak permintaan Lucia. Setelah Asih Jati keluar tubuhnya dia pasti juga merasakan lelah dan sakit di seluruh badan. Kami turun sedikit lebih lambat dan Lucia terus berpegang padaku.

"Apa kamu sakit Lucia? Wajahmu merah." Tanyaku begitu kami sampai di bawah. Makan dan ngopi di warung sebelum berangkat ke Surabaya.

"Mungkin, pusing dan mual." Jawabnya pelan.

Aku melepas sarung tangan dan menyentuh dahinya. "Badanmu panas. Kamu bawa obat turun panas?"

"Iya bawa, nanti aku minum."

"Minumlah sekarang, dan tidurlah di mobil beberapa jam. Kalau tidak membaik sebaiknya segera ke dokter." Aku mengajak Faisal untuk segera pulang karena Lucia sakit.

"Maukah kamu satu mobil denganku, Al?" Tanya Lucia penuh harap. Kali ini aku tidak mampu lagi menolak keinginan Lucia. Dia memang sedang sakit, mungkin butuh teman untuk membantunya selama perjalanan ke Surabaya.

"Baiklah, ayo berangkat. Minum dulu obatmu, Lucia," kataku kembali mengingatkan. Aku mengajaknya naik ke mobil setelah memastikan obatnya diminum.

"Makanlah ini!" Aku memberikan roti pada Lucia. Matanya terlihat berair, mungkin karena demamnya. Aku merasa bersalah tidak begitu memperhatikan kondisinya, karena aku sendiri dalam keadaan tidak begitu baik.

Dia hanya menggeleng, menolak roti yang aku berikan. "Aku tidak ingin makan, nanti malah muntah. Aku mual sekali, Al."

"Istirahatlah kalau begitu, kamu kelelahan."

Dia akhirnya menyenderkan kepalanya padaku. Aku juga memejamkan mata dan ingin tidur setelah memberikan posisi yang nyaman untuk Lucia dengan sedikit memeluknya.

"Kita ke dokter dulu Lucia! Kamu masih demam," saranku begitu kami tiba di Surabaya.

"Aku istirahat di rumah aja Al, besok pagi kalau masih belum membaik aku akan pergi ke dokter." Aku mengantarkan sampai apartemennya. Waktu memang sudah malam, hampir pukul 10 dan dia pasti ingin segera tidur.

"Baiklah, jangan lupa makan dan minum lagi obat turun panasnya biar bisa istirahat."

"Bisakah kamu menginap di sini menemaniku, Al?"

"Aku tidak bisa Lucia, maaf."

"Kenapa?"

"Mom tidak akan mengizinkan," jawabku dengan cengiran tak berdaya.

"Kamu ternyata anak mama ya Al, aku tidak menyangka." Dia mengatakan dengan pandangan tidak percaya.

"Iya, dan sepertinya akan begitu seterusnya." Sambungku dengan sedikit tertawa.

Bukan berarti aku selalu ada di balik ketiak Mom, tapi aku sangat menghargainya sebagai orang tua. Aku sudah mengabari Mom kalau akan pulang hari ini, jadi aku tidak ingin membuat Mom kecewa karena menginap di tempat Lucia. Alasan yang pasti akan membuat Mom dan Dad murka. Aku sendiri baru tau kalau Lucia tidak tinggal bersama orang tuanya.

"Ohya apa kamu masih perlu mendaki ke gunung lainnya, Lucia?" tanyaku memastikan lagi rencana sebelumnya.

"Nggak perlu Al, aku tau kamu sudah menyelesaikan masalahnya."

"Baiklah, kalau begitu aku pamit. Kamu bisa urus sisa danamu dan membicarakannya dengan Aryo secepatnya."

"Ya, besok pagi aku akan menemuinya."

"Oke, aku pulang ya! Semoga lekas sembuh, Lucia!"

"Boleh aku mengucapkan terima kasih?" tanya Lucia aneh.

Aku hanya mengerutkan dahi tidak paham. Baru kali ini mau berterima kasih saja minta izin.

Lucia mendekat dan menarik jaketku agar menunduk padanya. Oh rupanya terima kasihnya sangat istimewa. Sebuah ciuman lembut di bibir yang membuat pusing kepalaku makin merajalela.

