"Zi, kenapa kamu ngga tidur di kamar sih? Malah gelar kasur di ruang tamu gini."
Tanya Zion saat Zia baru saja selesai mandi sore.
"Males tidur di kamar sejak Nenek meninggal, lagian aku kan tidur cuma sebentar, malam aku lembur, kalo ngantuk tinggal lompat kan praktis."
Sahut Zia.
Ia lalu duduk bersila, mengeringkan rambut dengan kipas angin seperti biasa.
"Masuk angin baru tau."
Kata Zion melihat kebiasaan Zia yang aneh tiap habis mandi.
"Yang kemarin malam dicekik Murni udah ngga sakit?"
Tanya Zion lagi.
"Udah ngga apa."
Jawab Zia santai, lalu...
"Eh iya, aku belum tau kabar Murni sejak ketemu kita itu, masih gentayangan ngga dia ya?"
Zion menghela nafas. Malas sekali kalau harus berurusan dengan Murni lagi.
"Tapi kayaknya sih udah aman, soalnya Pak RT ngga ke sini lagi, syukurlah."
Gumam Zia, dan...
Pokk !!
"Aduh!"
Zia mengusap kepalanya yang di lempar bantal oleh Zion.
"Kenapa kamu lempar bantal sih?!"
Zia kesal.
"Habis kamu jadi manusia bego banget mau-maunya dimanfaatin begitu, apa untungnya buat kamu."
Zion ikutan kesal.
"Ya apa salahnya bantu orang lain selagi kita mampu, hidup kan bukan cuma ngurusin diri sendiri."
Sahut Zia beralasan.
"Tapi kamu hampir celaka."
"Ya itu risiko, gimana lagi, yang penting sekarang aku baik-baik aja."
"Ya kan aku yang nolongin."
Zion tetap tak mau kalah.
Zia mendengus sebal.
"Iya... iya... makanya aku juga sekarang nolongin kamu biar gantian."
Zion sejenak terdiam, lalu...
"Kali lain jangan ceroboh begitu lagi, gimana nanti kalo aku udah ngga ada."
Kata Zion sambil melayang pergi.
Ish... Zia mendesis.
Emangnya kenapa kalo dia ngga ada? Dari dulu juga aku sendirian. Gumam Zia kesal.
Zion duduk di atap rumah Zia. Menatap anak-anak senja yang mulai berlarian mengiringi sang Surya yang akan segera kembali ke peraduan.
Akankah aku bisa benar-benar memecahkan semua misteri kematiannya? Setelah itu, ke mana aku akhirnya?
Tiba-tiba Zion merasa begitu hampa.
Zion masih duduk tercenung di atap rumah saat Zia keluar dan memanggil namanya.
"Aku mau makan mie ayam, ikut ngga?"
Tanya Zia.
Zion melayang turun.
"Kamu suka banget makan mie, ngga takut ususmu lengket apah?"
Tanya Zion. Zia menepuk dahinya.
"Di kira ususku permen karet apah lengket."
Kata Zia sambil mengunci pintu lalu berjalan dan naik ke atas motor.
"Warungnya jauh?"
Zion bertanya sambil naik ke boncangan.
Zia menstarter motornya.
"Lumayan dari sini, ya ngga tau sih, aku juga baru mau nyoba, banyak yang bilang enak."
Zia tampak bersemangat.
"Oo..."
Motor kemudian melaju, berkejaran dengan senja yang semakin memudar.
"Kamu bisa melayang kenapa selalu bonceng sih?"
Zia melirik Zion di belakangnya lewat spion.
"Melayang kan juga butuh energi, makanan di tempatmu kurang sehat, aku harus jaga stamina."
Kata Zion membuat Zia ingin mendorongnya jatuh.
"Kalau saja manusia, sudah aku jorogin ke Empang."
Zia misuh-misuh.
Tak terlalu lama, motor Zia akhirnya sampai di warung mie ayam ceker Mang Usman. Warung itu sangat ramai, parkiran saja sampai penuh motor.
Zia bergegas turun.
"Semoga masih kebagian, katanya enak banget di sini, banyak yang rekomendasiin, aku baru sempet ke sini."
Kata Zia bisik-bisik, Zion hanya melengos. Makan malam mie ayam, ini ide paling aneh sepanjang ia jadi hantu.
Zia berjalan melewati tukang parkir, masuk ke dalam warung dan waw... penuh sesak.
Zia langsung menuju si penjual yang hampir tidak kelihatan karena tertutup orang antri.
