Zia di tempat kerja rasanya sama sekali tidak tenang, tanda tanya besar seolah bertengger di kepalanya.
Ia tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi pada Zion saat memasuki rumah Kakeknya, kenapa ia seperti begitu frustasi, kenapa tiba-tiba ia memeluk Zia, lalu...
Dia bilang dia belum mati, apa maksudnya, jika ia sungguh belum mati lalu kenapa ia gentayangan?
Zia menatap nanar pekerjaannya, otak dan tangannya kini tak mau bekerja sama mencari nafkah, ini sungguh bukan kebiasaan Zia.
Sementara Zia masih terus memikirkan Zion, di tempat lain Zion sibuk mencari sesuatu, yah apalagi, jika bukan si informan kecil.
Zion yang begitu penasaran dengan nasib tubuhnya tak bisa lagi duduk santai seperti sebelumnya, ia ingin segera mengungkap semua misteri ini, ia ingin segera menemukan tubuhnya, memastikan ia bisa kembali ke dunia bagaimanapun caranya.
Zion juga menghawatirkan kakeknya, ia di asingkan di tempat yang Zion juga tidak tau, Zion juga ingin tau siapa sebetulnya pemuda berwajah persis dirinya itu dan ia sungguh ingin menghajarnya jika nanti bisa kembali ke dunia.
Berani-beraninya ia tiba-tiba muncul dan mengacaukan semuanya. Ia bukan hanya berlaku semena-mena dengan posisi dan nama Zion, tapi bisa saja mengancam perusahaan yang sudah susah payah Kakek bangun bersama sahabatnya.
Ah yah, sahabat Kakek, di mana dia?
Zion lupa menanyakannya pada Zia, harusnya ia tau di mana orang itu tinggal. Mungkinkah ia yang menyelamatkan Zion?
Posisi Zion sebagai CEO di perusahaan Kakek dan sahabatnya tentu bukanlah posisi yang tiba-tiba saja Zion dapatkan dengan mudah. Selain Zion pastinya bekerja dengan baik dan dianggap mampu menjadi wajah perusahaan, Zion juga pasti mendapat dukungan yang cukup banyak dari dewan komisaris, termasuk sahabat Kakek.
Zion kini menfokuskan penglihatan, ia mencoba menyusuri setiap sudut mall yang baru saja buka setengah jam yang lalu.
Pengunjung masih tampak sepi.
Zion melayang ke sana ke mari, bertanya pada beberapa hantu yang ia temui, bahkan pada seorang hantu Nenek dekat toilet yang wajahnya hanya separo.
Sampai akhirnya, hantu kecil itu muncul dengan sendirinya sambil cekikikan begitu Zion hampir putus asa.
Tak bisa dipungkiri, jam terbang hantu kecil itu jauh lebih baik dari Zion dalam bersembunyi, mungkin karena seperti yang hantu itu katakan, ia ada di sana dari pertama mall itu berdiri, bahkan mungkin aslinya sebelum akhirnya tanah itu di bangun mall dia sudah ada di sana.
"Kamu mencariku ya?"
Tanya hantu kecil sambil menyeringai. Zion menatapnya kesal, tapi tak mampu berkata apa-apa, ia hanya diam, tak ingin ada perdebatan lagi yang akan lebih menguras energinya.
Hantu kecil itu duduk di atas terali besi lantai dua mall, tak jauh dari Zion duduk.
"Aku ngga bawa makanan,"
Kata Zion.
Hantu kecil itu cekikikan.
"Tenanglah, aku hari ini sedang baik hati, melihatmu begitu putus asa, aku menjadi sedikit iba."
Zion melirik si hantu kecil.
Zion baru akan membuka mulutnya saat hantu itu kemudian menarik tangan Zion melayang ke lantai bawah, lalu membawanya keluar.
Sebuah mobil baru saja memasuki pelataran mall, seseorang turun dari sana. Laki-laki paruh baya berpenampilan cukup rapih.
"Dia dulu drivermu. Apa kamu tak ingat?"
Tanya hantu itu.
Zion mengamati wajah itu, meski ia tak mampu mengingatnya dengan benar, namun ada perasaan ia percaya dengan apa yang dikatakan hantu itu.
"Kamu akan dapatkan banyak informasi darinya jika kamu datang padanya."
Bisik hantu kecil yang sudah melayang lagi.
"Hey, mau ke mana kau?"
Zion menatap si hantu kecil yang menyeringai lalu kembali menghilang.