***

Mimpi yang aneh, mungkin bukan mimpi karena aku melihat keris kuning itu secara nyata mujud di depanku saat aku meditasi untuk mengembalikan kondisiku. Karena yoni keris itu ada padaku, Asih Jati membawakan fisiknya untukku. Aku bisa menyentuhnya dan akhirnya menyimpannya dalam lemariku sebelum benar-benar tidur. Tentu saja setelah memasang rangket pusaka terlebih dahulu, aku tidak mengambil resiko dia akan keluar dan merasuki tubuh wanita lain. Terlebih lagi wanita itu Tiara.

Aku bangun pagi dengan kondisi tubuh jauh lebih baik. Untung saja Mom memberikan minuman mujarabnya, meskipun aku protes karena rasanya tapi aku sekarang patut bersyukur dengan hasilnya.

Setelah mandi dan sarapan aku mengurung diri di kamar. Membuka meja gambar dan memasang kertas kalkir di atasnya. Aku harus segera menyelesaikan revisi terakhir gambarku beberapa hari ini agar bisa mendaftar pendadaran alias sidang skripsi. Aku tidak ingin ketinggalan wisuda.

Risa datang ke rumah. Dia memang biasa mengunjungiku dari dulu, kebiasaannya meminjam meja gambar tidak hilang. Padahal dia juga punya meja gambar walaupun ukurannya lebih kecil.

Aku membuka pintu kamar lebar-lebar, sebenarnya aku tidak suka ada orang yang masuk ke ruang pribadiku yang berantakan kecuali Mom. Aku menyesal memindahkan meja gambar ke dalam kamar, aku pikir bisa lebih enak jika di sini. Aku lupa memperhitungkan kedatangan Risa.

"Aku dapat order tambahan dari Sita, aku benar-benar nggak ada waktu mengerjakan skripsiku, Al!" Keluhnya sembari memerhatikanku yang sedang sibuk menggambar.

"Kamu bilang butuh uangnya, kurasa itu cukup jadi alasannya."

"Kenapa kata-katamu selalu benar sih, aku dapat banyak uang tapi mungkin aku baru akan lulus tahun depan."

"Itu hanya kebetulan, tidak ada yang istimewa. Jadi untuk urusan apa kamu berkunjung sepagi ini, Ris? Mejanya aku pakai, dan aku sedang sibuk. Kamu tau artinya kan?"

"Iya aku tau, kamu tidak ingin diganggu kan? Lagu lama itu, Al!"

"Jadi apa lagu barunya?"

"Aku berkunjung untuk urusan kita yang lain. Aku kangen Al, berapa hari coba kita nggak ketemu? Kamu belum lupa kalau aku ini pacarmu kan?"

"Eh…." Busyet ini anak. Kapan aku bilang mau pacaran sama dia? Kedatangannya sekarang mulai merusak konsentrasi menggambarku. "Dengar Risa, jangan membuat asumsi sendiri tentang hubungan kita! Belum ada kata kita, Ris."

"Tapi kenapa Al?"

Aku menghela nafas dan menghembuskannya kasar.

"Karena aku…" kalimatku terputus karena Mom memanggilku. Ada teman lain datang ingin menemuiku.

Wow, banyak sekali tamuku pagi ini. Gagal sudah acara revisi gambarku. Aku mengajak Risa keluar, dia memilih mengobrol dengan Mom sembari nonton televisi di belakang ruang tamu.

"Lucia?" Aku mendapatinya duduk lesu di ruang tamu. Matanya sembab dan masih berkaca-kaca seperti habis menangis. "Dari mana kamu tau rumahku?"

"Aryo yang ngasih tau," katanya tiba-tiba berdiri dan langsung berlari memelukku. Badannya masih panas ketika lengan kami bersentuhan.

"Ada apa Lucia? Kamu sudah ke dokter?" Tanyaku sedikit panik karena Lucia menangis dengan keras. Dia mengangguk ringan menjawab pertanyaanku.

"Aku hamil, Al!" Katanya histeris, terdengar seperti geledek yang menggelegar menyambar telingaku.

***

Terpopuler

Comments

Atiqa Fa

Atiqa Fa

kenapa wanita yg mendekati Al pada nyebelin semua? eh aku sampai lupa nama Al itu siapa

2024-12-01

0

Rika Iftakul

Rika Iftakul

perhatian banget sih al ...ciee

2025-02-09

0

Yulay Yuli

Yulay Yuli

Lucia, ank supir y itu???

2025-01-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!