elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1
Jaga Malam di Usia 37
Pukul tiga lewat tujuh menit, nyeri tumpul di pinggang Nan Shin menjalar sampai ke pangkal paha.
Ia menyandarkan sisi tubuhnya ke troli perawatan, menekan punggung dengan satu tangan, sementara tangan yang lain masih mencocokkan lembar instruksi dokter dengan label obat. Lampu putih di Instalasi Gawat Darurat RSUD Serpong Utama membuat kertas di depannya tampak pucat. Bau antiseptik bercampur keringat, kopi dingin, dan udara pendingin ruangan yang terlalu tajam.
Belum sempat ia meluruskan pinggang, suara roda brankar berderak dari pintu triase.
“Suster, pasien sesak dari bed empat saturasinya turun!” seru Suster Ayu.
Nan Shin langsung berdiri tegak. Rasa sakit tadi seolah dimasukkan ke dalam laci yang hanya boleh dibuka setelah giliran jaga selesai.
“Berapa?”
“Delapan puluh delapan. Sudah pakai kanul tiga liter.”
“Naikkan sesuai instruksi dokter. Posisikan setengah duduk. Aku panggil Dokter.”
Ia berjalan cepat menuju bed empat. Seorang pria lanjut usia terengah-engah di balik masker oksigen. Putrinya berdiri di samping brankar dengan wajah pucat, kedua tangan mencengkeram tas kain.
“Suster, Papa saya kenapa? Tadi masih bisa bicara.”
Nan Shin memeriksa sambungan oksigen sebelum melihat monitor. “Kami sedang bantu napasnya dulu, Bu. Tolong jangan lepas maskernya. Sejak kapan sesaknya memburuk?”
“Sejak di mobil. Di rumah dia bilang dadanya berat, tapi masih bisa jalan.”
“Ada riwayat sakit jantung atau pernah dirawat karena sesak?”
“Gagal jantung. Obatnya dibawa, tapi saya nggak hafal namanya.”
“Berikan kantong obatnya kepada Suster Ayu. Kapan terakhir Papa minum obat?”
“Sesudah makan malam. Suster, apa dia harus masuk ICU?”
Nan Shin menahan tatapannya. “Dokter perlu memeriksa dulu. Sekarang bantu kami dengan menjawab pertanyaan sejelas mungkin.”
Perempuan itu mengangguk cepat. Nan Shin mencatat, lalu menyampaikan informasi singkat kepada dokter jaga yang baru datang.
“Riwayat gagal jantung. Sesak memburuk sejak satu jam lalu, Dok. Saturasi sempat delapan puluh delapan dengan kanul tiga liter.”
Dokter jaga mengangguk dan memberikan instruksi. Tidak ada kalimat yang terbuang. Nan Shin menyiapkan alat, Ayu mengambil obat, lalu keduanya bergerak di sisi berlawanan brankar seperti mengikuti irama yang sudah dihafal tubuh.
“Ubah oksigen sesuai target, pasang monitor lengkap, dan siapkan akses,” kata dokter jaga. “Saya periksa paru dan jantungnya.”
“Ayu, ambil kantong obat dari keluarga dan catat nama terakhir yang diminum,” kata Nan Shin.
“Siap.”
Putri pasien memegang ujung tirai. “Saya boleh tetap di sini?”
“Boleh di sisi kepala, Bu. Jangan menghalangi jalur alat, dan beri tahu kami kalau Papa mencoba melepas maskernya.”
“Ayu, cek ulang nama dan dosis.”
“Sudah, Suster Nan Shin.”
“Baca keras.”
Ayu membacanya. Nan Shin mencocokkan lagi dengan gelang identitas pasien.
Baru setelah angka pada monitor perlahan naik, bahu putri pasien itu turun sedikit. Ia menangkupkan kedua tangan di depan dada.
“Terima kasih, Suster.”
Nan Shin hanya mengangguk. “Belum selesai, Bu. Dokter masih akan evaluasi. Kalau Papa merasa makin berat, langsung panggil kami.”
