Zia seperti biasa di pagi hari juga harus mengantar susu. Ia bergegas keluar dari rumahnya.
Hanya memakai celana blue jeans ngatung, kaos oblong putih dan Toli hitam, Zia menuju rumah majikannya untuk mengambil susu-susu yang akan di antar.
"Aku ikut."
Kata Zion duduk di boncengan motor jadul Zia.
"Jiaaah, kamu kira aku mau jalan-jalan apa."
Zion nyengir kuda. Lalu...
"Sudah ayo jalan, aku supporter."
Kata Zion menepuk bahu kecil Zia.
Gadis itu mendengus kesal. Pasti jaman dulu nenek moyangnya bikin salah sama hantu hingga Zia yang harus menanggung karma. Rutuk Zia dalam hati.
Zia akhirnya menstarter motornya. Keluar dari halaman rumah menuju jalan besar.
Motor jadul itu bersuara brat bret brat bret, larinya juga tidak kencang sama sekali. Tapi Zia cuek saja, buat Zia yang penting motor itu masih bisa mengantarnya ke mana saja ia ingin tuju.
"Mampir beli minum dulu buat Oscar." Kata Zia.
"Oscar?"
Zion celingak celinguk.
Zia mengetuk kepala motornya beberapa kali.
"Nih, namanya Oscar." Kata Zia, membuat Zion Terpingkal.
"Motor jadul di kasih nama Oscar, ganti aja Bejo."
Cibir Zion membuat Zia ingin memukulnya, tapi Zia kemudian sadar pegawai SPBU dan orang-orang yang sedang mengantre melihat ke arahnya.
Zia pun nyengir keki sambil pura-pura garuk kepalanya. Zion makin terpingkal.
Setelah selesai mengisi bensin untuk si oscar, Zia mengambil susu-susu di rumah majikannya, dia dengan semangat mengantarkannya satu persatu.
Saat ada rumah yang pagarnya tinggi dan lama tak dibuka, maka Zion yang akan melayang lalu menggantungnya di handle pintu rumah.
Lama-lama Zia merasa jika kehadiran Zion ternyata banyak gunanya. Dia termasuk hantu yang rajin, sayangnya dia juga hantu yang penakut.
Saat tadi ada rumah pelanggan yang di depannya ada mahluk tinggi besar berbulu seperti kera, Zion yang malah lari tunggang langgang.
Dan jika sudah begitu, Zia yang langsung ganti mencibir dan terpingkal-pingkal menertawakan.
"Fiuuuuh... lelah."
Zia menghentikan motornya sejenak di dekat taman komplek.
"Kenapa berhenti?" Tanya Zion.
"Sebentar lagi ada orang jualan bubur kacang ijo, orangnya udah tua, kasian, aku selalu beli buat penglaris dia jualan." Kata Zia.
Zion untuk kali pertama akhirnya merasa Zia ternyata punya sisi positif.
Zia duduk di tepi trotoar di taman komplek, kakinya selonjor agar bisa sedikit melepas lelah.
Zion juga ikut duduk di sampingnya.
Keduanya menatap pepohonan yang rimbun dan hijau di sekitar taman. Beberapa burung tampak terbang di sekitar pohon sambil sibuk berkicau.
"Sebenernya kamu tuh ngikutin aku terus mau ngapain sih?"
Tanya Zia akhirnya.
Ia penasaran karena selama ini biasanya hantu yang ia lihat hanya penampakan sekilas-sekilas saja.
Zion beralih menatap langit yang cerah, baru kemudian menatap Zia.
"Aku ingin dibantu nemuin jati diriku sebenernya." kata Zion.
Zia mengerutkan kening. Alisnya tampak nyaris bertautan.
"Jati diri kamu?"
Zion mengangguk.
"Aku dua bulan ini ngga tau harus bagaimana. Aku ngga ingat apapun soal diriku. Yang aku tau, tiba-tiba aku ada di sekitar jalan dekat warung nasi goreng tenda sekitar kita ketemu pertama kali."
"Tapi kamu tau namamu Zion." Kata Zia.
Zion mengangguk.
Lalu memperlihatkan jam tangannya.
Di tali jam tersebut, ada ukiran nama "ZION".
**-------**
Sepanjang hari di tempat kerja, Zia memikirkan permintaan Zion dan semua cerita Zion dari A sampai Z.
Sebetulnya Zia sudah pernah kapok jaman dulu nolongin hantu anak kecil yang minta tolong nemuin keluarganya, dimana usut punya usut akhirnya ketahuan anak itu di bunuh sama Bapak tirinya.
