Zia menutup mulutnya yang menganga dengan tangannya. Ia terlalu terkejut dengan wajah yang tak asing di layar hpnya.
Bersamaan dengan itu, Zion tiba-tiba bangun, ia duduk di tempatnya, lalu menatap Zia yang juga menatap dirinya.
"Kamu lihat apa Zi?"
Zion celingak celinguk, bayangan wajah seram Murni tiba-tiba melintas di kepalanya.
Ish sial, hantu itu, tadi aku ngga ngerasa takut, sekarang malah merinding. Zion bergidik. Hantu penakut itu baru sadar aksinya menyelamatkan Zia dan menyadarkan Murni adalah semata karena ia tak ingin Zia terluka. ia khawatir manusia satu-satunya yang bisa ia andalkan untuk minta tolong dalam keadaan bahaya.
Zia pelahan mengulurkan hpnya ke arah Zion.
"Apa?"
Tanya Zion bingung.
"Veronika Wijaya."
Jawab Zia.
Zion menatap layar hp di tangan Zia. Beberapa gambar ada di sana, yang paling atas adalah gambar artis bernama Veronika Wijaya itu dengan seoranga cowok...
Tunggu...
Zion mendekatkan wajahnya ke layar hp.
"Kalian pacaran?"
Zia akhirnya bersuara. Keduanya kemudian saling berpandangan.
Zion sejenak terdiam. Ada yang bereaksi di dalam kepalanya.
Zia menatap Zion, wajah tampan itu, yang mirip oppa Korea, apakah mungkin dia yang dimaksud Mbak Tinah?
Zion memegangi kepalanya, rasanya begitu sakit, seperti dibentur-benturkan ke dinding berkali-kali.
Zia yang melihat jadi panik, ia menghambur ke arah Zion...
"Zion... Zion... Kamu kenapa?"
Zia meraih tubuh Zion yang dingin seperti es dan ringan seperti kapas.
Zion mencengkram rambut kepalanya sendiri dengan kedua tangannya.
"Sakit banget Zi... sakit banget."
Rintih Zion.
Seiring dengan semakin menguatnya rasa sakit di kepalanya, Zion seolah mendapat sekilas-sekilas ingatannya.
Malam itu hujan deras. Zion baru selesai melaksanakan rapat perusahaan. Ia akan pulang.
Tiba-tiba saat masuk ke dalam mobil, yang di belakang kemudi mobilnya bukan supir pribadinya. Tapi seorang laki-laki menggunakan topi hitam dan masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
Belum sempat memberikan reaksi, tiba-tiba Zion melihat dua orang laki-laki lain masuk ke dalam mobil, yang satu duduk di depan, yang satu di belakang dan langsung membekap Zion dengan saputangan yang telah diberi obat bius.
Mobil kemudian melaju kencang, entah ke mana.
Zion menarik nafas dalam-dalam, sakit itu mereda, dan ingatannya terputus.
Zion menatap Zia nanar. Tanpa terasa wajah mereka kini begitu dekat, sekian detik keduanya tak sadar dengan apa yang sedang terjadi, sampai akhirnya...
"Ah, kamu ngerjain aku kan."
Zia mendorong tubuh Zion menjauh hingga hampir terjungkal. Wajahnya entah kenapa tiba-tiba memerah seperti tomat.
Ish... Apaan sih dia, kayak habis dicium saja. Kesal Zion.
Zia menyeret langkahnya menuju dapur, mencari gelas yang tadi ia gunakan untuk minum. Menuang air lagi, lalu meneguknya sampai habis.
"Fiuh, kenapa tiba-tiba panas, mungkin ini efek dicekik Murni."
Zia kipas-kipas wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Sementara itu Zion di tempatnya justru asik merenung. Apa itu tadi? Apakah itu hari di mana akhirnya ia mati?
Pikir Zion.
Lalu...
"Zi... Zia."
Panggil Zion.
"Duh mau apa dia manggil aku,"
Zia tiba-tiba degdegan, bayangan seronok muncul di otaknya. Hadeeh, siapa yang mesum sebetulnya.
"Zi... tolongin aku."
Kata Zion sambil akhirnya melayang ke arah dapur karena Zia tak juga menyahut.
"A... Apa?!"
Gugup Zia begitu melihat Zion sudah ada di dekatnya.
Zion menatap Zia sejenak. Wajah manis Zia benar-benar tampak memerah seperti tomat.
Zion kemudian menjentikkan kedua jarinya di kening Zia.
"Bodoh, kamu lagi mikirin apa."
Ish... Zia langsung mendesis dan menabok lengan Zion berkali-kali.
**--------**
Minggu siang yang terik. Zia dan Zion akhirnya berdiri di depan sebuah bangunan mall yang tak jauh dari pemukiman Zia tinggal.
Mall yang cukup megah, dan terbilang sudah cukup lama berada di Jakarta.
