"Apa yang bisa kalian lakukan buat kami kalo kami bersedia membantu?"
"Makanan."
Sahut Zion cepat. Zia jelas saja mendelik.
"Makanan apa? Siapa yang mau beli?"
Zia tiba-tiba mengkhawatirkan isi dompetnya.
"Tenang saja, nanti aku ganti. Kamu tau sekarang aku siapa."
Kesal Zion seolah Zia tidak percaya uangnya akan diganti.
Zia menghembuskan nafas.
"Yang benar saja, kamu kan sudah jadi hantu, gimana caranya mau ganti duit aku, selama ini saja kamu makan ikut aku."
Omel Zia.
Hantu kecil itu menatap keduanya, lalu geleng-geleng.
"Kalian pacaran ya?"
Tanyanya membuat dua mahluk beda alam itu menabok kepalanya.
Plak... plak... !!
"Ya sudah, aku ngga akan bantu."
Hantu kecil itu ngambek. Baru akan melayang pergi saat rambutnya di tarik Zion ke belakang.
"Sebentar, negosiasi belum selesai."
"Kalian senang melakukan kekerasan pada anak-anak."
Kata hantu kecil itu.
"Eh kupret, kamu jadi penunggu mall ini saja sudah dari pertama mall ini berdiri, aku aja belum lahir pas itu."
Balas Zia.
"Sumpah?"
Zion malah membulatkan matanya, terkejut.
"Jadi bocil ini lebih tua dari kita?"
Zion menunjuk si hantu kecil.
"Iyalah, mungkin dia seumuran Nenekku."
Kata Zia.
"Kalau begitu kalian harus hormat padaku, kalian anak jaman now harus belajar sopan santun."
Hantu kecil misuh-misuh.
"Jiaaah dia tau istilah jaman now segala. Maklum, hantu gaol, tongkrongannya di mall."
Zia bergumam tak jelas.
"Oke, oke... kita balik ke masalah utama. Jadi apa yang bisa kalian kasih ke kami."
Hantu kecil itu kembali meminta kejelasan nasib kerjasama mereka, tentu harus saling menguntungkan. Seperti di dunia manusia, tidak ada makan siang gratis, kecuali dari teman yang sedang ULTAH.
"Ya sudah makanan, tapi akan aku catat sebagai bon, awas aku akan tagih sampai aku masuk liang lahat."
Kata Zia pada Zion yang mendengus.
Hantu kecil itu nyengir merdeka.
"Aku punya pasukan hantu kecil di sini. Mereka banyak sembunyi di boneka dan taman bermain."
Hantu kecil kemudian menatap Zion.
"Kamu di sini sebagai hantu, tapi ada yang lain menggantikanmu, pasti kamu tidak tahu. Hihihi..."
Hantu kecil cekikikan lagi.
"Apa maksudmu?"
Tanya Zia dan Zion bersamaan.
"Kami hantu tahu, tuan CEO yang sekarang bukan orang yang sama, aroma kalian berbeda."
Hantu kecil menyeringai.
"Katakan yang jelas, maksudmu apa?!"
Zion tak sabar.
Tapi hantu kecil menyeringai lagi.
"Lain waktu bawakan makanan lagi, akan aku beritahu informasi lain."
Setelah mengatakannya ia tiba-tiba menghilang.
"Sialan... sialan...!!"
Zion mengutuk.
Dia seperti kesetanan melayang ke sana ke mari mencari sosok hantu kecil itu, tapi entah di mana dia sembunyi.
Tak jauh dari Zion dan Zia yang sibuk mencari hantu kecil, seseorang tampak berjalan menyusuri mall diikuti sejumlah staf.
Cowok tampan itu begitu rapih, setiap senyumannya yang terkembang seperti magnet besar yang mampu menarik perempuan manapun yang melihat.
"Selamat pagi tuan Zion."
Sapa karyawan yang dilewati cowok itu.
**-------**
"Apa mungkin kamu punya kembaran?"
Tanya Zia saat dalam perjalanan pulang. Zion di boncengan terdiam, otaknya sekarang seperti benang kusut.
"Pantas tidak ada berita tentang kamu, harusnya seorang cucu pengusaha besar meninggal akan masuk headline news, apalagi kamu pernah jadi pacar artis sekelas Veronika."
Zia masih mengoceh.
Zion menatap langit. Ia bingung menghadapi kenyataan ini. Saudara kembar, ia tidak ingat, atau memang belum ingat, atau memang justru memang tidak tahu.
Si oscar motor jadul Zia baru memasuki halaman rumah dengan sang majikan saat terlihat Dimas sudah menunggu di teras.
Melihat Zia datang, Dimas segera menyambut. Terlihat ia bergegas menghampiri Zia yang baru memarkirkan motornya.
