Matahari sedikit tertutup awan. Hari sudah beranjak siang ketika aku bangun. Gara-gara terganggu dengan suara hembusan nafas yang terdengar hingga menjelang subuh membuat kualitas tidurku buruk. Aku baru bisa benar-benar terlelap setelah matahari terbit.
Ponselku berdering, suara Mom mengingatkan bahwa 2 jam dari sekarang aku harus sudah ada di Bandara. Mom dan Dad orang yang disiplin dengan waktu, mereka tidak akan suka menungguku jadi aku lebih baik bersiap sekarang daripada harus terburu-buru di jalan. Jarak dari Wirobrajan ke Bandara Adi Sucipto lumayan jauh.
"Mau kemana Kak?" Sapa Ara yang sedang menonton televisi bersama Nabila.
"Bandara, jemput Mom. Mau ikut?"
"Nggak ah, nanti juga ketemu. Lagi seru nonton drakor sama Nabila."
"Tumben amat, Ra…."
"Tumben apanya? Nonton drakor apa nggak ikut kakak ke Bandara?"
"Dua-duanya," jawabku skeptis.
"Anggap aja satu perubahan kecil dari seorang Tiara," sahutnya terkekeh.
"Nggak makan dulu Al? Semua sudah sarapan pagi tadi. Kamu telat bangun." Tanya Tante menyambung percakapanku dan Tiara.
"Nanti aja Tan, takutnya nggak keburu. Kasian Mom kalau sampai menunggu. Al jalan dulu, Tante!"
"Ya udah, hati-hati!"
Mom kembali menelpon ketika aku baru selesai parkir, artinya Beliau sudah ada di lokasi penjemputan. Karena terburu-buru berjalan sembari menjawab telepon Mom, aku justru menabrak bahu seorang perempuan yang sedang berjalan di depanku. Ponsel dan tas tangannya jatuh dan dia melotot marah padaku.
Cantik, tapi sayangnya wajahnya jutek dan menatapku dengan benci. Aku sadar aku salah telah menabraknya dan membuat barang-barangnya jatuh. Aku dengan sigap memungut barang-barang mahal itu dan menyerahkan kepada pemiliknya. Tidak lupa mengucapkan kata maaf beberapa kali karena aku juga tidak sengaja.
Jangankan memberi maaf atau sedikit tersenyum, melihatku saja dia enggan. Aku seperti sampah menjijikkan untuknya. Dagunya terangkat tinggi dan dan selanjutnya pergi begitu saja tanpa permisi. Padahal aku berdiri tepat di depannya, tapi dia melewatiku seolah aku tak ada. Hanya meninggalkan wangi melati yang memekarkan dada.
Aku tidak ada waktu untuk mendramatisasi keadaanku yang menurutku cukup kasihan, aku menertawakan diriku sendiri yang terlalu percaya diri akan mendapatkan senyumnya, atau suaranya yang ikhlas memberiku maaf karena menabraknya. Ternyata tidak begitu kejadiannya, jadi dengan sedikit kecewa aku berlari menuju tempat Mom dan Dad menungguku.
"Tiara nggak ikut?" tanya Mom ketika kami memulai perjalanan ke Wirobrajan.
"Sama Nabila. Apa mom lapar?"
"Soto Kadipiro," jawab Dad tertawa.
Mom ikut tertawa dan memutuskan kami akan makan soto sesuai keinginan Dad. Sudah kuduga akan seperti itu.
"Sudah main kemana aja kalian?" tanya Mom padaku.
"Nggak ada Mom, cuma di rumah aja dari kemarin. Ngobrol sama Om."
"Kenapa wajahmu Al? Dari Bandara tadi kayak ada kepikiran sesuatu?" Rupanya Dad memperhatikan raut wajahku.
"Nggak ada Dad, mungkin karena lapar. Al tadi nggak sempet makan, bangun siang."
"Kenapa begitu? Malam nggak tidur?" Tanya Mom kemudian.
"Terganggu…" aku bercerita tentang gangguan yang terjadi pada Mom dan Dad. "Aneh Mom, suara itu terdengar sampai subuh."
Mom hanya mengernyitkan dahi mendengar ceritaku. Sementara Dad antusias ingin tau lebih jauh.
"Al, kamu sudah sejak lama tidak mengeluhkan hal-hal seperti ini yang terjadi di sekitarmu. Apa ada yang berbeda dari sebelumnya hingga kamu merasa harus bercerita?"
"Iya Dad, rasanya kali ini berbeda. Al sulit menjelaskannya. Al juga mimpi bertemu Kakung lagi kemarin malam."
"Sore nanti kita ke makam Beliau. Dan semoga setelah itu tidak ada lagi hal aneh yang terjadi padamu. Siapa tau itu ada hubungannya dengan Kakekmu, karena selama ini kamu tidak pernah mendengar hal aneh-aneh kan sewaktu tidur di kamar itu?"
"Iya Dad." Sebelumnya memang tidak ada, baru kemarin malam aku merasa ada mata yang selalu memperhatikanku di dalam kamar itu.