**-------**
Zion kemudian mengikuti laki-laki yang tadi ditunjukkan hantu kecil. Laki-laki itu naik ke lantai paling atas, bicara dengan seorang laki-laki yang lebih muda dengan berbisik.
Setelah itu ia turun lagi, lalu keluar dan menuju mobil. Zion baru akan masuk ke dalam mobil laki-laki itu saat tiba-tiba ada sebuah mobil lain yang datang.
Fokus Zion terpecah, karena penasaran ingin tahu siapa yang datang, Zion malah kehilangan driver yang harusnya ia buntuti.
Ish sial !!
Zion kesal.
Ternyata yang baru datang hanya pengunjung biasa.
Zion rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya. Dia bahkan belum tau siapa nama laki-laki itu.
Zion melayang pulang dengan lesu ke rumah Zia. Panas di luar ruangan semakin begitu menyiksa, rasanya Zion nyaris meleleh.
Zion duduk terpaku di dalam rumah Zia. Bingung memikirkan langkahnya kemudian.
Tubuhnya, ia harus menemukan tubuh itu. Zion takut jika orang-orang jahat itu lebih dulu menemukannya.
Zion mengepalkan tangannya dan menghantam lantai.
Ia ingat pagi tadi saat ia mencoba memukul bajingan yang wajahnya begitu mirip dengannya itu, membuat emosi hantu tampan itu rasanya kembali naik.
Kenapa tidak bisa? Kenapa aku tidak bisa memukulnya? Aku bahkan ingin membunuhnya dengan kedua tanganku jika perlu. Geram Zion mengingat bagaimana sadisnya perintah pemuda itu pada laki-laki bertato bila tubuh Zion ditemukan.
Sudah jelas dia bukan manusia.
Dia setan berwujud manusia.
Tidak ada yang akan melakukan hal sekeji itu, jika ia masih seorang manusia.
Zion menatap jam dinding.
Jam kepulangan Zia masih begitu lama. Jika begini waktu seolah berjalan sangat lambat dan itu membuat emosi.
Andai ada yang bisa diajak bicara lagi selain Zia. Andai ada yang bisa diandalkan lagi selain gadis itu.
Ah' Zion meremas rambut kepalanya dengan keras dengan kedua tangannya.
Ia benar-benar merasa sedang berjalan di jalanan yang sempit, gelap dan buntu. Tak banyak pilihan, tak banyak yang bisa dilakukan.
Dalam keputusasaan nya Zion merebahkan diri. Mencoba memejamkan mata, mencoba mengalihkan pikirannya yang semrawut.
"Ziooooon... Ziooooon... Kemari nak."
Seorang wanita berparas cantik memanggil dari arah pintu sebuah rumah kayu yang halamannya luas ditumbuhi rerumputan dan berbagai macam bunga. Pohon mangga yang rindang juga tumbuh di sana, di mana di bawahnya terdapat ayunan.
Zion kecil berlari memasuki halaman dan menghambur ke arah wanita yang begitu keibuan itu, di belakang Zion seorang gadis kecil mengikuti dan melompat ke pelukan sang wanita.
"Ibu..."
Panggilnya manja.
"Zion curang larinya kenceng banget, aku jadi ketinggalan terus,"
Gadis kecil itu merengek. Sang Ibu tersenyum lalu merangkul kedua anak itu untuk masuk ke dalam rumah,
"Sudah... Sudah... Kita makan dulu yah."
Zion duduk di kursi makan, di sebelahnya gadis kecil itu, dan...
Zion melihat tangan kecil gadis itu, di jarinya melingkar cincin kecil dengan inisial huruf Z.
Ciiiiit... Bugh !!
Zion kaget. Ia terbangun dari tidurnya. Ternyata hari telah gelap. Buru-buru ia keluar dari rumah melihat suara apa barusan. Ternyata Zia yang ada di sana, ia membawa satu kantong lemburan lagi dan saat parkir kantong itu terjatuh.
**------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 362 Episodes
Comments
Ray
Apa hubungan Zion dan Zia🤔 Dan apakah Ziya cucu dari sahabat kakeknya Ziya, atau Zia adiknya Zion 😱🤔
Pokoknya bikin penasaran terus 👍😘
2022-09-16
0
Yuyun Yuningsih
kalo zion bisa peluk zia. knapa zion gak bisa pukul orang yg sama persis dengan dia?
2022-06-17
1
Yuni Verro
jangan2 zia bnr zio itu reza
2022-05-19
1