"Salim... Aku melihatnya kemarin, dia pasti orang itu, yang ditunjukkan hantu kecil di mall."
Zion hantu mondar mandir di depan Zia yang sedang bersiap tidur.
"Dia bukan di Pekalongan, dia ada di sekitar Jakarta, atau mungkin kota penyangga."
Zion bergumam.
Zia yang melihat Zion mondar-mandir kepalanya jadi pusing.
"Kamu mau bikin lantaimu jadi licin mondar mandir kayak setrika."
Kata Zia.
Zion akhirnya berhenti, lalu melayang ke atas tempat tidur. Duduk di samping Zia yang berbaring.
"Apa..."
Zia beringsut sambil menaikkan selimutnya ke atas dada.
Issh... Zion mendesis, lalu menabok kepala Zia.
"Aww..."
Zia mengusap kepalanya.
"Kasar banget jadi cowok."
Zia misuh-misuh.
"Habis kamu otaknya mesum."
Kesal Zion.
"Enak aja."
Zia jadi malu.
"Zi, aku rasa driver bernama Salim itu tau soal aku."
"Apa maksudmu?"
Zia otaknya belum full, ia agak terganggu dengan posisi duduk Zion yang terlalu dekat dengan tubuhnya.
"Aku melihatnya di mall, tapi dia ngga pernah ke rumah ini, dia menemui seseorang di mall, membisikkan sesuatu."
"Membisikkan apa?"
Tanya Zia lagi.
"Namanya bisik-bisik ya ngga bisa dengerlah Zi, kalau siaran di masjid baru aku bisa denger."
Zion benar-benar kesal, lalu dia merebahkan tubuhnya di samping Zia dengan seenaknya, membuat jantung Zia hampir melompat.
Hantu ini makin hari makin membuatnya senam jantung. Kenapa dia bersikap seolah-olah Zia bukan perempuan normal.
Zia akhirnya memilih bangun, lalu pindah duduk ke kursi kayu.
Demi menjaga kestabilan alam semesta. Batin Zia.
"Oia... Aku juga ingat, malam saat Dimas datang membawa martabak, ada dua orang temannya yang datang, aku merasa kenal dengan aroma parfum yang mereka pakai."
Kata Zion yang ikut bangun, tapi duduk sila di atas kasur.
"Kalau mereka pakai parfum yang dijual di supermarket, maka kamu akan mencium bau yang sama lebih dari seribu orang."
Kesal Zia.
Tapi Zion menggeleng.
"Parfum yang sama akan berbeda aromanya saat dipakai orang yang berbeda."
Kata Zion.
Zia menghela nafas.
Zion diam, ia begitu keras berfikir, hingga tiba-tiba,
Tok Tok Tok...
Suara ketukan keras di luar pintu kamar Zia terdengar mengagetkan keduanya.
"Zia... keluar, cepat !!"
Suara Zion manusia kemudian menyusul terdengar.
Zia dan Zion bertatapan. Zion menggelengkan kepalanya...
"Tidak usah dibuka."
Kata Zion.
"Cepat keluar, aku tau kamu belum tidur."
Kata Zion manusia.
Zia menghela nafas lagi.
"Ya Tuan, sebentar..."
Jawab Zia akhirnya.
Zion mendengus. Dasar gadis keras kepala. Rutuk Zion. Lalu melayang mengikuti Zia yang mulai melangkah mendekati pintu.
Zion manusia berdiri di depan pintu begitu Zia membuka pintu kamarnya.
"Kemari."
Zion menarik tangan Zia. Membawanya ke sofa besar yang ada di sudut ruangan lantai tiga. Persis di samping jendela kaca besar menuju balkon.
Zion menatap geram.
Mau apa dia. Zian begitu kesal.
Zion manusia duduk. Lalu ia melempar sebuah undangan ke atas meja.
"Siapa dia..."
Kata Zion manusia.
Zia melirik kertas undangan di atas meja.
Tangannya sudah dilepaskan Zion.
"Lihat, jangan dibaca saja."
Kata Zion manusia.
Zia akhirnya mengambil undangan itu.
Undangan yang sangat cantik dengan varisi pita berwarna emas.
Veronika Wijaya.
Sudah jelas namanya tertulis di sana... kenapa Zion manusia pakai tanya. Batin Zia heran.
"Ini undangan dari Veronika." kata Zia.
Zion manusia mendengus.
"Itu mah aku juga udah tau!!"
"Lha udah tau ngapa nanya?"
Zia jadi sewot.
Zion manusia mendelik.
"Kamu berani sama aku?!"
Zia meniup poninya.
