"Zia, sarapan dulu saja, nanti gampang lanjut lagi. Mbak Tinah juga, ini lauk ayam goreng, sama tadi yang sudah matang lagi apa, sambal goreng krecek, capcay."
Kata Umi Dimas pada Zia dan mbak Tinah.
Zia yang sudah selesai mengupas kentang dan sedang sibuk memotong dadu terpaksa menghentikan aktifitasnya karena kemudian langsung di seret Mbak Tinah ke ruang makan rumah Umi.
Makanan untuk pesanan yang matang memang akan diletakkan di sana.
"Piring Zi."
Mbak Tinah pada Zia.
Zia menurut kembali ke dapur untuk mengambil dua piring, untuk Mbak Tinah dan untuk dirinya sendiri.
Mbak Tinah menyalakan TV di ruang makan, seperti biasa, mbak Tinah memang tiap makan selalu sambil nonton infotainment.
Zion tampak berdiri di depan meja makan, senyumnya sumringah, seolah mendapat berkah tak henti-henti.
"Harusnya tiap hari kamu ke sini Zi."
Bisik Zion di telinga Zia.
"Huuu... trus yang ngantar susu kamu."
Sahut Zia mencibir. Mbak Tinah yang sempat melihat Zia seperti sedang bicara dengan seseorang jadi menatap aneh.
"Kamu ngomong sama siapa Zi? Hantu ya... hiii..."
Mbak Tinah bergidik.
Zia cengar-cengir.
Sementara itu TV sudah mulai menayangkan berita selebritis. Seorang artis dikabarkan akan menikah dengan seorang pengusaha muda, pewaris tunggal PT. Angkasa Perdana yang bisnisnya cukup menggurita, bukan hanya apartement elite, tapi juga batu bara, rumah sakit, sampai butik ternama di beberapa kota di Indonesia.
"Wah wah... artis pendatang baru ini pandai memikat pria."
Mbak Tinah yang sangat terobsesi dengan dunia pergosipan tampak antusias.
Zia sendiri malas melihatnya, seperti kurang kerjaan mengintip kehidupan orang lain, apalagi orang yang tidak kita kenal.
Tapi...
Tiba-tiba Zia melihat Zion melayang mendekati TV. Hantu itu seolah tertarik dengan sesuatu. Wajahnya begitu serius, bahkan matanya nyaris keluar.
Ishh... Zia mendesis.
"Dasar hantu mesum, lihat cewek bening aja langsung melotot."
Gumam Zia karena berpikir Zion tertarik dengan wajah sang artis.
"Emang cantik banget sih ni artis, berapa kali dia ganti pacar pengusaha terus, tampan-tampan pula, yang dulu itu pas dia baru main sinetron Kabut Cinta Di Bali, dia pacaran sama pewaris Alpha Centauri Grup. Itu lho Zi, pemilik apartement mewah dekat jalan depan itu, sama mall'nya."
Zia yang sudah selesai menyendok nasi dan lauk menggeret kursi dan bersiap makan.
"Ah Zia mah ngga tau nama-nama perusahaan Mbak, apalagi pewarisnya."
Kata Zia lalu menyuap nasi ke dalam mulut.
"Kamu mah, enggak aptudet. Kamu ngga tau sih pewaris grup itu kayak oppa Korea, Mbak pernah lihat dia sekali, duh siapa namanya, Mbak lupa."
Mbak Tinah kemudian menyendok nasi dan lauk, lalu berjalan ke depan TV, duduk sila di atas karpet sambil menikmati makanan dan nonton TV.
Zia menggigit ayam gorengnya dan menikmatinya dengan penuh penghayatan, rasa ayam goreng Umi memang terbaik sedunia bagi Zia.
"Aku merasa pernah lihat perempuan tadi."
Tiba-tiba saja suara Zion mengagetkannya. Cowok itu duduk di atas meja di dekat piring Zia.
"Apalagi? Kamu pernah lihat dia? Ya jelaslah dia artis, iklan sabun, iklan roll on, iklan minuman, wajahnya dia semua, kamu bisa lihat dia di mana-mana."
Zia misuh-misuh, tapi kali ini ia berusaha menekan suaranya serendah mungkin takut Mbak Tinah akan memandangnya aneh lagi.
Tapi Zion menggeleng.
"Bukan, aku pernah lihat dan bicara dengannya."
Mendengar itu Zia jadi hilang kendali, ia tertawa terpingkal-pingkal.
"Hantu bisa halu juga ternyata."
Kata Zia di sela tawanya.
**-------**
"Serius Zi, aku merasa pernah kenal."