Ia bahkan belum sempat kembali ke troli ketika suara petugas keamanan terdengar dari pintu. Seorang pemuda korban kecelakaan sepeda motor didorong masuk, celana jinsnya robek di bagian lutut. Darah menetes ke lantai. Di belakangnya, seorang teman terus bicara terlalu cepat.
“Dia nggak pingsan, Suster. Tadi cuma jatuh, tapi kepalanya kena aspal sedikit.”
Nan Shin menatap temannya. “Sedikit itu bagaimana? Dia memakai helm?”
“Pakai, tapi talinya longgar. Setelah jatuh dia sempat diam.”
“Berapa lama?”
“Mungkin sepuluh detik. Aku nggak yakin.”
“Ada muntah, kejang, atau lupa kejadian?”
Pemuda di brankar membuka mata. “Aku ingat motornya selip. Nggak muntah.”
“Bagus. Tetap jangan bangun sendiri sebelum dokter memeriksa kepala dan lehermu.”
“Ayu, lanjutkan observasi bed empat,” kata Nan Shin. “Saya pegang pasien baru.”
Tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya. Menanyakan nama. Memastikan jalan napas. Memeriksa kesadaran. Menghitung nadi. Menahan tangan pasien ketika pemuda itu refleks ingin menyentuh lukanya sendiri.
“Jangan digosok. Tarik napas pelan.”
“Sakit, Sus.”
“Saya tahu. Kami bersihkan dulu supaya dokter bisa lihat lukanya.”
Pemuda itu mengerang saat cairan pembersih menyentuh kulit. Temannya kembali bertanya apakah luka itu perlu dijahit. Nan Shin menjawab seperlunya tanpa menghentikan tangannya. Di IGD, orang sering meminta kepastian pada orang pertama yang terlihat tenang. Selama dua belas tahun, orang itu hampir selalu dirinya.
Ketika ia membungkuk untuk membuang kasa, pinggangnya seperti ditusuk dari dalam.
Tangannya sempat berhenti di udara.
Hanya satu detik.
“Suster Nan Shin?” Ayu sudah berdiri di dekatnya. “Sakit lagi?”
“Cuma pegal.”
“Duduk dulu. Biar aku lanjut.”
Nan Shin melirik luka yang belum selesai dibersihkan, lalu ke wajah Ayu. Perawat muda itu tampak cemas, tetapi tangannya sudah siap mengenakan sarung tangan baru.
“Kamu bisa?”
“Bisa. Kalau ragu, aku panggil.”
Nan Shin menyerahkan pinset. “Jangan tutup dulu sebelum dokter periksa bagian kepala. Tadi temannya bilang sempat terbentur.”
“Siap.”
Ia mundur dua langkah, bukan untuk duduk, hanya untuk memberi ruang. Keringat dingin menempel di tengkuknya meski pendingin ruangan terasa menusuk lengan.
Ayu baru enam bulan ditempatkan di IGD. Gerakannya masih cepat dengan cara orang yang belum tahu bagian tubuh mana yang akan lebih dulu menyerah setelah bertahun-tahun berdiri. Sepatunya putih bersih. Seragamnya belum kehilangan warna. Bahkan kartu identitas yang tergantung di dadanya masih mengilap saat terkena lampu.
Tanpa sadar, Nan Shin menunduk pada kartu identitasnya sendiri.
Plastik pelindungnya buram dan sudut tali birunya sudah berbulu. Di bawah foto Nan Shin yang diambil bertahun-tahun lalu, ada stiker kecil bertuliskan “12 Tahun Mengabdi”. Huruf pada ujung stiker itu mulai mengelupas.
Ayu mengikuti arah pandangnya. “Stiker itu masih ada, ya?”
Nan Shin mengusap bagian yang terangkat dengan ibu jari. “Kalau dicabut, bekas lemnya lebih jelek.”
Ayu tersenyum kecil, lalu menatap kartunya sendiri. “Punyaku belum ada apa-apa.”
“Bagus. Berarti belum banyak kena cipratan obat.”
Mereka tertawa pendek. Tawa yang segera tenggelam oleh bunyi monitor dan dering telepon meja perawat.