"Ya habis Tuan nanya tapi udah tau, sih gimana ngga bikin kesel."
"Bener-bener anak culun ini."
Zion manusia geram.
"Yang aku tanya bukan siapa nama pengirim undangan, yang aku maksud siapa itu Veronika."
Kata Zion.
Jiaaah, ternyata dia kudet. Batin Zia.
"Cepat jawab!"
Zion manusia tak sabar.
"Dia mantan pacar Tuan, masa ngga inget, artis sinetron, Veronika Wijaya."
**-------**
Zia melempar tubuhnya ke atas springbed.
Apa katanya, aku harus menemaninya ke pesta?
Gila apa?
Pesta tasyakuran biasa saja Zia jarang datang, sekarang malah disuruh pergi ke pesta ulang tahun artis ternama, di mana pasti akan ada banyak selebritis dan orang-orang berkelas yang datang di sana.
Lalu aku harus bagaimana? Apa yang harus aku kenakan?
Haduuh... Zia menggeleng-gelengkan kepalanya. Membayangkan pergi ke pesta dengan celana jeans bekel dan kaos oblong kebesarannya, sementara gadis lain mengenakan gaun-gaun mahal yang cantik dan indah.
Ish... Zia mendesis. Rasanya membayangkannya saja dia sudah malu sendiri. Tuan muda itu pasti sudah gila, dia bahkan tidak memakai otaknya dengan benar saat meminta Zia yang justru menemaninya.
Zia menatap langit-langit. Sepertinya, keputusannya pindah bekerja di rumah ini dan meninggalkan pekerjaan lamanya adalah keputusan yang salah. Pekerjaan di sini terlalu bukan kelasnya. Batin Zia.
Zion sendiri tampak duduk di atas meja depan springbed, matanya mengarah keluar kaca menuju balkon kamar. Dari sana tampak beberapa gedung menjulang tinggi.
"Aku makin penasaran sebetulnya dia siapa, bahkan Veronika saja dia tidak tau."
Gumam Zion.
Zia yang bisa mendengar juga sependapat.
Zion palsu itu, siapa yang membawanya ke rumah ini, dari mana asalnya? Bagaimana bisa dia tidak tahu soal Veronika.
Meskipun dia tidak tahu soal Veronika pernah pacaran dengan Zion asli, seharusnya ia mengenalinya sebagai artis. Wajah Veronika selalu muncul di TV setiap hari, mustahil ia tidak kenal, kecuali jika dia aliens atau selama ini hidup di dalam gua.
Sementara itu, tanpa diketahui Zia dan Zion
Di dalam kamarnya, Zion manusia sedang berbicara dengan seseorang lewat sambungan telfon.
"Kenapa saya tidak diberitahu sebelumnya soal perempuan bernama Veronika itu."
Zion manusia seperti protes.
"Yah, karena waktunya sudah terlalu mendesak, rapat para pemegang saham akan dilangsungkan tiga bulan ke depan. Tidak ada waktu lagi jika tidak segera dimulai sesuai rencana."
Kata suara dari seberang sana.
"Apa harus saya datang ke acara seperti itu? Bagaimana jika di sana akan bertemu banyak orang yang mengenal baik sosok Zion? Pasti akan ada dari mereka yang menaruh curiga tiba-tiba Zion berbeda."
"Itu sebabnya kamu harus membawa orang yang bisa mengalihkan perhatian. Bukankah tadi kamu sudah bilang ada."
"Yah."
"Jadi tak perlu adalagi yang dikhawatirkan."
Suara berat dari sebrang begitu tegas.
"Bagaimana jika Zion asli justeru muncul di sana, anak buah saya belum ada yang menemukannya."
Zion manusia terdengar frustasi.
"Biarkan kami yang mengurus. Kamu mulai sekarang fokus menjalankan tugas dari kami. Itu jika kamu sungguh-sungguh ingin mendapatkan posisi Zion selamanya."
Sambungan telfon ditutup.
Zion manusia duduk dengan kasar di tepi tempat tidur.
Hrrgghh... Kemana sebetulnya bajingan itu membawa tubuh Zion pergi.
Zion manusia begitu gusar.
**------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 362 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Zion palsu
2022-09-19
0
Ray
Duh apa sebenarnya yg terjadi 🤔? Apakah ini perbuatan orang2x kepercayaan kakeknya Zion, demi harta,tahta,kekayaan,kejayaan, kehormatan, utk merebut semua harta dan perusahaan keluarga Zion 🤔🙏
2022-09-16
0
Wahyu Patuman
harus ny Zion asli awasi tuh ci Zion aspal kaleee aja dapet info ...
2022-05-30
0