Zia sampai di lantai tiga. Kereta dorong ia letakkan di samping meja makan, lalu memindahkan satu demi satu makanan dari kereta dorong ke atas meja.
Zion menggeleng, menunjuk di mana harusnya Zia meletakkan makanan. Maklum Zia pikir makanan ya asal taruh saja di atas meja.
Zia mengikuti instruksi hantu.
Setelah dianggap oke, Zion mengangguk sambil mengacungkan Ibu jari, lalu membuat gerakan dengan kepalanya untuk memberi isyarat agar Zia mengetuk pintu kamar orang yang sedang mengaku menjadi Zion itu.
Zia pelahan menyeret langkahnya mendekati pintu kamar sang majikan, namun belum lagi ia mengetuk, Zia sudah harus kaget karena pintu itu terbuka.
Sosok persis Zion itu berdiri di sana.
Demi apapun, dia memang tampan luar biasa saat dalam bentuk manusia.
Ah' Zia menampok pipinya tanpa sadar, membuat Zion manusia dan Zion hantu menatap gadis itu dengan tatapan bingung.
Ni gadis kenapa nampar muka sendiri? Begitu isi otak mereka.
Zia nyengir, lalu sadar ia harus mempersilahkan Tuan muda tampan itu menyantap makan siangnya.
"Makan siang sudah siap Tuan."
Zia membungkuk sedikit.
Zion manusia melangkah ke arah meja tanpa memperdulikan Zia yang masih membungkuk. Zia menoleh sambil misuh-misuh,
"Masa aku gini terus, emang aku lagi nanem padi apah."
Sementara itu, melihat pemandangan yang tak disukainya, Zion lebih memilih pergi dari sana. Zion benar-benar merasa terganggu dengan sosok yang kini pura-pura menjadi dirinya dan membuat kekacauan.
Harusnya Zia tidak perlu sampai ke sini, dia memang keras kepala, bukankah mereka bisa minta tolong pada sahabat Kakek saja, dia pasti akan bantu.
Zion jadi mendengus kesal. Ia melayang masuk ke dalam ruang perpustakaan, ia ingin melihat-lihat di sana, kalau-kalau nanti ada jejaknya yang tertinggal.
Zia masih membungkuk saat kemudian Zion manusia memanggilnya...
"Heh..."
Begitu dia memanggil.
Heh dia bilang, dikira aku kucing apa. Zia ngedumel.
(Perasaan kucing mah dipanggilnya pus)
"Heh sini, kamu mau sampai kapan membungkuk begitu."
Zion manusia jadi kesal.
Zia akhirnya merubah posisinya. Aduh pinggangnya sakit, Zia mengurut pinggangnya, lalu berjalan ke arah Tuan Mudanya.
"Tuangin minum."
Kata Zion manusia.
Jiaah nuang minum segala ngga bisa sendiri, apa orang kaya tangannya pada pengin dipotek, dikit-dikit orang lain yang ngerjain. Batin Zia.
"Cepet, malah bengong liatin aku, biasa aja, aku memang tampan, tapi ngga usah gitu amat liatinnya."
Kata Zion manusia.
Hidih, enggak versi hantu, enggak versi manusia pada kelewat pede. Zia ngedumel dalam hati lagi.
"Iya Tuan, maap."
Zia sok manis.
Lalu menuang air putih ke gelas Zion.
"Siapa nama kamu?"
Tanya Zion manusia.
"Zia Tuan."
Zion manusia meneguk air minumnya.
"Umur kamu?"
Ngapain dia nanya umur aku? Zia memicingkan mata.
"Berapa umur kamu? Jangan-jangan masih di bawah umur, mukamu culun."
Kata Zion manusia dengan kalimat dan nada yang pastinya tidak enak didengar.
Zia mengurut dada.
Sabar... sabar... demi sepuluh juta. Batinnya.
"Dua puluh tahun Tuan..."
Zia memaksakan senyuman.
Zion manusia mantuk-mantuk.
Setelah menghabiskan makanan yang seperti lemper, Zion manusia mengambil piring lainnya.
"Ini apa namanya?"
Tanya Zion manusia.
Zia memandangi makanan yang ada di hadapannya.
Apa ya tadi, Zia lupa. Zia celingak celinguk mencari Zion hantu, tapi entah kemana dia.
"Eh, ini apa?"
Tanya Zion manusia.
Zia nyengir, otaknya berusaha bekerja. Ni orang kaya ngga tau nama makanan Jepang, pasti aslinya dia juga baru pertama makan.
Fiuuuh bener, dia kan palsu, Zion yang asli sedang jadi hantu.
"Aduh maap Tuan, ngga inget, tapi tadi kata Pak Koki, belakang namanya ada Ge ge nya gitu, Karauge kalo ngga salah... Iya namanya Karauge."
Zia menjentikkan jarinya, dan Zion manusia tertawa.
"Hahaha... baru kali ini ada pelayan koplak."
Katanya sambil tertawa.
**-------**
Zia mengembalikan kereta dorong makanan ke dapur. Semua piringnya bersih.
Mbak Wati yang melihat langsung menganga tak percaya.
"Dia makan dengan enaknya, sementara aku kelaparan."