Zion turun dari boncengan, dan melayang tanpa komentar apapun, menembus pintu masuk ke dalam rumah.
Enak banget jadi hantu, slonang slonong. Batin Zia melihat Zion yang mendahului si empunya rumah masuk.
"Darimana Zi?"
Tanya Dimas, Zia membuka helmnya, lalu memaksakan satu senyuman.
Ia terlalu lelah sebetulnya untuk basa basi, tapi bagaimana lagi, Zia terlalu banyak hutang budi dengan Umi sekeluarga.
"Ngg... Itu, dari mall depan."
Jawab Zia.
"Dari mall?"
Dimas terkejut.
Sepanjang hidupnya mengenal Zia, baru kali ini ia dengar Zia mau jalan-jalan ke mall. Biasanya dia selalu beralasan malas keluar jika diajak, jangankan cuma pergi berdua, saat Dimas mengajak serta Kanaya juga Zia tetap tidak mau.
"Sama siapa Zi?"
Tanya Dimas, ada nada sedikit cemburu dalam suaranya, mungkin dikira Zia habis kencan. Padahal boro-boro kencan, pergi aja sama hantu.
"Sendirian Bang, cuma lagi iseng nyari kaos aja."
Sahut Zia asal.
Lagian apaan sih, mau pergi sama siapa juga terserah aku kan? Mau sama Lee Min Ho juga kan hak aku. Hihihi...
(Ya kali Lee Min Ho mau)
"Hari ini Umi ada acara keluarga di Bekasi, tadi pagi pas berangkat kami mampir ke sini kamunya ngga ada, hp kamu juga susah dihubungi, khawatir ada apa-apa jadi aku balik dulu mastiin kamu baik-baik aja."
Jelas Dimas.
Mendengar penjelasan Dimas, Ziapun tersenyum.
"Makasih Bang udah perhatian."
Kata Zia.
"Soalnya warga kampung cerita, semalam kamu dimintai tolong sama keluarga mpok Romlah dan Pak RT."
"Oh soal itu..."
Zia nyengir sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal.
"Kamu ngga apa-apa kan?'
Tanya Dimas.
"Ngga apa-apa Bang, santai aja, udah biasa juga ketemu hantu mah. Sekarang mah udah aman."
Kata Zia meyakinkan.
Dimas menatap Zia.
"Ngg... Bang Dimas kalau ada acara ngga apa pergi saja, Zia juga mau istirahat."
Kata Zia lagi, setengah mengusir. Ia benar-benar sudah ingin istirahat sekarang.
Dimas yang mengerti Zia seperti tak ingin diganggu akhirnya pamit. Cowok itu pergi meninggalkan rumah Zia.
Fiuuuuh...
Zia menghembuskan nafasnya.
Gadis itu menyeret langkahnya menuju pintu rumah, memasukkan kunci, memutar handle pintu dan klek...
Pintu terbuka. Suara kipas angin yang khas terdengar memenuhi ruangan.
Zion berbaring di atas karpet.
Wajahnya kusut seperti otaknya.
Zia melempar topi dan tas selempangnya ke atas kasur, lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil air dingin.
"Zi..."
Tiba-tiba Zion sudah ada di dekat Zia saat Zia sedang meneguk air minumnya, membuat Zia kaget dan hampir tersedak.
"Buset dah,"
Zia misuh-misuh.
"Gimanapun aku harus cari tau apa yang sebetulnya terjadi. Kenapa tiba-tiba aku jadi hantu. Kenapa tiba-tiba ada orang persis aku yang menempati posisi aku. Siapa dia? Apa hubungannya dia denganku? Lalu siapa yang mencelakaiku sebetulnya? Apa motifnya sebetulnya."
Zion berapi-api. Matanya menyala.
Zia meneguk sisa air putih dinginnya.
"Baiklah... aku akan bantu, bagaimanapun aku hutang nyawa gara-gara Murni."
Mendengar Zia mengatakannya Zion mengangguk, ia mengulurkan tangan pucatnya, Zia menyambut dan menggenggamnya, dan...
tiba-tiba, ada yang terasa aneh pada Zia. Ia seperti Dejavu. Seperti pernah berjabatan tangan seperti itu juga dengan Zion. Mengucap janji, tapi entah di mana dan kapan.
**-------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 362 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Langsung cuss aja ke kantormu Zion...mulai penyelidikan dari sana...
2022-09-19
0
Ray
Apa waktu masih kecil dulu yg Zion mimpi lagi berlari dipinggir pantai, itu Zion dengan Zia🤔Semakin Seru dan Penasaran 🤔Lanjut Up💪🙏
2022-09-16
0
Anisbasri
lucu bngt thor,,hahaha hihihihihi aku baca nya
2022-06-30
0