Tapi...
"Eh buset, kaget aku."
Zia mundur beberapa langkah, saat ia melihat hantu gendut berwarna hijau dengan mata merah dan lidah menjulur keluar di dekat si penjual. Air liurnya menetes masuk ke panci kuah.
**-------**
Zia dan Zion yang akhirnya melakukan gerakan angkat kaki, tampak memuntahkan semua sisa isi perut di pinggiran jalan yang sepi.
"Ya ampun kepalaku rasanya muter."
Kata Zia sambil terhuyung ke motornya.
"Itu kali ya, yang dikata hantu bisa bikin laris usaha makanan..."
Kata Zia.
Zion yang tampak masih mual terlihat jongkok dipinggir trotoar.
"Kayaknya bukan gitu Zi, dia sama aja kayak aku, nyoba makan cuman kelewatan aja cara makannya langsung di atas panci."
Lalu Zion muntah lagi.
Huek... Huek... Huek...
Melihatnya Zia malah jadi tertawa terpingkal-pingkal, lucu rasanya melihat hantu bisa muntah.
"Sialan, seneng banget kalo lihat aku susah."
Kesal Zion, tapi Zia mana peduli, yang ada dia semakin terpingkal.
Setelah akhirnya dirasa tak lagi terlalu mual, keduanya akhirnya memutuskan makan nasi goreng di warung tenda Pak Tegal saja, itung-itung sekalian nengokin apa mba Kunti hari ini nongkrong di sana.
Warung tenda nasi goreng Pak Tegal sudah tampak ramai saat akhirnya Zia dan Zion sampai. Sayangnya mba Kunti hari ini tidak terlihat seperti sebelumnya.
"Pas aku di sini padahal dia selalu ada, kenapa sekarang susah ditemuin."
Zion kecewa.
"Kamu sih, ngga minta nomor hp'nya."
Cibir Zia.
Pokk...
Zion menabok dahi Zia.
"Aww...!"
Zia mengusap dahinya.
Mereka kemudian masuk ke dalam warung tenda, Pak Tegal menyambut senang.
"Eh mbak, berjumpa lagi ya sama saya, mau makan?"
Tanya pak Tegal ramah dengan logat khasnya.
"Iya dong Pak, masa mau salto."
Jawab Zia asal.
Mendengarnya Zion terbahak. Gadis yang satu ini benar-benar ajaib, pikirnya.
"Satu ya Pak, Nasi Goreng Kambing, pedes, banyakin kecapnya, bawang goreng sama ge pe el..."
Pesan Zia.
"Siap nemen wis Mbak'e, milih tempat duduk dulu oh, supaya santuy..."
Kata Pak Tegal.
"Bereees..."
Zia mengacungkan ibu jarinya, lalu sibuk memilih tempat.
Zia baru akan duduk di pojokan saat orang yang baru selesai makan bertabrakan dengannya.
Laki-laki, dengan badan tinggi, tegap, kulit gelap dan bewokan. Ia memakai celana jeans warna hitam, dan kaos warna hitam lengan pendek hingga memperlihatkan tato bergambar ular melingkar di tangannya.
"Maaf bang..."
Kata Zia, laki-laki itu acuh saja, ia melewati Zia dan menuju Pak Tegal untuk membayar.
Ish... Zia mendesis, lalu duduk di tempat yang ia pilih.
Gadis itu kemudian sibuk mengambil gelas yang disediakan di atas meja, menuang air teh hangat lalu meneguknya.
"Aku merasa ngga asing sama dia."
Kata Zion tiba-tiba, hantu itu duduk di samping Zia.
"Bang bewok tadi?"
Tanya Zia dengan suarq bisik-bisik.
Zion mengangguk. Matanya masih menatap jalanan di luar warung tenda.
"Aromanya, aku ingat aroma itu... di suatu tempat aku yakin aku pernah mencium aroma itu."
Tandas Zion yakin.
**--------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 362 Episodes
Comments
Ray
Bisa jadi lelaki tinggi besar itu yg membius dan menculik Zion atas suruhan pacarnya Veronika dan Zion palsu yg menyerupainya dan menggantikan posisi Zion sebagai CEO asli di mall itu🤔😱
2022-09-16
0
Wahyu Patuman
semoga Zion blm mati ... cuma dlm keadaan koma
2022-05-30
0
Yuni Verro
pasti dia zion yang mencelakaimu
2022-05-19
0