ch 17

Risa keluar dan pulang tanpa pamit padaku, dia pasti cemburu dan sangat marah mendengar ucapan Lucia barusan. Sedangkan Mom hanya terpaku melihatku. Mereka berdua mungkin sedang bermaksud melihat tamuku yang menangis histeris ketika tidak sengaja mendengar pengakuan Lucia.

Aku salah tingkah dengan situasi ini dan mereka pasti salah paham dengan kondisiku yang sedang berpelukan dengan Lucia. Aku melepaskan diri dari pelukan Lucia dan membimbingnya untuk duduk. Aku juga meminta Mom untuk ikut duduk di suasana yang jadi sangat canggung ini. Aku mengenalkan Lucia pada Mom.

"Apa benar yang Tante dengar barusan nak? Kamu hamil?" Mom bertanya langsung pada Lucia.

Lucia menjawab dengan anggukan putus asa. Mengambil hasil tes laboratorium dari tasnya dan meletakkannya di atas meja.

"Apa Alaric yang bertanggung jawab?" Tanya Mom lagi setelah membaca selembar kertas dari Lucia. Wajah Mom tegang, ketenangannya yang selalu ditunjukkan selama ini terusik oleh berita kehamilan yang baru dibacanya.

Lucia hanya diam tidak berani menjawab. Dia menunduk dalam dan kembali terisak-isak.

"Mom, bukan Al," ujarku berusaha menjawab pertanyaan yang ditujukan untuk Lucia.

"Biar Lucia menjawab dulu, Al!" Sahut Mom tegas.

"Jawablah Lucia!" Aku mulai tidak sabar dengan Lucia yang hanya menangis tidak mau menjawab. Mom juga mulai panik dengan bahasa tubuh Lucia yang 'diam berarti iya'.

"Apa yang sudah kamu lakukan pada Lucia, Al? Apa ini benar?" Mom tidak sabar lagi dan akhirnya bertanya padaku.

"Nggak, Mom. Itu tidak seperti yang Mom pikirkan, Al nggak sejauh itu Mom." Aku kesulitan menjelaskan persoalan sebenarnya. Sebelumnya aku tidak menjelaskan pada Mom kalau Asih Jati yang ada dalam tubuh Lucia itu sangat penggoda.

"Lalu kenapa Lucia mencarimu jika kamu sama sekali tidak pernah melakukannya?"

"Mom, please! Al tidak sampai seperti itu. Al hanya…."

"Kissing?"

"Iya Mom."

"Necking?"

"Iya Mom."

"Petting?"

"Yes, i did." Tegasku jengkel setengah berteriak. Mom menanyai hal yang paling membuatku malu.

Dengan muka merah aku menjelaskan lebih rinci apa yang ingin Mom ketahui. "Just light petting, Mom. Tidak ada fingering apalagi heavy petting. Al sama sekali tidak menyentuh area bawah. Al bahkan belum menyentuh dadanya kalau Mom masih percaya Al."

"Tetap di sini Al!" Perintah Mom karena aku ingin masuk kamar. Aku sulit menahan emosi karena Lucia tetap diam.

"Bicaralah yang sebenarnya pada Mom Lucia! Kamu tidak berniat menjebakku kan? Kita sama-sama tau bahwa kamu hamil bukan karena aku."

"Maafkan aku, Al!" Jawab Lucia lirih. Dan hanya itu kata yang beberapa kali diulanginya. Membuatku makin frustasi tidak tau apa maunya.

"Kita akan bicara pada orang tuamu Lucia, bisakah Tante minta nomor telepon ibumu? Tante yang akan bicara masalah ini."

Setelah beberapa kali membujuk akhirnya Mom mendapatkan nomor telepon orang tua Lucia.

"Jadi, dimana orang tuamu tinggal Lucia?" Tanya Mom lembut, duduk di sebelahnya dan menggenggam tangannya.

"Di Jakarta Tante, bulan depan mungkin semua akan pindah ke Surabaya. Tapi sekarang mereka sedang ada di Yogya, mengurus properti peninggalan eyang."

"Oh bagaimana kalau kita mengunjungi mereka? Tante juga dari Yogya loh. Nanti kamu bisa mampir ke rumah Om nya Al juga," rayu Mom agar Lucia mau diajak bicara dengan orang tuanya.

"Iya bisa Tante," jawabnya dengan nada pasrah.

"Mau berangkat hari ini juga? Kelihatannya kamu sedang tidak sehat."

"Lucia sudah ke dokter tadi, hanya kecapekan kok Tan. Sudah dikasih obat sama vitamin juga," jelas Lucia.

Mom mengangguk memahami kalau wanita hamil muda mungkin mudah lelah. Untung saja tidak terjadi apa-apa pada saat di gunung kemarin. Aku akan jadi orang yang paling bersalah kalau sampai dia kehilangan janinnya.

"Naik apa kita kesana Mom?" Tanyaku tak bersemangat.

"Lucia?" Mom justru menyerahkan keputusan pada Lucia.

"Mobil atau kereta aja, Tan," jawabnya lirih.

"Al siap-siap ya Mom!" Pamitku meninggalkan Lucia dan Mom. Aku ingin sekali bicara pada Dad, sebagai sesama lelaki aku ingin tau bagaimana menyikapi masalah ini, sayangnya Dad keluar kota sampai besok.

Akhirnya aku berangkat hanya bersama Mom untuk bertemu orang tua Lucia.

***

Setelah magriban di rumah Om Aji. Kami berangkat ke rumah eyang Lucia. Om Aji ikut sebagai wakil Dad. Aku bercerita sedikit pada Om tentang inti masalahnya, dan sudah kuduga Om Aji tetap saja santai menanggapinya.