Kesal Zia sambil duduk di kursi makan dapur. Mbak Wati tersenyum.
"Kamu mau makan? Tuh makanan buat kita sudah mbak siapin."
Kata Mbak Wati. Zia langsung semangat.
"Waah, ayam goreng serundeng, tau saja Mbak Wati."
Zia senang bukan main melihat menu yang disiapkan mbak Wati. Ada sayur asam, sambal plus lalapan, ayam goreng serundeng dan tahu isi.
"Kirain kamu mau makanan Jepang juga."
Kata Mbak Wati saat melihat Zia langsung ambil nasi.
"Denger namanya aja udah pusing Mbak, otakku ngga nyampe."
Kata Zia.
Mbak Wati tertawa. Zia ini katanya anak yatim piatu, tapi pembawaannya yang selalu ceria dan bersemangat seolah hidupnya baik-baik saja. Auranya sangat positif.
"Mbak senang kamu di sini, aura kamu positif, belakangan rumah ini semakin suram."
Kata Mbak Wati.
"Iyalah, yang jadi Tuan muda aneh."
Celetuk Zia.
"Hsst... jangan keras-keras."
Mbak Wati mengingatkan. Zia nyengir lalu menyuapkan makanan ke mulut.
"Tapi hari pertama kamu sudah sukses, hebat."
Mbak Wati mengacungkan ibu jari.
Zia menatap mbak Wati seolah menuntut kejelasan apa yang dimaksud sukses itu.
"Hampir ngga pernah Tuan muda Zion menghabiskan makanannya, dia selalu saja marah di tengah acara makan."
Ujar Mbak Wati. Lalu...
"Hari ini Mbak mengintip dari dekat pintu lift, kamu bukan cuma membuat dia makan lahap, tapi juga tertawa. Mbak selama dua bulan ini ngga pernah lihat dia tertawa."
Zia kemudian mengingat moment Zion manusia tertawa, saat dia menjelaskan nama makanan jepang yang dia tanyakan.
"Mungkin makanannya emang enak."
Kata Zia pada Mbak Wati.
"Koki itu sudah ketiga kalinya masak selama dua bulan ini, sebelumya ngga pernah dihabiskan."
"Ooh..."
Zia meng'ohkan, lalu...
"Mungkin waktu itu dia lagi sariawan Mbak, atau lagi PMS..."
Mendengarnya mbak Wati jadi terpingkal.
Yang benar saja cowok PMS.
Zia sudah menghabiskan makanannya saat Zion hantu melayang menghampirinya.
Ish, giliran ngga dibutuhin datang. Kesal Zia.
Zion duduk di meja menatap makanan yang dimasak Mbak Wati.
"Tanyain Zi, ada berapa orang yang bekerja di sini."
Kata Zion.
Zia mengangguk.
"Mbak, berarti sekarang yang kerja di rumah ini cuma Mbak Wati sama aku?"
Tanya Zia.
Mbak Wati yang sudah mulai menikmati makan siangnya juga sejenak terdiam, atau lebih tepatnya menelan makanannya dulu baru menjawab.
"Ada empat lagi yang lain, tapi mereka ngga menginap, hanya datang lagi saja hingga siang."
"Ooh..."
Zia mantuk-mantuk.
"Besok Mbak kenalkan, tadi kamu kan masih bebenah,"
"Ah iya..."
Zia tersenyum.
"Sebetulnya dulu ada Pak Salim, driver yang sudah puluhan tahun ikut keluarga ini, tapi dua bulan ini beliau ngga pernah datang, terakhir datang saat Tuan Subrata akan diberangkatkan ke Singapur."
Kata Mbak Wati lagi.
"Singapur?"
Zia dan Zion nyaris bersamaan.
Mbak Wati mengangguk.
"Kata asisten pribadinya beliau harus menjalani perawatan untuk jantungnya yang kenapalah Mbak nggak paham."
"Lalu di mana asisten pribadinya sekarang? Driver bernama Salim itu di mana rumahnya?"
Zion bertanya, yang tentu saja Mbak Wati tidak dengar. Maka Zia menanyakannya untuk Zion pada Mbak Wati.
Tampak Mbak Wati menggeleng.
"Nomor asisten pribadi Tuan besar Mbak tidak tahu Zi, jadi sejak itu juga Mbak tidak tahu dia di mana, mungkin bersama Tuan besar di singapur. Kalau pak Salim, setahu Mbak dia orang Pekalongan. Tapi alamat persisnya juga Mbak tidak tahu."
Ahh' Zion mencengkram rambut kepalanya karena benar-benar pusing.
**-------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 362 Episodes
Comments
Ray
Kata hantu yg di mall waktu itu pernah pas,pas lihat seorang bapak2x dengan Pakaian rapih keluar dari mobil, bilang kalo dulu dia drivernya Zion 😱Dan apakah ada hubungan drivernya Zion asli dengan Zion palsu🤔? Lanjut Up dan semangat Outhor💪🙏
2022-09-16
0
Yuni Verro
bnr2 somplak
2022-05-19
0
mom emir
msh penuh misteri...semangat 💪💪
2022-04-10
1