Zia memasuki kamar mendiang Murni. Rasa merinding sempat menyergap Zia sejenak. Meskipun Zia cukup sering bertemu hantu, dan bahkan sekarang tinggal bersama hantu, tetap saja saat akan bertemu hantu asing ia merasa sedikit merinding.
Bagaimanapun mereka beda alam, jadi mustahil tidak merasakan apa-apa.
Ah yah, jangankan dengan mereka yang beda alam. Sesama manusia saja, jika yang belum kenal pasti ada rasa was-was di dalam hati.
"Sudah hampir satu Minggu, tapi kamar ini setiap malam masih saja seperti ada aktifitas. Kadang ada suara kursi bergeser. Kadang ada suara Murni bersenandung lagu kesukaannya."
Mpok Romlah bercerita dari ambang pintu kamar Murni.
Zia diam sejenak. Matanya mengamati ke sekeliling ruangan. Tak ada apa-apa di sana. Bahkan Zion juga memberikan isyarat pada Zia bahwa semua sudut kosong tak ada hantu lain selain dirinya.
Zia kemudian mengajak Mpok Romlah keluar kamar. Lalu duduk kembali di atas gelaran tikar dan karpet di ruang tamu yang sempit.
Acara tahlil memang belum selesai, karena belum genap tujuh hari.
Pak RT dan dua hansip yang bertugas jaga malam di kampung mereka tampak masih duduk juga di sana bersama suami Mpok Romlah dan anak-anak Mpok Romlah yang lain, wajah mereka begitu serius dan sedikit takut.
Zia menarik nafas dalam-dalam. Zion duduk di samping Zia, matanya waspada, kalau-kalau ada pergerakan mencurigakan.
"Saya enggak lihat apa-apa di sini."
Kata Zia.
"Seriusan Neng?"
Tanya Bi Romlah.
Zia mengangguk.
"Tapi aku benar-benar dengar suara Murni bersenandung dari dalam kamar jam sebelas malam kemarin."
Kata Kakak Murni.
"Aku bahkan melihat bayangannya ke arah dapur."
Kata kakak Murni yang satunya.
"Sejujurnya sejak peristiwa Mpok Ilah itu, kami sekeluarga merasa tidak enak dengan warga kampung Neng, ditambah di rumah kami sendiri juga mulai seperti ini."
Bapak Murni mulai ikut bersuara. Wajahnya yang tegas tampak putus asa. Zia jadi tidak enak, karena tidak bisa banyak membantu.
"Mungkin saya akan coba ke tempat Murni ditemukan saja Mpok,"
Akhirnya Zia memutuskan.
Sebetulnya Zia sedikit ragu, tapi toh dia sudah tanggung mengiyakan mau membantu, pantang baginya menjilat ludah sendiri.
"Kamu mau nemenin aku kan?"
Zia bertanya pada Zion, ia harus memastikan jika ia tidak akan sendirian.
Zion mengangguk. Bagaimana bisa ia menolak, Zia sudah menampungnya, memberi makan dan akan membantunya mencari asal usul dirinya.
Tapi...
Zia tiba-tiba sadar semua orang menatapnya dengan tatapan aneh.
Zia baru sadar ia terlihat bicara dengan dinding di mata orang lain.
"Ngga apa Mpok, semua... Yang bersama saya seperti Casper, hantu baik."
Kata Zia akhirnya jujur.
"Hah... Hantu..."
Semua kompak terkejut.
**---------**
Di dekat pohon beringin tua yang cukup besar, tampan seorang gadis duduk memeluk kakinya. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya. Ia menangis tersedu-sedu.
"Tolong aku... Kenapa semua orang mengacuhkanku... Aku takut... Aku takut..."
Rintihnya sedih.
Dari ujung jalan tampak seorang gadis memakai daster tidur berjalan pelan, tangannya memegang tali. Ia terus berjalan hingga ke pohon beringin itu, lalu mengikat tali yang di bawanya di salah satu batang pohon...
Krieeet... krieeet...
Murni berdiri dari duduknya. Menatap nanar apa yang dilakukan gadis itu.
Gadis itu naik lalu mengikat lehernya sendiri.
Tak ada lagi yang peduli padaku, buat apa aku hidup lagi.
Ia lalu melompat dengan leher terikat.
"Jangaaaaan... jangaaaaan..."
Murni berteriak dengan matanya yang terus mengeluarkan darah.
"Aku tidak sungguh sungguh ingin melakukannya... Jangan."
Murni menangis.
Gadis dalam dengan leher menggantung itu mendongakkan wajahnya.
Wajah Murni. Ia menyeringai pada Murni.
"Murni..."
Tiba-tiba terdengar suara lain. Seorang gadis dengan seorang laki-laki tampan.
Murni menatap kedatangan keduanya.
"Siapa kalian?"
Tanya Murni.
"Aku Zia."
Kata Zia.
"Aku Zion."
Kata Zion pula.
