Masalalu,
Semuanya berasal dari masalalu.
Masalalu yang mengubah hidupku.
Mengobrak abrik hati yang telah lama tersakiti.
Sebuah rahasia yang berawal dariku, membuat berbagai macam pertikaian dan perebutan terjadi. Mencari titik celah untuk mendapatkan rahasia yang tersimpan rapat dalam memori.
Aku...
Adalah titik pemicu peperangan terjadi.
Barang berharga yang mereka incar yang telah lama hilang kini mulai terkuak kembali.
Memaksaku untuk melindungi diri dari para musuh yang berniat ingin mencelakai.
Dia...
Suamiku.
Pria yang dengan tulus mencintaiku, meski harus melalui masa panjang untuk akhirnya bersama.
Pun tak luput melindungiku hanya untuk harta berharga.
Apa aku...
Hanya barang yang diperebutkan?
Atau hanya manusia yang perlu dimusnahkan?
follow akun ig author : @maulidamaulida84
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MA84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah denganku!
Aku mengelap elap meja dengan kain bersih. Tak hanya aku, beberapa karyawan lain juga ikut menata kembali meja kursi Resto bersiap untuk pulang.
" Ril kita duluan ya!! " lambai para karyawan yang gojek pesanan mereka sudah datang. Sedangkan aku masih berdiri di pinggir jalan menunggu taksi lewat.
Puk
" Belum pulang ril? " tanya seseorang yang menepuk pundakku pelan. Aku menoleh sekejap lalu mengangguk.
" Naik apa? "
" Taksi "
" Naik taksi? Sendirian? Ini udah malam ril. Gak baik anak gadis seperti kamu pulang malam malam gini sendirian. Gimana kalau abang anterin? " tawar bang Andre.
" Berdua, sama abang taksinya. " Seketika dia kicep mendengar jawabanku. Aku hanya menjawab secara logika, memang benar aku tidak pulang sendiri, tapi dengan abang taksinya.
" Nah itu! Kamu gak takut di apa apain sama abang taksinya? Sekarang ini banyak yang udah jadi korban pemerkosaan di dalam taksi. " ujarnya entah menakut nakuti atau khawatir, tapi rasanya sama saja.
" Apa bedanya kalo ikut sama abang? " jawabku datar. Hening seketika. Setiap adu mulut denganku dia selalu kalah. So karna apa? Karna aku jawabnya pakai logika.
" Huft. Ya udah, abang temenin kamu aja sampai taksinya dapet. Tapi kalo udah lewat dari jam 11 malam, abang anterin. Dan gak ada penolakan!! " tegasnya.
" Hm "
Hening. Cukup lama kami berdiri di pinggir jalan, tapi tak ada satupun taksi yang lewat. Hingga jam 11 malam tiba, aku hanya bisa menghela nafas pasrah.
" Udah jam 11, ayo abang anterin. " aku hanya bisa mengangguk pasrah lalu mengikuti bang Andre dari belakang.
" Nona April!! " teriakan seseorang menyita perhatian kami. Aku membalikkan tubuhku dan melihat seorang pria bertubuh jangkung berlari kecil menghampiri kami.
" Apa benar ini nona April? " tanya pria itu dengan senyum manisnya sehingga memperlihatkan lesung pipinya yang membuatnya terlihat semakin manis.
" Iya "
" Perkenalkan, nama saya Rifki Bramantyo. Saya meminta izin kepada nona untuk ikut bersama kami, tuan muda ada hal penting yang ingin dia bahas dengan Nona. " ucapnya tanpa memudarkan senyumannya.
" Tidak bisa! Aril pulang dengan saya! " Bang Andre maju selangkah di depanku untuk berhadapan langsung dengan pria yang mengaku bernama Rifki itu.
" Sayangnya, kami lebih memerlukan Nona April di bandingkan anda. " masih bersikap tenang dengan senyum menawan yang kulihat sedikit menyeringai. Pria ini lumayan, aku suka dengan sikap tenangnya dalam menghadapi masalah.
" Anda siapa? Saya tidak akan melepaskan adik saya Aril pada orang asing seperti anda! " tegas bang Andre semakin menyembunyikan tubuhku di balik punggungnya.
" Anda tanya pada adik anda! Apakah saya orang asing baginya? " ujarnya melirikku dengan senyum maut.
Perlahan Bang Andre memutar tubuhnya kesamping sehingga aku bisa melihat dengan jelas wajah tampan itu. Tatapan bang Andre sedang menuntut, sedangkan tatapan Rifki nampak mengisyaratkan sesuatu. Aku mengikuti arah pandangnya, sehingga aku dapat melihat seorang pria duduk di mobil. Wajahnya kurang jelas kulihat di kaca spion mobil itu, tapi dalam sekali lihat aku dapat mengenalinya.
" Kamu mengenalnya ril? " tanya bang Andre dengan pandangan penuh harap bahwa aku tidak mengenalnya.
" Iya " jawabku singkat.
" Anda sudah mendengarnya bukan? Jadi mari nona April... tuan saya sudah menunggu anda. " ucapnya mempersilahkanku untik berjalan lebih dulu.
Aku hanya mampu menghela nafas pelan lalu berjalan menuju mobil Laborgini keluaran terbaru itu. Langkahku berdiri tepat di hadapan pria yang kini tengah bersandar santay di sandaran mobil.
" Silahkan masuk nona! " pandanganku beralih pada Rifki yang sudah membukakan pintu untukku. Mau tak mau akupun masuk dan duduk di sampingnya, sedangkan Rifki nampak berdiri di luar memberikan waktu untuk kami berbicara berdua.
" To the point! " tegasnya duduk sama angkuh dengan dirinya. Tangan bersidekap di dada dengan kaki yang menyilang.
" Menikah denganku! " aku membulatkan mata sempurna saat mendengar dua kata yang itu terlontar dengan tenang keluar dari bibirnya.
Namun, sedetik kemudian aku cepat cepat mengatur mimik wajah kembali pada posisinya. " Tidak mau! " jawabku angkuh.
" Aku tidak meminta persetujuanmu! "
Aku mendelik tajam padanya. Bisa bisanya dia berkata seperti itu. Aku tidak meminta persetujuanmu! Apa artinya dia ingin menikahiku secara paksa? Laki laki gila dari mana ini.
" Sayangnya. Saya sudah di lamar! " jawabku. Entah mengapa lamaran dari tante Lucy tempo lalu tiba tiba terngiang di pikiranku dan tanpa pikir meluncur dari mulutku.
" Oh. Kalau begitu, aku akan batalkan acara pernikahan kalian sama seperti kau menghancurkan acara pertunanganku! " ujarnya tenang.
" Pertunangan? " aku mengeryit sedikit. Apa maksudnya menghancurkan pertunangan dia? Perasaan aku hanya menggagalkan pertunangan Naura saja. Jadi... Ah. Tidak mungkin bukan kalau dia...?!
" Benar. Nona manis. " bisiknya tepat di samping telingaku, membuatku benar benar merasa gugup. Ck. Masalah yang di buat Naura nampaknya sudah menjalar kemana mana.
bikin aku gemes.
jadi pengen masukin ke kantong,
buat dibawa pulang.
'yes lampu ijo'
Thor novelnya gak dipromosikan?
padahal bagus loh
Me : Dingin Dingin bikin meleleh ya, ril?😆
tetap semangat nulisnya.
Aku suka dengan gaya bahasanya
ku udah ngirim kopi untuk kakak
semangat.....