Walhasil, jadilah rumah tangga orang berantakan karena kasusnya terungkap. Zia jadi kebawa-bawa sampai sekian lama.
Zia menghela nafas.
Tapi...
Zia teringat wajah Zion saat mengungkapkan kebingungannya menjadi hantu.
Ada iba tiba-tiba hadir dalam dirinya. Apalagi jika dipikir-pikir, sejak pertama datang ke rumah semalam, hingga pagi tadi, Zion cukup banyak membantu.
Mungkin tidak akan terlalu rugi buat Zia jika membantu Zion menemukan jati dirinya.
Yah, hanya itu kan?
Zia mungkin cukup dengan mencari di internet saja, berita orang hilang misalnya, atau mungkin dia akan share di media sosial.
Ya pokoknya, biar tidak terlalu ribetlah.
Zia seperti biasa pulang malam. Untungnya paman tanpa kepala hari ini tidak tampak muncul di sekitar gang menuju rumah Zia.
Memang hantu itu kan begitu. Tidak setiap hari dia bisa kelihatan. Kadang dia menampakan diri, kadang juga enggak.
Zia juga kalau ingin bertemu mereka bukan atas kemauan Zia, tapi pas kebetulan saja bisa bertemu.
Zia memarkirkan motornya di halaman depan rumah, lalu berjalan ke arah pintu saat dari atap depan Zion melayang.
Zion menguap lebar sambil merentangkan tangannya untuk menggeliatkan tubuh.
"Kamu molor di atap?"
Tanya Zia.
Zion mengangguk.
"Ada kasur malah tidur di atap, dasar hantu, kurang kerjaan."
Gumam Zia sambil membuka handle pintu, lalu masuk ke dalam rumah.
Dilemparnya jaket, topi dan tas selempangnya ke atas kasur.
"Hmm... percuma diberesin juga,"
Zion berkomentar.
Zia melirik sebal.
"Cerewet." Cibir Zia. Lalu duduk di karpet.
"Zion, sini duduk."
Zia menepuk karpet yang tak jauh dari ia duduk. Zion memicingkan mata. Curiga...
"Eh mesum, sini aku mau ngomong."
Kata Zia lagi.
Zion akhirnya menurut. Menghampiri Zia dan duduk di sana.
"Aku sudah memikirkannya seharian ini."
Zia akhirnya membuka percakapan mereka dengan lebih serius.
"Soal apa?"
Zion kumat tulalit. Zia mendengus.
"Permintaan kamu duduuuuul..."
Zia tak sabar.
"Ohh... Ya... Ya... oke, gimana?"
Zia menarik nafas dalam-dalam, dan...
"Baiklah aku setuju membantu..."
Putus Zia akhirnya.
"Oh ya? Serius?"
Mata Zion berbinar, senyumnya lebar.
"Tapi ada syaratnya."
Kata Zia.
Zion mantuk-mantuk.
"Bantu aku bersih-bersih rumah dan ngantar susu seperti tadi pagi. Jagain rumah selama aku pergi. Dan yang terakhir saat nanti kamu nemuin jati diri kamu, keluarga kamu dan sebagainya, apapun yang terjadi jangan libatin aku."
Zion tampak mengangguk setuju.
"Jangan langsung mengangguklah, pikirin dulu."
Kata Zia kesal.
Ngangguk-ngangguk iya ternyata enggak mudeng, kan gawat. Batin Zia.
"Aku janji akan ngasih yang terbaik Zi, sebelum dan sesudahnya, aku pasti akan tau membalas budi."
Kata Zion mantap.
Zia tertawa melihat Zion yang begitu serius.
"Kenapa ketawa?"
Protes Zion.
Zia menggeleng cepat, lalu berdiri.
"Udah ah, aku mau mandi trus makan."
"Nah, makan apa malam ini?"
Zion juga merasa perutnya keroncongan.
"Soto."
Jawab Zia sambil menyambar handuk, dan menuju kamar mandi.
"Wah sip, aku suka soto."
Zion semangat.
"Soto dalam bentuk mi instan, hahahaha..."
Zia tertawa penuh kemenangan.
**-------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 362 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Untung ga ada yg lihat ada susu 🍼🍼 yg melayang...😄😄
2022-09-18
0
Ray
AQ mulai suka ceritanya dan semangat buat Outhor💪🙏😍
2022-09-16
0
J. Blythe Daerlean
hmmm 🤔 terbang aja ga sih 😅 kan harusnya bisa
2022-09-13
1