Dulu juga begitu, mata yang selalu memperhatikanku di tangga rumah akhirnya menampakkan diri secara utuh sebagai bayangan hitam. Aku berlari dan menubruk Mom yang sedang membuat susu untuk Ara di dapur. Memeluk kakinya erat dan menyembunyikan wajahku di sana.
"Mom, Al lihat black shadow di sana. Itu tinggi seperti Dad, tapi itu bukan Dad, Dad tidak hitam..." Keluhku tetap memejamkan mata dan lebih rapat memeluk kaki Mom.
"Dimana?" tanya Mom santai, tidak ada nada takut ataupun panik. Mom begitu tenang seolah aku tidak melihat hal penting. Suaranya yang lembut dan menenangkan itu sedikit mengurangi rasa takutku.
"Di tangga Mom, Al tadi main mobil-mobilan di sana, Al takut Mom…."
"Al tau kan ini sudah malam, tidak boleh main di tangga ya! Ayo kita di kamar aja sama Ara." Mom membawaku ke kamar dan menyuruhku tiduran. Aku mendengar Mom menghubungi Dad agar segera pulang untuk menemaniku. Aku tidak tau waktu itu jam berapa karena aku masih kecil, tapi Mom bilang sama Dad di telepon jangan lewat tengah malam pulangnya.
Pengalaman seperti itu sering kali berulang hingga aku sendiri akhirnya sedikit terbiasa. Kadang aku tidak menganggap aku melihatnya, aku membiarkan saja dan tidak banyak mengadu pada Mom. Ketenangan Mom menular padaku, aku tidak lagi panik walaupun kadang kaget sesaat.
Meskipun tenang, kadang aku masih melihat Mom yang khawatir dengan kebiasaan tidurku. Aku selalu terjaga sepanjang malam. Bermain sendirian menghabiskan malam yang panjang. Kadang Dad sampai pusing karena harus menemani begadang, apalagi kalau sedang tidak ada acara olahraga kesukaannya.
"Al… ini sudah pagi, kamu belum tidur!"
"Apa mataharinya sudah terbit, Mom?"
"Lihatlah keluar!"
Aku membuka tirai jendela dan melihat matahari mulai mengintip dari jauh. Dan aku akan tidur hingga sore setelah sarapan. Hampir setiap hari hal seperti itu terjadi.
Setelah aku mulai bersekolah aku masih belum berubah. Mengantuk dan tidur di kelas itu sudah jadi kebiasaan bagiku. Mendengar Mom mendapatkan keluhan dari pihak sekolah karena aku sering tidur di kelas itu sudah terlalu sering. Hebatnya, Mom menanggapi hal itu biasa saja. Beliau sama sekali tidak marah, sesekali hanya menegurku untuk tidak tidur di kelas agar aku tidak malu nantinya.
Aku tau aku aneh dari kecil, tapi Mom mengacuhkan apa yang sedang aku alami. Beliau hanya bilang aku istimewa karena berbeda dari anak yang lain.
"Kenapa aku berbeda, Mom?"
"Karena kamu anak Mom." Jawaban itu membuatku berpikir bahwa Mom juga memiliki keanehan seperti aku. Berbeda dari yang lain, artinya Mom juga istimewa. Akhirnya aku bersikap dan bertindak seperti Mom, tenang dan biasa saja.
Lamunanku buyar ketika Mom menyentuh tanganku, "Sotonya keburu dingin, Al. Ayo makan dulu!"
"Iya Mom, maaf…." Aku nyengir tak bersalah dan dengan cepat menghabiskan makanku. Kami langsung pulang ke rumah Om Aji setelah itu.
Sorenya acara ziarah kubur ke Kakung dan Uti jadi ramai. Om dan Tante juga ikut. Doa dan tahlil seperti biasanya dipimpin oleh Dad. Mom menabur bunga di atas makam setelah tahlil selesai.
Aku mengangkat wajah dan melihat sekitar, bayangan berkelebat cepat di depan mata, bayangan orang sedang duduk di pinggir nisan, bayangan orang sedang menangis di rerumputan, bayangan orang sedang bergelantungan di pohon Kamboja dan ada beberapa bayangan lain yang tertangkap dengan ekor mata. Semuanya tembus pandang dan hanya terlihat sepersekian detik di waktu menjelang magrib ini.
Dad memberi perintah untuk mencuci tangan dan kaki setelah keluar dari makam. Pengelola makam menyediakan fasilitas itu dengan membayar uang senilai ke kamar mandi umum.
Hatiku sedikit gundah, pandangan mataku yang bercampur dengan hal lain jadi sangat jelas sore ini.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Oneng Satrio
weh, ngalor sitik omahe Lek q thor... 😅😅😅
2024-12-16
1
Land19
mungkin itu kali ya efek orang yg mempunyai indra ke 6, ga bisa tidur dg tenang.
2025-02-02
1
Oneng Satrio
weeh... kgn... jd pgn plng jogja...
2024-12-16
1