"Sungguh Zi, aku ngga bohong. Aku merasa pernah bicara sama dia."
"Pasti dia ada hubungannya sama aku Zi."
"Atau setidaknya dia kenal aku Zi."
"Mungkin kita akan dapat petunjuk dari dia Zi."
"Kamu bisa kan tanya dan cari informasi dari dia?"
"Ayolah Zi, aku mohon."
Hrggggh...
Zia mengacak-acak rambutnya.
Zion mengulang kalimat itu entah berapa ratus kali seharian ini sejak dari rumah Umi.
"Sudah aku bilang dia itu artiiiiis, siapapun akan pernah lihat dia!"
Zia sampai tidak sadar lagi bersuara dengan keras di tempat kerjanya.
"Zi..."
Seseorang menepuk punggung Zia, menyadarkannya.
Zia celingak celinguk ke sekeliling ruangan, dan semua kini tengah memperhatikannya.
ish sial... Batin Zia. Lalu melirik kesal pada Zion yang tak seperti biasanya akan terpingkal melihat Zia apes karena tingkahnya, Zion kini memilih melayang keluar dari ruangan.
Sore menjelang, Zia akhirnya menerima gajian lalu pulang.
Zion tidak ada di luar tempat kerja Zia. Ke mana dia? Batin Zia sembari naik ke motor jadulnya.
Setiap Sabtu Zia selain gajian juga bisa pulang sore, ini cukup menyenangkan setelah lima hari berturut-turut selalu pulang malam.
Zia melajukan motornya. Suara motor jadulnya yang khas membahana ke seantero pelataran rumah majikannya.
Zion masih belum terlihat mengikuti, ada rasa khawatir tiba-tiba menyusul di hati Zia.
Ke mana sebetulnya hantu koplak itu?
Zia tampak sesekali menyapu pandangan sembari melajukan motornya di jalan raya. Kalau-kalau Zion ada di sana.
Dan benar saja, hantu itu ada di bawah tiang listrik. Duduk selonjor bersandar dengan tatapan lurus ke papan iklan besar di dekat lampu lalu lintas.
Zia mendekat, lalu menghentikan motornya.
"Baiklah, baiklah... aku percaya kamu kenal Veronika."
Zia menyebut nama artis itu. Zion menatap Zia nanar.
"Mau ikut pulang ngga? Kalo ngga ya udah, aku mau pulang."
Kata Zia.
Zion pelahan bangkit dari posisi duduknya, lalu menghampiri Zia dan naik ke boncengan.
"Hari ini aku gajian, aky traktir makan enak, kamu mau makan apa?"
Tanya Zia. Zion matanya berbinar-binar. Tiba-tiba Zia begitu baik padanya.
"Soto Betawi." Kata Zion semangat lagi.
"Oke... gaspol."
Zia menstarter motornya, dan menambah kecepatan yang sebetulnya tak begitu berpengaruh. Hihihi...
Sambil menikmati Sabtu sore sekalian malam Minggu, Zia akhirnya memilih makan malam di luar, ia memilih warung soto Betawi yang cukup terkenal.
Setelah puas makan, ia keliling dengan motor jadulnya, Zion setia menemani duduk di boncengan.
Sepasang sahabat beda alam itu sesekali bernyanyi.
"Du di Du di dam dam
Du di Du di dam..."
Lagu anak dari Enno Lerian di tahun sembilan puluhan, yang anehnya Zion juga seolah hafal liriknya, bernyanyi seirama Zia di depannya.
Hampir pukul sembilan malam saat akhirnya Zia sampai di rumahnya, dan baru saja ia akan masuk ke dalam rumah tiba-tiba tiga orang Laki-laki menghampirinya.
Zion menatap mereka curiga, khawatir mereka akan melakukan hal jahat pada Zia.
"Neng Zia."
Seorang laki-laki di antara mereka bersuara.
"Oh iya pak RT."
Zia membungkuk memberi salam.
Oh ternyata dia RT, batin Zion lega. Dan Zion makin lega karena dia tidak terlihat oleh mereka, kalau terlihat pasti dia sudah diusir karena seorang cowok tinggal di rumah gadis.
"Non Zia, kami mau minta tolong, bisa ke rumah Mpok Romlah sebentar?"
**------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 362 Episodes
Comments
Ray
Zia diminta tolong Pak RT ke rumah Mpok Romlah yg anaknya mati gantung diri😱😱Apa gerangan yg terjadi ya🤔🙏
2022-09-16
0
Yuni Verro
keren zia
2022-05-19
0
Muhammad Rusli Rustam
suka
2022-05-18
0