Aku memang lebih banyak diam sejak berangkat dari Surabaya, aku merasa jadi terdakwa. Salah apa aku ini sampai Lucia begitu tega tidak mau bicara yang sebenarnya.

Aku membawa mobil ke arah Condong Catur sesuai petunjuk dari Lucia.

"Tegang amat, Al." Kata Om Aji tertawa. Menepuk bahuku menyemangati.

"Al harus gimana coba, Om?" Tanyaku frustasi. Aku takut dipaksa menikahi Lucia.

"Ini baru mau dibicarakan antar keluarga. Nanti pasti dapat penyelesaian yang baik, kamu tenang aja!" ujar Om Aji.

Aku makin gelisah, apalagi Mom tidak bicara banyak padaku. Aku berharap Mom percaya dengan apa yang sudah aku sampaikan, aku selalu jujur pada Mom, tidak pernah menyembunyikan apapun dari Beliau.

"Ini rumah eyangmu?" Tanya Mom pada Lucia di belakang.

"Iya Tan."

"Kamu apanya Bu Mala? Apanya Candra?"

"Tante kenal sama Papa? Kenal sama Eyang?"

"Iya, kenal."

Mom dan Om Aji bernafas lega, aku rasa mereka mengenal keluarga Lucia. Dengan begitu mungkin akan lebih mudah pembicaraan ini nantinya.

Dan benar saja, begitu bertemu mereka langsung mengobrol akrab seolah tidak ada apa-apa. Tapi aku tidak melihat eyangnya, hanya Papa Mamanya.

Aku berada di teras bersama Lucia, aku membuatnya sangat kikuk padaku karena permintaan maafnya aku abaikan.

"Maafkan aku, Al!" Lucia memulai pembicaraan lagi dengan kata yang sama. Kata yang membuatku makin stress kala mendengarnya.

"Aku butuh alasanmu Lucia, jelaskan kenapa kamu harus melakukan ini padaku?"

"Aku tidak punya pilihan lain, Al." Jawabnya dengan sangat pelan.

"Aku tau waktu di Lawu kamu bersama Ferdi supirmu," ujarku sembari mengacak rambut.

"Iya, aku tidak hanya bersama Ferdi. Tapi ada beberapa lagi yang lain. Ferdi punya anak dan istri, Al. Aku tidak mau merusak rumah tangganya. Bukan dia yang salah melakukannya padaku, tapi karena aku yang tidak sadar menghipnotisnya.

Sedangkan yang lain tidak ada satupun yang aku sukai, aku tidak mungkin menikah dengan salah satu dari mereka. Sama seperti Ferdi, mereka di bawah pengaruhku saat melakukannya denganku." Lucia akhirnya mau memberikan penjelasan padaku alasannya.

"Jadi anak siapa yang ada di kandunganmu itu?" Tanyaku dengan bodohnya.

"Aku tidak tau, Al. Tapi yang jelas bukan anakmu."

"Lantas kenapa kamu justru datang padaku?"

"Aku juga tidak tau. Aku hanya merasa kamu akan lebih mengerti keadaanku. Aku ingin jika anak ini lahir dia punya orang yang bisa disebut ayah untuknya. Kamu hanya perlu mengakuinya tanpa perlu menikahiku." Ungkapnya sedih.

"Aku tidak bisa memutuskan hal seperti itu sendiri, Lucia. Begitu juga kamu, itu makanya keluarga kita bertemu." Jawabku pada akhirnya.

Kami masuk bergabung dengan para orang tua yang sudah mulai berdiskusi tentang masalah Lucia. Aku memulai cerita dengan isi pusaka yang masuk kedalam tubuh Lucia sampai akhirnya terjadi kehamilan padanya.

"Bagaimana bisa kamu memisahkan kedua pusaka itu, Can?" Tanya Mom pada Papa Lucia yang ternyata seorang kolektor barang antik.

"Penjualnya tidak menjelaskan padaku kalau keris itu berpasangan, Din. Aku menjualnya lagi yang berwarna hitam pada temanku di Magelang. Dia juga peminat barang antik." Jelas Papa Lucia penuh penyesalan.

Obrolan berlangsung sangat serius antara Mom dan Om Candra. Suara Papa Lucia terdengar serak dan tegang, kecewa dengan tindakan yang tidak diketahuinya sehingga terjadi hal fatal pada putrinya. Sedangkan Mamanya tidak mampu menyimpan kesedihannya. Matanya berkaca-kaca menatap nanar Lucia dengan tidak percaya.

Aku juga menyampaikan apa yang diinginkan Lucia dariku, sehingga semua mata langsung menatap Lucia penuh tanya.

"Kenapa Al, Lucia?" Tanya Papanya mewakili rasa ingin tau semua keluarga.

"Karena Lucia mencintainya, Pa." Tangisan pilunya meledak dipelukan Mamanya.

Kamu bahkan belum lama mengenalku Lucia, bagaimana kamu bisa bicara cinta?

***

Terpopuler

Comments

Land19

Land19

kok bisa yah lgsg nyambangi kediaman Al .
duhh... SG mangan nangka sapa SG kena getahe sapa .

2025-02-02

0

Rika Iftakul

Rika Iftakul

kok enak eram lucia wii wong aL gak nglakoni kok dikon ngakui

2025-02-09

0

Yulay Yuli

Yulay Yuli

itu namanya org makan nangkanya Al dapet getahnya /Chuckle/

2025-01-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!