"Jangan suruh aku pura-pura belanja, nanti tabunganku abis."
Lirih Zia seperti gumaman kecil.
"Iya, aku hanya ingin memastikan apa aku bisa ingat sesuatu lagi."
Kata Zion tanpa menoleh ke arah Zia. Hantu itu tampak fokus menatap bangunan di depannya.
Zia kemudian melengang masuk ke dalam mall, sampai di depan mall seorang security menghadang.
"Saya mau belanja Pak."
Zia belum apa-apa nyolot. Ia tahu penampilannya kucel, tapi bukan berarti dia sama sekali tidak punya uang. Makan di tempat ayam goreng kakek-kakek pesen sepuluh porsi juga masih sangguplah. Hihihi...
"Bukan Neng, helm'nya dilepas."
Kata si penjaga.
Eh buset, Zia tengsin. Dia meraba kepalanya dan benar ia masih pakai helm.
Ini gara-gara Zion, otaknya jadi ikut geser.
Cepat-cepat Zia melepas helmnya. Zion yang sudah masuk duluan melihat ke arahnya sambil terpingkal.
"Dasar hantu ngga ada akhlak."
Kesal Zia padanya.
Suasana mall seperti pada umumnya akan ramai pengunjung di akhir pekan.
Zion tampak serius menyusuri setiap sudut bangunan itu. Sesekali ia bertemu hantu dan lari terbirit-birit karena wajah sebagian dari mereka cukup menyeramkan.
Zia sendiri mulai asik mengamati beberapa pakaian, tak masalah sesekali belanja pakaian untuk diri sendiri kan?
Katanya pada diri sendiri.
Zia masih sibuk memilih saat tiba-tiba seorang anak menabrak pantatnya.
"Aduh..."
Zia cepat menoleh. Kalau-kalau itu kerjaan orang mesum, dia tidak akan segan menghajarnya, bagaimanapun sabuk coklat yang dia dapat saat ikut karate cukup mampu untuk membuat seorang laki-laki mesum kapok.
Tapi...
Oh, hanya seorang anak kecil perempuan.
Bukan, bukan anak manusia, tapi hantu.
Hantu kecil itu menatap Zia, ia seperti bertanya-tanya, kenapa ia bisa menabrak manusia dan manusia itu bisa melihatnya.
"Hai..."
Sapa Zia canggung, takut pengunjung dan pelayan melihat.
Hantu kecil itu menyeringai.
"Kakak lihat saya?"
Hantu itu melayang, wajahnya didekatkan ke wajah Zia.
"Iya, udah lihat juga dari tadi."
Zia mendorong wajah hantu kecil itu menjauh.
"Kakak... Aku lapar."
Kata hantu itu.
Zia celingak celinguk.
"Di sini bukannya banyak yang jualan makanan, kalian kan cukup hirup aromanya." Kata Zia.
"Ada yang jaga, aku ngga berani masuk."
Kata si anak hantu.
Zia menghela nafas, akhirnya ia mengalah membelikan makanan untuknya. Hotdog dia maunya.
Ah' ya Tuhan, apes banget aku. Rutuk Zia saat mengantri pesanan.
Zion yang sedari tadi melayang ke sana ke mari akhirnya tersadar kehilangan sosok Zia. Ke mana gadis itu? Zion sibuk mencari.
Zia membawa hotdog dan duduk di salah satu sudut mall, di letakkannya hotdog itu di atas bangku, agar anak hantu bisa makan dengan leluasa.
"Kamu sudah lama di sini?"
tanya Zia. Anak hantu itu mengangguk.
"Sejak mall ini berdiri."
Katanya.
"Lama juga,"
Kata Zia, karena seingatnya, saat ia masih tinggal di Bandung dengan orangtuanya saja mall ini sudah ada.
"Berarti kamu tau siapa pemilik gedung ini."
Hantu kecil itu mengangguk.
"Tuan Ardi Subrata dan Tuan Heri Sapta Wijaya."
Zia mantuk-mantuk.
"Zia... ke mana saja kamu, dicariin juga."
Zion datang misuh-misuh.
"Nah, bener... kalo dia, kamu kenal ngga?"
Tanya Zia pada hantu kecil.
Si hantu itu menoleh pada Zion yang kini berdiri di hadapan mereka.
Hantu kecil itu mengamati, lalu...
"Dia cucu Tuan Ardi Subrata, sudah tiga bulan dia tidak ke sini, ternyata dia sudah mati, hihihi..."
Hantu kecil itu cekikikan, makin lama makin seram. Zion menabok kepalanya.
"Diem, bikin merinding saja."
**--------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 362 Episodes
Comments
Cahaya
baca ulang nih
2024-05-08
0
Ray
Jadi ada clue deh siapa Zion 😂 Dan tinggal mencari penyebabnya si Zion sudah mati atau koma🤔?
2022-09-16
0
jaemin luvvꕤ
hntu nya lucu lucuu😭
2022-07-08
1