"Murni, sudah cukup, kamu tidak boleh di sini terus."
Kata Zia.
Sedikit seram melihat wajah Murni yang pucat terlihat dipenuhi aliran air mata darah.
"Kamu sudah meninggal Murni, sadarlah."
Kata Zia lagi pada gadis di hadapannya.
Murni menatap Zia dengan tatapan sedih, namun detik berikutnya dia tiba-tiba menggila.
"Enggak... Enggak mungkin... Kamu bohong !! kamu pasti setan yang sengaja nakut-nakutin aku !!"
Ish... Zia mendesis.
Yang setan kamu, malah ngatain aku setan. Yang mukanya serem kamu, dibilangnya aku yang nakut-nakutin. Sial... sial... Batin Zia kesal.
"Kamu meninggal gantung diri lima hari lalu, kamu pikun apa gimana?"
Zia jadi kesal dibilang nakut-nakutin.
"Enggak ! Aku ngga percayaaaaaaaa...!!"
Tiba-tiba Murni menubruk tubuh Zia, lalu mencekik leher Zia. Zion yang melihat jelas saja tidak tinggal diam, dia langsung menarik rambut Murni dari belakang, dan melempar Murni hingga terpelanting.
"Uhuk... Uhuk... uhuk..."
Zia terbatuk. Cekikan Murni di lehernya membuatnya hampir kehilangan nafas.
"Kamu baik-baik aja Zi?" tanya Zion.
Zia menepuk-nepuk dadanya yang sesak.
"Jelas saja aku ngga baik-baik saja, hantu itu hampir membunuhku."
"Uhuk... Uhuk... Uhuk..."
Zia terbatuk lagi.
Di saat itu Murni sudah berdiri lagi, ia ingin menyerang Zia lagi, saat kemudian Zion lebih dulu menyadarinya dan mencengkram tangan Murni, lalu menariknya menjauh dari Zia.
"Lepaskaaaaaan... Lepaskaaaaaan...!!"
Jerit Murni yang dibawa melayang oleh Zion.
"Diam dongok !!"
Bentak Zion marah.
Zion membawa hantu Murni ke area pemakaman. Di sana, di atas kuburan yang masih baru, yang tanahnya masih merah, Zion melempar Murni.
"Lihat dengan matamu !! lihat !!"
Bentak Zion.
"Gadis yang kamu ikuti sejak dia lahir sudah meninggal. Sudah terkubur di bawah tanah. Harusnya kamu merelakan kepergiannya!!"
Murni menatap nanar kuburan di depannya.
"Benarkah itu kuburan Murni? Benarkah?"
"Apa yang kamu lakukan beberapa hari ini membuat takut semua orang, bahkan keluarga Murni sendiri. Kamu secara tidak langsung menfitnah Murni setelah meninggal jadi kuntilanak yang kurang kerjaan hingga meneror warga kampung."
"Pergi ke warung, pesan ojol, bersenandung malam hari, memanggil tukang ronda, mondar-mandir di rumah."
"Aku enggak meneror, aku hanya melakukan apa yang biasanya ia lakukan."
"Tapi ia sudah mati, jadi berhentilah seolah-olah dia masih ada, kasian keluarga Murni!!"
"Kasihan? Buat apa mereka dikasihani? Mereka nggak sayang pada murni. Mereka mengabaikan keinginan Murni untuk kuliah. Mereka malah memaksa murni menikah saja dengan laki-laki yang seusia Bapaknya supaya hidupnya terjamin."
Hantu Murni ganti berteriak pada Zion.
"Aku akan menggantikan Murni membalas dendam." geram ha yu Murni.
Zion mengeplak kepala hantu Murni.
"Itu bukan urusanmu ! urusanmu sudah selesai sejak Murni meninggal."
"Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan? Gentayangan di sini. Kenapa kamu boleh sementara aku enggak ?!"
Zion diam sejenak. Rasanya tangannya sudah gatal ingin memukul kepala hantu bodoh itu.
"Karena aku belum tau aslinya di mana tubuhku. Kamu harusnya bersyukur, karena semua langsung jelas."
Kata Zion akhirnya.
**------**
catatan : sebetulnya kenapa sering ada hantu mirip orang yang sudah meninggal karena itu jin qorinnya. Mereka kadang belum bisa nerima kenyataan tubuh / manusia yang selama ini mereka ikuti sudah tiada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 362 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Br kal ini baca cerita horor yg tdk menakutkan..malah senyum² dan bahkan tertawa karena lucu...🤭🤭
2022-09-19
0
Ray
Semoga Zion belum mati, mungkin masih koma di rumah sakit, atau disekap sama artis itu, atau Zion ditumbalkan oleh artis itu yg dulu pacarnya sehingga raganya pisah dari tubuhnya😱 Lanjut Up Outhor biar gak penasaran 💪🙏
2022-09-16
0
jaemin luvvꕤ
sdikit merinding sih,tp seru klo zia sm zion bertengkar😭
2022-07-08
1