Dokter jaga keluar dari bed empat sambil melepaskan sarung tangan. “Suster Nan Shin, pasiennya lebih stabil. Tolong siapkan pemindahan ke ruang observasi begitu ada tempat.”
“Baik, Dok.”
“Dan yang kecelakaan, setelah lukanya dibersihkan, bawa untuk pemeriksaan lebih lanjut.” Dokter itu melihat wajah Nan Shin sebentar. “Kamu pucat. Sudah makan?”
Nan Shin ingin menjawab sudah. Kebohongan kecil itu biasanya keluar otomatis.
Namun ia teringat kotak makan yang masih utuh di loker.
“Belum sempat.”
“Lima menit pun jadi. Kalau kamu ikut tumbang, kami kehilangan orang paling hafal alur malam ini.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian. Anehnya, dada Nan Shin justru terasa berat.
Orang paling hafal alur. Orang yang selalu dicari saat keadaan kacau. Orang yang dua belas tahun berada di tempat yang sama.
Tetapi pada kartu identitasnya, tepat di bawah nama Nan Shin Sim, statusnya tetap tertulis kecil: karyawan kontrak.
Tak pernah berubah.
Ia kembali ke meja perawat setelah keadaan sedikit terkendali. Jam digital di dinding menunjukkan pukul empat kurang dua puluh. Kopi dalam gelas kertas sudah dingin. Nan Shin baru sempat meneguk satu kali ketika Ayu duduk di kursi sebelah sambil mengembuskan napas.
“Suster sudah baca pengumuman di grup internal?” tanya Ayu pelan.
“Pengumuman apa?”
“Katanya minggu depan ada evaluasi sumber daya manusia. Semua kepala unit diminta kirim ulang daftar karyawan tetap dan kontrak.”
Jari Nan Shin berhenti di sisi gelas.
“Siapa yang bilang?”
“Teman aku di administrasi. Tapi belum resmi, sih.” Ayu menurunkan suara. “Mungkin cuma pembaruan data.”
“Mungkin.”
“Suster takut?”
Nan Shin memutar gelas kopi yang dingin. “Takut tidak mengubah surelnya.”
“Tapi dua belas tahun pasti diperhitungkan, kan?”
“Seharusnya.”
Ayu menatap stiker di kartu identitasnya. “Kalau mereka lupa, kami ingat siapa yang paling sering menyelamatkan shift malam.”
“Jangan bicara seolah sudah ada keputusan. Kita baca datanya dulu.”
Nan Shin menatap layar komputer di depan mereka. Di sudut kanan bawah, ada notifikasi surel rumah sakit yang belum dibuka. Judulnya pendek: Pemutakhiran Data Kepegawaian.
Di grup unit, Bu Ratna juga baru meneruskan pesan singkat: Semua perawat diminta membaca surel sebelum pergantian shift.
Ia mengekliknya. Isinya hanya tiga paragraf formal, penuh kata evaluasi, efisiensi, dan penyesuaian kebutuhan layanan. Tidak ada satu pun kalimat yang menyebut pengurangan pegawai.
Namun dua belas tahun di rumah sakit mengajarinya satu hal. Kabar buruk selalu datang lebih dulu dalam bahasa yang terdengar netral.
“Suster Nan Shin?”
Nan Shin menutup surel itu. “Kita selesaikan laporan dulu.”
Ayu mengangguk, meski tatapannya masih menyimpan pertanyaan.
Menjelang subuh, suara di IGD akhirnya menurun. Pasien sesak sudah dipindahkan ke ruang observasi. Luka pemuda korban kecelakaan telah ditangani. Lantai yang tadi terkena darah kembali bersih, seolah malam panjang itu tidak pernah terjadi.
Nan Shin berdiri di depan wastafel dan membiarkan air mengalir di kedua tangannya lebih lama dari perlu. Kulit di sela jarinya terasa perih. Saat ia mengangkat kepala, bayangannya di cermin tampak lebih tua daripada tiga puluh tujuh tahun.
Ia merapikan rambut, menekan lagi stiker “12 Tahun Mengabdi” yang hampir terlepas, lalu mengambil ponsel dari saku seragam.
Layar menyala.
Ada tiga panggilan tak terjawab dari Mama.